30 April 2008

Menuju Sukses bag. 5

Salam sukses,


Kata 'kreatif' sering kita terjemahkan sebagai kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu menjadi lebih menarik. Namun, ada satu hal yang kadang secara tidak sadar kita tarik secara paksa dalam memahami kata 'kreatif' itu sendiri. Banyak dari kita yang menautkan kata 'kreatif' dengan penciptaan hal-hal baru. Kalau demikian, apa bedanya dengan 'inovatif'?

Dalam perspektif saya, perbedaan mendasar dari kedua hal tersebut terletak pada satu frase 'hal baru'. Memang dalam mengkreasikan sesuatu kita dituntut untuk dapat menemukan sesuatu bentuk lain. Namun bukan berarti itu sama artinya sesuatu yang sama sekali baru. Artinya, ketika kita tengah membicarakan mengenai 'kreatif' sebenarnya yang muncul bukanlah menciptakan sesuatu yang baru atau bahkan menemukan sesuatu yang baru. Bisa jadi, dalam memahami kata 'kreatif' kita justru memanfaatkan sesuatu yang sudah ada sebelumnya dengan memolesnya sedikit saja untuk kita kemas dalam bentuk-bentuk yang lebih menarik. Dengan kata lain, makna kreatif dalam pandangan saya, lebih bersifat pembaruan dan tidak mewajibkan sebuah sebuah maksud kebaruan.

Dan jauh lebih dalam lagi untuk mengupas masalah kreatifitas ini, saya punya sedikit oleh-oleh dari Solo. Ketika itu saya penasaran betul dengan yang namanya srabi solo. Makanan tradisional yang terbuat dari tepung terigu. Semula saya pikir makanan tradisional ini paling-paling tidak jauh beda dengan makanan-makanan tradisional lainnya. Dengan kata lain, dari bentuk dan rasanya hampir bisa dikatakan serupa dan tidak jauh dengan makanan-makanan tradisional sejenisnya. Namun saya sempat dibuat kaget ketika mengetahui kalau ternyata sekarang srabi solo memiliki aneka rasa yang bisa kita pilih. Di sinilah kreatifitas telah bekerja. Tangan-tangan kreatif sang pedagang srabi ini tidak main-main dalam memberikan sentuhan-sentuhan baru untuk dapat mengemas sesuatu yang lain dari asalnya.

Salam sukses,Terus terang, ini hal yang mungkin dapat dikatakan sebuah terobosan baru bagi dunia kuliner tradisional yang biasanya sangat terbatas dalam persoalan rasa. Namun dengan mencoba mengkreasikan dan mencoba untuk melakukan hal-hal baru sebagai usaha untuk memberikan sedikit sentuhan cita rasa yang disesuaikan dengan selera zaman, maka dapat hal tersebut halal saja. Nah, pertanyaannya sekarang, kalau beberapa orang sudah mulai melakukannya kapan giliran kita? Dan apakah kita harus menunggu giliran?

Jangan pernah berpikir untuk mengantre dan hanya menunggu giliran seperti saat kita mengantre minyak tanah. Namun kalau memang kita bisa menggunakan hal-hal lain yang ada di sekitar kita, kenapa tidak kita mulai saja. Ya, kita mulai sejak sekarang untuk memanfaatkannya. Untuk itu, di sini ketika kita mulai berpikir tentang bagaimana mengkreasikan sesuatu maka kecerdasan dan kecepatan dalam merespon yang terjadi di sekitar kita harus diasah dan diujicobakan. Dan ingat, jangan pernah merasa takut untuk sebuah kegagalan.

Saya ingat kata Mao Tze Tung pemimpin komunis Cina. Dulu ia pernah mengatakan bahwa kegagalan adalah ibu kesuksesan. Sekali terjatuh maka semakin cerdaslah ia untuk dapat menemukan jalan keluarnya dalam meraih kesuksesan.

Salam sukses,

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......