22 April 2008

Tentang Sebatang Rokok

kreket....kreket....
dompet kumal ku buka
selembar uang ku tukar
dengan kematian
sebungkus rokok,
korek api,
sisanya permen dan air mineral
satu botol

kresek...kresek....
ku buka segel plastik
berbenang merah warnanya
set....
satu batang rokok
aku hunus dari bungkusnya

lalu,

jres....
nyala api menyambut
kretek...kretek....
asap pertama
mengepul

'siapa kira
kita akan dipertemukan lagi' katamu

'ah, biasa sajalah
mumpung hari belum
terlalu menyeret matahari
hingga memaksanya tak menyembul lagi'

'apa kabar dunia?
kau dengat kabarnya hari ini?' tanyamu

'aku dengar
dunia tak lagi bersuara'

'kata siapa?' aku balas tanya

'banyak orang membungkamnya
dunia tak boleh membeberkan
rahasia Tuhan' katamu

'sebab
sekali terbongkar,
musnahlah kehidupan
dan
manusia tak lagi punya pekerjaan'

'bukankah manusia sedang sibuk
mengorek rahasia Tuhan?' tanyaku

'mereka sedang sibuk
mengakui dirinya benar
mereka sibuk berkampanye
tentang kebenaran versi mereka sendiri
mereka sibuk membungkam kesaksisan dunia'

'lantas kemana Tuhan?'

'Tuhan....?
Tuhan jadi barang jualan manusia
mereka seolah bertempur
atas nama Tuhan
tapi siapa yang tahu
mereka tak sedikitpun menghamba'

'dosa....ini dosa!!'

'dosa?
mereka sudah beragama
kata mereka tak perlu takut
dosa kalau sudah beragama'

'sesat...kau sesat, kawan!'

'aku hanya sedang sakau
ah, kau tak ubahnya mereka
bukankah kesesatan milik mereka
yang mengaku ber-Tuhan
tapi tak mampu temukan jalan
kembali pulang pada-Nya?'

'jangan terlalu sumbar, kawan
nikmati saja rokokmu
dan mari kita lihat
sebentar lagi drama kehidupan
akan semakin ramai'

'lihat!'

'pasar malam segera dibuka
manusia berjualan Tuhan
di sana
mereka juga mengobral surga
diskon 80 persen katanya
dan semua jenis eloknya surga
dipampang di sana'


Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......