01 Mei 2008

Buruh Gelar Aksi Seni

Jum'at, 25 April 2008 | 11:55 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:-- Para buruh punya cara tersendiri untuk mengekspresikan peringatan Hari Buruh yang jatuh pada Mei mendatang. Tak melulu melakukan aksi keras, mereka juga bisa unjuk rasa di atas panggung. Lewat acara kesenian bertajuk "Sehari Bersama Kesenian Buruh", mereka menggelar panggung musik ala kadarnya di Halaman Teater Taman Ismail Marzuki, Rabu lalu.

Acara yang merupakan rangkaian agenda menyongsong May Day 2008 ini murni disokong kocek para buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Carrefour Indonesia (SPCI) dan Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia.

"Pergelaran acara kesenian ini menjadi perekat solidaritas dan menyatukan barisan meminta kebijakan," ujar Ketua SPCI Abdul Rahman. Kebijakan yang diminta para buruh ini tampaknya tak berubah dari tuntutan setahun lalu, yakni penghapusan sistem kontrak, penolakan upah murah, pencabutan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, dan penolakan pemutusan hubungan kerja secara massal.

Panggung yang identik dengan kostum SPCI berwarna merah ini pun dihiasi secara sederhana. Bahkan dua buah sapu lidi bisa dibuat sebagai hiasan di sudut panggung. Tiap-tiap buruh dari berbagai wilayah, dengan sukarela naik ke atas panggung untuk beradu aksi. Ada yang bersolo gitar, membaca puisi, dan memainkan musik. l AGUSLIA HIDAYAH

sumber: www.tempointeraktif.com

Celoteh di 1 Mei Pagi

Hari ini buruh merayakan hari raya BURUH Dunia beberapa dari mereka melakukan aksi turun jalan untuk menyuarakan jeritan dan penderitaan mereka. Mempertanyakan kesungguhan pemerintah sebagai lembaga formal yang memiliki kekuasaan penuh atas nasib umat manusia yang menghuni sebuah kawasan yang bernama negara. Mereka mencoba mendobrak dan mencoba untuk membuat pemerintah agar dapat lebih membuka mata dan hati penguasa agar lebih arif dalam memberlakukan sebuah kebijakan mengenai ketenagakerjaan. Hanya satu yang mereka minta, pedulikan BURUH. Tidak lebih....

Saya kira hari BURUH kali ini sudah saatnya pemerintah mulai membuka diri dan melakukan terobosan-terobosan baru dalam memberikan perlakuan terhadap BURUH yang saat ini merupakan penopang kekuatan ekonomi di semua lini kehidupan. Sebutan sebagai 'penyumbang devisa' saja itu tidak cukup untuk dapat mengangkat harkat mereka. Namun lebih dari itu, mereka ini harus pula dimanusiakan. Mereka bukan mesin pencetak uang negara. Mereka bukan kotak ajaib para pengusaha yang bisa membuat kaya. Mereka hanya manusia lemah yang hanya mengantongi semangat dan keinginan untuk lepas dari penderitaan. Untuk itu, ironis jika kemudian penderitaan mereka hanya akan semakin ditimpa dengan penderitaan baru yang semakin bertubi-tubi. Sistem kontrak dan out sourcing merupakan pemerkosaan besar-besaran yang telah dilakukan penguasa untuk bisa memanjakan pengusaha.

Sejalan dengan itu, pemberlakukan kedua sistem tersebut juga telah jauh dari semangat dasar perekonomian kerakyatan yang dijanjikan pemerintah. Harus disadari pula, bahwa konsep dasar perekonomian kerakyatan bertumpu pada kekuatan-kekuatan ekonomi rakyat bukan pengusaha meskipun kita sadar, pengusaha juga rakyat namun jumlah mereka mungkin hanya 0,0001% dari sekian banyak rakyat yang hidup di negara ini. Pemerintah seharusnya lebih proaktif dan lebih memberikan pembelaannya kepada BURUH. Inilah tantangan berat yang dihadapi pemerintah saat ini mengingat penguasa-penguasa di negeri ini juga seorang pengusaha. Kiranya momentum hari BURUH kali ini seharusnya menjadi refleksi dan titik balik dari sejarah perburuhan Indonesia. Semoga saja pemerintah kita tak buta mata hatinya... Amin...

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......