14 April 2008

Teknologi Maju, Kesenian Ambruk

Sabtu, 12 April 2008

Semarang, Perkembangan teknologi mutakhir yang digerakkan oleh negara-negara maju secara tidak langsung telah berdampak pula pada pengembangan dunia kesenian tradisional. Hal ini akan menjadi sebuah masalah serius manakala kedua kutub dunia yang berbeda tersebut saling bersinggungan dalam sebuah persaingan pasar global yang notabena sering diterjemahkan secara kasar sebagai pasar dunia yang tanpa batas. Hal tersebut menjadi tantangan terberat sekaligus terbesar dalam kelangsungan dunia kesenian yang sangat kuat mengakar pada khazanah budaya lokal. Untuk itu, perlu langkah yang cerdas dalam upayanya untuk memberikan stimulus bagi pengembangan dunia kesenian tradisional yang akhir-akhir ini mulai ditinggalkan oleh pemiliknya sendiri.

Beberapa kasus yang kini kembali mencuat ke permukaan ialah hilangnya beberapa jenis permainan anak yang didasari dari konsep permainan tradisional akibat serangan permainan modern. Hal ini sungguh sebuah fenomena yang cukup membuat beberapa pelaku seni dan pemerhati budaya ternganga. Gejala modernisasi rupanya semakin hari semakin mengarah pada bentuk-bentuk yang lebih jauh mengerikan dari bayangan awalnya. Sehingga, kemudian banyak kalangan yang mengkhawatirkan hal tersebut akan berdampak pula pada tata susila yang ada di masyarakat.

Secara sadar, memang di satu sisi kemajuan tersebut membuat kalangan tertentu merasa diuntungkan. Namun di sisi lain, kemajuan teknologi ini juga menjadikan sebuah kemunduran yang disinyalir akan berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Hal yang menjadi permasalahan yang perlu digarisbawahi adalah ketika sebagian masyarakat menganggap seni tradisi masih dipandang secara kaku. Seni tradisional yang notabene lahir dari akar-akar budaya kemudian dipandang sebagai pengejawantahan ajaran moral serta menjadi filosofi kehidupan acapkali menemui jalan buntu. Hal ini disebabkan adanya nuansa keangkeran "kesenian sebagai mitos" yang dikomunikasikan secara turun-temurun. Sehingga, untuk membuka akses ke dalam hal tersebut, ada semacam ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan dari masyarakatnya sendiri.

Untuk itu, perlu adanya pendekatan yang lebih intensif dan lebih spesifik dalam menyikapi hal tersebut. Sebagaimana dikatakan Hasan Bisri, pemerhati seni dan budaya Jawa Universitas Negeri Semarang, yang mengungkapkan pelaku seni seharusnya lebih jeli dan lebih cerdas dalam memberikan dorongan serta memberikan sumbangan pikirannya dalam memajukan kesenian tradisi lokal. Dengan kemajuan teknologi ini, seharusnya mereka tidak alergi dan bahkan seharusnya mampu memanfaatkan teknologi tersebut sebagai media yang mampu mempromosikan dan memberikan ruang yang lebih besar lagi bagi pengembangan dunia kesenian.

Namun demikian, usaha tersebut juga tidak lepas dari perhatian semua pihak. Khususnya pemerintah daerah selaku pengambil kebijakan serta pelaksana kebijakan tersebut. Pemerintah daerah seharusnya lebih tanggap dalam menghadapi fenomena tersebut. Sehingga, tidak ada semacam kecemburuan dari dua kubu yang saat ini "berlawanan" arah. Secara spesifik Hasan Bisri menyebutkan, langkah pemerintah daerah secara kongkret seharusnya mampu menjembatani kedua kepentingan tersebut. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......