21 Juli 2008

Pemilu 2009

Salam,

Negara ini nampaknya tidak kapok bikin ulah lagi. Bagaimana tidak, setelah beberapa kali menemui kegagalan dalam penyelenggaraan pilkada yang selalu dimenangkan golput (golongan putih), negara lagi-lagi akan melakukan hajatan besar lagi dengan mengagendakan pemilu 2009. 34 partai politik nampaknya bersemangat untuk mengikuti hajatan bagi-bagi kursi empuk kekuasaan ini. Tapi, apakah benar jika dalam pelaksanaan pemilu kali ini akan betul-betul membawa manfaat ketimbang kemubaziran belaka? Sekelumit tulisan ini akan kembali sedikit memberikan ruang bagi otak kita untuk lebih dapat berpikir secara sehat.

Kita tahu persis bahwa tingginya angka golput telah benar-benar membuat penghamburan dan pemborosan ongkos politik yang harus didanai oleh negara. Ratusan milyar rupiah yang semestinya dapat difungsikan sebagai dana penyelenggaraan pemerintahan hanya terbuang percuma di tengah-tengah kondisi negara yang tengah mengalami masa kolaps ini. Saya jadi teringat kembali pada pengalaman masa lalu negeri ini, tepatnya pada pemilu pertama yang diselenggarakan pada tahun 1955. Pada waktu itu, kemubaziran anggaran benar-benar telah membuat kondisi negara semakin runyam. Silang pendapat mengenai politik kekuasaan begitu menghebatnya hingga membuat kondisi negara semakin tidak terkendali.

Pengalaman semacam itu, mungkin bagi sebagian generasi bangsa ini mungkin tidak begitu dihiraukan. Sebab, selubung sejarah tempo dulu belum juga disibak dengan benar. Kini muncul lagi peristiwa yang mungkin hampir sama. Bedanya, saat ini masyarakat nampaknya sudah terlalu pintar untuk hanya dijadikan sapi perahan elit politik. Rakyat, bagaimanapun juga kini sudah mulai memahami arti 'KECEWA' yang begitu besar dalam ingatan mereka. Rakyat juga sudah terlalu mengerti apa arti 'SAKIT HATI' terhadap sistem kekuasaan yang tidak sehat ini.

Pergantian kekuasaan yang selalu diwarnai kekisruhan serta kekuasaan yang selalu diliputi korupsi dan banyak hal yang membuat kecewa ini nampaknya akan menjadi PR besar dalam penyelenggaraan pemilu 2009 kali ini. Mereka menganggap, partai hanya menjadi kumpulan bagi pembual. Kursi kekuasaan hanya menjadi tempat duduk bagi penguras uang negara. Dan satu hal yang sebenarnya tidak patut untuk diungkapkan adalah hukum selalu cacat dan berjalan pincang. Belum lagi, persoalan kantor-kantor BUMN yang hanya menjadi gerai penjualan aset negara. Kiranya cukuplah bangsa ini menderita.

Kalau dulu 350 tahun lamanya kita dipimpin oleh bangsa yang memiliki sistem dan pola ekonomi yang cukup tangguh untuk menjadi penguasa negara-negara dunia ketiga. Kini giliran bangsa sendiri yang berusaha menjadi kanibal. Protes, hanya ditanggapi enteng oleh penguasa. Kalaupun ada sedikit masalah, sang penguasapun amat sangat pandai untuk menyelesaikannya dengan sekedip mata, lalu sedikit main serong dengan undang-undang. Apa tidak capai?

Kalau saya memandang, sebenarnya apa yang dimaui bangsa ini? Kok bangkrut jadi penyakit yang permanen. Dan kegoblokan bangsa ini amat sangat parah ketimbang penyakit raja singa yang memalukan. Kegoblokan bangsa ini sudah amat sangat akut dan sangat susah untuk disembuhkan. Goblok kok menahun?

Lah, ketimbang mikir soal pemilu 2009 mending mikir soal bagaimana bangsa ini tidak goblok dan tidak kere. Padahal kalau kita ini kere permanen, maka yang terjadi bangsa ini akan selamanya mengalami mati suri. Hidup segan matipun enggan.

Kalau soal ganti perwajahan presiden, gubernur, walikota atau bupati atau bahkan lurah itu cuma soal gampang. Aturannya juga membuat orang gampang kok jadi itu semua. Tapi seyogyanya juga diimbangi karya nyata yang benar-benar brilian untuk membuktikan bangsa ini tidak kere dan goblok. Lah yang paling lucu lagi, ketika saya pulang kampung beberapa waktu lalu, saya menemui lurah kampung saya. Edannya lagi, dia sama sekali nggak tahu soal bagaimana memberdayakan masyarakatnya. Bahkan dia hanya mengeruk keuntungan dari kedudukannya dengan membuka pabrik daur ulang sampah di desa yang nun jauh dari perkotaan yang notabene banyak sampahnya. Ini kan lucu. Sedang di sana masyarakatnya yang saat ini sudah mulai ogah-ogahan pergi ke sawah ini telah benar-benar membuat lahan sawah mereka mangkrak dan nganggur. Orang kayak begitu kok ya jadi lurah ya?

Nah, ini mungkin akan menjadi tugas berat nanti bagi calon presiden terhormat kita. Saya nitip, kalau bisa lurah-lurah yang model gituan lah mbok ya jangan dipakai lagi. Bikin malu bangsa ini saja toh Bung. Oke?

Tapi maaf ya Bung, mungkin saya juga akan nitip pesen bagi Mbak Mega yang katanya memblacklist golput. Itu, kalau beliau sadar sebenarnya apa yang diungkapkan Megawati ini merupakan sikap arogansi elit politik yang dapat menuai penilaian buruk dari rakyat. Karena ungkapan itu dapat pula diterjemahkan sebagai bagian emosi mantan presiden RI yang tengah tersinggung dengan sikap rakyatnya sendiri. Sikap rakyat yang tidak percaya terhadap pemerintah.

Salam,




Robert Dahlan

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......