03 Desember 2008

Antisipasi Macet Gara-gara Banjir, Dinas Perhubungan Kota Semarang Siapkan Rambu Tambahan

Kota Semarang tanpa banjir? Mungkin hal itu akan sangat menjadi kejadian luar biasa. Sebab yang saya tahu, setiap musim hujan tiba kota Semarang yang dalam lantunan suara Waljinah selalu didengungkan 'Semarang kaline banjir/ jo sumelang jo dipikir (Semarang sungainya banjir/ jangan bersedih jangan dipikir)'. Dari penggal kalimat itu nyata sudah bahwa kota Semarang sudah terbiasa dengan masalah banjir sebagaimana yang terjadi pada kota-kota pesisir lainnya. Namun apa sebenarnya yang telah diupayakan pemerintah setempat untuk menghindari masalah kemacetan lalu lintas yang selalu terjadi di kawasan-kawasan rawan banjir?

Kali ini Kepala Dinas Perhubungan kota Semarang Andi Agus Wandono akan menjelaskannya. Berikut kutipan wawancara saya dengan beliau.

Tanya: Mengantisipasi adanya kawasan rawan macet pada sejumlah titik rawan banjir di kota Semarang ini, apa yang telah dipersiapkan oleh Pemerintah kota Semarang dalam hal ini Dinas Perhubungan kota Semarang, Pak?

Jawab: Kita (robert= kami) sudah menyiapkan rambu-rambu petunjuk dan rambu-rambu alternatif. Apabila terjadi banjir, khususnya banjir yang di Kali Tenggang itu ya, saya lihat itu masih banjir itu kemarin, nah itu kita (robert= kami) buatkan rambu arahan supaya tidak masuk, truk-truk besar maksudnya tidak boleh masuk di sana. Itu kita koordinasi dengan kepolisian, sudah secara otomatis itu berjalan. Kemudian juga yang di jurusan barat, kita (robert= kami) juga membuat rambu peringatan, pemberitahuan maksudnya. Kalau ada banjir, dialihkan arus lalu lintasnya ke jalan tol misalnya, jalan arteri dan sebagainya. Itu kita (robert= kami) sudah kordinasi dengan pihak kepolisian, jadi sudah tidak ada masalah. Sudah secara otomatis itu.

Tanya: Untuk kawasan-kawasan rawan macet akibat banjir sendiri itu mana saja, Pak?

Jawab: Kalau rawan macet akibat banjir itu kan karena efek banjir itu ya? Kemudian jalur-jalur itu kan kita (robert= kami) lihat kondisinya yang mana yang macet. Yang penting kita (robert= kami) sudah menyiapkan rambu-rambunya. Nanti bentuknya secara umum. Kalau yang di lapangan itu koordinasi dengan polisi. Nanti dari polisi kan menyampaikan, ini perlu rambu ini. Nanti dari polisi siap, polisi yang pasang, kalau dari saya (robert= Dinas Perhubungan kota Semarang) yang siap, saya yang pasang.

Tanya: Untuk pengadaannya sendiri, apakah dilakukan hanya dilakukan Dinas Perhubungan kota Semarang sendiri atau bersama-sama?

Jawab: Polisi dan Dishub sama. Mengadakan sendiri-sendiri. Mengadakan sendiri secara koordinasi. Baik itu pemasangannya secara sendiri. Polisi mengadakan sendiri, Dinas mengadakan sendiri kemudian pemasangannya secara koordinasi baik tidak perlu rapat lewat telepon saja sudah bisa.

Tanya: Kalau kondisi jalan rawan macet sendiri di kota Semarang ini mana saja, Pak?

Jawab: Kalau di Mangkang sekarang sudah tidak mungkin. Sudah tidak ada. Kalau Bubakan itu secara otomatis akan dialihkan ke kanan. Dari arah jalan Mataram itu bisa masuk ke kanan, tidak usah masuk ke bundaran tapi bisa langsung belok ke kanan. Tapi itu kita pasang rambu. Kemudian kalau itu sudah membahayakan sekali, dari arah sana itu kita langsung belokkan ke kiri. Kalau yang dari Citarum itu bisa lewat dr. Cipto. Supaya itu tidak tumpuk. Jadi, kita jadikan satu arah. Nah, itu nanti akan kita koordinasikan dengan kepolisian.

Tanya: Kawasan lainnya?

Jawab: Kalau di kawasan yang masih dapat dilalui kendaraan, itu tidak perlu dibuat alternatif. Misalkan kendaraan-kendaraan kecil Daihatsu (angkot) masih bisa namun pelan-pelan itu tidak masalah. Namun biasanya kawasan rawan macet ini sering terjadi di kawasan Pengapon. Dari Pengapon itu, kalau kendaraan-kendaraan kecil, itu harusnya langsung masuk tol itu. Tapi itu sudah banjir di sana, sudah otomatis lewta arteri atau lewat tol. Itu nanti ada papan pengumuman, pemberitahuan pengalihan arus lalu lintas.

Tidak ada komentar:

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......