06 Mei 2008

Buruh Tinta

Suatu pagi yang membosankan, yang ku temui masih saja sama dengan kemarin dan hari-hari yang telah aku lalui, pada jam yang sama dengan kemarin, pada tempat yang tak jauh beda dengan kemarin lusa. Selalu. Sekelompok anak manusia berjalan di antara dinding tebal dengan ketinggian yang kurang lebih antara 40 hingga 50 meter kira-kira. Dengan tas yang lekat di punggung mereka dan langkah mereka yang tampak terburu-buru. Sesekali terdengar renyah tawa mereka. Sebentar aku pejamkan mata, berharap semoga pemandangan ini segera berganti. Namun nihil. Sepertinya waktu kian melambat, seiring usianya yang kian renta. Ataukah karena langkah-langkah mereka itu? Tapi bukan. Entah aku merasa sesuatu telah mengubah jalan pikiranku tentang waktu. Mungkin karena aku telah bosan hidup di dunia ini? Atau karena aku terlalu banyak menyaksikan indahnya taman di tengah kota yang kini mulai ditanami gedung-gedung pencakar langit? Atau aku kehabisan gunung yang ingin aku daki lantaran telah banyak kompleks perumahan dan villa di sana? Entahlah.

Dulu aku pikir hidup ini indah. Kadang aku tak mau berbagi dengan yang lain karena saking indahnya. Aku jadi makhluk paling egois waktu itu. Ketika di pantai tak boleh satupun anak yang boleh menyelami ombak dan bermain dengan buih-buih mungilnya. Dan ketika aku pergi ke puncak, sedikitpun aku tak membolehkan saudaraku, adikku satu-satunya berbaring sembari memandang langit yang dipenuhi bintang. Selalu aku katakan padanya, “Semua bintang itu milikku.” Kalaupun ada bulan, maka bersegera aku merebutnya dan mengantonginya ke dalam retina mataku.

Sekarang, yang tersisa asap rokok, bau alkohol dan berbagai aroma yang bertumpang tindih dalam sebuah kotak yang digerakkan mesin disel. Sama sekali aku tak dapat menikmatinya. Aku harus turun manakala di tempat tujuanku. Dan memang aku agak sebal dengan hal-hal semacam ini. Sekali waktu aku justru memutuskan untuk turun sebelum tempat tujuanku. Aku mual. Bau alkohol yang keluar dari mulut pengamen yang menyanyikan lagu-lagu yang sebelumnya tidak pernah aku kenal. Mungkin dari sekian pengamen yang pernah aku temui hanya ada satu yang aku gandrungi.

Ketika itu malam masih menyisakan sedikit waktu. Seorang pengamen yang tak pernah aku kenal namanya, menyanyikan sebuah lagu Belum Ada Judul-nya Iwan Fals. Aku takzim benar. Seluruh bagian dalam telingaku khusuk mendengarkan lantunan itu. Dari satu nada menjadi dua, dari dua nada menjadi sepuluh, hingga ujung nada terakhir aku dengarkan semuanya. Bahkan aku tak menghirau sebelah tempat dudukku. Seorang perempuan malam tengah menangis di sebelahku. Entah kenapa? Tiba-tiba saja ia menyandarkan kepalanya tepat di pundakku. Sepertinya ia tengah melabuhkan segala beban pikirannya yang berkecamuk. Dan ketika semua kembali larut dalam kebisuan yang terdengar olehku hanya suara isak tangis yang ia tahan dan raungan mesin tua. Tak berapa lama, ia tersadar.

“Maaf ya mas.” Katanya dengan wajah merah dan mata yang sembab.

Aku hanya diam.

“Lagu itu benar-benar mengingatkanku pada seseorang.” Rupanya ia ingin membuka kembali pembicaraan yang terputus.

“Teman, Mbak?” tanyaku sekadar membasahi bibir.

Ia mengangguk dengan helaan nafas dalam. “Sudah lama kami tak bertemu. Terakhir ketemu, ia mati dilindas kereta api. Mengenaskan.” Matanya kembali sembab, dan bulir air mata kembali meleleh, menganak sungai di pipinya.

Aku tak berani menatapnya lagi. Kutundukkan kepala.

“Padahal, waktu itu sudah aku bilang, jangan pernah merasa dirimu itu kesepian. Kau masih punya teman. Tapi ia tetap saja tak mendengar. Dan yang paling menyakitkan, ia justru bilang padaku, aku tak punya teman sekotor kamu.”

Aku semakin tak berdaya. Tangisnya membuatku berpikir jauh menerawang ke dalam sebuah gelombang putaran waktu yang semakin jauh ke belakang. Dalam belantara ingatan aku kembali menyusuri setapak kisah yang aku pendam lama. Terlalu lama. Bahkan mungkin aku lupa karena begitu banyak persimpangan kemudian yang aku buat. Lekuk setapak ingatan itupun sering kali membingungkan. Dan kutemui sebuah nama di sana. Robert. Ialah teman ketika kami sama-sama belum mengenal betul dunia. Entah kini kemana? Aku telah meninggalkannya jauh-jauh. Dan siapa kira kemudian aku akan hidup di sini. Di tempat yang sangat jauh darinya. Sebuah kota dengan pemandangan yang menawarkan surga bagi tiap penghuninya. Namun tak luput pula di sisi lain, aku merasa ini adalah neraka.

Suatu malam, di temani tetesan air sisa hujan, di dalam kamar aku sempat berpikir untuk segera enyah dari kota ini. Tapi tidak. Aku tidak bisa meninggalkannya. Karena aku ingin hidup. Dan sampai pagi ini kembali pun aku tetap ingin hidup. Meskipun asap timbal aku kira sudah memenuhi rongga paru-paru dan virus penyakit telah menjangkiti darahku.

Sungguh pagi yang sangat membosankan. Dan kenapa aku harus membuka ingatanku kembali? Toh, tetap saja tak membuat pemandangan di depan mataku berubah. Tetap saja mereka. Satu-satu wajah mereka mulai aku kenali. Ku lambaikan tangan, dan menyapa mereka di pagi yang membosankan ini. Ya, mereka inilah temanku. Tak apalah, jauh dari Robert.

“Ada kabar?” tanya Inay.

“Tidak.” Jawabku. “Aku sedari tadi menunggu tetap saja tak ada kabar.”

Ini hari kedua setelah aku harus mengistirahatkan diri dari segala pekerjaanku. Tentu aku tak begitu tahu apa yang tengah bergemuruh di luar sana ketika aku tak lagi menarikan penaku dan memutar otakku.

“Sudah baikan?” tanya Inay.

“Aku rasa tidak ada yang perlu diperbaiki.”

Ya, aku pikir segala sesuatu tidak selamanya harus diperbaiki. Sebab, banyak hal yang kemudian teramat sulit untuk aku pahami. Bahkan sampai saat ini aku pun tidak sepenuhnya mampu menerjemahkan arti kata pekerjaan. Yang ku pahami dari sebuah logika tentang pekerjaan kini hanyalah mengerjakan sesuatu sesuai dengan perintah. Aku hanya menjadi aneksasi dari sebuah perusahaan. Aku hanya boneka permainan pengusaha dalam memainkan peranannya sebagai kepanjangan tangan untuk meraup keuntungan besar bagi mereka.

“Ini surat kontrak Anda. Mohon tanda tangan di bawah sini.” Jari lembut perempuan yang kemudian ku kenal bernama Surti pun menunjuk dan mengacungkan sebuah ballpoint kepadaku.

“Dan ini ketentuan yang berlaku di perusahaan kita.” Suaranya lembut selembut bibirnya yang tipis.

Tiba-tiba suara langkah lari kecil menghampiri dari arah belakangku. Kian mendekat dan semakin mendekat. Aku kenali langkah ini. Suara itu menabrak ke daun telingaku dan mulai merambat ke rongga telinga dan mengirimi pesan ke dalam gendang telinga, lalu merambatlah sampai ke dalam otakku.

“Ada demo!” seru suara perempuan yang tak lain ia, Restu.

Aku bergegas membalikkan badan dan segera menghampirinya.

“Demo?” tanya Prio.

“Di mana?”

“Siapa?”

“Masalah?”

“Kapan?”

“Berapa orang?”

Semua tanya bertubi dengan satu jawaban, “Sebentar lagi datang.” Kata Restu.

“Ikut?” tanya Inay padaku.

Tanpa kujawab, aku pun langsung melebarkan jenjang kaki dan berpacu dengan detik-detik yang tak menentu. Membuang batang rokok, dan mengangkat tas ransel kehidupanku. Ya, di dalam tas itulah aku titipkan nyawa entah keberapa yang aku punyai. Sekadar menyambung penderitaan yang semakin tak jelas ujung rimbanya. Penderitaan? Kenapa pula aku sebut hidup penderitaan? Aku jadi ingat sebuah buku yang pernah aku baca. Dalam tulisan buku itu menyebutkan, kehidupan yang sebenar-benarnya hidup ialah kematian. Dan kehidupan di dunia ini adalah kematian. Karena di dalam kematian ruh terlepas dari beban dunianya, terlepas dari kungkungan keinginan jasmani. Dan ruh tak butuh itu semua. Ia akan kembali menyatu pada empunya. Tuhan. Ah, semakin aku merinding dibuatnya.

Kadang sempat terpikir olehku, kalau memang demikian, apalah artinya hidup? Apakah hanya menuruti kebutuhan jasmani? Atau justru mencoba mendobrak pintu-pintu penjara ruhani? Membebaskannya dari kungkungan jasad yang semakin merenta. Membebaskan dari segala penderitaan. Atau hanya menunggu? Ah, Tuhan berikan aku jawaban pasti. Sementara waktu tak mau menunggu terlalu lama.

Di depan puluhan manusia berseragam bertampang seram menghadang. Pagar gedung kantor walikota pun ditutup rapat. Sepertinya ada sesuatu yang sengaja disembunyikan. Entah apa itu? Aku tak mau mempedulikannya. Yang ku tahu di sekitar jalan depan gedung itu seorang petugas kulihat dimaki seseorang yang menunggangi kendaraan mahalnya. Sebuah mobil mewah berwarna merah dengan simbol kuda jantan.

“Saya mau masuk!” kata seorang lelaki berkumis lebat dari dalam mobil.

“Tidak boleh, Pak. Bapak hanya dibolehkan memutar dan lewat pintu belakang, Pak.” Kilah si petugas berseragam lengkap.

“Ini urusan penting!”

“Tetap saja Bapak harus lewat pintu belakang.”

Merasa tersinggung lelaki setengah baya itupun turun dan tambah membentak, “Menghina kamu! Saya tidak biasa lewat belakang. Kamu belum tahu saya ya? Mana komandan kamu?” dadanya kian membusung dan tatapan matanya kian liar. Ada bara yang segera tersulut menjadi api di dalam hatinya.

Aku hanya tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Dalam pikiranku, hebat betul si pak tua ini. Begitu kebal dengan seorang petugas. Ah, apa peduliku. Toh, begitulah kira-kira potret kehidupan. Kemenangan hanya kepunyaan mereka yang memiliki kuasa. Dan aku, siapa aku? Aku hanya bisa tertawa kecil ketika memandangi diriku dalam ketelanjangan pikiranku. Ketika aku membiarkan diriku meliarkan diri. Dan saat ini aku hanya seekor binatang liar yang bernama manusia. Yang salah menempatkan diriku dalam kandang dunia yang sedemikian mencengangkan. Di tengah rimba yang dipenuhi gedung tinggi lebat dengan akar-akar kuatnya yang menjuntai dan menyeramkan. Ah, aku jadi ingat pulang ke rumah. Di kota kecil yang tak terlalu dilebati oleh gedung-gedung tinggi. Teringat pula wajah Ibu yang sesekali hadir dalam mimpi-mimpi malam. Bercerita tentang menderitanya ia karena banyaknya hal yang ia hadapi dalam kesendiriannya yang telah lama ia alami. Kadang ia ceritakan pula kebahagiaannya ketika ia mendengar mendapatkan pekerjaan di kota ini.

“Heh, itu mereka!” seru Inay.

Sontak aku terkaget.

Dan jadilah sebuah berita besar yang kemudian muncul di televisi, koran, radio dan beberapa majalah. Benar saja, ribuan orang ini memang sempat membuat gempar. Seisi kota sepertinya tumpah ruah ke jalan. Tercecer. Mandi dalam kolam dunia dengan panas matahari kota yang jelas tak seakrab dengan kota ku yang kecil. Keringat dan ingar-bingar koar orang-orang yang meneriaki walikota, menuntut mundur dari jabatannya. Dalam pikiranku hanya sederhana saja, kalau memang walikota mundur, siapa yang mau menggantikannya kalau tahu ketika ia duduk di atas kursi panas itu hanya untuk mundur juga.

“Ya, kalau walikota nggak bisa ngurus masalah buruh ya mundur saja! Percuma dong kami percayakan ke dia. Wong dianya nggak mau ngerti nasib buruh.” Kata salah seorang pendemo. “Tolong ya mas, mbak sampaikan pesan kami ini sebagai buruh. Atas nama perjuangan buruh. Atas nama demokrasi!” sambungnya.

“Negeri ini, kota ini kadung sakit mas, mbak. Orang-orang yang duduk di sana hanya memikirkan perutnya sendiri.” Sahut yang lain.

“Ganti saja!”

“Copot!”

“Mundur!”

“Mundur!”

“Mundur!”

Entahlah, dari mana mulanya mereka sedemikian memaksa walikota ini untuk mundur. Mereka begitu bersemangat untuk meneriakkan kata ‘mundur’. Entah, apa mereka benar-benar mengerti konsekuensi dari kata ‘mundur’ itu sendiri atau malah sebaliknya, tak tahu apa-apa jika walikota benar-benar mundur. Ah, yang penting aku catat saja dulu. Semuanya. Dan jangan sampai satupun terlewat. Sebab di luar sana ada banyak manusia yang tengah menunggu sejauh mana berita ini kemudian akan beredar.

Kadang aku tak habis pikir, kenapa mereka sebegitu marahnya. Apakah karena memang mereka merasa dicundangi kekuasaan? Ataukah karena ada sulut api yang membakar mereka? Sedang aku dan kawan-kawan seolah tak punya hak untuk melakukan hal yang sama. Ketika kami dikebiri oleh penguasa-penguasa kami. Yang boleh kami lakukan hanya menulis dan menulis tentang nasib ibu-ibu yang merana karena tak mampu membeli beras, tentang bapak-bapak yang tak lagi mampu membiayai sekolah anaknya, tentang pahlawan yang tak diperhitungkan jasanya dan segudang nasib yang sedemikian terpuruknya.

Suatu ketika aku ingat, di siang yang disirami sengat matahari, puluhan ribu petani menggeruduk kantor gubernur. Mereka minta kejelasan hak atas tanah garapan mereka yang dikuasai oleh sebuah perusahaan perkebunan ternama. Aku catat peristiwa itu sebagai peristiwa pencabulan massal atas keringat petani. Dengan judul besar aku buat tulisan itu karena semata aku ingin mengungkapkan kegundahan puluhan ribu petani yang harus menangisi nasib mereka. Paling tidak, saat itu rasa kemanusiaanku muncul karenanya. Namun terkadang kemanusiaan juga sangat sulit untuk dapat dimengerti. Aku justru dituduh telah melakukan provokasi. Aku ditikam teman sendiri.

“Berita sampah macam apa ini?” ujar kawan sekantor dengan nada mencibir.

“Maksudmu?”

“Lihat. Tulisanmu ini tidak laku di koran kita. Kau cuma buang-buang energi untuk menuliskan ini semua.”

“Buang-buang energi?”

“Ya, coba tengok. Apa perlunya kau bikin berita macam ini? Dan siapa pula yang sudah kau kritik habis-habisan? Bodohnya kau!”

“Ini fakta Bang! Puluhan ribu petani menangis karena perusahaan raksasa itu.”

“Hei, aku ingatkan kau sekali lagi. Jangan pernah singgung nama besar perusahaan ini. Ingat itu!”

“Ini fakta!”

“Heh, minta didor kau?”

“Lantas apa gunanya?”

“Masih juga bertanya kau?”

“Aku butuh penjelasan Bang.”

“Belum cukup kuat penjelasanku? Bagaimana kalau mulai hari ini kau istirahat dulu? Aku tidak mau dengar tulisan-tulisan kau yang bikin provokasi itu.”

“Heh Bang, kita sudah berjuang bertahun-tahun Abang justru main tikam teman. Sudah gila kau Bang? Yang benar saja Bang? Kita mau main apa? Politik? Bisnis? Atau Abang sedang cari muka?”

“Heh, sekali kau ngomong soal ini lagi aku tak segan-segan memecat kau. Ingat itu! Sekarang enyah kau dari muka aku! Enyah!”

“Omong kosong apa ini Bang?”

“Supri! Panggilkan satpam untuk wartawan gila kita ini. Aku sudah muak lihat dia punya muka!”

“Bang, dosa kau Bang!” aku berusaha meraih lengannya namun beberapa orang telah menghalangiku.

“Supri!” lantang ia memanggil.

“Aku belum selesai bicara! Bang! Bang!”

Dan kapanpun pembicaraanku tempo hari tak akan pernah selesai. Sebab, sesuatu telah merusak keteguhan imanku untuk meyakini tentang kemanusiaan dan kebenaran. Sekarang, haruskah aku tulis dengan kemanusiaan?

Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......