15 April 2008

Menuju Sukses bag. 2

Setelah tulisan saya beberapa hari yang lalu. Saya kembali teringat masih ada sesuatu yang belum saya sampaikan. Dan kali ini, ingin saya bagi kembali pada Anda.

Namun dalam hal ini saya punya cerita yang mungkin perlu bagi saya untuk dibagikan.
Suatu ketika saya bertemu dengan seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya dikemudian hari. Dia satu-satunya orang yang sangat menghargai siapa saja. Mau mengerti siapa saja. Dialah orang yang menurut saya sangat mengerti tentang saya di samping Ibu dan istri saya tentunya.

Kepada saya, orang ini pernah berkata, "Orang yang mengangap dirinya lebih dipentingkan dari orang lain itu sama artinya ia telah melanggar hukum Tuhan."

Langsung pula saya tanyakan, "Kenapa?"

Dia hanya tersenyum.

"Bukankah dalam kehidupan kita, kita dihadapkan sebuah kenyataan yang demikian? Dimana saat kita membutuhkan pertolongan seseorang, maka kita akan sangat mementingkan seseorang tersebut?" Aku kembali bertanya.

" Sebenarnya tidak demikian, pada orang tersebut hanya untuk mencari jalan terang menuju kekuatan nyata di balik orang itu. Dan, orang tersebut, yang kita mintai bantuan tersebut, hanya sebuah transformasi energi cinta dan kasih Tuhan. Jadi, Tuhanlah yang telah menggerakkan ia untuk membantu kita. Bukan lantaran belas kasihan orang tersebut. Maka kalau kita mendudukkan ia dalam porsi yang lebih tinggi dari kita sebagai manusia, makhluk Tuhan, maka sebenarnya kita telah mendurhakai Tuhan. Dan sebaliknya, ketika orang tersebut merasa dipentingkan oleh khalayak, maka ia lebih durhaka kepada Tuhan. Karena sebenarnya, ia telah mencampakkan Tuhan dari sisinya."

Sungguh saya bertambah tidak mengerti dengan ungkapan tersebut. Saya pun kembali menjejalinya dengan pertanyaan, "Tetapi faktanya demikian? Seorang pejabat merupakan orang yang dipentingkan oleh warganya, seorang ulama akan dipentingkan oleh pengikut atau jamaahnya, dan seorang guru akan sangat berarti bagi muridnya?"

"Tidak ada pejabat yang lebih penting dari mereka yang mementingkan rakyatnya, tidak ada kiyai yang lebih hebat dari mereka yang mau nyantri dari muridnya, dan tidak ada guru yang lebih baik dari mereka yang mau belajar dari siswanya. Sebagai contoh, adakah guru yang mungkin dalam kehidupan kamu, menurut kamu, cerdas?" Tukasnya.

"Saya kira banyak." Jawabku.

"Seorang guru yang cerdas adalah ketika ia mampu mentranformasikan energi keilmuanannya kepada muridnya. Dan untuk melakukan transformasi itu ia butuh sebuah hubungan komunikasi yang baik. Untuk menuju ke arah komunikasi yang baik, seorang guru harus belajar dari apa yang mampu ditangkap oleh seorang muridnya. Maka ia harus memahami muridnya terlebih dahulu sebelum ia meminta muridnya untuk memahaminya. Jadi, pertanyaannya adalah mana yang lebih penting?"

"Dua-duanya?" Tanyaku.

"Dalam hal ini mungkin kamu benar jika kamu melihat dari sisi yang nampak. Tapi kamu belum bisa menempatkan diri kamu berada di luar lingkaran itu. Ada satu hal yang belum kamu sentuh. Di dalam kasus tersebut, ada satu kata kunci yaitu, energi. Masih ingat rumusan yang diberikan Einstein?"

Saya hanya mengangguk.

"Semakin besar usaha untuk mengalihkan atau mentransformasikan sesuatu maka semakin besar pula energi yang ia hasilkan, dan begitu pula sebaliknya. Semakin besar energi yang dikeluarkan maka semakin jauh pula transformasi itu dapat ditempuh. Siapa energi itu? Dialah yang berada di luar batas pengetahuan kita. Kita tidak memiliki energi, sebab kita digerakkan oleh ego dan ego selalu terbungkus dalam sebuah alam pikiran yang sedemikian rupa kita rekayasa karena hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani kita. Artinya kita hanya menjadi budak jasad. Tubuh kita. Sedang energi berada di luar tubuh tetapi kehadirannya ada di dalam nurani kita. Kasih dan sayang. Itulah energi yang sangat dahsyat."

"Kalau begitu, apa bedanya energi dengan ruh?" aku bertanya.

"Ruh ibarat pot atau vas bunga yang akan ditempati energi. Ruh adalah sebuah jembatan spiritual yang sengaja dianugerahkan Tuhan kepada manusia untuk dapat melakukan kehendak-Nya."

"Lantas, bagaimana dengan status sosial?"

Ia tersenyum dan kemudian berkata, "Kau masih saja memikirkan status sosial? Bukankah itu reka daya manusia. Hanya sebuah penciptaan jurang yang begitu dangkalnya oleh manusia. Kelicikan manusia yang memang dibekali kemampuan akal yang luar biasa, tapi alangkah bodohnya ia sebagai manusia ketika ia berbangga diri dengan pangkat, jabatan dan kedudukannya di hadapan orang lain. Orang yang bangga dengan statusnya berarti orang yang paling bodoh di dunia. Sebab, ia telah dibodohi oleh satu spesiesnya sendiri. Dan ingat kunci kesuksesan manusia tidak diukur dari status sosialnya, melainkan dari sebuah pemahaman dalam mengartikulasikan kehidupan itu sendiri."
Dari obrolan panjang itu pun kami pun harus kembali pulang dalam buaian mimpi kami. Dan malam kembali senyap. Namun dalam otak saya masih saja belum mampu menerjemahkan kalimat-kalimatnya. Sampai pada akhirnya aku hanya mampu catatkan pada selembar kertas kusam. Kalau tidak lupa bunyi kalimat itu sebagai berikut:

Jika tak ada malam mungkin aku akan kehilangan banyak tenagaku. Dan jika tak ada siang mungkin aku tak akan menemukan energi untuk terus melakukan ziarah kehidupan. Kenapa ziarah kehidupan? Karena kehidupan yang selama ini kita jalani adalah kematian yang sebenarnya. Dan kehidupan yang sebenar-benarnya ada dalam mati.

Sumber Foto:
http://www.endless-satsang.com/Mentoring_files/image3001.jpg
http://www.eso-garden.com/images/uploads_bilder/10_great_ways_to_receive_some_spiritual_help.jpg
http://www.writespirit.net/image/sharani/gold-cloud
http://trak.in/wp-content/uploads/2007/06/yoga-1.jpg

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......