31 Juli 2008

Kekuasaan Perempuan

Salam,

Kasus BLBI yang belakang kembali ramai dibincangkan di berbagai media dan menyeret sejumlah nama penting nampaknya benar-benar telah menampar muka bangsa ini. Lebih-lebih bagi kaum feminis lantaran salah satu aktor penting dalam proyek bagi-bagi duit tersebut juga menampilkan sosok perempuan yang kita kenal dengan nama Artalita Suryani. Tidak disangka ada sebuah fenomena yang sangat begitu luar biasanya dengan kemunculan sosok yang dikenal sebagai 'Ratu Lobi' ini. Sebab, dalam khazanah budaya kita perempuan senantiasa didudukkan pada porsi yang serba lemah dan harus menurut pada kungkungan laki-laki. Bahkan, dalam filosofis budaya Jawa kita kenal pula bahwa perempuan hanya menjadi bumbu pelengkap bagi kekuasaan laki-laki. Meskipun di satu sisi dengan kondisi semacam ini sebenarnya keberadaan kaum hawa ini sangat dimungkinkan adanya penyetiran terhadap kekuasaan laki-laki. Salah satu contoh kasus, kekuasaan raja-raja Jawa senantiasa bermasalah ketika dikaitkan dengan keberadaan perempuan. Ken Arok misalnya, seorang penguasa yang sukses menapaki tampuk kekuasaannya dengan gagah berani ini bahkan harus dilumpuhkan oleh peran Ken Dedes. Konspirasi yang dimainkan secara cerdas oleh Ken Dedes telah mematikan karakter kekuasaan Ken Arok sedemikian halusnya. Hingga hampir tak tersentuh.

Dalam beberapa mitos di belahan dunia lain pun senantiasa kita temukan hal serupa. Dewa Zeus yang merupakan dewa tertinggi dalam keyakinan peradaban Yunani Kuno harus puas di bawah kendali Dewi Hera yang selalu bermusuhan dengannya. Bahkan, dengan kesemena-menaan Hera, Zeus tetap saja tak dapat berbuat banyak. Malah ia hanya menyerahkan persoalan itu kepada Hercules sang anak dewa itu dari keturunan manusia. Hal ini sungguh menampakkan betapa lemahnya posisi kaum Adam.

Dengan demikian, sebenarnya kedudukan perempuan amat sangat menentukan konstalasi politik secara tidak langsung. Dan pengakuan ini tidak hanya harus menjadi isapan jempol belaka. Ingat, dalam sebuah ungkapan pernah pula disinggung 'Perempuan adalah tiang agama'. Ungkapan ini jelas membawa sebuah konsekuensi yang sangat besar. Sebab, dalam ungkapan selanjutnya dikatakan pula 'Agama adalah tiang negara'. Jika kedua ungkapan tersebut disilogismekan, maka dalam hal ini dua pernyataan tersebut akan diperoleh sebuah titik temu 'Perempuan adalah tiang negara'.

Dari pernyataan tersebut sudah sangat jelas bahwa kegoyahan kekuasaan sebenarnya tidak disebabkan adanya percikan api akibat gesekan politik yang dimainkan aktor-aktor politik. Atau adanya proses politik yang sengaja digulirkan oleh kelompok-kelompok tertentu dalam meraih kekuasaan. Melainkan ini disebabkan adanya peranan perempuan di balik ini semua. Dalam hal ini perempuan memang tidak menampilkan sosoknya secara nyata namun kaum hawa ini hanya menjadi sosok pengukur waktu yang berada di balik layar dalam sebuah pertunjukan panggung dunia politik. Bagaimana tidak, kondisi tertekan yang dirasakan perempuan semakin lama semakin mendekati titik kulminasi. Semakin ia ditekan oleh sebuah konspirasi politik, maka kita tinggal menunggu ledakan dahsyat yang segera akan digulirkannya.

Saya ingat betul pada sebuah film yang menceritakan tentang Yunani Kuno yang dimainkan oleh Tom Cruise. Troy judulnya. Dalam film tersebut jelas perempuanlah yang memegang peran penuh atas konspirasi yang terjadi. Bukan Archiles maupun kaum laki-laki. Dalam film tersebut, menurut kacamata saya, Helena-lah sang pemegang kuncinya.

Dalam kasus yang kini ramai dibincangkan, Artalita menjadi tokoh kunci yang sebenarnya kalau mau ditelusuri lebih lanjut, akan dapat memunculkan dampak yang sangat luar biasa. Sayangnya, vonis hukuman telanjur dijatuhkan. Yang ini sama artinya dengan kasus ini akan segera berhenti. Sebab, semua kalangan yang terlibat dalam kasus ini tahu persis jika Artalita berhasil membuka pintu kebobrokan kekuasaan, maka semuanya akan hancur. Kekuasaan atas negara yang kini berada di genggaman laki-laki, dapat dipastikan akan terburai. Negara hanya menjadi bangkai yang tak berharga lagi.

Di satu sisi, saya melihat fenomena ketokohan Artalita patut menjadi catatan khusus bagi negara ini yang tengah terpuruk oleh kegamangannya sendiri. Di sisi lain kemunculan Artalita yang cukup mencengangkan kita, seharusnya menjadi sadar diri bahwa kekuasaan politik dengan model apapun itu. Dari demokrasi sampai theokrasi tetap harus memberikan porsi secara proporsional terhadap kaum yang sebenarnya tidak 'lemah' ini. Tidak hanya karena jumlahnya yang lebih banyak dari laki-laki. Melainkan karena perempuan sebenarnya makhluk yang sangat sulit untuk diterjemahkan oleh kekuasaan laki-laki.

Saya jadi teringat apa yang disampaikan Cak Nun (Emha Ainunnajib) dalam sebuah pengajian yang digelar beberapa tahun lalu di sebuah kampus di Semarang. Dia mengungkapkan dengan gayanya yang nyeleneh tentang konsep imam dalam shalat. Ditanyakannya pada semua yang hadir, "Kenapa perempuan selalu ditempatkan di shaf belakang setelah shaf terakhir laki-laki?"

Beberapa dari yang hadir menjawab, "Ya karena itu aturannya."

Cak Nun hanya tertawa mendengar itu. Dikatakannya, "Kalau itu karena sebuah aturan, habis perkara. Kajian akan selalu terhenti di situ dan tidak akan dapat mewacanakan konsepsi kekuasaan yang sesungguhnya. Nah, saya tanya lagi. Kenapa ada aturan semacam itu?"

Yang hadir hanya bengong.

"Ya karena perempuan makhluk terindah. Saking indahnya, perempuan selalu memunculkan multitafsir atasnya. Coba kalau perempuan ditempatkan di depan makmum laki-laki? Pasti akan memunculkan banyak pikiran dalam otak laki-laki. Bahkan, tidak menutup kemungkinan jamaah shalatpun akan bubar. Untuk itu, perempuan ditempatkan di belakang. Dan satu hal, karena makhluk terindah maka mereka ini harus dijaga. Bukan dimanfaatkan." pesannya.

Salam,
Robert Dahlan

Demo PKL Dinilai Salah Sasaran

Penolakan puluhan pedagang kaki lima yang selama ini menempati kawasan Jalan Gajahmada dinilai kurang tepat sasaran. Hal ini dikarenakan puluhan PKL ini, sebagaimana diungkapkan oleh Camat Semarang Tengah Isdiyanto, justru menempati kawasan "merah" bagi PKL. Dengan kata lain, kawasan yang ditempati PKL ini merupakan yang tidak memiliki izin dari Pemkot Semarang. Selain itu, menurutnya puluhan PKL ini justru dinilai telah mengganggu proses pengerjaan proyek tamanisasi yang dilakukan Pemkot Semarang. Isdiyanto juga beralasan, jika relokasi PKL tersebut terkait dengan upaya Pemkot Semarang untuk mempertahankan keindahan taman di kawasan tersebut.

"Kami sudah melakukan koordinasi sebelumnya dengan dinas-dinas terkait untuk relokasi PKL di kawasan tersebut. Namun karena mereka nampaknya tidak sabar untuk segera menyuarakan aspirasi mereka ini. Ya, terjadilah aksi hari ini." kata Isdiyanto.

Namun sejauh ini, proses relokasi belum juga terrealisir. Bahkan, selama ini upaya pemerintah kota Semarang untuk melakukan penertiban PKL di kawasan tersebut belum juga dilakukan. Mengingat selama ini sebagaimana diakui Isdiyanto, lokasi baru bagi PKL ini belum juga ditemukan. Dalam hal ini, untuk menampung 70-an PKL ini, Pemkot baru memiliki lokasi baru yaitu di kawasan Batan Selatan.

"Ya, memang lokasi tersebut tidak dapat menampung semua PKL. Sebab, di kawasan tersebut masih menyisakan 69 titik yang belum terpakai. Rencananya, kami akan membagi titik-titik tersebut ke dalam dua shif. Jadi, PKL akan secara bergantian menggunakan lokasi tersebut. Sebagian PKL akan berjualan siang hari dan sebagian lagi akan berjualan pada malam hari. Tapi, rencana ini masih ditolak PKL. Karena mereka menginginkan setiap PKL menempati satu titik." ungkap Isdiyanto.

Melihat kenyataan itu, beberapa upaya negosiasi antara Pemkot Semarang dan PKL kini mulai dibahas. Dalam hal ini, Pemkot Semarang berupaya untuk menyelesaikan pertentangan tersebut.

"Sejalan dengan itu, Pemkot kini tengah melakukan koordinasi guna membahas hal tersebut." tandasnya.
[Ribut Achwandi_Trijaya FM Semarang]

Jatah Kursi Untuk Caleg Kota Semarang Bertambah

Peluang untuk mendapatkan kursi dalam Pemilu 2009 di kota Semarang bagi partai-partai peserta Pemilu kian terbuka lebar. Pasalnya, dalam penyelenggaraan Pemilu 2009 kali ini kota Semarang telah mendapatkan tambahan jatah kursi yang akan diperebutkan. Jika pada Pemilu 2004 kuota kursi yang diperebutkan hanya sebesar 45 kursi, kini dalam Pemilu 2009 bertambah menjadi 50 kursi. Penambahan jatah kursi ini, sebagaimana diungkapkan Kepala Divisi Hukum KPU Kota Semarang Nurul Ahmad disesuaikan dengan pertumbuhan penduduk kota Semarang yang mengalami penambahan hingga 1.751.453 jiwa.

Nurul Ahmad juga mengungkapkan, hal tersebut sesuai dengan keputusan KPU nomor: 165/SK/KPU/Tahun 2008 tertanggal 16 Juli 2008 mengenai Penetapan Daerah Pemilihan, Jumlah Penduduk, dan Jumlah Kursi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/Kota. "Sesuai dengan keputusan tersebut, maka alokasi jumlah kursi tambahan akan dipecah ke dalam 5 Daerah Pemilihan kota Semarang dari jumlah total 6 Dapil." Ujarnya.

Secara lebih rinci, Nurul Ahmad menjelaskan, "Pembagian alokasi kursi untuk masing-masing Dapil kota Semarang, untuk Dapil 1 sebanyak 8 kursi, Dapil 2 sebanyak 9 kursi, Dapil 3 sejumlah 10 kursi, Dapil 4 sebanyak 8 kursi, Dapil 5 sejumlah 9 kursi dan Dapil 6 sejumlah 6 kursi. Penambahan jumlah kursi ini dialokasikan untuk Dapil 1 hingga Dapil 5 kota Semarang."
[Ribut Achwandi_Trijaya FM Semarang]

Puluhan PKL Semarang Tolak Penggusuran

Niat baik memang tidak selamanya dapat diterjemahkan sebagaimana mestinya. Kiranya itulah yang terjadi di kota Semarang akhir-akhir ini. Rencana pemerintah kota Semarang untuk mencanangkan tamanisasi di kawasan Jalan Gajahmada dengan anggaran sebesar Rp 150 juta dari APBD kota Semarang tahun 2008, kini ibarat sebuah dua sisi muka sebuah mata uang. Di satu sisi, program ini memang memiliki tujuan yang cukup baik terutama terkait dengan keindahan kota. Namun di sisi lain, hal ini justru diprotes oleh sebagian kalangan warga kota Semarang. Bahkan hari ini, puluhan pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini menempati kawasan tersebut melancarkan aksi protes mereka terhadap kebijakan tersebut.

Aksi dimulai dari kawasan Jalan Gajahmada dan dipuncaki di pelataran Balaikota Semarang. Dalam aksi kali ini, puluhan pedagang kaki lima yang tergabung dalam Persatuan Pedagang Kaki Lima Semarang (PPKLS) Paguyuban Pedagang Kaki Lima "Ngudi Urip" Gajahmada, menggelar orasi di halaman gedung kantor Walikota Semarang. Dalam aksi orasi ini, mereka menolak jika proyek tersebut harus menggusur mereka. Selain itu, mereka menuntut agar Pemerintah kota Semarang tidak melakukan penertiban selama sebelum ada penyelesaian antara PKL dengan Pemkot Semarang.

Slamet Haryanto, pendamping pendemo dari LBH Kota Semarang mengungkapkan, "Sejauh ini, proses relokasi sudah diupayakan oleh Pemkot Semarang. Namun, lokasi yang direkomendasikan oleh Pemkot Semarang ini, tidak mampu menampung seluruh pedagang di kawasan tersebut yang berjumlah 75 pedagang. Untuk itu, kami minta agar Pemkot Semarang juga segera mencarikan solusi terbaik bagi PKL ini."

[Ribut Achwandi_Trijaya FM Semarang]

29 Juli 2008

Ruang Sidang, 25 Juli

Entah, sudah berapa lama orang-orang dari KPK--sebuah lembaga independen yang mengurusi soal korupsi aparat negara--itu nyerocos di hadapan puluhan anggota dewan kota. Berbicara soal korupsi yang kian hari kian parah. Berceramah pula mereka mengenai konsekuensi hukum yang akan diterima bagi koruptor. Mereka nampak lantang dan sangat meyakinkan. Bahkan ditunjukkan dengan setiap penekanan pada kata-kata yang mungkin dapat disebut sebagai kata kunci.

Slide yang terpampang di dua buah layar di kanan dan kiri sisi ruangan, semakin nampak kian meyakinkan. Betul, sungguh-sungguh meyakinkan. Tapi, siapa sangka kalau dari puluhan anggota dewan yang hadir kali itu tak begitu hirau dengan hal tersebut. Kalaupun toh ada paling hanya beberapa saja dari mereka ini. Mungkin ini adalah sebuah pemandangan yang tak begitu menarik bagi mereka. Atau bahkan, mereka menganggap ini sebuah lelucon yang sangat kuno. Tidak segar. Entahlah.

Yang jelas kini mereka, anggota dewan kota ini nampaknya mulai sibuk dengan diri mereka sendiri. Dering telepon genggam, obrolan soal bisnis mereka, atau obrolan seputar kebutuhan rumah tangga mereka. Soal ceramah orang-orang KPK? Bagi sebagian mereka, nonsense!

Tak terlihat dari wajah mereka sedikitpun untuk berusaha menanggapi serius ceramah orang-orang KPK ini. Tapi, itu tak jadi soal bagi orang-orang KPK. Bahkan, mereka tetap bertahan dengan kondisi semacam ini. Sebuah kondisi yang sangat tidak menguntungkan bagi mereka sebenarnya.

Dua kali dering telepon genggam salah satu anggota dewan kota menyela. Toh, tak soal. Orang-orang KPK tetap bergeming. Namun kali ini, wajah lelah anggota dewan kota tak dapat ditutupi lagi. Mereka nampak semakin bosan dengan ceramah orang-orang KPK yang dikirim dari Jakarta. Beberapa dari mereka, anggota dewan kota ini, nampak gelisah dan sesekali keluar ruangan dengan alasan untuk mendapatkan udara segar, atau hanya karena untuk menghisap tembakau. Sepertinya mereka benar-benar tengah menanti kesempatan untuk segera memutar laju putaran jam dinding yang dipajang di sudut kanan ruangan itu. Atau kalaupun itu bukan aset negara mungkin sudah dipecah pula jam dinding ukuran besar itu. Namun apa berani? Mungkin untul melakukan hal gila itu butuh berkali-kali mikir buat mereka. Sebab apa untungnya bagi anggota dewan kota ini?

23 Juli 2008

Hari Ini, di Ruang Sidang

Setelan jaz berdasi dengan harum parfum yang menyerbak nampak memenuhi ruang sidang paripurna DPRD Kota Semarang kali ini. Senyum para pejabat kota dalam hajatan yang digelar dewan kota nampak begitu cerah. Tidak sedikitpun menampakkan adanya masalah yang tengah mereka hadapi.

Tapi siapa kira kalau mereka benar-benar terbebas dari masalah? Tidak ada yang tahu. Sebab, raut muka mereka pun nampak begitu bersih. Termasuk Sumarmo, salah seorang terpenting di jajaran pejabat kota. Dialah satu-satunya orang yang memegang kunci suksesnya proyek-proyek besar di kota ini. Jalan bebas hambatan, Waduk dan semua megaproyek lainnya. Kekuasaannya dalam memegang kendali megaproyek ini bahkan melebihi dari peran penting seorang Walikota yang hanya berkutat pada kebijakan-kebijakan politik pemerintahan, meskipun saat ini ia hanya menjabat sebagai Sekretaris Daerah kota.

Tak berapa lama, helat sidang paripurna DPRD Kota dimulai. Semua tamu tentu akan menempatkan dirinya pada deret kursi yang telah disesuaikan oleh sekretariat dewan kota. Dan kali ini mungkin Wisnu Pudjonggo-lah satu-satunya orang yang tengah merasakan kesenangan. Bagaimana tidak, helatan kali ini hanya merupakan sebuah ceremonial untuk peresmiannya sebagai anggota dewan kota. Ia menggantikan salah satu anggota dewan kota yang beberapa bulan lalu mangkat, Djudjuk Mardewi Agustina.

Cukup khikmad. Pembacaan janji dan pengambilan sumpah yang dilakukan Wisnu tampak sempurna. Meskipun pimpinan dewan yang mengambil sumpahnya itu agaknya kurang begitu lancar dalam membaca teks yang dihadapinya. Entah apa itu karena ia kurang menguasai isi teks atau karena memang keterbatasan kemampuannya dalam berbahasa Indonesia yang kurang. Maklum di Indonesia ini masyarakat umumnya menggunakan dau bahasa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Satu bahasa ibu dan lainnya adalah bahasa Indonesia yang biasanya digunakan sebagai bahasa formal. Tentunya, hal ini juga sedikit berpengaruh terhadap kamampuan bahasa tidak hanya awam melainkan juga para pejabat. Bahkan kekacauan dalam berbahasa ini sering juga dialami oleh semua pejabat daerah. Lebih-lebih ketika mereka harus berhadapan dengan wartawan. Sering kali mereka, para pejabat kota ini bahkan mencampuradukkan penggunaan bahasa ibu dengan bahasa Indonesia secara serampangan. Tak jarang pula muncul istilah-istilah asing yang lebih diadopsi dari bahasa Inggris. Sungguh lucu.

Seremonial pun selesai. Kali ini, nampak beberapa pejabat teras kota dan anggota dewan kota bergantian menyalami sang pengganti. Di sudut ruang sidang, tepatnya di sisi kiri mimbar sidang, nampak Sumarmo tengah bercengkerama dengan salah seorang anggota dewan kota, Junaedi. Beberapa wartawan yang sedari awal seremonial itu memburu Sumarmo tampak mengendap melalui celah-celah deret kursi yang tertata dengan rapi. Kursi yang tentu mahal harganya. Begitu sesampainya di dekat kedua orang penting ini, segera mereka pun menyergap keduanya. Dan memberondonginya dengan pertanyaan-pertanyaan.

Kali ini, Junaedi-lah korban pertama mereka. Dengan senyum, Junaedi menyambut kehadiran beberapa wartawan kota ini.

"Bagaimana Pak, siap maju tahun 2010?" Tanya seorang wartawan kepada Junaedi.

Senyum Junaedi semakin melebar bahkan semakin menjadi tawa. Lantas dijawabnya pertanyaan itu dengan antusias, "Itu kan terserah kemauan partai. Sehingga apapun keinginan partai untuk menempatkan di mana pun, kami siap. Jangankan di Semarang, di Ambon pun kami harus siap. Inilah, apapun kalau sudah terjun ke partai, justru partai ini kan memang harapannya itu mencari kekuasaan. Kekuasaan dalam hal ini adalah eksekutif dan legislatif. Namun demikian, setelah kekuasaan itu kita peroleh kita harus implementasikan dengan sebaik-baiknya sebagaimana amanat insan Allah."

"Koalisi dengan siapa, Pak nanti?" seloroh Restu salah seorang wartawan televisi lokal.

Junaedi kembali mengedarkan senyumannya. Di balik kacamatanya, sorot mata Junaedi menampakkan antusiasmenya yang semakin meledak. Semangatnya untuk menjadi korban perburuan wartawan. Bagaimana tidak, kali ini jawaban yang ia berikan hanya menjadi bungkus rahasia besar. Dia bilang, "Belum tahu ya, pemilunya belum tahu."

Memang, seorang politikus memang harus pandai membungkus isu. Sebab dengan pembungkusan isu semacam ini, tentu akan sedikit mendongkrak popularitasnya di mata masyarakat. Lebih-lebih jika semakin diburu wartawan. Dan sebelum para pemburu ini semakin mendekatkan bidikan anak panah pertanyaan mereka ini, dengan piawai Junaedi melontarkan sedikit banyolannya yang sebenarnya tidak cukup menarik. Kering. "Katanya maju? Marmo Junaedi, Mahfud Junaedi. Lah piye to?" selorohnya dibarengi tawanya yang khas.

Tentu sedikit berbasa-basi, beberapa wartawan inipun agaknya memaksakan diri untuk ikut tertawa. Namun tak berseling lama, Aril, seorang reporter sebuah radio segera menyerobot tawa itu dengan menghujani pertanyaan menyoal persiapan partai yang dipimpin Junaedi dalam penyelenggaraan pemilu 2009.

"Sudah banyak Pak yang daftar caleg Pak?" katanya.

"Duapuluh." tegas Junaedi.

"Duapuluh?"

"Ya, duapuluh. Karena memang terus terang dalam pencalegan, formulir dari KPU baru kemarin kita dapat. Artinya, kita dapat saja dalam bentuk CD. Secara resmi KPU akan memberikan kepada partai-partai, yakni pengambilan formulir mulai tanggal 5 Agustus. terus penyerahan formulir kepada KPU tanggal 10 sampai 15. Sehingga memang sinkronisasi kerja di partai-partai sudah barang tentu seperti ini. Kita membuat formulir sendiri. Padahal, besok formulir yang dipakai adalah formulir yang sah. Yang namanya formulir BB-1 sampai BB-11." Jelasnya berpanjanglebar.

"Rapat plenonya kapan, Pak?" sahut Aril.

Sebentar Junaedi melirik pada ujung batang rokok yang lama ia biarkan tak terhisap oleh mulutnya. Lalu luncuran kata pun mulai digelontorkan. "Plenonya nanti malem. Nanti malem kami rapat pleno menetapkan tim evaluasi, evaluasi dan monitoring."

Kurang puas dengan jawabannya sendiri, Junaedi segera meluncurkan gerbong kalimat. "Nanti malem. Penetapan berdasarkan fit and proper test sudah selesai, memang karena mekanismenya selalu berdasarkan pleno, maka saya plenokan nanti malem, jreet...setelah pleno kami serahkan pada tim untuk melakukan tugas-tugasnya."

"Target diputuskan kapan?"

"Putuskan tim verifikasi?" tanya Junaedi dengan nada sedikit meluruskan pertanyaan Aril.

Aril hanya mengangguk.

"Nanti malem juga sekaligus kita berikan jadwal tim kerja. Sehingga, pada tanggal 15 Agustus, itu harus sudah selesai. Karena tanggal 15 Agustus kan harus menyampaikan DCS (Data Calon Sementara) kepada KPU. Ya kan? Daftar Calon Sementara harus sudah disampaikan. Ketika nanti dikembalikan kepada KPU dalam waktu satu minggu, kita sudah harus menyampaikan DCT (Daftar Calon Tetap). Sehingga ya September, paling lambat tim verifikasi itu harus bekerja." Selesai dengan jawabannya, Junaedi nampak tidak sabar lagi untuk segera menjejalkan batang rokoknya pada bibirnya yang hampir membiru itu. Sebentar kemudian, kelakar pun bersambut.

Di tengah agenda sidang semacam ini, wartawan mungkin makhluk yang paling diuntungkan. Kegiatan semacam ini, ibarat kata rimba yang dipenuhi dengan sasaran empuk bagi perburuan. Tentu, tidak terlalu sulit untuk mengedarkan arah sasaran anak panah yang akan mereka bidikkan. Dan benar saja, setelah menggeruduk Junaedi. Kini mereka mulai membidikkan sasaran perburuan mereka kepada Sumarmo.

Dengan senyum, Sumarmo menyambangi beberapa wartawan. Dia tahu, banyak hal yang tentu ingin dikorek darinya. Maklum pejabat publik. Namun satu hal yang enggan ia jawab. Ia tidak mengingini pertanyaan seputar kemungkinan pencalonannya sebagai walikota 2010 mendatang. Entah kenapa? Mungkin dengan posisinya seperti saat ini cukup memberinya kepuasan batin baginya. Atau justru sebenarnya ia tengah mencoba menyimpan sebuah rahasia besar? Entahlah.

"Aku nggak mau ditanya soal itu lho." tandasnya. "Soal lain saja ya?"

"Jalan tol Pak?" sergah Komar, salah seorang wartawan koran.

Nampaknya Sumarmo sedikit keberatan dengan hal itu. Namun bagaimanapun ia berusaha keras untuk tidak menampakkan keengganannya itu. Sebab, seperti diberitakan sebelumnya, permasalahan megaproyek jalan tol untuk koridor Semarang-Solo yang kini menjadi salah satu proyek besar pemerintah pusat ini, ternyata masih banyak diliputi polemik. Proses pembebasan lahan milik warga yang berjalan alot, harga tanah yang kian melambung dan banyak persoalan yang nampaknya akan menjadi pekerjaan berat baginya.

"Pak, bagaimana perkembangannya sekarang, Pak?" tanya Pratono.

Sumarmo pun sedikit sungkan menjawab pertanyaan itu, "Belum ada perkembangan itu soal tol." Nampak betul, kali ini beban yang ia tanggung.

"Ini kan kalau menurut Gubernur kan akhir Agustus target pembayaran itu kan harus selesai." seloroh Pratono.

"Jadi gini, sebenarnya kita masalah untuk jalan terus. Sepanjang pemerintah pusat, kaitannya untuk pengadaan tanah siap. Kalau kami dari P2T maupun TPT, khususnya P2T, kami siap untuk mengadakan sosialisasi kepada warga, khususnya untuk negosiasi mengenai harga. Tapi sekarang, kalau misalnya wis oke, tapi ternyata anggaran itu durung tersedia, ya terus terang kami ini jadi tumpuan mereka itu menagih kan? Mestinya kalau kita itu sosialisasi, penjajakan sambil berjalan, ini kan diikuti kesiapan dananya. Jadi, jangan terlalu lama. Lah kalau terlalu lama, berubah piye?" jelasnya.

"Kemarin asisten satu, sesuai laporan asisesten satu, dari dana yang ada itu, sementara ini untuk membebaskan dengan jumlah yang belum, yang sudah ada negosiasi dan sudah ada deal itu belum sepenuhnya siap." lanjutnya.

"Baru sekitar berapa persen yang sudah deal?" tanya Pratono dengan mengacungkan hp-nya sebagai alat perekam.

"Aduh saya tidak hafal. Tapi asisten satu mengatakan, Pak kita sosialisasi. Kemarin di Gedawang ya? Tapi, dari provinsi, TPT itu menyayangkan kita ini ada kesulitan dari dana." aku Sumarmo dengan nada datar.

Heru, wartawan sebuah kantor berita, kali ini saut kesempatan dengan menanyakan, "Itu jadi kendala Pak ya?"

Sumarmo pun hanya mengiyakan, "Bisa dikatakan demikian. Tapi, ini kan baru proses anggaran berikutnya. Mudah-mudahan itu nggak terlalu lama sudah ada jawaban."

"Untuk pembebasan lahan ini sebenarnya butuh anggaran berapa, Pak?"

Kali ini pertanyaan Pratono nampaknya tidak dapat dijawab Sumarmo. Sumarmo nampaknya tidak hafal betul besaran anggaran yang dimaksud. Namun demikian, Sumarmo tetap berusaha memberikan jawaban dengan sangat hati-hati, "Itu kan bisa naik turun ya? Sesuai di lapangan."

"Berarti juga seperti proyek jalan tol Semarang-Batang?" tukas Pratono.

"Kalau itu lain ya."

"Perkembangannya saat ini Pak?" kali ini nampaknya Pratono berusaha memberondongi Sumarmo dengan pertanyaan.

"Ya masih taraf pematokan batas."

"Sudah musyawarah dengan warga?"

"Belum, itu kan menunggu pengukuran selesai."

Sumarmo nampak mulai kurang nyaman kini. Bahasa tubuhnya mulai menampakkan kejenuhan. Dan bergegas ia berusaha untuk meninggalkan wartawan-wartawan itu dengan cara yang cukup santun. Segera ia menjabat tangan mereka dan sesegera mungkin menghilang dari hadapan mereka.

Senyum ramah pun bersambut di balik kabut tebal polemik yang tengah menggayut di atas langit kota. Sementara kabut itu masih terus menuangkan badai, beberapa anggota dewan kota justru nampak asyik masyuk dengan pose mereka di hadapan kamera foto. Mengabadikan diri mereka dengan segudang alasan.


Salam,
Robert Dahlan

Kemiskinan

Salam,

Tentu, siapapun tidak merelakan dirinya jatuh miskin. Kecuali Hamdan Att, pelantun tembang dangdut era 80-an melalui lantunan Termiskin di Dunia itu. Dan saya yakin, Anda pun demikian. Sebab, saya pribadi juga tidak mengingkari jika saya juga takut jatuh 'kere'. Tapi, Tapi boleh buat, persoalan kemiskinan ini nampaknya masih saja ditautkan dengan masalah nasib. Sehingga, hal ini tentu akan sedikit mengaburkan persoalan kemiskinan yang kalau saya amati, lebih dikarenakan 'salah urus' pemerintah.

Bukan maksud saya memojokkan lho. Ini persoalan semestinya dipandang dari segala penjuru. Kesalahan terbesar pemerintah dalam mengurusi soal kemiskinan ini, sebenarnya bukan pada ranah ekonomi. Memang, kalau kita tilik ke belakang, kebijakan nekat pemerintah untuk menaikkan harga BBM ini telah membuat cap pada sisi regulasi ini sebagai penyumbang angka kemiskinan negeri ini. Namun hal tersebut, menurut hemat saya terlalu dangkal. Di sini saya justu melihat hal tersebut hanya sekelumit dari persoalan yang sekian banyaknya dihadapi oleh bangsa ini.

Jauh dari itu semua, kalau saya memandang persoalan kemiskinan ini begitu kompleksnya. Namun satu hal yang menurut saya tidak pernah tergarap oleh kebijakan pemerintah apapun itu, ialah masalah budaya. Atau kalau boleh saya berburuk sangka, sebenarnya mungkin pemerintah memang sengaja mengolah masalah budaya ini dengan cara semacam ini. Artinya, pemerintah telah dengan sengaja menciptakan budaya pemiskinan massal. Coba saja lihat, tidak sedikit pemerintah telah mengucurkan dana untuk membantu kaum miskin negeri ini, namun apakah itu cukup membuat panjangnya daftar angka kemiskinan ini terkurangi? Tidak.

Ah, saya yakin Anda pasti akan berpendapat itu karena korupsi. Bukan soal itu. Bukan. Persoalan hukum di negeri ini yang tak ubahnya lingkaran setan ini, mungkin salah satu bagian dari masalah-masalah budaya. Namun yang jelas, penciptaan budaya miskin ini mau tidak mau harus diakui sudah terjadi sejak lama. Salah satu bukti, ketika masyarakat dihadapkan pada persoalan lapangan pekerjaan misalnya. Banyak orang yang berpandangan, bahwa menjadi punggawa pemerintahan (PNS) itu lebih membuat orang lebih aman secara finansial. Yang artinya, hal ini jelas-jelas merupakan sebuah bentuk pembodohan publik. Padahal, kita tahu persis kerja para punggawa kerajaan bernama Indonesia ini cuma 'hambur-hambur duit negara' saja. Lho, kenapa tidak? Setelah mereka selesai masa tugas masih juga dapat santunan menjelang ajal. Kalaupun mereka dipecat dengan alasan tersandung masalah hukum, toh tetap saja memiliki dana pensiun. Sungguh alangkah naifnya negara ini.

Belum lagi persoalan lain menyangkut keberpihakan pemerintah terhadap kaum miskin yang notabene masih terlalu kecil. Dalam hal ini saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai hal tersebut. Pada sebuah megaproyek pembangunan jalan tol transjawa, persoalan klasik seputar pembebasan lahan rupanya menjadi masalah besar dalam pengerjaan proyek yang megah ini. Beberapa warga khususnya di kota Semarang bahkan merasa keberatan dengan tawaran harga yang dinilai kurang menguntungkan bagi mereka ini. Mereka ini adalah pemilik tanah lahan garapan atau tegalan di sebuah kawasan di kota yang masih merangkak menjadi kota metropolis itu. Kata mereka harga yang ditawarkan masih terlalu rendah.

Wajar saja mereka menuntut demikian, mengingat tanah garapan ini merupakan salah satu bagian dari penghidupan mereka. Sebagian penghidupan mereka ini justru dipasok dengan adanya tanah garapan ini. Maka, selaiknya pemerintah memberi harga yang kalau dalam pandangan ekstrim saya mengatakan, lebih mahal dari hanya tanah perumahan. Lah ini, kok aneh. Lahan perumahan yang hanya menjadi tempat singgah masyarakat justru harganya lebih mahal dari harga tanah garapan. Loh, ini negara bagaimana? Katanya ingin memajukan dunia pertanian, lah kok malah begitu?

Keberpihakan pemerintah terhadap kaum terpinggir ini selalu saja mendapatkan kursi yang kesekian. Petani, buruh dan kaum miskin selalu termarjinalkan. Wah, benar-benar bangsa ini mungkin selamanya akan menjadi bangsa yang 'kere'. Betapa tidak, belum juga mampu mengurus soal-soal negara, eh... ini negara selalu saja membuat agenda politik yang bejibun dengan anggaran yang tidak sedikit. Sepertinya, masyarakat dipaksa untuk pilah-pilih sesuatu yang serba tidak jelas. Presiden, Dewan hingga walikota maupun bupati yang serba tidak jelas arahnya. Ini negara memang serba tidak jelas. Sudah miskin tidak punya prinsip budaya pula. Jadi, kalau ditanya kapan negara ini tidak miskin? Jawabannya pasti juga tidak jelas!

Salam,


Robert Dahlan

21 Juli 2008

Pemilu 2009

Salam,

Negara ini nampaknya tidak kapok bikin ulah lagi. Bagaimana tidak, setelah beberapa kali menemui kegagalan dalam penyelenggaraan pilkada yang selalu dimenangkan golput (golongan putih), negara lagi-lagi akan melakukan hajatan besar lagi dengan mengagendakan pemilu 2009. 34 partai politik nampaknya bersemangat untuk mengikuti hajatan bagi-bagi kursi empuk kekuasaan ini. Tapi, apakah benar jika dalam pelaksanaan pemilu kali ini akan betul-betul membawa manfaat ketimbang kemubaziran belaka? Sekelumit tulisan ini akan kembali sedikit memberikan ruang bagi otak kita untuk lebih dapat berpikir secara sehat.

Kita tahu persis bahwa tingginya angka golput telah benar-benar membuat penghamburan dan pemborosan ongkos politik yang harus didanai oleh negara. Ratusan milyar rupiah yang semestinya dapat difungsikan sebagai dana penyelenggaraan pemerintahan hanya terbuang percuma di tengah-tengah kondisi negara yang tengah mengalami masa kolaps ini. Saya jadi teringat kembali pada pengalaman masa lalu negeri ini, tepatnya pada pemilu pertama yang diselenggarakan pada tahun 1955. Pada waktu itu, kemubaziran anggaran benar-benar telah membuat kondisi negara semakin runyam. Silang pendapat mengenai politik kekuasaan begitu menghebatnya hingga membuat kondisi negara semakin tidak terkendali.

Pengalaman semacam itu, mungkin bagi sebagian generasi bangsa ini mungkin tidak begitu dihiraukan. Sebab, selubung sejarah tempo dulu belum juga disibak dengan benar. Kini muncul lagi peristiwa yang mungkin hampir sama. Bedanya, saat ini masyarakat nampaknya sudah terlalu pintar untuk hanya dijadikan sapi perahan elit politik. Rakyat, bagaimanapun juga kini sudah mulai memahami arti 'KECEWA' yang begitu besar dalam ingatan mereka. Rakyat juga sudah terlalu mengerti apa arti 'SAKIT HATI' terhadap sistem kekuasaan yang tidak sehat ini.

Pergantian kekuasaan yang selalu diwarnai kekisruhan serta kekuasaan yang selalu diliputi korupsi dan banyak hal yang membuat kecewa ini nampaknya akan menjadi PR besar dalam penyelenggaraan pemilu 2009 kali ini. Mereka menganggap, partai hanya menjadi kumpulan bagi pembual. Kursi kekuasaan hanya menjadi tempat duduk bagi penguras uang negara. Dan satu hal yang sebenarnya tidak patut untuk diungkapkan adalah hukum selalu cacat dan berjalan pincang. Belum lagi, persoalan kantor-kantor BUMN yang hanya menjadi gerai penjualan aset negara. Kiranya cukuplah bangsa ini menderita.

Kalau dulu 350 tahun lamanya kita dipimpin oleh bangsa yang memiliki sistem dan pola ekonomi yang cukup tangguh untuk menjadi penguasa negara-negara dunia ketiga. Kini giliran bangsa sendiri yang berusaha menjadi kanibal. Protes, hanya ditanggapi enteng oleh penguasa. Kalaupun ada sedikit masalah, sang penguasapun amat sangat pandai untuk menyelesaikannya dengan sekedip mata, lalu sedikit main serong dengan undang-undang. Apa tidak capai?

Kalau saya memandang, sebenarnya apa yang dimaui bangsa ini? Kok bangkrut jadi penyakit yang permanen. Dan kegoblokan bangsa ini amat sangat parah ketimbang penyakit raja singa yang memalukan. Kegoblokan bangsa ini sudah amat sangat akut dan sangat susah untuk disembuhkan. Goblok kok menahun?

Lah, ketimbang mikir soal pemilu 2009 mending mikir soal bagaimana bangsa ini tidak goblok dan tidak kere. Padahal kalau kita ini kere permanen, maka yang terjadi bangsa ini akan selamanya mengalami mati suri. Hidup segan matipun enggan.

Kalau soal ganti perwajahan presiden, gubernur, walikota atau bupati atau bahkan lurah itu cuma soal gampang. Aturannya juga membuat orang gampang kok jadi itu semua. Tapi seyogyanya juga diimbangi karya nyata yang benar-benar brilian untuk membuktikan bangsa ini tidak kere dan goblok. Lah yang paling lucu lagi, ketika saya pulang kampung beberapa waktu lalu, saya menemui lurah kampung saya. Edannya lagi, dia sama sekali nggak tahu soal bagaimana memberdayakan masyarakatnya. Bahkan dia hanya mengeruk keuntungan dari kedudukannya dengan membuka pabrik daur ulang sampah di desa yang nun jauh dari perkotaan yang notabene banyak sampahnya. Ini kan lucu. Sedang di sana masyarakatnya yang saat ini sudah mulai ogah-ogahan pergi ke sawah ini telah benar-benar membuat lahan sawah mereka mangkrak dan nganggur. Orang kayak begitu kok ya jadi lurah ya?

Nah, ini mungkin akan menjadi tugas berat nanti bagi calon presiden terhormat kita. Saya nitip, kalau bisa lurah-lurah yang model gituan lah mbok ya jangan dipakai lagi. Bikin malu bangsa ini saja toh Bung. Oke?

Tapi maaf ya Bung, mungkin saya juga akan nitip pesen bagi Mbak Mega yang katanya memblacklist golput. Itu, kalau beliau sadar sebenarnya apa yang diungkapkan Megawati ini merupakan sikap arogansi elit politik yang dapat menuai penilaian buruk dari rakyat. Karena ungkapan itu dapat pula diterjemahkan sebagai bagian emosi mantan presiden RI yang tengah tersinggung dengan sikap rakyatnya sendiri. Sikap rakyat yang tidak percaya terhadap pemerintah.

Salam,




Robert Dahlan

Demokrasi

Beberapa waktu lalu, saya sempatkan diri saya untuk menyambangi teman lama saya yang sudah lama tidak pernah saya sambangi. Tentu, lamanya waktu yang telah memisahkan kami ini benar-benar membuat kami tersegarkan kembali dengan secangkir kopi yang disegarkan pula oleh obrolan kami yang hanya 'ngalor-ngidul'. Banyak pula lelucon yang sengaja kami buat sekadar untuk mencairkan pikiran kami yang tersublimasi oleh kesibukan kami selama ini. Kali ini, teman sayalah yang memulainya.

"Kang, saya ingin tahu kenapa sekarang ini banyak orang pada ngributin soal demokrasi? Banyak bendera partai pula yang menyimbolkan demokrasi, banyak pula organisasi yang kemudian mengaku didasari demokrasi. Nah, sebenarnya kenapa kok segitunya?" tanya teman saya.

"Lah sampeyan itu ya lucu. Masa hal kayak gitu ditanyain. Kan sudah jelas, kalau nggak ribut-ribut itu namanya nggak demokrasi. Wong negara ini kan dari dulu memaknai demokrasi itu dengan keributan kok." Seloroh saya.

"Nah, soalnya ya itu Kang. Dengan adanya keributan macam itu, lalu bagaimana semua masalah itu bisa selesai?" tukasnya.

Jawab saya, "Lho, sampeyan ini ya lucu lagi. Lah yang namanya keributan itu nggak usah diselesaikan kan juga selesai sendiri. Kalau sudah pada capek kan semua jadi tenang kembali. Nah, itu yang diingini penguasa kita. Menyelesaikan masalah tanpa harus menghadapi masalah."

"Lantas bagaimana dengan perkara hukumnya kalau ada sesuatu yang tidak beres dalam keributan itu Kang?"

"Hukum? Kan sudah jelas, dasar hukum kita adalah demokrasi. Artinya semua dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Artinya lagi, rakyat tidak bisa dong nuntut penguasanya sendiri. Lah wong penguasanya juga rakyat kok. Kalau pada kenyataannya ada presiden itu kan segelintir rakyat. Lagi pula kan yang milih rakyat. Masa jeruk makan jeruk?" seloroh saya.

"Maksud sampeyan?"

"Loh, demokrasi itu kan akal-akalannya penguasa saja biar tidak terlalu dipersalahkan dalam kepemimpinannya. Saya jelaskan kembali, kalau konsep demokrasi itu adalah pemerintahan yang didasari oleh jargon semua dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, maka jelas apapun yang dilakukan oleh penguasa tidak bisa disalahkan, karena mereka ini selalu mencari tameng hidup yang bernama rakyat. Mereka itu kan juga rakyat, berhak nuntut untuk tidak disalahkan, ya kan? Jadi, kalau mereka ngomong soal demokrasi, itu sama saja mereka ngomong soal kebutuhan mereka sendiri bukan karena rakyat yang minta. Lah lihat saja DPR-nya pada bikin ulah gitu." kata saya.

"Jadi pada prinsipnya di negara sedemokrasi apapun itu, sebenarnya tidak ada demokrasi ya Kang?"

"Lah iya toh? Lihat saja Amerika yang katanya pencetus demokrasi. Dengan mengembargo dan main sikat negara-negara lawannya itu atas kepentingan siapa? Rakyatnya? Bukan...itu akal bulusnya Bush saja yang pengin dikenal sebagai pencetus perang dunia ketiga yang gagal itu."

Ribut Achwandi

18 Juli 2008

Kemenangan Golput di Jawa Tengah untuk Siapa [?]

Tayangan berikut merupakan ficer radio yang menyoal tingginya angka golput dalam Pilgub Jawa Tengah 2008. Hal ini saya anggap penting, mengingat sejauh ini pencapaian angka golput dari setiap penyelenggaraan pemilu di beberapa daerah juga selalu mengalami kenaikan. Pertanyaannya sekarang, kemenangan golput ini sebenarnya untuk siapa [?] Rakyat? Atau penguasa baru?

Selamat menikmati....

Salam,
Robert Dahlan


video

Anak Indonesia

video
Puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda

Hemat Pangkal Kaya

Mulai hari kemarin saya mendapati pemandangan yang cukup aneh menurut saya. Tidak seperti biasanya koridor gedung balaikota Semarang segelap itu. Beberapa lampu yang biasanya terbiarkan menyala di siang hari nampak mulai dipadamkan. Dalam hati saya bertanya, ada apa gerangan?
Namun saya segera menemukan sebuah jawaban pasti dari seorang pegawai di kantor tersebut. Namanya Pak Yani. Dalam sebuah siaran pers, ia mengungkapkan, pemadaman sebagian lampu-lampu yang ada di dalam gedung kebanggaan masyarakat kota Semarang ini terkait dengan Surat Edaran Walikota menyoal penghematan pemakaian listrik, BBM dan pemakaian jaringan telepon. Dan tentu ini juga berhubungan erat dengan kebijakan pemerintah pusat yang mulai mencanangkan program penghematan energi. Tentu pula, penghematan ini juga sebagai dampak krisis energi yang kini sudah kepalang parah dirasakan oleh masyarakat. Lantas muncul dalam benak saya sebuah pertanyaan. Kenapa ada krisis?
Sebenarnya mudah untuk menjawab pertanyaan itu. Ya, jelas karena ada pemborosan. Kita tahu berpuluh-puluh tahun lamanya bangsa kita ini sudah begitu bangga dengan pemborosan itu. Sampai-sampai hilang ingatan bahwa bangsa ini memiliki sebuah ungkapan yang saya kira sangat bijak. Hemat pangkal kaya.
Dari itu pula saya kembali bertanya. Apakah dengan hilangnya ingatan bangsa tentang slogan itu berarti pula bahwa bangsa ini sebenarnya tengah menemui sebuah titik kulminasi atau titik jenuh pemborosan itu? Atau dengan kata lain bangsa ini tengah mengalami sebuah masa-masa sulit kalau tidak mau dikatakan [kere]?
Semestinya pemerintah jujur sajalah pada rakyat. Katakan saja kalau bangsa ini sudah tidak memiliki uang sepeser pun. Toh, siapa yang akan marah? Rakyat? Mereka tidak akan marah saya kira kalau penguasa mau jujur. Bilang saja kalau krisis energi ini juga sebagai bagian dari ulah bangsa ini yang terlalu congkak. Terlalu sering mendongakkan dagu, sehingga lupa pula kacang akan kulitnya. Betapa tidak, bangsa ini telah mengalami periodisasi penjajahan yang teramat panjang dalam sejarah. Tidak hanya pada masa pemerintahan Hindia Belanda ataupun pendudukan pemerintahan militer Jepang saja saya kira, melainkan selama hayat masih dikandung badan bangsa ini.
Coba kita buka kembali catatan kita. Kalau dulu bangsa kita dijajah secara politik dan ideologi oleh bangsa-bangsa asing, kini bangsa ini dijajah secara ekonomi dan budaya oleh bangsa-bangsa maju. Buktinya, kita terlalu asyik mengayuhkan kaki kecil kita hanya untuk sebuah ambisi dengan sebuah slogan 'mengejar ketertinggalan' atau 'era tinggal landas' atau dengan ungkapan yang cukup diperhalus 'tuntutan globalisasi'. Tapi di sisi lain, bangsa ini tidak cukup punya keberanian untuk sedikit membusungkan dada dan mengatakan pada dunia 'kita punya peradaban yang jelas berbeda dengan yang lain'. Dan lucunya lagi, kita terlalu bangga untuk melakukan penghamburan anggaran hanya untuk membeli teknologi-teknologi yang katanya 'super canggih' atau bahkan 'ultra canggih' dari negara-negara asing tanpa memikirkan persoalan-persoalan yang lebih prinsipil dari itu semua. BUDAYA.
Belakangan bahkan banyak yang bertanya pada saya, sebenarnya seperti apa budaya kita? Nah, inilah sebuah kekeliruan terbesar yang pernah dilakukan oleh bangsa ini. Saking asyiknya mencontek budaya orang kini bangsa ini justru kehilangan kamus budayanya sendiri. Lucu.
Sebenarnya, kalau kita mau dan punya tekad besar untuk menelusuri persoalan budaya ini akan begitu banyak hal-hal yang mungkin akan dapat kita temukan dari sana. Bahkan boleh jadi pengembangan teknologi yang kita lakukan dengan mendasarkan pada kajian budaya ini akan semakin membuat bangsa ini menjadi bangsa yang paling tangguh di dunia ini. Tapi apa mungkin?
Lho, bagaimana ini? Ingat, dunia kini tengah mengalami sebuah krisis energi yang mengglobal. Beberapa negara maju diam-diam tengah melakukan sebuah pengintaian terhadap kekayaan budaya-budaya lokal negara-negara miskin seperti Indonesia. Bahkan kalau kita mau jujur itu sudah dilakukan sejak lama sebelum bendera PBB dijahit dan dikibarkan di gedung PBB. Kini mereka--beberapa negara maju ini--tengah mencoba mengembangkan penciptaan bio energi yang tentu bersumber pada negara-negara miskin seperti bangsa ini. Beberapa gerakan penggalakan penanaman pohon pun mulai dijamurkan di negara miskin. Tentu ini akan sedikit mengubah pola ekonomi masyarakat negara miskin untuk mengembangkan dunia pertanian. Dengan kata lain, lagi-lagi bangsa ini akan terus dijadikan budak bagi mereka.
Nah, mumpung belum terlalu terlambat ayo kita mulai melakukan perubahan. Dimulai dari pola pikir kita untuk menemukan kembali kesejatian bangsa ini dan dilanjutkan usaha untuk melakukan sebuah terobosan besar agar kita memiliki nilai tawar di mata dunia.
Ingat, hemat pangkal kaya, Bung. Maka sudah waktunya pemerintah kita ini mulai menghemat nyawa rakyat. Saya kira sudah terlalu banyak nyawa yang dikorbankan oleh bangsa ini. Semestinya kita juga mulai rajin untuk mempelajari pengalaman pahit bangsa ini supaya kita pandai dalam menyikapi setiap ihwal yang tengah berkecamuk di tengah-tengah masyarakat ini.
Ribut Achwandi

Darwinisme

Pada sebuah rumah yang tak terlalu mewah, tinggallah di sana sebuah keluarga kecil. Ayah, Ibu dan seorang anak namanya Barjo. Keluarga ini cukup harmonis dalam menjalani kehidupannya. Ayah adalah seorang tenaga pengajar fakultas filsafat pada sebuah perguruan tinggi. Ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang sesekali juga memiliki jadwal untuk mengisi kuliah luar biasa di beberapa kampus. Namun Barjo, anak mereka yang masih berusia 10 tahun ini justru betul-betul di jauhkan dari bangku sekolah. Alasannya, karena mereka takut jika nanti ia disekolahkan justru akan menghambat daya kreatifitas Barjo. Mereka beranggapan, bangku sekolah tak ubahnya bangku pesakitan yang akan mengubah dunia kreatifitas Barjo menjadi mandul serta hanya akan terdoktrinasi oleh pendiktean. Untuk alasan itulah mereka membiarkan Barjo tumbuh secara alami. Mendewasakan dirinya sendiri dengan bekal pengetahuan yang kadang sulit untuk dimengerti seperti pada sebuah percakapan malam antara Barjo dengan ayah tercintanya ini menjelang tidur.

Kali ini percakapan dimulai dari lontaran pertanyaan Barjo. Dia bilang, "Yah, kenapa banyak orang menganggap teori evolusi Darwin itu salah?"

Sang ayah tersenyum geli mendengar pertanyaan itu.

Barjo kecilpun bingung dengan sikap ayahnya ini. Tatapan matanya yang polos sepertinya tengah menangkap sebuah sinyal kejanggalan pada senyum ayahnya. Tanpa ba-bi-bu Barjo pun kembali bertanya. "Kenapa ayah tersenyum saja?"

Senyum sang ayah semakin melebar saja.

"Apa Barjo salah menanyakan itu?" tanya Barjo lagi.

Sang ayah diam kemudian. Lalu sedikit menata nafas dan menata rangkaian gerbong kalimat yang akan diluncurkannya dalam ungkapan yang tentu akan mudah dimaklumi oleh Barjo.

"Sebenarnya teori Darwin itu tidak salah tapi keliru."

"Maksudnya, Yah?" kali ini Barjo bersemangat untuk menanti penjelasan sang ayah.

"Maksud Ayah, teori Darwin itu tidak sepenuhnya salah. Kenapa? Karena teori Darwin ini bahkan justru melampaui pemikiran orang-orang sezamannya. Coba lihat sekarang, setelah banyak orang menganggap dirinya bukan hasil evolusi ala Darwin ini ternyata banyak orang yang bertingkah polah bahkan lebih gila dari seekor kera. Di televisi, di majalah-majalah bahkan di koran maupun di kampung kita ini, banyak juga orang yang tidak sadar kalau sikap mereka ini lebih gila dari seekor kera. Lagian mana ada kera mau korupsi?"

Barjo pun mengangguk.

"Kenapa? Karena ternyata Darwin belum melengkapi teorinya dengan memandang aspek sosiologi dan antropologinya. Jadi, ya banyak pula orang yang protes dengan teori evolusi Darwin ini." jelas sang ayah.

17 Juli 2008

Hak Angket; Dari Senayan Hingga Balaikota Semarang

Tampaknya wacana untuk meng-hakangket-kan kepala pemerintahan kini menjadi trend yang cukup santer dilakukan oleh anggota dewan kita yang terhormat. Seiring dibukanya pintu gerbang demokrasi yang ditandai dengan kebebasan tiap-tiap orang untuk 'ngomong' alias berpendapat betul-betul dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat. Dalam hal inilah kemudian saya menangkap ada kecenderungan semua pihak untuk dapat menampilkan dirinya sebagai pencitraan yang memiliki kekuatan politik besar. Anggota DPR baik dari DPR RI maupun DPRD kota maupun kabupaten yang sebagian besar dari kalangan partai politik konon kini mulai menampilkan performa berani mereka. Sebuah tampilan yang saya kira cukup dimodifikasi sedemikian rupa agar tampak garang di hadapan eksekutif. Tapi apapun alasannya, pertama saya ingin ucapkan selamat dulu atas keberanian yang diciptakan atau sengaja diciptakan ini oleh para anggota legislatif ini.

Terlepas dari itu semua, saya kembali ingin menggarisi pada sebuah poin penting yang mungkin patut kita pikirkan bersama. Sebenarnya apa yang menjadi dasar pengguliran hak angket tersebut?

Kalau di gedung DPR RI sana mengatakan, wacana hak angket ini terkait dengan harga BBM yang terkadung melambung akibat pemerintahan SBY-JK berulah dengan menaikkan harga jualnya. Tapi kali ini berbeda dengan apa yang nampak di gedung DPRD Kota Semarang, yang notabene lebih menyuarakan pada persoalan penyelenggaraan PPD 2008 melalui jalur khusus yang 'bermasalah' alias rawan penyelewengan dan sarat korupsi. Saya tidak habis pikir, kenapa banyak hak angket yang digulirkan oleh anggota dewan yang terhormat ini justru muncul setelah rakyat telah kehabisan suara mereka untuk melakukan perlawanan. Ambillah contoh kasus besar yang tengah terjadi di negeri ini, kenaikan harga BBM yang telah berimbas pada semua lini ekonomi baik sektor mikro maupun makro hingga membuat masyarakat arus bawah ini semakin 'kere'. Lalu dengan mudahnya pemerintah menggencarkan serangan fajar mereka dengan menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai sebagai 'sogokan' pemerintah atas derita rakyat itu. Kemudian membiarkan masyarakat kembali pada sebuah kondisi yang stagnan tanpa tahu harus berbuat apa dengan uang pecahan di tangan mereka itu untuk apa. Tak mau dianggap terlambat, DPR pun kemudian buru-buru menggelar sidang dengan agenda pengguliran hak angket terkait dengan kebijakan pemerintah tersebut.

Kini, wacana pengguliran hak angket justru mencuat di kota Semarang dengan agenda penyelidikan mengenai kebijakan pemerintah kota Semarang terkait penyelenggaraan Penerimaan Peserta Didik (PPD) tahun 2008 melalui jalur khusus. Konon, penyelenggaraan PPD jalur khusus yang seharusnya diperuntukkan bagi warga tidak mampu, anak guru, karyawan serta pemerhati pendidikan dan juga bagi calon peserta didik yang memiliki kontribusi besar bagi pendidikan (siswa berprestasi maupun siswa yang memiliki kemampuan ekonomi lebih). Namun pada kenyataannya, penyelenggaraan PPD jalur khusus ini justru hanya menjadi ajang lelang bangku sekolah dengan tawaran yang sangat mahal harganya. Dengan kata lain, siapa berani bayar mahal satu paket bangku sekolah, maka ia yang boleh mendudukinya. Sedang untuk anak guru, warga kurang mampu dan siswa berprestasi yang kebetulan tidak disokong cukup ongkos, silakan bersabar.

Kesabaran mungkin benar ada batasnya, namun perlakuan yang demikian tentu tidak dapat dibenarkan. Mengingat saat ini ada beberapa hal yang mungkin patut dicatat oleh penyelenggara pemerintahan. Dalam sebuah kesempatan yang cukup baik saya sempat bertanya pada Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Sri Santoso, sejauh ini apakah yang menjadi dasar dari pelaksanaan PPD jalur khusus tersebut? Dengan 'arif' beliau menjawab, "Dasarnya ya peraturan Kepala Dinas yang dikerucutkan pada petunjuk teknisnya."

Kurang puas saya kembali bertanya, "Lalu bagaimana teknisnya? Apakah dalam juknis ini juga menyertakan anak guru, karyawan maupun anak warga kurang mampu mendapatkan tempat khusus ini yang besarnya hanya sepuluh persen ini?"

"Ya tentu, kami sudah memperhitungkan semuanya. Mereka ini termasuk dalam prioritas." kali ini suaranya tegas, tandas.

Namun pada kesempatan lain ketika saya tanyakan hal yang sama nampaknya Sri Santoso berkilah, "Anak guru maupun warga kurang mampu ini kami prioritaskan dalam jalur reguler. Sebab, jalur khusus sudah ditutup." Hal senada juga diungkapkan Walikota Semarang Sukawi Sutarip.

Tentu ini sangat bertentangan dengan amanah juknis. Hal demikian, tentu saja sedikit membuat kalangan DPRD Kota Semarang berang dengan penelikungan aturan main ini. Bahkan, ketika saya menemui ketua komisi D DPRD Kota Semarang Ahmadi, dia langsung menyatakan hal tersebut sudah mengindikasikan adanya kecurangan. Bagaimana tidak, dari lima poin penting yang diterakan dalam juknis ternyata yang terpampang di papan pengumuman PPD hanya tiga poin. Dan ini dilakukan di seluruh sekolah yang hidup di kota Semarang.

"Ini adalah salah satu upaya kami dalam melakukan penggalangan dana. Dengan kata lain, hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memajukan satuan pendidikan di sekolah." Kata salah seorang kepala sekolah yang sempat saya temui.

Nasi keburu menjadi bubur dan bubur ini telanjur lembut untuk dilumat. Kini tinggal mencicip manis asamnya saja. Masyarakat toh kembali tertipu. Hak angket sebagai ancaman yang akan menghadang pemerintah kota Semarang di bawah kendali sang Walikota ini pun mungkin sedikit akan menjadi bumbu pelezat. Setidaknya, akan sedikit memberikan aroma rasa bubur yang telanjur tertelan ini. Siapa yang salah?

Mungkin jawabannya nihil. Sebab, masyarakat telanjur sama-sama merasakan enaknya bubur ini. Tapi sebuah ketelanjuran ini nampaknya tidak dibiarkan begitu saja oleh semua kalangan. Bahkan, kini kasus ini sampai pula menjadi daftar penyelidikan Polwiltabes Semarang. Sedang di meja sidang nampaknya wacana hak angket segera akan digelar di sebuah sidang dalam akhir bulan Juli ini. Pertanyaannya adalah, kenapa DPRD Kota Semarang tampaknya mulai melakukan hal semacam ini ketika semuanya terlambat?

Mungkin tidak, sebab pada gilirannya nanti dengan pengguliran hak angket tersebut harapan kita sebagai warga kota Semarang ini tentu tetap optimis pada pelaksanaan PPD tahun 2009 maupun tahun-tahun berikutnya tidak terjadi hal yang sedemikian parahnya. Penelikungan atau kalau tidak mau dikatakan sebagai pengkhianatan terhadap Peraturan daerah mengenai penyelenggaraan pendidikan ini janganlah sampai menjadikan racun yang terbiarkan merasuk ke dalam tulang sumsum dunia pendidikan. Sebab, dengan adanya penelikungan ini sebenarnya pemerintah kota Semarang telah memberi racun pada siswa-siswa kita yang kadung cinta dengan bangku sekolah mereka. Mereka tentu ingin mengenal lebih banyak tentang segala hal namun tidak dengan cara semacam ini tentunya. Mereka tentu ingin lebih tahu banyak tentang semua yang terjadi di alam ini namun bukan berarti kita harus mencekokinya dengan keganjilan-keganjilan semacam ini. Apa artinya kantin kejujuran yang dulu sempat diresmikan bersama sebagai simbol kejujuran dunia pendidikan kita kalau pada kenyataannya justru regulasi kemudian dibohongkan atau dengan ungkapan yang lebih halus dikaburkan? Apa makna pendidikan jika kemudian hanya memberikan pelajaran mengenai bagaimana segala sesuatu dibolehkan dengan main telikung semacam ini?

Namun kembali ke pokok, keterlambatan DPRD kota Semarang juga kini patut kita awasi. Mungkin dalam hal ini saya lebih cenderung akan menggunakan metode buruk sangka daripada berbaik sangka. Sebab, wacana politik terkadang sulit untuk ditebak. Politik mau tidak mau ibarat sebuah seni untuk meliukkan layang-layang yang kita terbangkan di udara. Kita tidak pernah tahu ke mana arah angin berhembus. Pun kita tidak pernah tahu kapan layang-layang kita akan putus benangnya jika kita tidak benar-benar mengamati dan mampu memainkan layang-layang kita.

Dan mungkin dalam benak saya yang kotor ini kalau tidak mau dikatakan sarat kecurigaan ini, terlalu banyak daftar pertanyaan yang mungkin tidak sampai terdengar di meja dewan. Pertama, apakah dewan benar-benar menyuarakan keinginan kita? Kalau benar, sejauh mana mereka akan menyuarakan kepiluan kita? Kedua, hak angket sebenarnya untuk siapa? Kalau benar untuk rakyat, kenapa baru sekarang? Ketiga, mungkinkah anggota dewan ini tengah bermain-main saja? Kalau memang iya, maaf play group tidak mampu menampung Anda.

Ribut Achwandi [anggap saja orang gila]

Sebuah Permenungan

Salam,

Dalam sebuah perjalanan hidup seseorang tidak ada yang tahu bagaimana ia akan mengakhirinya. Begitu pula dengan bagaimana seseorang akan mengawali setiap lembaran cerita barunya. Yang selalu ada adalah bagaimana orang akan selalu menghadapi segala sesuatu yang akan ia hadapi saat itu saja.

Perjalanan waktu memang sulit untuk di tebak. Kadang angin segar membawa kebajikan bagi kita namun kadang pula kebajikan tidak selamanya disertai dengan datangnya angin yang lembut. Bahkan mungkin bisa jadi adalah sebuah bencana yang ia bawa. Namun yang terpenting saat ini ialah bagaimana seseorang memaknai hidupnya baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain yang ada di sekitar kita.

Beberapa kali saya bertemu dengan sahabat-sahabat baik saya. Mereka berlatar belakang yang sangat beragam. Tentu banyak kisah yang mereka utarakan pada saya. Dengan senang hati saya pun mendengarkan setiap detil cerita yang mereka ungkap pada saya. Yang pertama ini, teman saya yang berpengalaman dengan dunia marketing. Dia menuturkan pada saya secara singkat tentang pandangan hidupnya. Bahwa hidup ini sangat memiliki hitungan yang sangat rumit. Setiap detik, bagaimanapun itu harus memiliki standard nilai yang kalau bisa dinominalkan dalam bentuk mata uang.

Kemudian saya bertemu pula seorang teman yang sangat sahaja. Ia adalah salah satu guru sufi saya. Dalam pikirannya tertera bahwa kehidupan ini ibarat sungai. Dan jika kita hanya mengikuti aliran muka airnya, maka kita akan selalu bermuara pada ketunggalan. Namun perlu banyak waktu untuk mencapai kemanunggalan itu. Sebab, kita hanya bisa mengikuti kelokan sungai. Kalau kita mampu, kenapa tidak kita ciptakan jalan pintas untuk menuju kepada ketunggalan itu? Dengan apa? Tentu dengan segala usaha yang kita miliki dan dengan kemampuan yang kita simpan dalam semangat kita. Katanya.

Lain halnya seorang teman yang satu ini. Dia adalah seorang politisi. Dia beranggapan bahwa kehidupan ini ibarat sebuah etalase di toko-toko dan supermarket. Selalu ada yang menarik dan ada pula yang tidak. Sangat bergantung pada minat yang kita punyai. Hidup seseorang, menurutnya, sangat dipengaruhi oleh peminatan atau kecondongan atau keberpihakan seseorang terhadap sesuatu yang menarik bagi dirinya. Karena pada prinsipnya, untuk membentuk sebuah kepribadian seseorang, kita harus mengetahui terlebih dahulu sejauhmana ketertarikan seseorang tersebut terhadap sesuatu. Dengan kata lain, ada semacam candu yang secara tidak sengaja telah dijejalkan dalam diri seseorang dengan sendirinya.

Lalu, seorang seniman yang kebetulan sastrawan besar, guru saya beranggapan bahwa kehidupan itu nihil. Tidak ada sesuatu yang penting ketika manusia itu menghirup oksigen di permukaan bumi yang katanya bulat ini. Menurutnya sesuatu itu akan dianggap penting jika itu akan memberikan manfaat yang lebih besar dari sesuatu itu sendiri. Dan muara dari setiap kepentingan itu sebenarnya tak lepas dari keberadaan Tuhan yang Kuasa.

Saya kira Anda tentu memiliki cara pandang yang berbeda dengan teman-teman saya ini. Kalau toh sama mungkin hanya kebetulan. Dari empat pandangan teman saya ini semoga akan memberi sedikit stimulus bagi kita semua untuk lebih menghargai makna hidup. Amin....

Salam,

Ribut Achwandi

GOEROE

Suatu ketika, dalam sebuah perbincangan ringan, seorang teman sempat bertanya pada saya. Katanya, "Siapa orang yang paling berjasa dalam hidup Anda?"

Spontan saya jawab, "Guru."

Teman saya ini agaknya mulai sedikit punya selidik atas jawaban saya ini. Dikiranya saya tengah bergurau. Sebab, jawaban ini memang saya akui teramat berkesan klise dan sangat kuno. Tidak relevan dengan perkembangan zaman. Mungkin bagi Anda--yang membaca tulisan ini--akan merasakan bahwa jawaban saya ini hanya sebuah basa-basi belaka. Dan begitu pula sikap teman saya pada saya. Dia mengira saya sedang berbasa-basi.

Lalu dia kembali bertanya, "Guru?"

Tampak betul raut mukanya kini tengah bergelut pada sebuah keyakinan yang dipertaruhkan. Ia betul-betul ragu dengan jawaban saya.

Saya pun dengan yakin mengiyakan. "Guru!"

Bola mata teman saya semakin menyempit karena selaput matanya kian mengkerut dan kernyitan di dahinya semakin menampakkan ketidakyakinannya pada jawaban saya.

"Lho apa saya salah?" tanya saya.

"Tidak. Hanya saja saya kurang yakin dengan jawaban Anda." jelas teman saya ini.

"Saya menjawabnya dengan sungguh-sungguh. Tidak basa-basi."

Teman saya pun menghela nafas lega. Saya pun menangkap ada rona kebanggaan pada dirinya. Maklum teman saya ini memang seorang guru beneran. Dia guru sebuah SMA swasta di Semarang. Tentu, jawaban saya yang meyakinkan ini sedikit membuatnya berbangga. Namun belum selesai ia dengan kebanggaannya itu saya kembali melanjutkan jawaban saya.

"Tapi maaf yang saya maksud guru bukan berarti orang yang berprofesi sebagai guru." kata saya.

Air mukanya kini sedikit berubah. Ada sebuah pertanyaan besar yang ingin teman saya sampaikan. Saya tahu itu. Langsung saja saya jawab tanpa ditanya.

"Bagi saya semua orang adalah guru. Sebab, dari mereka ini saya merasa mendapatkan banyak hal. Belajar tentang bagaimana mengenali hidup, dan bagaimana saya mengenali diri sendiri. Dan satu hal yang mungkin harus saya sampaikan pada Anda, semua makhluk yang ada di dunia ini adalah guru. Bahkan seekor monyet sekalipun adalah guru bagi saya." jelas saya agak berpanjanglebar.

Teman saya heran. Lalu bertanyalah ia, "Lho memangnya seekor monyet bisa mengajari apa?"

"Sederhana saja. Kalau Anda manusia yang cerdas, tentu akan bisa membedakan cara makan pisang antara seekor monyet dengan seorang manusia." belum rampung saya menjelaskan, teman saya menyela.

"Maksudnya?"

"Kalau Anda manusia, jangan sekali-kali berlagak menjadi seekor monyet. Tapi kalau Anda adalah seekor monyet, sepatutnya Anda berbangga sebab tingkah polah monyet ini rupanya lebih sering ditiru oleh manusia." jawab saya.

"Lho kok?"

"Nah itu...." saya hanya mengacungkan jari telunjuk saya dan mengarahkan pada kulit pisang yang terbiarkan tidak dibuang ke tempat sampah. Tentu itu bekas kulit pisang yang dimakan teman saya.

04 Juli 2008

Apa Kabar Dunia [?]

Guguran daun akasya di suatu pagi musim kemarau sedikit membuatku tersadar. Rupanya aku sudah terlalu lama untuk meninggalkan dan mencampakkan bumi ini. Aku lihat wajahnya mulai bopeng karena gas emisi hasil limbah mesin penggilas waktu. Nampak kasihan betul. Luka di sekujur tubuhnya yang makin hari makin nganga tak pula terobati. Sesaat kemudian aku bertanya 'Adakah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menyembuhkannya?'. Kuangkat gagang telepon, memencet sembarang angka.

"Oh, maaf Tuhan sedang sibuk. Urus saja urusanmu sendiri." suara seorang lelaki di ujung gagang telepon.

"Maaf, siapa ini?"

"Aku adalah kau. Tapi kau bukan aku."

"Jangan main-main!" hardikku.

"Anggap saja ini tebakan. Sebab, dunia ini penuh dengan tebakan. Dan bukankah kau sendiri yang memulainya?"

"Aku tak mengerti?"

"Maaf, siapa yang engkau telepon saat ini?"

"Aku yakin bukan kau."

"Memang bukan aku tapi kau sendiri."

"Sialan!" umpatku. Langsung aku banting gagang telepon.

Belakangan memang sering aku alami kejadian aneh semacam ini. Aku tak habis pikir kenapa. Tuhan mengirimiku segudang peristiwa yang tak aku pahami. Tuhan, jangan kau kirimi aku teka-teki ini. Aku mohon.

Dua lembar kertas di atas meja masih nampak bersih tanpa sedikitpun noda. Ku jumput mereka lalu mulai kugores mereka dengan ujung pena yang tak cukup tajam itu. Dan mulailah aku memainkan kata.

Apa kabar dunia? Lama kau diam tak ada kabar. Kau nampak kurus kini. Kenapa? Sakit? Atau kau depresi? Sudahlah, tak perlu hiraukan mereka. Manusia memang punya ulah yang aneh. Dunia, sudah lama ya kita tidak ngobrol. Aku rasa sudah tiga atau empat bulan ini. Maaf, aku sedang terlalu disibuki dengan urusan-urusanku. Kerjaan kantorlah, urusan dapurlah. Semuanya benar-benar telah menyita waktuku. Kadang di dalam kamar ketika aku mulai rebah, aku merindukan saat indah bersamamu. Kadang pula tidak. Oya, sudah bertemu Tuhan dunia? Dia sedang apa kini? Aku rasa kau sangat memahami Dia. Jadi, tidak salah kan jika aku menanyakan Tuhan padamu?

Ting...tong....bel pintu rumah berbunyi.

"Siapa?"

"Helena."

Bergegas aku meraih gagang pintu. "Oh Tuhan, Helen..." sapaku.

"Gea, aku terima suratmu beberapa waktu lalu. Makanya aku kemari."

"Surat?"

"Kau tak ingat?"

"Aku tidak pernah mengirimi kau surat."

"Lantas siapa?" tanya Helen.

"Sungguh!" sejenak bengong. "Ah, masuk saja dulu. Kita bicarakan nanti."

[bersambung]

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......