21 April 2008

Secangkir Kopi

secangkir kopi
sebatang rokok
berlabuhlah aku
dalam gelisah

secangkir kopi
pagi yang ditemani
jelaga mendung
masih ada tanya
yang tak kunjung ku jawab

kopi mengendap
lambat laut debulah ia menjadi
merupa dalam pekat
tanah yang menggeliat
oleh sapuan angin
dan hujan turun
tanah becek
ada darah segurat
dalam alir air hujan
siapa terbunuh?
kopi pahit tumpahlah ia
di meja ruang tamu
segerombol orang mencaci
lalu menghakimi
'Dia sesat!'
kata mereka
lalu menyeretku
dan membanting cangkir kopi
secangkir kopi imanku
tak lagi bicara
pahit berganti asin
darah mengucur dari hidung
aku sebentar lagi mati
demi secangkir kopi

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......