29 Juli 2008

Ruang Sidang, 25 Juli

Entah, sudah berapa lama orang-orang dari KPK--sebuah lembaga independen yang mengurusi soal korupsi aparat negara--itu nyerocos di hadapan puluhan anggota dewan kota. Berbicara soal korupsi yang kian hari kian parah. Berceramah pula mereka mengenai konsekuensi hukum yang akan diterima bagi koruptor. Mereka nampak lantang dan sangat meyakinkan. Bahkan ditunjukkan dengan setiap penekanan pada kata-kata yang mungkin dapat disebut sebagai kata kunci.

Slide yang terpampang di dua buah layar di kanan dan kiri sisi ruangan, semakin nampak kian meyakinkan. Betul, sungguh-sungguh meyakinkan. Tapi, siapa sangka kalau dari puluhan anggota dewan yang hadir kali itu tak begitu hirau dengan hal tersebut. Kalaupun toh ada paling hanya beberapa saja dari mereka ini. Mungkin ini adalah sebuah pemandangan yang tak begitu menarik bagi mereka. Atau bahkan, mereka menganggap ini sebuah lelucon yang sangat kuno. Tidak segar. Entahlah.

Yang jelas kini mereka, anggota dewan kota ini nampaknya mulai sibuk dengan diri mereka sendiri. Dering telepon genggam, obrolan soal bisnis mereka, atau obrolan seputar kebutuhan rumah tangga mereka. Soal ceramah orang-orang KPK? Bagi sebagian mereka, nonsense!

Tak terlihat dari wajah mereka sedikitpun untuk berusaha menanggapi serius ceramah orang-orang KPK ini. Tapi, itu tak jadi soal bagi orang-orang KPK. Bahkan, mereka tetap bertahan dengan kondisi semacam ini. Sebuah kondisi yang sangat tidak menguntungkan bagi mereka sebenarnya.

Dua kali dering telepon genggam salah satu anggota dewan kota menyela. Toh, tak soal. Orang-orang KPK tetap bergeming. Namun kali ini, wajah lelah anggota dewan kota tak dapat ditutupi lagi. Mereka nampak semakin bosan dengan ceramah orang-orang KPK yang dikirim dari Jakarta. Beberapa dari mereka, anggota dewan kota ini, nampak gelisah dan sesekali keluar ruangan dengan alasan untuk mendapatkan udara segar, atau hanya karena untuk menghisap tembakau. Sepertinya mereka benar-benar tengah menanti kesempatan untuk segera memutar laju putaran jam dinding yang dipajang di sudut kanan ruangan itu. Atau kalaupun itu bukan aset negara mungkin sudah dipecah pula jam dinding ukuran besar itu. Namun apa berani? Mungkin untul melakukan hal gila itu butuh berkali-kali mikir buat mereka. Sebab apa untungnya bagi anggota dewan kota ini?

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......