27 Oktober 2008

Takut Pensiun, Pejabat Ikut Nyalon

Beberapa hari lalu, saya sempat bertemu seorang pejabat publik di lingkungan Pemerintah kota Semarang. Dia melenggang dengan santai dan kemudian menghampiri saya yang tengah duduk-duduk di halaman gedung Balai Kota Semarang. Entah angin segar apa yang telah membuatnya sedemikian berubah. Sebelumnya, dia bukanlah tipe orang yang sangat ramah dengan orang-orang media (wartawan). Bahkan setiap kali ada wawancara, ia cenderung akan lari dari kejaran wartawan. Apa mungkin baginya wartawan adalah makhluk yang paling menyeramkan? Sebab, kalau sampai dia salah ucap, bisa jadi jabatannya yang dulu adalah sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum kota Semarang ini akan terancam. Atau paling tidak, dengan ucapan salahnya itu bisa jadi juga ia akan menjadi bulan-bulanan sang pimpinannya. Sehingga ia lebih memilih menutup diri dengan wartawan.

Tapi kini, orang yang kemudian saya kenal dengan nama Ahmad Kadarlusman ini tiba-tiba menjadi sosok yang paling ramah sedunia. Menebar senyum, menyambangi saya dan teman-teman dan kemudian menyalami kami satu-satu. Mungkin karena ia hampir mendekati masa pensiun? Atau karena dia merasa lelah main kejar-kejaran dengan wartawan? Atau karena dia kini sudah tidak menjabat Kepala dinas lagi?

Ternyata tidak. Sebab utama ia menjadi sosok yang paling ramah ini karena ia kini menjadi salah satu calon anggota legislatif di salah satu partai politik peserta Pemilu 2009. Dan tanpa ba bi bu lagi, tanpa kami tanya ia pun langsung membuat statement. Panjang lebar ia mengungkapkan maksud hatinya untuk menjadi salah satu anggota legislatif ini.

Katanya, "Keikutsertaan saya dalam pencalegan ini karena saya ingin mengaspirasikan keinginan masyarakat. Selain karena masa pensiun saya yang sudah dekat, saya juga ingin melibatkan diri saya untuk dapat memiliki peran politik yang lebih ketimbang saat saya menjabat kepala dinas maupun asisten ekonomi pembangunan."

Cukup politis. Namun bagi saya pernyataan itu sudah terlalu kuno. Ketinggalan zaman. Kemudian ketika ditanya sebenarnya kapan ia pensiun? Ia pun menjawab, "Sebenarnya masa pensiun saja jatuh pada akhir 2008 ini. Tapi saya ajukan lebih dini mengingat saya ikut dalam pemilu 2009. Dan Pak Walikota ketika saya temui tadi, beliau mendukung upaya saya ini."

Cukup menarik, mengingat sejauh ini memang dibutuhkan kekompakan yang solid antara pimpinan dengan anak buahnya. Jadi kalau saya cermati, dukungan itu ya sudah semestinya. Sebab, bagaimanapun juga yang namanya sebuah sistem ini harus didukung oleh semua kalangan.

Tapi kemudian saya sempat berpikir. Fenomena alih profesi pejabat menjelang masa pensiun untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif ini sepertinya sebuah alih-alih belaka. Mengingat sejauh ini, peluang untuk memiliki peran politik dengan menerjunkan diri sebagai anggota legislatif ini sepertinya sengaja dilakukan oleh orang-orang seperti dia. Bagaimana tidak, kalau semisal ia pensiun, tentu "pendapatan perkapita"-nya akan sedikit berkurang. Untuk itu, ia mencoba mencari penghasilan lain. Karena kebutuhan hidup saat ini secara materiil memang semakin membebani setiap orang. Jadi, mana ada orang yang mau jadi 'kere'.

Tentang perubahan drastisnya menjadi makhluk yang super ramah, saya justru menilai ini sudah menjadi trik kuno bagi pelaku politik. Sebab mana ada orang yang ingin mengenalnya jika ia masih tetap menjadi makhluk angker atau menjadi makhluk yang sangat berusaha menjauh dari media. Melihat hal demikian, saya jadi tertawa geli.

Dan untuk menghindar dari kegelian yang teramat ini, lebih baik saya sudahi dulu tulisan ini. Bisa-bisa saya malah akan menertawai hal yang seharusnya tidak saya tertawai. Yang penting selamat bagi para calon yang akan ikut dalam audisi Pemilu 2009. Semoga rakyat memang benar-benar masih percaya. Pesan saya, jangan sakiti rakyat yang sudah kadung tersakiti.

Salam,
Robert Dahlan

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......