01 Agustus 2008

Apel Terpagi atau Apel Kepagian [?]

Salam,

Hari ini tepatnya pukul 06.00 pagi tadi, saya disodori sebuah pemandangan yang sangat luar biasa hebatnya. Ratusan pegawai di jajaran Pemerintah kota Semarang, dalam sepagi itu [pukul 05.00] dikumpulkan di pelataran Balaikota Semarang. Pemandangan ini nampak cukup unik dan sangat jarang saya temui sebelumnya. Sebab, biasanya jajaran aparat negara ini baru akan berangkat pada tidak sepagi itu. Semula saya kira, apakah ini ada kaitannya dengan peringatan Isra' Mi'raj? Kemudian dengan serta merta Pemerintah kota Semarang menggelar sebuah tabligh akbar dengan tema besar 'Kultum Subuh Peringatan Isra' Mi'raj'? Atau karena ini hari Jumat, maka mereka ini dikumpulkan untuk mengikuti kuliah subuh dengan mengundang da'i tenar?

Ternyata tidak. Perkiraan saya ini bahkan jauh meleset. Sebab, kalau mereka mau mengadakan sebuah pengajian, tentu busana yang mereka kenakan ini jelas bukan satu setel pakaian olahraga. Nah, asumsi saya kini berubah lagi. Mungkin, mereka akan melakukan jalan sehat. Karena mereka-mereka ini kan sudah terlalu sering mengendarai sepeda motor atau mobil-mobil dinas. Jadi, supaya lebih sedikit sehat, mereka harus diperjalansehatkan. Kata banyak orang ini salah satu cara untuk mengusir stress dan sedikit mampu mengurangi tekanan darah tinggi. Ya, karena dengan sedikit menggerakkan badan ini, tentu akan sedikit memberikan peluang bagi jantung ini akan lebih dapat memompa aliran darah ini dengan teratur. Tapi, sepanjang itu dilakukan dengan baik dan di lingkungan yang bersih. Lah kalau di tengah kota seperti Semarang ini?

Ah, celakanya tebakan kali ini ternyata masih juga meleset. Meskipun hampir menyerempet. Mereka yang dikumpulkan ini saya lihat tidak melakukan aktifitas apapun kecuali berdiam diri dengan sikap badan yang mengharuskan berdiri. Oh, mungkin mereka ini sedang melakukan senam yoga? Barangkali. Tapi di dean mereka yang nampak hanya mimbar kosong tanpa satu pun orang di atasnya. Kalau memang ini senam yoga tentu ada instrukturnya. Lantas apa?

Satu jam kemudian [pukul 06.00], barulah saya dapatkan jawaban pasti. Ternyata mereka ini dikumpulkan dalam rangka apel terpagi. Tentu ini tidak main-main sebab instrukturnya saja seorang menteri. Dan yang lebih mengerikan lagi, menteri ini adalah menteri yang mengurusi pegawai seantero jagad Indonesia. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Taufiq Effendi. Begitu sang menteri ini berdiri di atas mimbar tersebut, kontan upacara apel terpagi pun digelar. Semua takzim. Meskipun beberapa saya melihat masih juga baru memposisikan diri karena terlambat.

Dalam upacara kali ini, sebuah piagam penghargaan dipampang dengan begitu gagahnya. Lantas diserahkan kepada Walikota Semarang. Piagam ini tak lain dan tak bukan adalah piagam penghargaan dari MURI [Museum Rekor Indonesia] yang menyatakan pemberian penghargaan terhadap Pemerintah kota Semarang yang telah berhasil menggelar 'Apel Terpagi' dan pemberian ucapan penghargaan terhadap Men PAN atas kesediaannya memimpin apel yang sangat pagi itu. Ya, sebab beberapa pegawai ketika saya jumpai di pelataran parkir mengeluhkan acara tersebut yang berlangsung terlalu pagi. Mereka tidak sempat memasak, tidak sempat mandi dengan khusuk, belum sempat mengumpulkan tenaga untuk hadir dalam acara itu dan segudang alasan lainnya.

Ketika piagam itu diserahkan, seorang perwakilan dari MURI berkoar. "Piagam ini diberikan untuk memberikan penghargaan kepada Pemerintah kota Semarang yang telah dengan sukses menggelar apel terpagi. Rekor ini sekaligus memecahkan rekor sebelumnya yang dicapai oleh Wakil Presiden dalam memimpin apel pagi yang dimulai pukul 6.30. Dan ini sebagai wujud kedisiplinan dari jajaran pemerintah kota dalam menjalankan tugasnya."

Saya terpingkal waktu itu, begitu mendengar pidato yang sangat menarik ini. Terpikir pula oleh saya, apa hubungannya apel terpagi dengan disiplin? Bukankah letak dasar prinsip disiplin ini sebenarnya pada proporsi yang tepat? Bukan melebihkan atau mengurangi? Disiplin menurut saya, berarti melakukan hal-hal yang dilandasi ketepatan proporsinya serta akurat dalam mengerjakan segala hal. Lah ini, wong upacara apel yang kepagian ini kok bisa dibilang disiplin? Apa ini bukan karena hanya ingin bikin sensasi saja? Sebab, saya melihat ada nuansa persaingan antar pejabat pusat untuk melakukan kejutan-kejutan. Lihat saja, sebelumnya rekor MURI jatuh pada Wapres JK, kini jatuh ke tangan MenPAN. Mungkin besok atau dalam tahun-tahun selanjutnya akan ada lagi pejabat yang segera menggelar upacara di saat subuh. Atau bahkan tengah malam pukul 00.00 tepat.

Ingat, melebih-lebihkan sesuatu yang tidak sesuai dengan takarannya ataupun sebaliknya adalah sebuah kemubaziran. Akibat kemubaziran ini jelas, akan berbuntut pula pada ketidaknyamanan bagi semua pihak. Mau bukti? Nah, sekarang ketika siang hari ketika semua kesibukan yang harus mereka kerjakan ini semakin bertumpuk, tentu akan dikerjakan dengan seadanya. Sebab, tenaga mereka sudah terkuras hanya untuk memikirkan bagaimana cara tepat untuk dapat berangkat awal sekali dalam acara tersebut. Sehingga, mereka--aparat negara ini, tidak sampai terlambat. Konsentrasi mereka tentu sudah terbuyarkan sejak mereka akan tidur semalaman hanya karena memikirkan tentang kemungkinan terlambat mereka. Ihwal lain yang mungkin akan mereka pikirkan ialah, kegiatan ini sebenarnya untuk siapa dan untuk apa? Kalau memang untuk diri mereka sendiri, tentu tidak ada paksaan atas hal itu. Namun kalau hanya untuk sebuah sensasi pamor seseorang, tentu mereka terpaksa harus mengiyakan. Padahal, dalam hati mereka menggelengkan kepala.

Dan satu hal penting lainnya yang dapat saya sampaikan. Adalah ketika ini dihubungkan dengan kata 'tugas'. Loh ini apa lagi? Saya jadi berpikir buruk terhadap ihwal ini. Apakah memang tugas mereka ini hanya untuk upacara dan apel kepagian ini? Kalau memang iya. Itu artinya, setelah apel kepagian ini, melalaikan tugas mereka untuk melayani masyarakat bisa saja dibolehkan dong!

Ada-ada saja, dunia!

Salam,


Robert Dahlan

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......