15 April 2008

Kenapa [Harus] Malu [?]

Telanjur aku lahir dan dibesarkan di sini
di negeri yang semakin lama semakin tak karuan
telanjur aku ada,
tanpa bisa aku tolak
telanjur aku,

Kita punya negeri memang tak begitu hebat
tapi apa perlu kita malu?

Kita punya negeri memang tidak membuat kita bangga
tapi apa kita perlu malu?

Tidak.
sebab memang beginilah
carut marut

ah, andai saja dapat aku sampaikan
pada George Wahington aku ingin bertanya
perlukah aku berbuat untuk negaraku?
sedang di sini,
negeriku

negara telah memperkosa kami
negara telah merampas hak kami
negara telah melucuti kami
negara telah memeras kami
negara telah membunuh kami
negara bahkan tidak memberi kami kesempatan
untuk berbuat

aku hanya mampu berbuat
tapi bukan untuk negara
bukan untuk siapa-siapa
hanya aku,

jangan cemberut macam itu, George
kau tak dilahirkan di sini
mungkin kau tak cukup mengerti
tak begitu kenal

lihat di sana
wanita tua kembali pulang ke rumah
dengan sebuah dirigen kosong ia lambaikan
dan dengar,
"Ah, zaman sekarang semua serba susah." katanya

George, kau ingin dengar cerita lain
seorang pejabat kemarin ditangkap
katanya karena suap

itulah George
yang membuat aku tak cukup luang
aku hanya satu
di antara mereka
penganggur

Ah, George?
kau bisa tawarkan aku pekerjaan?
apa sajalah
tak perlu halal haram
harampun jadilah
Gila!!!!

Tentang Kemenangan dan Kekalahan

Kemenangan sebenarnya bagiku
adalah saat aku dapat buktikan
aku mampu taklukkan Engkau
dengan cinta
Sementara kekalahan terbesarku
adalah ketika aku merasa
betapa besar cintaku pada-Mu

Bank Indonesia Akan Cabut Izin 13 BPR

Semarang, 13 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) akan dicabut izinnya karena tidak sehat. Hal ini dikemukakan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Rudjito ketika menggelar jumpa pers di Kantor Bank Indonesia hari ini. Pencabutan izin ketigabelas BPR ini sebagaimana dikemukakan oleh Rudjito, karena 13 BPR tersebut sudah tidak sehat lagi dan sangat sulit untuk dapat dipulihkan kembali. 13 BPR tersebut di antaranya: BPR Tripilar Arthajaya (Yogyakarta), BPR Cimahi (Bandung), BPR Mitra Banjaran (Bandung), BPR Mranggen Mitraniaga (Demak), BPR Samadhana (Sukabumi), BPR Gununghalu (Bandung), BPR Bekasi Istana Artha (Bekasi), BPR Era Aneka Rezeki (Cibinong), BPR Bangunkarsa Arthasejahtera (Bandung), BPR Bungbula (Garut), BPR Anugerah Artha Niaga (Solo), BPR Citraloka Dana Mandiri (Bandung), dan BPR Kencana Artha Mandiri (Solo).

Dalam siaran persnya Rudjito mengungkapkan, hal tersebut dikarenakan penemuan LPS mengenai indikasi tindakan fraud yang dilakukan baik pengelola maupun pemilik BPR tersebut. Dalam hal ini, modus operandi yang dilakukan oleh pemilik BPR di antaranya; adanya deposito fiktif, penghimpunan dana deposito yang tidak tercatat dalam neraca, pencairan deposito yang tidak diketahui oleh pemilik, adanya rekayasa pemberian kredit, dan penggelapan uang bank. Hal ini pada gilirannya akan sangat berpengaruh pada keberadaan nasabah BPR yang sampai saat ini merupakan jumlah nasabah terbanyak dibandingkan perolehan jumlah nasabah bank umum.

"Jumlah rekening bank umum ada 98% dari total pemegang rekening sekitar 89 juta pemegang. Sedang di BPR jumlah rekening ada sekitar 99,5%." Kata Rudjito.

Jumlah nasabah yang lebih banyak ini tentunya akan menjadi pekerjaan berat bagi LPS untuk menyelamatkan BPR tersebut. Untuk itu, sebagaimana dikatakan Rudjito, "Dari pengalaman 13 BPR yang sudah kami verifikasi kenyataannya tidak dapat diselamatkan. Sehingga, meskipun kita menghitung, kalaupun kita menyelamatkan dengan menggunakan Capital Ediquetio Ratio 4%, dan menambah modal di situ, tetap tidak akan mampu untuk mengangkat BPR itu untuk sehat kembali." jelasnya.

Selain itu, permasalahan lain yang turut dipertimbangkan oleh LPS terkait dengan potensi yang dimiliki BPR secara prospektif ke depan BPR bersangkutan.

Namun demikian, kembali Rudjito mengungkapkan, sejak LPS didirikan, terdapat dana pihak ketiga dari 10 BPR dari 13 BPR telah diserahkan kepada BI yang selanjutnya diteruskan kepada LPS senilai 232 Milyar rupiah. Kesepuluh BPR tersebut sudah membayarkan simpanan simpanan yang layak senilai 45,916 Milyar rupiah. Sedang untuk simpanan yang tidak layak, jumlah yang sudah dibayarkan sebanyak 23,200 Milyar rupiah. Sementara itu, untuk 3 BPR lainnya saat ini masih dalam proses verifikasi.

Dalam beberapa hal, LPS memiliki kewenangan untuk merekomendasikan BPR untuk dicabut izinnya. Hal ini terutama dengan adanya pemberlakuan UU no. 24 tahun 2004. "Kalau bank itu sudah tidak dapat diselamatkan, BI dapat segera menetapkan CDO. Melarang BPR untuk menerima dana dari masyarakat dan pemberian kredit. Namun dalam kenyataan, masih terdapat beberapa BPR yang melanggar aturan itu." jelas Rudjito.

Untuk itu, dalam rangka memberikan jaminan kepada penyelamatan BPR, LPS kali ini akan melakukan kerja sama dengan BI dan Kantor BI di daerah-daerah untuk memberikan pengawasan yang intensif terhadap perkembangan BPR di daerah.

Sementara itu, ketika disinggung mengenai kondisi BPR di Semarang, Pimpinan KBI Semarang Zaeni Aboe Amin mengungkapkan saat ini di Semarang terdapat satu BPR bermasalah. Namun demikian, dirinya enggan untuk menyebutkan identitas BPR tersebut. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Menuju Sukses bag. 2

Setelah tulisan saya beberapa hari yang lalu. Saya kembali teringat masih ada sesuatu yang belum saya sampaikan. Dan kali ini, ingin saya bagi kembali pada Anda.

Namun dalam hal ini saya punya cerita yang mungkin perlu bagi saya untuk dibagikan.
Suatu ketika saya bertemu dengan seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya dikemudian hari. Dia satu-satunya orang yang sangat menghargai siapa saja. Mau mengerti siapa saja. Dialah orang yang menurut saya sangat mengerti tentang saya di samping Ibu dan istri saya tentunya.

Kepada saya, orang ini pernah berkata, "Orang yang mengangap dirinya lebih dipentingkan dari orang lain itu sama artinya ia telah melanggar hukum Tuhan."

Langsung pula saya tanyakan, "Kenapa?"

Dia hanya tersenyum.

"Bukankah dalam kehidupan kita, kita dihadapkan sebuah kenyataan yang demikian? Dimana saat kita membutuhkan pertolongan seseorang, maka kita akan sangat mementingkan seseorang tersebut?" Aku kembali bertanya.

" Sebenarnya tidak demikian, pada orang tersebut hanya untuk mencari jalan terang menuju kekuatan nyata di balik orang itu. Dan, orang tersebut, yang kita mintai bantuan tersebut, hanya sebuah transformasi energi cinta dan kasih Tuhan. Jadi, Tuhanlah yang telah menggerakkan ia untuk membantu kita. Bukan lantaran belas kasihan orang tersebut. Maka kalau kita mendudukkan ia dalam porsi yang lebih tinggi dari kita sebagai manusia, makhluk Tuhan, maka sebenarnya kita telah mendurhakai Tuhan. Dan sebaliknya, ketika orang tersebut merasa dipentingkan oleh khalayak, maka ia lebih durhaka kepada Tuhan. Karena sebenarnya, ia telah mencampakkan Tuhan dari sisinya."

Sungguh saya bertambah tidak mengerti dengan ungkapan tersebut. Saya pun kembali menjejalinya dengan pertanyaan, "Tetapi faktanya demikian? Seorang pejabat merupakan orang yang dipentingkan oleh warganya, seorang ulama akan dipentingkan oleh pengikut atau jamaahnya, dan seorang guru akan sangat berarti bagi muridnya?"

"Tidak ada pejabat yang lebih penting dari mereka yang mementingkan rakyatnya, tidak ada kiyai yang lebih hebat dari mereka yang mau nyantri dari muridnya, dan tidak ada guru yang lebih baik dari mereka yang mau belajar dari siswanya. Sebagai contoh, adakah guru yang mungkin dalam kehidupan kamu, menurut kamu, cerdas?" Tukasnya.

"Saya kira banyak." Jawabku.

"Seorang guru yang cerdas adalah ketika ia mampu mentranformasikan energi keilmuanannya kepada muridnya. Dan untuk melakukan transformasi itu ia butuh sebuah hubungan komunikasi yang baik. Untuk menuju ke arah komunikasi yang baik, seorang guru harus belajar dari apa yang mampu ditangkap oleh seorang muridnya. Maka ia harus memahami muridnya terlebih dahulu sebelum ia meminta muridnya untuk memahaminya. Jadi, pertanyaannya adalah mana yang lebih penting?"

"Dua-duanya?" Tanyaku.

"Dalam hal ini mungkin kamu benar jika kamu melihat dari sisi yang nampak. Tapi kamu belum bisa menempatkan diri kamu berada di luar lingkaran itu. Ada satu hal yang belum kamu sentuh. Di dalam kasus tersebut, ada satu kata kunci yaitu, energi. Masih ingat rumusan yang diberikan Einstein?"

Saya hanya mengangguk.

"Semakin besar usaha untuk mengalihkan atau mentransformasikan sesuatu maka semakin besar pula energi yang ia hasilkan, dan begitu pula sebaliknya. Semakin besar energi yang dikeluarkan maka semakin jauh pula transformasi itu dapat ditempuh. Siapa energi itu? Dialah yang berada di luar batas pengetahuan kita. Kita tidak memiliki energi, sebab kita digerakkan oleh ego dan ego selalu terbungkus dalam sebuah alam pikiran yang sedemikian rupa kita rekayasa karena hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani kita. Artinya kita hanya menjadi budak jasad. Tubuh kita. Sedang energi berada di luar tubuh tetapi kehadirannya ada di dalam nurani kita. Kasih dan sayang. Itulah energi yang sangat dahsyat."

"Kalau begitu, apa bedanya energi dengan ruh?" aku bertanya.

"Ruh ibarat pot atau vas bunga yang akan ditempati energi. Ruh adalah sebuah jembatan spiritual yang sengaja dianugerahkan Tuhan kepada manusia untuk dapat melakukan kehendak-Nya."

"Lantas, bagaimana dengan status sosial?"

Ia tersenyum dan kemudian berkata, "Kau masih saja memikirkan status sosial? Bukankah itu reka daya manusia. Hanya sebuah penciptaan jurang yang begitu dangkalnya oleh manusia. Kelicikan manusia yang memang dibekali kemampuan akal yang luar biasa, tapi alangkah bodohnya ia sebagai manusia ketika ia berbangga diri dengan pangkat, jabatan dan kedudukannya di hadapan orang lain. Orang yang bangga dengan statusnya berarti orang yang paling bodoh di dunia. Sebab, ia telah dibodohi oleh satu spesiesnya sendiri. Dan ingat kunci kesuksesan manusia tidak diukur dari status sosialnya, melainkan dari sebuah pemahaman dalam mengartikulasikan kehidupan itu sendiri."
Dari obrolan panjang itu pun kami pun harus kembali pulang dalam buaian mimpi kami. Dan malam kembali senyap. Namun dalam otak saya masih saja belum mampu menerjemahkan kalimat-kalimatnya. Sampai pada akhirnya aku hanya mampu catatkan pada selembar kertas kusam. Kalau tidak lupa bunyi kalimat itu sebagai berikut:

Jika tak ada malam mungkin aku akan kehilangan banyak tenagaku. Dan jika tak ada siang mungkin aku tak akan menemukan energi untuk terus melakukan ziarah kehidupan. Kenapa ziarah kehidupan? Karena kehidupan yang selama ini kita jalani adalah kematian yang sebenarnya. Dan kehidupan yang sebenar-benarnya ada dalam mati.

Sumber Foto:
http://www.endless-satsang.com/Mentoring_files/image3001.jpg
http://www.eso-garden.com/images/uploads_bilder/10_great_ways_to_receive_some_spiritual_help.jpg
http://www.writespirit.net/image/sharani/gold-cloud
http://trak.in/wp-content/uploads/2007/06/yoga-1.jpg

Semarang Kaline Banjir


Semarang, Bila Anda pernah mendengar lantunan lagu yang ditembangkan dari suara melengking pesinden Jawa Waljinah, tentu Anda pernah mendengarkan satu bait yang sangat tepat dengan kondisi dengan semarang.

Semarang kaline banjir
Jo sumelang, jo dipikir

Demikian kira-kira bunyi kalimat tersebut yang terdapat dalam lagu "Walang Kekek". Kiranya tidaklah berlebihan lagu tersebut kemudian muncul di ranah dunia kesenian Jawa. Hal tersebut ternyata tidak hanya memberikan gambaran secara konkret mengenai kondisi kota Semarang. Namun sekaligus sebagai otokritik yang mengedepankan permasalahan sosial yang terjadi di kota Semarang. Bagaimana tidak, selama ini upaya pemerintah kota Semarang dalam menangani masalah tersebut masih saja setengah hati dan terkesan tidak ingin basah. Pemerintah kota Semarang seakan selalu mengangkat tinggi-tinggi celana mereka agar tidak kuyup serta menjinjing tinggi-tinggi sepatu pantovel yang mengkilap itu agar tidak kotor terkena lumpur. Hal inilah yang kemudian secara tajam kemudian menjadi sorotan dalam dunia lagu.

Walang Kekek, sebuah lagu jenaka yang penuh sindiran yang begitu satir dan tidak main-main. Sebaliknya, pemerintah kota Semarang terlalu asik bermain-main dalam kubangan genangan rob dan banjir. Membuat kapal kertas, dan sederet aturan yang kurang mampu mengejawantahkan keinginan masyarakatnya sendiri.

Baru-baru ini, pemerintah kota Semarang mempublikasikan data terakhir mengenai genangan rob. Walhasil, sangat menakjubkan. Dari sekitar 3.000 hektar lebih yang tergenang rob, dalam tahun 2007 pemerintah kota sudah mampu mengurangi luasan genangan tersebut menjadi 600 hektar. Ada apa ini?

Hampir semua kalangan Dewan yang tadinya duduk manis tiba-tiba tercengang. Mereka bertanya, apa ini benar-benar bisa dipertanggungjawabkan? Agung Budi Margono pun ikut berseloroh, "Ini merupakan kemajuan yang luar biasa. Namun sepanjang data tersebut memang dapat dipertanggungjawabkan."

Di lain hal, Susetyo pun menimpali, "Ini data yang menurut saya kurang akurat. Di tempat tinggal saya, genangan rob masih saja terjadi."

Sungguh mengherankan. Capaian hasil yang luar biasa ini ternyata masih banyak didebatkan di meja sidang. Apakah mungkin memang masih perlu diperdebatkan? Padahal, dalam lagunya, Waljinah kembali mengungkapkan, "Jo sumelang, jo dipikir (jangan kecewa, jangan dipikirkan)." Ya, karena lembaga pemerintahan yang seharusnya memikirkan pun masih belum juga berpikir.

Sumber Foto: http://loenpia.net/blog/wp-content/uploads/2007/02/banjir05.jpg

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......