18 Agustus 2008

Merdeka untuk Siapa [?]

Salam merdeka!

Tanggal 17 Agustus hingga kini masih diyakini sebagai hari yang sakral bagi bangsa Indonesia. Sebab, pada tanggal itu 63 tahun lalu, kita kenal adanya sebuah peristiwa yang sangat luar biasa bagi bangsa yang telah dijajah selama berabad-abad oleh bangsa-bangsa imperialis. Saya yakin, Anda juga masih meyakini bahwa tanggal itu sebagai tanggal yang sangat bersejarah bagi pembentukan negara yang kemudian diberi nama Indonesia itu. Dalam hal ini memang kita harus meyakininya. Namun dalam hal lain, mari kita tengok sebentar dan coba memahami makna kemerdekaan ini.

Sejak dibacakannya naskah proklamasi serta merta bangsa ini kemudian dengan yakin merasa telah mengalami kemerdekaan yang diartikan sebagai kebebasan. Yang kalau diterjemahkan dalam bahasa politik sebagai kebebasan untuk menentukan bentuk dan nasib bangsa ini sebagai bangsa yang mandiri tanpa disetir oleh kemauan dan kekuasaan bangsa lain (penjajah). Namun patut dicatat, bahwa dalam naskah proklamasi tersebut disebutkan bahwa proklamasi yang dibacakan oleh Bung Karno ini merupakan pengalihan kekuasaan. Yang kalau saya tafsirkan sebagai sebuah upaya untuk menggeser kekuasaan penjajah ke tangan bangsa sendiri. Artinya, pengalihan kekuasaan ini semula semata-mata digunakan untuk menyelamatkan kondisi bangsa yang tengah mengalami kekosongan kekuasaan. Dengan demikian, kondisi awal kemerdekaan ini sangat dipaksakan. Wacana untuk menata bangsa sendiri ini sepertinya justru muncul sebagai jawaban atas kekhawatiran terjadinya chaos. Dan benar saja, pasca pembacaan proklamasi di kediaman Soekarno ini, sejumlah daerah yang masih menganut sistem pemerintahan Jepang bingung untuk menentukan sikap. Di satu pihak, kekuasaan daerah hanya pasrah terhadap rencana penyerahan kekuasaan Jepang kepada Belanda yang disokong oleh Sekutu. Di sisi lain, muncul pula wacana untuk tetap bersetia dengan Jepang. Namun ada pula yang mulai merencanakan untuk memerdekakan diri. Dari hal itu, saya melihat penamaan Indonesia pada masa itu belum sepenuhnya dapat dimengerti dan dipahami oleh masyarakat secara utuh meski sebelumnya telah muncul ikrar bersama yang dicanangkan dalam Sumpah Pemuda.

Penggeseran kekuasaan ini pada mulanya tidak berjalan dengan mulus. Perdebatan seru mengenai sikap keras ini nampaknya semakin mengerucut begitu sebagian masyarakat bingung untuk memilih siapa yang semestinya berhak berkuasa di negeri ini. Serta merta kekuasaan baru yang dibentuk oleh sebagian pemuda-pemuda Indonesia ini mulai melakukan pendekatan yang lebih intensif di bawah pengawasan kekuasaan asing yang masih menyisakan kekuatannya di negara ini. Sebab bagaimanapun juga, pada saat itu kekuasaan asing masih memiliki hak untuk melakukan interfensi. Hal ini sebagai dampak dari perjanjian antara Jepang dengan Belanda yang pada intinya Jepang menyerahkan Indonesia ke tangan Belanda.

Dalam kondisi tersebut, rupanya banyak pula pemain-pemain politik yang telah ikut ambil bagian dalam menikmati kue kekuasaan tersebut. Beberapa dari pemain ini justru setia dengan Belanda. Mereka ini umumnya pangreh praja yang telah disuap dengan segala macam fasilitas. Tentu mereka ini kaum yang paling tidak nyaman dengan adanya kemerdekaan. Dan karena sikap mereka inilah, amuk massa kemudian sulit untuk dihindarkan.

Sikap beragam inilah yang kemudian membuat saya berpikir. Sejak awal kemerdekaan Indonesia merupakan sebuah persoalan dilematis bagi masyarakatnya sendiri. Keragaman sikap yang dimunculkan nampak dengan jelas seolah ingin membongkar sebuah peta teka-teki tentang sebuah pertanyaan, siapkah Indonesia merdeka? Atau dalam pertanyaan lain, untuk siapa sebenarnya kemerdekaan itu?

Saya tidak sedang meragukan tentang kemerdekaan negeri tempat saya lahir. Kali ini saya ingin kita sama-sama berpikir lebih ke depan dalam menghadapi tantangan zaman. Sebab, berkaca dari sejarah tersebut, kita dapat mengambil khikmah bahwa tidaklah mudah untuk menyeragamkan visi dan misi dalam mewujudkan impian besar Indonesia Merdeka. Penuh intrik dan konspirasi yang memiliki terminologi sangat rumit. Bahkan untuk menerjemahkan kata Nasionalisme sendiripun pada waktu itu masih menggantung. Artinya, nasionalisme untuk siapa? Penjajah, imperialis atau bangsa sendiri? Karena hal tersebut erat kaitannya dengan pembentukan kekuasaan Indonesia yang semula tidak pernah ada sebelumnya. Pemerintahan Indonesia bahkan baru lahir setelah kemerdekaannya. Bukan pada saat sebelumnya. Jadi, tarik-menarik pengertian tentang kekuasaan itu sendiripun menjadi seolah menjadi kewajaran. Mengingat hal tersebut sangat bergantung pada persepsi individual atau kelompok-kelompok kepentingan. Siapa membela siapa, siapa berkepentingan apa.

Ada beberapa hal yang mungkin patut menjadi catatan pula bagi kemerdekaan Indonesia pada saat itu. Masalah ekonomi Indonesia yang saat itu benar-benar dikuasai oleh kaum imperialis. Beberapa perusahaan asing yang memiliki andil besar dalam stabilitas ekonomi kaum penjajah saat itu merupakan perusahaan besar yang berpotensi dapat mengendalikan pencapaian inflasi. Krisis ekonomi yang dimunculkan dengan adanya perang dunia II nampaknya menjadi sebuah alasan bagi bangsa-bangsa besar untuk menguasai perusahaan-perusahaan besar yang sengaja didirikan di atas tanah jajahan mereka. Sehingga wajar jika kemudian kemerdekaan Indonesia ini menuai protes di kalangan negara-negara besar tersebut. Sehingga dengan kemerdekaan Indonesia ini, beberapa negara maju ini seolah kehilangan muka di hadapan dunia. Dan tidak mau kehilangan akal, merekapun hingga kini tetap berusaha dengan susah payahnya untuk tetap menerima kontribusi dari perusahaan-perusahaan besar yang ada di negeri ini. Alasan ketidakmampuan negara Indonesia dalam menangani manajemen perusahaan besar ini seolah menjadi penghalalan bagi penguasaan perusahaan-perusahaan besar tersebut. Sementara kita, terlalu memanjakan diri sebagai bangsa yang cukup mengandalkan kekayaan alamnya yang sebenarnya tidak mampu kita oleh sendiri. Kita selalu butuh kerja keras bukan kerja cerdas. Sehingga membudak pun seolah menjadi wajar adanya. Kalau memang demikian, saya jadi bertanya-tanya. Merdeka itu untuk siapa?

Salam merdeka!

Robert Dahlan

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......