17 September 2008

Sastra Kita Kapan Bangkit?

Hari kemarin, 16 September 2008 di sebuah kampus yang tergolek di kawasan Sekaran Gunungpati Semarang, sekelompok mahasiswa yang menamakan diri sebagai komunitas Sastra Indonesia menggelar helat yang cukup sederhana 'Buka Bersama dan Latihan Perdana'. Semula, ketika saya menerima SMS dari salah seorang panitia, saya sempat tertawa geli. Sebab, dalam otak saya terbesit sebuah kalimat tanya 'Apa yang akan dilatihkan tentang sastra?'. Sebab yang saya tahu tentang sastra ialah kepekaan terhadap segala sesuatu yang hadir di tengah-tengah kita. Lantas, kalau ini kemudian dilatihkan, lantas apa yang perlu dilatihkan?

Untuk alasan itulah, kemudian saya menyempatkan waktu untuk datang ke acara tersebut. Saya memang salah seorang bagian dari mereka ini. Karenanya, saya memandang wajib bagi saya untuk dapat hadir di tengah-tengah mereka.

Serentetan acara pun digelar. Semua yang saya lihat adalah wajah-wajah baru. Rata-rata mereka ialah mahasiswa semester satu. Cukup muda. Namun sebenarnya, mereka cukuplah untuk dapat dikatakan dewasa dalam berproses sastra. Tapi ironisnya, mereka bahkan menganggap dunia sastra adalah dunia yang sangat baru. Mereka menganggap diri mereka lahir terlalu prematur di dunia sastra. Ini benar-benar ironis. Ini salah besar.

Kalau memang yang di pikiran mereka sedemikian sempitnya, maka salah siapakah?

Ruang sastra sebegitu mewahnyakah? Sehingga, banyak orang menganggapnya sebagai dunia yang serba aneh. Dunia yang dipenuhi keajaiban. Sebenarnya tidak. Sastra menjadi ekslusif manakala sastra tidak menjadi salah satu sumber pengetahuan masyarakat. Ingat, dalam sistem budaya manapun, sastra menjadi salah satu unsur yang sangat kuat cengkeramannya dalam membentuk kultur masyarakat itu sendiri. Sebab di dalamnya memiliki unsur yang sangat lekat di dalam masyarakat. Bahasa. Lantas kenapa bangsa ini seolah alergi dengan sastra? Bahkan, seolah sastra hanya menjadi pajangan belaka.

Mungkin saya lebih akan membahas mengenai kealergian sistem politik kita dengan sastra pada kesempatan lain. Yang terpenting saat ini ialah bagi kita kebangkitan sastra ialah yang paling utama. Sebab, hampir semua agama mampu terverbalkan dengan baik dengan kaidah sastra.

Salam,
Robert Dahlan

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......