16 Mei 2008

Mei Berdarah [renungan 10 tahun pasca tragedi tri sakti]
































Celoteh burung hantu di siang hari,
mengabar duka menabur luka
memar ulu hati
sengal tarikan nafas
kian membuat langkah kaki
tak terarah
siapa tertembak mati
hari ini,
tangis pagi hanya membuncah
menebar aroma luka
anyir darah
amis nanah
dor
sebuah senapan laras panjang
melontarkan butir logam maut
jerit
tak terbendung
bubar berlarilah orang kalang kabut
selaput hitam semakin menebal
Harus ada yang bertanggungjawab
Harus ada yang dipersalahkan
tapi, tak ada
orang-orang dengan senjata
berlari mengitari meja persidangan
palu kayu kian lapuk
rayap kekuasaan semakin menggila
hilang sudah sejarah
menjadi humus
bagi taman surga
sang pahlawan
mei berdarah
hanya tercatat dalam buku harian
yang tak pernah selesai
aku tulis


Ribut Achwandi

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......