21 Juli 2008

Demokrasi

Beberapa waktu lalu, saya sempatkan diri saya untuk menyambangi teman lama saya yang sudah lama tidak pernah saya sambangi. Tentu, lamanya waktu yang telah memisahkan kami ini benar-benar membuat kami tersegarkan kembali dengan secangkir kopi yang disegarkan pula oleh obrolan kami yang hanya 'ngalor-ngidul'. Banyak pula lelucon yang sengaja kami buat sekadar untuk mencairkan pikiran kami yang tersublimasi oleh kesibukan kami selama ini. Kali ini, teman sayalah yang memulainya.

"Kang, saya ingin tahu kenapa sekarang ini banyak orang pada ngributin soal demokrasi? Banyak bendera partai pula yang menyimbolkan demokrasi, banyak pula organisasi yang kemudian mengaku didasari demokrasi. Nah, sebenarnya kenapa kok segitunya?" tanya teman saya.

"Lah sampeyan itu ya lucu. Masa hal kayak gitu ditanyain. Kan sudah jelas, kalau nggak ribut-ribut itu namanya nggak demokrasi. Wong negara ini kan dari dulu memaknai demokrasi itu dengan keributan kok." Seloroh saya.

"Nah, soalnya ya itu Kang. Dengan adanya keributan macam itu, lalu bagaimana semua masalah itu bisa selesai?" tukasnya.

Jawab saya, "Lho, sampeyan ini ya lucu lagi. Lah yang namanya keributan itu nggak usah diselesaikan kan juga selesai sendiri. Kalau sudah pada capek kan semua jadi tenang kembali. Nah, itu yang diingini penguasa kita. Menyelesaikan masalah tanpa harus menghadapi masalah."

"Lantas bagaimana dengan perkara hukumnya kalau ada sesuatu yang tidak beres dalam keributan itu Kang?"

"Hukum? Kan sudah jelas, dasar hukum kita adalah demokrasi. Artinya semua dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Artinya lagi, rakyat tidak bisa dong nuntut penguasanya sendiri. Lah wong penguasanya juga rakyat kok. Kalau pada kenyataannya ada presiden itu kan segelintir rakyat. Lagi pula kan yang milih rakyat. Masa jeruk makan jeruk?" seloroh saya.

"Maksud sampeyan?"

"Loh, demokrasi itu kan akal-akalannya penguasa saja biar tidak terlalu dipersalahkan dalam kepemimpinannya. Saya jelaskan kembali, kalau konsep demokrasi itu adalah pemerintahan yang didasari oleh jargon semua dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, maka jelas apapun yang dilakukan oleh penguasa tidak bisa disalahkan, karena mereka ini selalu mencari tameng hidup yang bernama rakyat. Mereka itu kan juga rakyat, berhak nuntut untuk tidak disalahkan, ya kan? Jadi, kalau mereka ngomong soal demokrasi, itu sama saja mereka ngomong soal kebutuhan mereka sendiri bukan karena rakyat yang minta. Lah lihat saja DPR-nya pada bikin ulah gitu." kata saya.

"Jadi pada prinsipnya di negara sedemokrasi apapun itu, sebenarnya tidak ada demokrasi ya Kang?"

"Lah iya toh? Lihat saja Amerika yang katanya pencetus demokrasi. Dengan mengembargo dan main sikat negara-negara lawannya itu atas kepentingan siapa? Rakyatnya? Bukan...itu akal bulusnya Bush saja yang pengin dikenal sebagai pencetus perang dunia ketiga yang gagal itu."

Ribut Achwandi

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......