09 Mei 2008

Keluh Sang Pejabat

Di atas podium seorang pejabat tengah berpidato. Sementara saya tengah asik duduk di deret belakang dengan menyandar pada dinding tebal yang dingin karena ruangan itu dipenuhi hawa dingin yang disemprotkan dari AC. Sedikit canda kecil mewarnai obrolan saya dengan teman duduk. Namun tetap daun telinga saya terus saja menangkap suara sang pejabat yang terhormat. Sesekali saya lewatkan begitu saja. Sesekali pula saya tidak mau tertinggal ketika ia memberikan sebuah deret kalimat yang saya kira cukup membuat kaget.

"Saya kecewa dengan adanya black campaign itu. Penetapan tersangka itu, sebenarnya tidak pernah ada. Kampanye hitam itu membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa. Namun demikian, saya tetap berupaya untuk meyakinkan masyarakat Semarang agar tidak kecil hati." kata sang pejabat itu yang tak lain adalah walikota Semarang, Sukawi Sutarip.

Saya yang mendengar kalimat itu langsung terhenyak kaget. Bukan karena kata-katanya, melainkan mimik wajahnya yang berubah secara tiba-tiba. Ada kekesalan yang dapat saya lihat dari wajahnya. Garis wajahnya secara tiba-tiba berubah. Mungkin karena berita tempo hari yang telah menyudutkan dirinya. Lebih-lebih karena saat ini ia tengah menjalani pencalonannya sebagai gubernur.

Dengan agak tersendat ia kembali mencoba berkisah dan berkeluh, "Saya sebenarnya tidak pernah melakukan tindakan tidak terpuji itu. Selama saya menjadi walikota Semarang, tidak pernah terbesit dalam benak saya untuk melakukan korupsi. Saya juga tidak pernah menggunakan mobil pribadi. Bahkan selama saya menjabat, saya justru telah melakukan perbaikan dalam pelaporan neraca keuangan. Saya perbaiki pertumbuhan ekonomi Semarang. Kalau dulu ketika setiap akan membangun pemerintah kota harus menjual tanah aset pemkot yang mencapai luas 450 hektar. Maka saya berupaya untuk mengembalikannya. Namun biar sajalah, saya tidak akan pernah membalas."

Saya terdiam kemudian. Entah harus percaya atau tidak. Yang jelas, dalam benak saya terpikir untuk menuliskannya sebagai sebuah kabar. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......