17 April 2008

Sejarah Tari

Rabu, 16 April 2008 | 13:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Menonton pertunjukan Dominique Boivin serasa mengikuti kuliah sejarah tari. Dengan caranya, ia mengajak penonton loncat ke abad pertengahan. Perjalanan sejarah panjang tersebut terasa segar karena disajikan dalam kemasan tarian yang kocak.

Itulah cara Boivin, penari asal Prancis, membawakan karyanya yang berjudul La Danse, Une Histoire a Ma Facon (Tari, Sebuah Sejarah Menurut Caraku Sendiri) di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat malam lalu.

Panggung yang tak seberapa luas dikotakkannya kembali menjadi lebih kecil dengan potongan kayu panjang. Jadilah panggung buatannya sendiri lengkap dengan dua lampu sorot bertangkai, layar putih kecil, dua meja panjang berisi peralatan, dan deretan lampu kuning 5 watt yang dipasang di muka panggung.

Selagi menari, Boivin mulai bercerita. Ia memulai pada abad pertengahan dengan penggambaran sebuah karnaval, lalu berdansa dengan topi hijau mancung. Ia menari loncat ke sana-sini dengan tangan terentang.

Kemudian beralih ke abad ke-16, ketika seni tari bergaya geometris sedang tenar. Alat unik dikeluarkannya lagi. Kini yang muncul adalah dua buah ujung lampu taman yang runcing. Tap, tap, ujung lampu bergerak dengan gaya kaku.

Tiba-tiba ia menjadi raja dan membedaki mukanya lalu mengambil gelang kertas di kedua pergelangan tangan. Dalam perjalanan sang raja, ia menari lebih lembut dan anggun, mewakili sosok bangsawan yang dipuja rakyat.

Boivin, yang mulai menari pada umur 6 tahun, juga membawakan pantomim. Di abad ke-18, tarian mulai menunjukkan bentuk berbeda. Boivin, yang mengenakan kaus buntung, kini telanjang dada. Kakinya
berjinjit lalu berjalan mundur.

Kisah kemudian beralih ke 1892 di Jerman. "Di sebuah pesta, tanpa sengaja gaunku di atas panggung terlalu panjang. Kemudian aku menarik dua ujung gaun. Lalu seseorang berteriak," katanya bercerita. Layar putih di belakang Bovin seketika menyala menyuguhkan gambar dua sayap kupu-kupu dan ia berdiri di tengahnya.

Boivin juga menari dengan bantuan beberapa medium, seperti olahop dan tayangan video anak perempuan kecil yang menari di atas rumput. Masih menggunakan proyektor, ia pun menari di tengah layar yang masih memutar gambar pita film. Kadang ia membuat bayangan dari belakang layar.

Setiap mata berkedip, berpindahlah zaman. Ia juga menceritakan tarian Amerika. Kata dia, Negeri Abang Sam itu senang dengan gaya oriental. Lalu ia membawa kipas Cina dan mengenakan sepatu runcing merah. Ia pun menari dengan lentur dan berkilauan karena lampu sorot. Asap mengepul dari dua sudut panggung.

Yang lebih memukau, Boivin mengenakan jubah hitam panjang berbahan lemas. "Ini perwakilan tari untuk Martha Graham," katanya. Ia naik ke kursi dan membelakangi penonton. Lalu jubah yang terentang dililit ke tubuhnya hingga membentuk tubuh tinggi sekali. Kursi itu pun tak kelihatan karena tertutup jubah.

Tak lupa, ia juga menyajikan kisah Prancis pada 1968. "Di Prancis, tarian mulai membuka diri pada publik," ujarnya di atas panggung. Ditandai dengan sepatu kets dan jins, ia menari lebih modern dengan iringan lagu rap ala Prancis.

Di akhir gerakannya, Bovin mengungkapkan jati diri. "Namaku Dominique Boivin, bintangku sagitarius," katanya. Kemudian ia memakai sepatu hitam dengan hak tinggi, gaun putih selutut, plus torehan lipstik. Ia kemudian membuka baju dan mencoreti tubuhnya dengan lipstik.

Sudah dua kali Boivin datang ke Indonesia. "Tapi pertunjukan ini baru pertama kali," ujarnya setelah manggung. Sejak kecil, ia lengket dengan tari. Gaya pertamanya adalah akrobat. Pada usia 10 tahun, ia belajar tari klasik.

Kemudian ia beralih ke kontemporer lewat arahan Carolyn Carlson dan Alwin Nikolais, lalu mendirikan kelompok tari Cie Beau Geste. Pada 1978, karya solo pertamanya, Vol d'Oiseau, memenangi penghargaan Prix de l'Humour di Kota Bagnolet.

La Danse mulai dibuatnya pada 1994 dan baru rampung pada 1999. "Memang perlu penyempurnaan dalam waktu yang lumayan lama," ujarnya. Tarian ini telah ditampilkan di beberapa negara, seperti
Taiwan dan Vietnam.

Boivin mengakui pertunjukannya lebih banyak mengupas Jerman dan Amerika. "Ya, penggambaran Prancis sedikit karena kondisi tari di sana cenderung stabil," ujarnya. Selama tampil, alat-alat yang digunakan sederhana, tapi mengena pada tema. l AGUSLIA HIDAYAH

sumber: Tempointeraktif.com

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......