13 Desember 2008

Budaya Langka di Negeri Langka

Kelangkaan nampaknya sudah membudaya di negeri ini. Padahal kita tahu persis, negeri ini cukup disuburi dengan kekayaan alam yang meruah limpahannya. Namun anehnya, kita sering kali tidak sadar kenapa kelangkaan terus saja terjadi. Apakah gara-gara korupsi? Ataukah karena kita sebagai bangsa yang cukup bangga untuk mendongakkan dagu ini justru memiliki sebuah tabiat yang kurang baik lantaran kita tidak peduli dengan nasib bangsa ini? Atau karena kita terlalu sering memanfaatkan setiap isu itu sebagai muatan politik sehingga kita terlalu keasyikan bermain dalam kubangan lumpur politik yang terlalu didramatisir sedemikian rupa?

Mau tidak mau harus diakui kesemuanya itu mungkin ada benarnya. Sebab, politik di negeri ini selalu bertautan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Korupsi, yang semestinya tidak menjadi kian parah, ternyata makin lama makin jadi. Hal ini semakin menandakan bangsa ini semakin lupa daratan. Yang pada gilirannya, membuat bangsa ini semakin sombong saja untuk mengatakan sebagai bangsa besar. Sebab, pada kenyataannya bangsa ini masih lengah dalam menjalankan fungsinya secara politis. Pemerintah yang seharusnya melindungi aset negara yang diamanatkan dalam UUD 1945 ternyata justru dijadikan ajang perebutan oknum pejabat korup untuk melakukan penyelamatan aset negara itu sebagai klaim pribadi. Tentu ujung-ujungnya adalah tindakan korupsi. Jual beli aset negara menjadi sebuah pemandangan yang sering kali kita temui dalam koran-koran, siaran televisi dan radio. Kong kalikong para pengusaha yang menyamar sebagai penguasa terus saja terjadi. Sehingga semakin samar mana perusahaan negara mana yang swasta. Jabatan rangkap ketua partai yang sekaligus menjadi pejabat acapkali mengaburkan makna demokrasi. Dimana kepentingan rakyat menjadi diprioritaskan dalam batas golongan-golongan politik. Reformasi yang macam apa ini?

Dramatisasi politik kekuasaan menjadi sorotan yang cukup unik di negeri ini. Sebab, hampir setiap masa pergantian kekuasaan selalu diisi dengan isu-isu kelangkaan bahan pokok kebutuhan masyarakat. Tak jelas siapa yang bermain dan siapa yang sedang dipermainkan dan untuk apa. Budaya politik yang semacam ini saya kira memang tidak patut untuk diabadikan lagi di negeri ini. Namun pada kenyataannya, ini terus terjadi.

Lantas apa yang sebenarnya diinginkan penguasa?

10 Desember 2008

Pemkot Semarang Mulai Batasi Pengembangan Kawasan Atas

Kota Semarang nampaknya tidak mau kalah dengan kota-kota besar lainnya di Jawa. Semakin hari hampir dapat dikatakan semakin padat. Dari data tahun 2006 jumlah penduduknya menurut BPS 1.434.025 jiwa, dengan komposisi 711.761 penduduk laki-laki dan 722.264 penduduk perempuan. Sementara luas kawasan 374 Km persegi. Dengan demikian, kepadatan rata-rata penduduk di kota yang terkenal dengan kota penghasil Lunpia ini diperkirakan mencapai 3.834,3 jiwa per Km persegi. Namun demikian, pada kenyataannya persebaran penduduk di kota ini tidak serta-merta merata. Hal ini sebagaimana saya kutip situs resmi Pemrintah kota Semarang menyebutkan kecamatan yang paling padat penduduknya adalah Kecamatan Semarang Selatan sebesar 14.470 orang per km2, sedangkan yang paling kecil adalah Kecamatan Mijen sebesar 786 orang per km2.

Menganut teori medan magnet, ketidakmerataan ini tentunya sangat erat kaitannya dengan daya tarik kawasan yang sangat subur bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Wilayah kecamatan Semarang Selatan ini kini mulai dijamuri dengan ragam pemandangan yang sangat metropolis. Tentunya hal ini akan semakin membuat semut-semut kecil ingin pula mencicipi manisnya gula-gula perkotaan yang sebenarnya semu.

Sejak pengembangan kota Semarang, wilayah kecamatan ini merupakan kecamatan yang sungguh mendapatkan prioritas. Sebab, selain memiliki tingkat kelandaian yang cukup memadahi, kawasan ini memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi. Di samping itu, keberadaan perkantoran instansi-instansi pemerintahan provinsi Jawa Tengah, mau tidak mau ikut memberi stimulan terhadap pengembangan kawasan tersebut. Tak pelak lagi, jika kemudian semakin hari pertumbuhan ini akan semakin mendekati titik jenuh.

Di lain hal, daya tarik kota besar ini selain membawa berkah ternyata juga membawa bencana bagi warganya. Bagaimana tidak, saat ini dengan tingkat kepadatan ini muncul kemudian pemukiman-pemukiman liar yang semestinya tidak hadir sebagai pelengkap penderitaan kota. Alhasil, puluhan tahun pemukiman ini muncul, puluhan tahun pula ia semakin mengakar kuat sehingga sulit untuk melakukan sebuah terobosan baru bagi Pemerintah kota Semarang untuk mengupayakan penataan kawasan yang nyaman. Tidak hanya nyaman bagi si empunya kelebihan duit, melainkan untuk semua warga kota yang tengah berdandan menjadi kota metropolitan ini.

Sementara, kebutuhan perumahan yang kian sempit di kawasan perkotaan, pengembangpun mulai melirik magnet lain yang akan dijadikan penawaran atau solusi bagi pemilik kelebihan duit ini untuk dapat menikmati pemukiman di atas bukit. Dan berjamuranlah perumahan-perumahan baru di kawasan bukit-bukit yang indah itu. Hingga pada akhirnya sulit untuk dikontrol.

Kini, mungkin tidak mau dikatakan terlambat, Pemerintah kota Semarang mulai melakukan perencanaan penataan ulang tata ruang yang kadung amburadul tersebut. Dengan tergopoh-gopoh, Pemerintah kota Semarang kini mulai mewacanakan untuk mulai membatasi pengembangan kawasan pemukiman. "Ini sebuah solusi bagi penataan lingkungan yang saya kira perlu untuk dilakukan segera oleh Pemerintah kota Semarang. Sebab, jika tidak, akan banyak lahan yang semestinya menjadi kawasan Ruang Terbuka Hijau di kota Semarang ini akan hilang dan semakin tergerus." kata Afrianto Sofyan konsultan Program RP4D.

"Sebenarnya Pemerintah kota seharusnya lebih tegas dalam membatasi perkembangan kawasan pemukiman ini. Terutama di kawasan-kawasan yang rawan longsor, di sekitar rel kereta api, dan yang menempati tanah-tanah negara yang semestinya menjadi kawasan RTH. Namun untuk menertibkan itu semua, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Pemerintah harus mulai merancang strategi yang tepat dan ini membutuhkan keterlibatan semua pihak. Termasuk masyarakat. Sehingga di kemudian hari tidak menimbulkan polemik yang berkepanjangan." lanjutnya.

Perlu diketahui pula bahwa selama ini, kota Semarang selain dihadapkan pada persoalan banjir, ternyata juga dihadapkan pada masalah ancaman tanah longsor yang kerap terjadi di kawasan atas. Hal ini dikarenakan semakin kerdilnya kawasan-kawasan RTH yang dimiliki kota Semarang sebagai pengaman terhadap bahaya ancaman tersebut. "Sudah saatnya pembangunan perumahan di kawasan atas ini mulai dibatasi. Bahkan menurut saya, dalam sepuluh tahun kedepan, pengembangan pemukiman bagi masyarakat ini untuk kawasan bawah harus dikembangkan secara vertikal. Dengan membangun Rumah Susun atau apartemen. Namun kembali lagi ini dikembalikan pada kemampuan ekonomi masyarakat." ujar Sofyan.

Kendati demikian, upaya tersebut mungkin dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Mengingat, sejauh ini, dari segi bisnis sendiri, hal tersebut apakah memang benar-benar memiliki potensi besar bagi pengembang? Sementara saat ini, pengembang lebih tertarik untuk bermain bisnis untuk menjual potensi keunikan alam yang dimiliki kota Semarang ini melalui pengembangan kawasan perbukitan. "Semestinya Pemerintah kota juga lebih tegas dalam menerapkan pembatasan pengembangan kawasan atas. Kalau perlu ditegaskan melalui Perda atau paling tidak Perwal. Sebab, saat ini pengembangan kawasan atas ini sudah semakin padat. Terutama di sejumlah kawasan seperti Banyumanik dan Tembalang." kata Sofyan.

Memang, semakin besar pertumbuhan kota, semakin besar pula risiko yang akan ia tanggung. Maka tidak heran jika kemudian masalah ini menjadi masalah yang cukup serius bagi penyelenggara pemerintahan ini. "Kami sepenuhnya mendukung rencana Pemerintah kota Semarang yang akan memberlakukan aturan main tata ruang. Bahkan kami sejak awal telah terlibat dalam perbincangan mengenai ancangan aturan tersebut." ungkap Sujadi Ketua DPD REI Jawa Tengah.

Namun demikian, dukungan tersebut nampaknya belum sepenuhnya 100% ditunjukkan REI. Dalam hal ini, Sujadi mengungkapkan, "Sebenarnya kami agak keberatan dengan persyaratan bagi pengembang yang hanya dibolehkan membangun 20% dari seluruh luasan area lahan untuk rumah. Misal dengan luas area 100 m2, yang hanya dibolehkan dibangun hanya 20% saja. Kami minta ya paling tidak 30%-lah. Sebab, kalau itu benar-benar diberlakukan, maka harga rumah akan semakin mahal. Otomatis tidak ada peminatnya."

05 Desember 2008

Lahan Tambak Jadi Area Parkir Pesawat

Kota Semarang yang merupakan kota pesisir, tentu tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan usaha tambak. Bahkan beberapa bulan yang lalu ketika saya sempat menemui salah seorang pemilik tambak di kawasan Muktiharjo kecamatan Mangkang, dia menyebutkan, usaha tambak di kota Semarang pernah mengalami masa keemasan. “Dulu yang namanya usaha tambak itu bisa buat modal untuk naik haji. Bahkan suatu ketika, satu kampung ini bisa naik haji semua bareng-bareng. Ya karena usaha tambak itu,” katanya.

Mungkin itu hanya sekelumit tentang usaha tambak di Semarang. Yang dulu pernah jaya bahkan mungkin dapat dikatakan telah mencetak jutawan-jutawan yang tangguh. Namun, seiring perubahan zaman, usaha ini lambat laun menyusut hingga tak jelas bentuknya. Sebab alam nampaknya enggan untuk menjadi sahabat bagi petani tambak ini. Abrasi kawasan garis pantai yang semakin parah, sulit terhindarkan. Air rob telah membenamkan semua. Peras keringat mereka pun tinggal menjadi sebuah kenangan.

Namun demikian, usaha tambak ini sebenarnya masih tetap menjadi primadona bagi masyarakat Semarang. Bahkan sampai saat inipun jenis usaha ini tetap langgeng. Paling tidak, di tengah-tengah masa sulit, kegiatan ekonomi ini tetap berjalan sebagaimana mestinya meski harus berhadapan dengan tantangan alam yang semakin nyata.

Namun di balik itu semua, tantangan lain kemudian menghantui pula kelanggengan hidup usaha tambak ini. Dengan dalih sebagai usaha pengembangan potensi ekonomi Jawa Tengah, kemudian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memiliki niatan untuk menyulap sebagian lahan tambak di kawasan Tawang Mas Semarang untuk dijadikan area parkir pesawat. Sejak tahun 2004 yang lalu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memiliki sebuah obsesi besar terhadap pengembangan bandar udara Ahmad Yani yang kini telah menjadi bandara internasional. Hal ini disebabkan adanya peningkatan jumlah penerbangan dan penumpang dari tahun 2001 sampai dengan 2006 yang memiliki nilai rata-rata pertahun sebesar 8%. Untuk alasan itulah, pengembangan harus dilakukan sebab kondisi bandara saat ini sangat tidak mungkin akan dapat menampung tuntutan perkembangan zaman. Alhasil, perluasan pun dimulai. 93 hektar lahan tambak harus dikorbankan.

Di satu sisi, memang rencana tersebut cukup memberikan manfaat bagi perekonomian Jawa Tengah. Namun di sisi lain, rencana ini justru menuai polemik yang cukup rumit mengingat hal tersebut juga akan mengakibatkan puluhan petani tambak akan kehilangan pekerjaan dan tentunya akan kehilangan mata pencaharian mereka pula.

“Untuk pembebasan lahan ini sebenarnya dari pemerintah sudah menyiapkan dana tali asih yang akan diberikan kepada 59 orang pengelola tambak. Kenapa tali asih dan bukan ganti rugi lahan? Sebab tanah yang mereka tempati sebagai lahan tambak merupakan milik TNI AD.” Kata Abdul Majid, Wakil ketua Panitia Pengadaan Tanah.

Hingga saat ini, mungkin puluhan petani tambak ini masih bergelut dengan segenap kegelisahan mereka mengenai masa depan mereka. Paling tidak, mereka akan selalu bertanya apa yang dapat mereka kerjakan esok ketika rencana besar itu benar-benar menjadi sebuah kenyataan pahit bagi mereka. Kegelisahan ini tersirat dari apa yang diungkapkan Abdul Majid. Dia mengatakan, “Dari 59 orang ini baru 10 orang yang sudah menerima dana tali asih. Dan perlu diketahui, dana tali asih ini cukup besar jumlahnya. Sebab, untuk penerima paling rendah itu mencapai 20 juta rupiah. Sedang penerima tertinggi mencapai 150 juta.”

Memang jika dilihat dari jumlahnya, cukup menggiurkan. Namun, jaminan kelangsungan hidup mungkin tak akan dapat terbayar. Kesangsian 49 petani tambak ini nampaknya cukup beralasan. Di zaman serba susah, uang sebesar apapun tak akan mampu menjawab persoalan-persoalan ekonomi mereka. Sebab, kalaupun harus beralih pekerjaan, mungkin lahannya semakin sempit.

“Nah, uang tali asih itu memang kalau dilihat besaran per meter persegi kelihatannya kecil. Cuma empat ribu rupiah. Namun, sebenarnya dua ribu itu untuk ganti lahan, sedang dua ribu lainnya untuk alih profesi.” Kata Abdul Majid.

“Sebenarnya kenapa mereka, yang 49 orang ini belum mau terima?” tanya Anhar.

“Ya, kami akan terus mengupayakan agar mereka mau menerima. Kami akan terus sosialisasikan itu.” Jawab Abdul Majid.

Hari tiba-tiba menyerobot dan bertanya, “Pak, sebenarnya kapan pertama kali mereka menerima pembayaran itu?”

“Oh itu sudah lama, Mas. Pembayaran uang tali asih ini sudah kami lakukan sejak tahun 2006 lalu.”

Itu artinya sudah hampir 3 tahun proses ini berjalan. Pembebasan lahan tambak yang menjadi tumpuan hidup warga masih juga terbengkalai. Padahal, tanggal 15 Desember 2008 nanti, semua harus segera beres.

“Jika mereka tetap ngeyel, pembayaran akan kami lakukan di meja pengadilan.” Ungkap Abdul Majid.

Rokok Dilarang Masuk Semarang

Mungkin dalam beberapa hari ini, tulisan yang biasanya terpasang di kantor-kantor dan tempat-tempat umum lainnya yang berbunyi ‘Dilarang merokok’ atau ‘Terima kasih tidak merokok di ruangan ini’ atau juga ‘Ruang ber-ac, dilarang merokok di sini’, akan benar-benar berbunyi demikian. Jadi, bagi Anda perokok berat, mungkin bersiaplah untuk terjaring operasi rokok di kota Semarang. Bukan berarti saya menakut-nakuti, tapi saat ini Pemerintah kota Semarang nampaknya mulai berserius diri untuk memberlakukan aturan kawasan tanpa rokok. Lho kok bisa?

Bisa saja. Sebab, kemarin (Kamis, 4 Desember 2008) tanpa ba-bi-bu Walikota Semarang telah membubuhkan tanda tangannya di atas lembaran yang berisi deklarasi kawasan tanpa rokok. Penandatanganan ini dilakukan di dalam ruang data yang merupakan salah satu ruang di dalam kompleks gedung Balaikota Semarang bersama beberapa instansi terkait seperti Dinas Kesehatan kota Semarang, LP2K (Lembaga Perlindungan dan Pembinaan Konsumen), serta Komunitas Peduli Kawasan Tanpa Rokok.

Mungkin kesan yang kita tangkap saat ini, begitu mendengar kabar tersebut, langsung mereferensi pada pengalaman yang telah dialami oleh salah satu kota besar di Indonesia ini, Jakarta. Beberapa waktu lalu, Ibukota Indonesia ini telah memulai untuk memberlakukan larangan merokok di sembarang tempat. Namun pada kenyataannya, hal tersebut masih ditemukan bolong-bolong di sana-sini. Tanpa bermaksud mempertanyakan keberhasilan sistem ini, sebenarnya mampukah kota Semarang melakukannya?

Kali ini Walikota Semarang, Sukawi Sutarip dengan optimis menyatakan, “Deklarasi ini yang saya tunggu-tunggu nih! Karena kami ingin membuat SK, seperti yang sudah saya sampaikan kepada bagian hukum, tolong pelajari untuk membuat SK atau Perwal atau apa namanya, untuk mengatur tentang mereka yang merokok itu harus di mana. Jadi ada tempat-tempat khusus yang boleh merokok, dan tempat-tempat khusus yang tidak dibolehkan untuk merokok. Sehingga tidak mengganggu yang tidak merokok. Karena apa? Kalau kita sedang berada dengan Komunitas Peduli Kawasan Tanpa Rokok, ini dari masyarakat luas kan? Ini artinya adalah gayung bersambut. Antara keinginan pemerintah dengan keinginan masyarakat. Sehingga mudah-mudahan kalau nanti muncul Peraturan Walikota itu akan ditaati masyarakat luas kota Semarang.”

Dengan demikian, hal ini mungkin merupakan hal baru bagi masyarakat kota Semarang. Sebab, pendeklarasian kawasan tanpa rokok ini ternyata belum dibarengi dengan lahirnya sebuah regulasi yang mengikat dan kuat untuk dapat menekan pertumbuhan asap rokok di kota Semarang yang cukup panas ini. Namun upaya serius ini, nampaknya akan semakin diperuncing dan dipertajam lagi. Sebab, meskipun belum terbentuk, cikal bakal Perwal ini sudah mengarah pada tanda-tanda akan mengacu pada pembentukan Perda.

“Soal sanksi yang akan diberlakukan, nanti akan kami bahas bersama antara pemerintah dengan penggagas deklarasi. Atau juga akan dapat dimungkinkan untuk meniru apa yang sudah dilakukan oleh beberapa kota besar lainnya. Seperti Surabaya, Jakarta, Bogor, Medan dan Cirebon.” Ujar Sukawi Sutarip kemudian.

Tak ada asap tanpa api, pengerucutan aturan mengenai kawasan tanpa rokok ini nampaknya akan semakin menjadi bahan perbincangan yang cukup menarik dalam kajian-kajian lanjutan. Sebab, bagaimanapun juga tidak mudah bagi pihak manapun untuk dapat menumbuhkan kesadaran bahaya merokok. Di samping akan sangat berpengaruh terhadap pendapatan cukai tembako, hal ini sempat pula menuai polemik yang cukup unik. Terutama terkait dengan kemungkinan munculnya pengangguran angkatan baru di era millenium ini.

Secara apik, Sukawi Sutarip dalam pidatonya menyinggung hal tersebut. “Ada sebuah penelitian, yang menyebutkan bahwa selama ini kekayaan dari pengusaha rokok ini hampir mencapai 50% dari total APBN. Bisa dibayangkan seberapa kayanya mereka. Namun, di satu sisi, 80% dari masyarakat perokok di negeri ini adalah orang miskin. Artinya apa? Artinya, orang-orang miskin inilah yang membuat pengusaha rokok ini semakin kaya. Dengan kata lain, orang-orang miskin inilah yang menyumbang iuran untuk kekayaan pengusaha rokok.”

Lain halnya dengan sang koordinator Komunitas Peduli Kawasan Tanpa Rokok, Abdun Mufid. Dia menjelaskan dengan gamblang, bahwa sejak awal komunitas ini telah memiliki sebuah masterplan yang siap luncur. Dalam hal ini, dia mengungkapkan, “Idealnya aturan ini akan jauh lebih efektif bila diperdakan. Tapi sebagai proses awal, SK ataupun Perwal saya kira cukup dapat membantu untuk mendorong terciptanya segera Perda kawasan tanpa rokok tersebut.”

Terkait dengan amanat yang dititipkan Walikota Semarang, dirinya mengaku akan segera menindaklanjutinya. Dengan demikian upaya ini patut menjadi sebuah perhatian dari semua pihak. Bukan lantaran bahaya merokok bagi kesehatan melainkan penciptaan atmosfer yang jelas lebih sehat bagi semua. Semoga harapan tidak hanya meninggalkan mimpi belaka.

“Kami optimis, dengan belajar dari pengalaman-pengalaman kota-kota lain Perda tentang kawasan tanpa Rokok ini akan segera dapat terwujud.” Tandasnya.

Pengawasan Hewan Kurban di Semarang Masih Lemah

Sejak beberapa hari lalu, sejumlah kawasan di kota Semarang nampak mulai diramaikan suara embikan kambing serta lenguhan sapi. Meski terbilang kota besar, namun jika sudah mendekati hari raya Idul Adha atau Idul Kurban, tetap saja kota Semarang memiliki nuansa yang unik dalam menjemput datangnya hari raya ini. Namun bukan berarti serta merta kota Semarang jauh dari pencitraannya yang sangat berambisi untuk menjadi salah satu kota Metropolitan di Jawa Tengah ini. Hanya saja, ini persoalan tradisi ibadah bagi umat Muslim yang akan melakukan kurban. Sehingga, untuk mempermudah akses warga kota Atlas ini, sejumlah pedagang mulai merapat ke sisi-sisi kota. Tentu dengan usaha mereka ini tidaklah murah harganya.

Namun dari sisi lain, keramaian kota dengan berbagai jenis hewan ternak yang dicalonkan sebagai hewan kurban ini, nampaknya dilihat sebagai suatu fenomena yang patut dicermati. Jika tidak, bukan tidak mungkin peredaran hewan-hewan kurban ternyata justru akan menuai celaka bagi warga kota Semarang ini. Otomatis hal ini pun menjadi perhatian khusus bagi pemerintah kota setempat. Bahkan tidak tanggung-tanggung, segala bentuk operasipun digelar hanya untuk memberi jaminan pasti terhadap kemungkinan masuknya hewan kurban yang terjangkit penyakit secara terselubung. Kali ini, Dinas Pertanian kota Semarang-lah yang punya gawai.

“Sejak tanggal 3 hingga 10 Desember nanti, kami telah menerjunkan 45 orang petugas pemeriksa hewan kurban. Kesemuanya kami sebar ke 16 kecamatan yang ada di Semarang.” Ujar Totok Susanto, Kasi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian kota Semarang.

Tentu ini bukan pekerjaan ringan. Sebab, untuk mengawasi peredaran hewan kurban ini harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak ada yang boleh tertinggal. Kata Totok Susanto, “Pengawasan kami lakukan ke seluruh tempat-tempat penjualan hewan kurban. Juga kami lakukan ke tempat-tempat yang akan dijadikan sebagai tempat penyembelihan hewan. Baik itu di masjid maupun rumah tangga.”

Dan benar saja, menurutnya, semua tempat yang didalamnya terdapat hewan yang dicalonkan untuk dikorbankan ini, terus ditelusuri. Ini memang benar-benar upaya yang sangat serius. Sebab, jika tidak, hewan berpenyakit, bukannya tidak mungkin akan lolos dari incaran petugas. Alhasil, bukannya beribadah, niatan kurban malah bisa jadi petaka bagi masyarakat. Nah, sebenarnya apa yang dapat menunjukkan hewan kurban itu sehat? Dan apa yang membedakannya?

Jawab Totok Susanto kali ini cukup detil. “Hewan yang sehat itu biasanya ditandai dengan ciri-ciri fisik seperti bola matanya nampak segar dan bulat penuh. Selain itu, pada hidung tetap basah, tapi bukan lendir atau sedang terkena flu. Bulunya tidak berdiri atau jabrik. Dan kuku-kukunya sempurna bentuknya. Sedang untuk sepasang tanduknya, tidak ada satu pun yang cacat atau rusak.”

Belum lepas dari jawabannya, Totok Susanto yang memiliki kumis tebal pun melanjutkan jawabannya seraya menegaskan kembali apa yang tengah dilakukan oleh dinas tempat ia mengabdikan diri. “Pengawasan ini, sengaja kami lakukan sebelum dan sesudah hari saya Idul Adha. Sebab, biasanya proses penyembelihan itu dilakukan juga sampai H+3. Kalau di Korpri itu biasanya penyembelihan dilakukan hari kedua. Jadi, pengawasan ini kami lakukan terhadap hewan baik sebelum maupun sesudah disembelih. Dan biasanya, penyakit yang menjangkiti seekor sapi itu biasanya ada cacing hati. Sehingga, ketika nanti ditemukan cacing hati pada saat setelah disembelih. Kami menghimbau agar bagian itu segera dibuang.”

Namun kemudian, ketika ia ditanya mengenai tindakan hukum yang dapat menjerat penjual hewan kurban bermasalah, dengan terbata-bata ia menjawab, “Ya, kami sebatas memberikan himbauan kepada penjual agar tidak menjual hewan tersebut.”

Sungguh sayang, ketika sebuah sistem pengawasan yang disusun secara sempurna ini ternyata tidak sepenuhnya diikuti oleh sebuah kebijakan hukum yang cukup ketat terhadap kemungkinan adanya pedagang ‘nakal’. “Selama ini, ya, kami hanya bisa melakukan himbauan.”

Pertanyaan yang muncul kemudian, lantas apakah tidak ada penertiban? Dengan semakin terbata-bata ia berkilah, “Ya kami selalu melakukan penertiban ya. Tapi kan itu calon pembeli juga tahu dan bisa memilih mana yang baik bagi mereka. Jadi kalau kemudian ditemukan ada yang tidak sehat, tentu pembelipun enggan untuk membelinya.”

Meski demikian, memang harus diakui pula kelemahan ini patut untuk menjadi sebuah perhatian khusus bagi pemerintah daerah manapun. Sebab, dengan peredaran hewan kurban yang biasanya selalu mengalami peningkatan setiap jelang hari Idul Adha ini, harus dijadikan sebuah koreksi bagi pemberlakukan kebijakan mengenai perlindungan konsumen. Di kota Semarang sendiri, sebagaimana dijelaskan Totok Susanto, peningkatan peredaran hewan kurban pada tahun ini diperkirakan meningkat hingga 25% dari tahun lalu.

“Tahun lalu, untuk sapi itu mencapai 808 ekor. Sedang kerbau 7 ekor, domba 371 ekor, dan kambing ini yang paling banyak yakni mencapai 4.955 ekor.” Jelasnya.

03 Desember 2008

Antisipasi Macet Gara-gara Banjir, Dinas Perhubungan Kota Semarang Siapkan Rambu Tambahan

Kota Semarang tanpa banjir? Mungkin hal itu akan sangat menjadi kejadian luar biasa. Sebab yang saya tahu, setiap musim hujan tiba kota Semarang yang dalam lantunan suara Waljinah selalu didengungkan 'Semarang kaline banjir/ jo sumelang jo dipikir (Semarang sungainya banjir/ jangan bersedih jangan dipikir)'. Dari penggal kalimat itu nyata sudah bahwa kota Semarang sudah terbiasa dengan masalah banjir sebagaimana yang terjadi pada kota-kota pesisir lainnya. Namun apa sebenarnya yang telah diupayakan pemerintah setempat untuk menghindari masalah kemacetan lalu lintas yang selalu terjadi di kawasan-kawasan rawan banjir?

Kali ini Kepala Dinas Perhubungan kota Semarang Andi Agus Wandono akan menjelaskannya. Berikut kutipan wawancara saya dengan beliau.

Tanya: Mengantisipasi adanya kawasan rawan macet pada sejumlah titik rawan banjir di kota Semarang ini, apa yang telah dipersiapkan oleh Pemerintah kota Semarang dalam hal ini Dinas Perhubungan kota Semarang, Pak?

Jawab: Kita (robert= kami) sudah menyiapkan rambu-rambu petunjuk dan rambu-rambu alternatif. Apabila terjadi banjir, khususnya banjir yang di Kali Tenggang itu ya, saya lihat itu masih banjir itu kemarin, nah itu kita (robert= kami) buatkan rambu arahan supaya tidak masuk, truk-truk besar maksudnya tidak boleh masuk di sana. Itu kita koordinasi dengan kepolisian, sudah secara otomatis itu berjalan. Kemudian juga yang di jurusan barat, kita (robert= kami) juga membuat rambu peringatan, pemberitahuan maksudnya. Kalau ada banjir, dialihkan arus lalu lintasnya ke jalan tol misalnya, jalan arteri dan sebagainya. Itu kita (robert= kami) sudah kordinasi dengan pihak kepolisian, jadi sudah tidak ada masalah. Sudah secara otomatis itu.

Tanya: Untuk kawasan-kawasan rawan macet akibat banjir sendiri itu mana saja, Pak?

Jawab: Kalau rawan macet akibat banjir itu kan karena efek banjir itu ya? Kemudian jalur-jalur itu kan kita (robert= kami) lihat kondisinya yang mana yang macet. Yang penting kita (robert= kami) sudah menyiapkan rambu-rambunya. Nanti bentuknya secara umum. Kalau yang di lapangan itu koordinasi dengan polisi. Nanti dari polisi kan menyampaikan, ini perlu rambu ini. Nanti dari polisi siap, polisi yang pasang, kalau dari saya (robert= Dinas Perhubungan kota Semarang) yang siap, saya yang pasang.

Tanya: Untuk pengadaannya sendiri, apakah dilakukan hanya dilakukan Dinas Perhubungan kota Semarang sendiri atau bersama-sama?

Jawab: Polisi dan Dishub sama. Mengadakan sendiri-sendiri. Mengadakan sendiri secara koordinasi. Baik itu pemasangannya secara sendiri. Polisi mengadakan sendiri, Dinas mengadakan sendiri kemudian pemasangannya secara koordinasi baik tidak perlu rapat lewat telepon saja sudah bisa.

Tanya: Kalau kondisi jalan rawan macet sendiri di kota Semarang ini mana saja, Pak?

Jawab: Kalau di Mangkang sekarang sudah tidak mungkin. Sudah tidak ada. Kalau Bubakan itu secara otomatis akan dialihkan ke kanan. Dari arah jalan Mataram itu bisa masuk ke kanan, tidak usah masuk ke bundaran tapi bisa langsung belok ke kanan. Tapi itu kita pasang rambu. Kemudian kalau itu sudah membahayakan sekali, dari arah sana itu kita langsung belokkan ke kiri. Kalau yang dari Citarum itu bisa lewat dr. Cipto. Supaya itu tidak tumpuk. Jadi, kita jadikan satu arah. Nah, itu nanti akan kita koordinasikan dengan kepolisian.

Tanya: Kawasan lainnya?

Jawab: Kalau di kawasan yang masih dapat dilalui kendaraan, itu tidak perlu dibuat alternatif. Misalkan kendaraan-kendaraan kecil Daihatsu (angkot) masih bisa namun pelan-pelan itu tidak masalah. Namun biasanya kawasan rawan macet ini sering terjadi di kawasan Pengapon. Dari Pengapon itu, kalau kendaraan-kendaraan kecil, itu harusnya langsung masuk tol itu. Tapi itu sudah banjir di sana, sudah otomatis lewta arteri atau lewat tol. Itu nanti ada papan pengumuman, pemberitahuan pengalihan arus lalu lintas.

Romantisme Johar (Bagian 1)

Salam,

Sebenarnya apa yang salah dengan pasar Johar? Tidak ada jawaban pasti untuk dapat menunjukkan kesalahan yang ditimpakan padanya. Yang jelas, ia hanya salah satu dari sekian banyak aset kebudayaan masyarakat kota Semarang yang kini pesonanya kian pudar lantaran perkembangan zaman telah membawanya berubah sedemikian rupa. Jika berabad-abad lalu, pasar ini terkenal sebagai pusat perbelanjaan masyarakat yang begitu akrab, kini jangan berharap keakraban dan keramahan wajah pasar kebanggaan masyarakat Semarang ini masih menampkkan kemolekannya. Lapak-lapak yang kian memenuhi sisi jalan kota yang menyempit sudah dapat dibilang tidak mampu lagi memancarkan pesona pasar Johar ini. Bangunan-bangunan megah di sekitarnya pun turut serta membuat pemandangan pasar ini kian kumuh. Sehingga tidak heran jika untuk menghirup udara segar di pasar ini menjadi kian sulit. Tentunya kondisi ini mencerminkan ada sesuatu yang salah dengan penataan kawasan yang sangat subur ini.

Melihat kondisi yang semacam ini, kemudian pada tahun 2005 Pemerintah kota Semarang selaku pemangku kekuasaan teritorial atas seluruh kehidupan di kawasan kota, mencoba mewacanakan untuk melakukan revitalisasi terhadap pasar Johar. Wacana inipun kemudian semakin berkembang dan semakin mendapatkan tempat di berbagai media massa. Sejumlah media-media lokal dan nasional menempatkan wacana tersebut di setiap halaman pertama sudut kiri. Bahkan dalam beberapa media lokal seperti Suara Merdeka yang merupakan surat kabar yang lahir di kota Semarang ini, secara khusus menempatkan rencana besar ini ke dalam tajuk rencana mereka. Artinya, wacana tersebut jelas-jelas telah menyedot perhatian khusus dari masyarakat kota yang dikenal sebagai kota lunpia ini.

Secara historis, perkembangan pasar Johar dimulai pada tahun 1860. Awalnya, pasar ini hanya sebuah lahan kosong yang ditumbuhi pohon johar. Lantaran lokasinya yang berdekatan dengan Pasar Pedamaran dan penjara Semarang, lahan kosong inipun semakin ramai dikunjungi oleh orang. Untuk itulah pemerintahan Belanda pada saat itu berinisiatif membuka ladang perdagangan di sana. Lima tahun sejak dibuka, 240 buah dasaran mulai tumbuh di sana. Jumlah itu cukup besar pada masa itu. Dengan kondisi yang sedemikian kondusifnya untuk sebuah pengembangan kawasan ekonomi, niatan untuk memperluas area inipun kembali bergulir. Pemerintah Belanda dengan mengucurkan dana sebesar 1.800 franc, membuka los-los baru. Tidak cukup berhenti di situ, pengembangan kawasan inipun secara terus menerus dilakukan oleh pemerintah Belanda pada saat itu.

Tahun 1920, kembali pemerintahan Belanda mengembangkan dan membangun los-los baru sampai pada akhirnya tahun 1931, pemerintah Belanda membongkar penjara tua dan kota praja mendirikan Pasar Centraal yang luas dan modern. Sebuah konsep pengembangan kawasan bisnis yang cukup cantik dimainkan oleh pemerintah Belanda pada waktu itu. Pasar ini menyatukan lima pasar yang berada di sekitar kawasan tersebut yakni Pasar Johar, Pasar Pedamaran, Pasar Benteng, Pasar Jurnatan, dan Pasar Pekojan. Namun demikian, pengembangan pasar ini ternyata telah sedikit memanfaatkan lahan alun-alun yang dalam kebudayaan orang Jawa dijadikan sebagai tempat untuk berkumpul. Kendati demikian, terlepas dari kontroversi ini, pengembangan pasar Johar ini telah membesarkan nama pasar ini sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara pada waktu itu.

Seiring perkembangan zaman, laju pertumbuhan kawasan itu semakin tidak jelas. Terutama setelah Belanda menyerahkan otoritas penguasaan wilayah kepada Indonesia, sebuah negara baru yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Tahun 1960, menjadi catatan penting dalam perjalanan pengembangan pasar ini. Di saat itulah muncul sebuah upaya pengembangan yang kurang cerdas terhadap kawasan tersebut. Kemunculan dinding tambahan yang diharapkan akan memberikan sentuhan modernitas serta sebagai upaya untuk melakukan pengembangan kawasan tersebut justru berbanding terbalik dengan kenyataannya. Dinding tambahan ini malah memberi kesan sebagai sebuah gangguan terhadap sirkulasi udara. Namun tak berapa lama tambahan itu lantas dibongkar sebab kurang serasi dan menimbulkan hawa tak nyaman.

Kemasyhuran pasar Johar yang kian melejit ternyata telah mengundang khalayak dari berbagai daerah untuk mendatangi pasar tersebut. Ini mungkin menjadi sebuah berkah yang mungkin juga sebagai sebuah bencana bagi keberadaan pasar ini. Berkah karena dengan semakin ramainya pasar ini telah menumbuhkan kondisi ekonomi masyarakat semakin meningkat. Sementara bencana karena pengembangan kawasan ini yang dilakukan oleh pemerintahan Indonesia pada tahun 1978 justru semakin tidak jelas. Pembangunan kompleks pasar Kanjengan yang pada waktu itu sedianya akan dijadikan sebagai salah satu solusi dalam pengembangan pasar, justru telah menggerogoti rasa kenyamanan bagi masyarakat. Hal inilah yang nampaknya mulai membuat kondisi pasar kian semrawut, lebih-lebih pada tahun 1985. Kondisi pasar kian dipenuhi dengan pedagang-pedagang baru yang memenuhi teras pasar. Alhasil, kemegahan dan pesona pasar Johar kian memudar sudah.

Bersamaan memudarnya pesona pasar Johar inilah kemudian keinginan pemerintah kota Semarang yang dipimpin oleh Walikota Semarang Sukawi Sutarip memunculkan gagasan untuk membangun kembali pasar Johar. Namun hal itu kemudian menuai kritik tajam dari berbagai kalangan karena dicurigai niatan tersebut justru akan semakin memudarkan kemegahan pasar yang memiliki ikatan secara emosional bagi masyarakat Semarang. Kaum pedagangpun menolak mentah-mentah niatan itu. Sebab, muncul rumor bahwa keinginan pemerintah untuk membangun kembali pasar Johar yang sudah kian kumuh ini diartikan sebagai pembongkaran dan perombakan besar-besaran terhadap keutuhan pasar JOhar. Jika demikian yang terjadi, maka kota Semarang dikhawatirkan akan kehilangan sejarahnya sendiri.

Ketakutan ini wajar saja ditunjukkan oleh pedagang sebab pengalaman renovasi pasar yang dilakukan pada tahun 1980 hingga 1982 silam, telah membuat kondisi perekonomian masyarakat terpuruk. Renovasi ini telah membuat 70% pedagang bangkrut dan 30% lainnya mampu bertahan hidup dalam sesaknya nafas ekonomi masyarakat yang sulit. Bahkan dalam sebuah tulisan di salah satu media massa disebutkan dengan judul besar Revitalisasi Pasar Johar Akan Gusur 15.000 Pekerja. Disebut pula di dalam tulisan tersebut, beberapa orang yang terancam tergusur ini di antaranya pedagang kios dan los, karyawan toko, tukang parkir, dan pedagang lesehan. Ini diperparah pula dengan situasi ekonomi pada waktu itu. Kenaikan harga BBM yang merangkak naik yang disertai dengan kenaikan harga bahan-bahan pokok lainnya telah mendorong pedagang maupun pekerja kesulitan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup mereka.

Namun demikian, Pemerintah kota Semarang nampaknya tetap tidak bergeming. Proses revitalisasi ini tetap akan dijalankan. Hal ini dikarenakan Pemerintah kota Semarang kadung melontarkan wacana tersebut kepada sejumlah calon investor. Ketakutan untuk kehilangan muka, Pemintah kota Semarang masih saja meneruskan usaha tersebut dengan kembali membuka kesempatan bagi investor lain untuk masuk ke dalam proses penawaran tersebut. Dalam hal ini, Pemerintah kota Semarang masih mencari konsep paling tepat untuk pengembangan kawasan tersebut.

Dua investor yang telah menyumbang konsep pengembangan pasar Johar ini diantaranya ialah PT. Java Development Propertindo dan PT. Rimba Jati. Mereka menawarkan sebuah konsep yang mewah dan sungguh menyilaukan mata bagi awam. Sebab, dalam kaitan revitalisasi yang mereka tawarkan ini, mereka mencoba menerjemahkan pembangunan kembali pasar Johar ini akan disulap sebagaimana pasar modern Mangga Dua di Jakarta. Tidak main-main, harga yang ditawarkannya pun cukup membumbung tinggi yakni sekitar Rp. 4 triliun hingga Rp. 6 triliun.

Dalam perkembangannya, polemik ini semakin meruncing ketika pedagang di kawasan yang subur ini semakin mengasah pisau perlawanan mereka. Upaya-upaya penolakan terus saja tidak pernah terpatahkan. Mendengar hal ini, DPRD kota Semarang ikut memerah pula telinganya. Dengan kesumpekan polemik yang terus saja berkembang ini, DPRD kota Semarang menyarankan agar dalam membahas mengenai rencana besar ini Pemerintah kota Semarang juga libatkan tim ahli. Pelibatan sejumlah ahli atau pakar yang terwadahi dalam Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota Semarang. Namun demikian, lagi-lagi rencana untuk merombak pasar Johar ini justru kembali menemui penolakan yang justru digemborkan oleh tim pakar ini. Pasar Johar kembali menjadi sebuah primadona yang kian ramai direbut dan diributkan.

Lantas, dalam beberapa waktu kemudian, Pemerintah kota Semarang mulai menilik kembali tentang rencana tata ruang pasar tersebut. Kali ini, dengan sedikit memberikan sentuhan yang berbeda, Pemerintah kota Semarang yang barangkali sudah terlalu capai untuk menangani masalah pasar Johar ini, mulai menawarkan sebuah konsep konservasi. Dengan mempertahankan keutuhan bangunan peninggalan Belanda yang diarsitekturi oleh Herman Thomas Karsten yang semula lebih mengutamakan aspek kenyamanan bagi siapa saja yang datang ke pasar tersebut. Dengan perpaduan bentuk atap serta ketinggian bangunan, membuat sirkulasi udara di dalam pasar tetap dapat bertahan sejuk tanpa harus dipasang air conditioner (ac). Selain itu, Karsten juga memperhitungkan pula aspek sosiologi pasar tersebut yang lebih didominasi oleh kaum hawa dan memberikan ruang bagi pedagang tiban yang bisa melakukan aktifitas perdagangan mereka pada saat-saat tertentu saja.

Langkah ini sekaligus sebagai sebuah jawaban atas tuntutan beberapa kalangan terutama yang disampaikan oleh beberapa pakar kebudayaan serta beberapa pemerhati budaya di Semarang yang mendesak Pemerintah kota Semarang untuk melakukan revitalisasi bukan revolusi terhadap nilai-nilai historis yang ditinggalkan gedung bangunan tua ini. Dengan dasar Undang-undang nomor 2 tahun 2007 tentang penataan ruang.

Bagaimanapun memang harus diakui pesona pasar Johar telah menjadi semacam mantra yang mampu menyihir setiap kalangan untuk semakin gencar membincangkannya. Padahal, jika ditarik ulang kembali dari awal mula munculnya pasar ini, ia hanya dibangun di atas lahan yang telanjur menjadi subur. Sebuah ladang tempat memanen segepok uang. Karena alasan itulah, polemik pasar Johar hingga saat inipun belum terselesaikan.

Sejumlah aksi protes terus terjadi. Kekhawatiran terus menghantui baik pada warga maupun pedagang. Namun demikian, Pemerintah kota Semarang tetap tidak mau menyerah untuk terus melakukan pendekatan dengan mereka meski belum ada titik temu. Lantas apa sebenarnya akar permasalahannya? Apakah benar pendekatan yang dilakukan Pemerintah kota Semarang ini kurang mampu menyentuh mereka? Atau karena Pemerintah kota Semarang terlalu memandang silau pasar Johar sebagai ladang emas sehingga banyak hal yang tidak mampu dirumuskan Pemerintah kota Semarang untuk segera menyelesaikan masalah yang menjadi masalah klasik ini? Kalau memang demikian yang terjadi, bukan tidak mungkin bahwa saat ini kota Semarang yang tengah sibuk dengan riasannya untuk menjadi kota metropolitan ini sudah dijangkiti sebuah virus budaya yang dinamakan kapitalisme.

SUMBER PUSTAKA

  1. Friday, 14 November 2008. TEMPO DOELOE & KINI : Pasar Johar. available at: http://www.forumbudaya.org
  1. Sohirin. 28 Mei 2008. Pasar Johar Kampung Pedagang. available at: http://wisatamelayu.com
  1. Rabu, 24 Mei 2006. Revitalisasi Pasar Johar Akan Gusur 15.000 Pekerja; Renovasi 1980-1982, Hanya 30 Persen Pedagang yang Bertahan. available at: http://www.kompas.com
  1. Rabu, 30 Mei 2007. Pemkot Diminta Libatkan Pakar. Available at: http://www.suaramerdeka.com/harian/0705/30/kot02.htm

02 Desember 2008

Pemkot Semarang Data Ulang Warga Miskin

Di tengah-tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan ini, masalah kemiskinan yang menjadi polemik kehidupan perkotaan nampaknya masih menjadi masalah serius bagi pemerintah kota setempat. Termasuk di dalamnya Pemerintah kota Semarang. Untuk alasan itulah, Pemerintah kota Semarang kini mulai melakukan pendataan ulang terhadap populasi warga miskin yang kini tengah meninggali kota Semarang. Hal ini sebagai usaha serius Pemerintah kota Semarang untuk mengantisipasi terjadinya kekacauan penganggaran bantuan sosial yang selama ini selalu menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat yang selalu dinilai kurang tepat sasaran.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) kota Semarang Hari Purwono, dalam melakukan pendataan ulang terhadap warga miskin ini pihaknya mendasarkan pada 14 item yang akan digunakan dalam mengkategorisasikan warga miskin kota Semarang. "Untuk melakukan tugas ini kami membentuk Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Kota Semarang yang dipimpin oleh Wakil Walikota Semarang. Selain itu, tim ini juga terdiri atas instansi-instansi terkait serta melibatkan sejumlah LSM dan perguruan tinggi. Sementara Bappeda kota Semarang berperan sebagai pengarah." ujar Hadi Purwono.

Sementara itu, terkait dengan penyelesaian pendataan tersebut Hadi Purwono menegaskan, "Diharapkan akhir tahun 2009 mendatang data sudah dapat diselesaikan. Syukur-syukur sebelumnya. Sebab, semakin cepat, semakin cepat pula kita mengajukan anggaran baik di perubahan maupun di APBD kota Semarang murni untuk alokasi bantuan sosial."

Rencananya, setelah data tersebut selesai, pihaknya akan menggunakannya sebagai acuan dalam mengalokasikan dalam pendanaan bantuan sosial seperti bea siswa, bantuan perumahan, bantuan kesehatan serta bantuan pangan. Namun demikian, sampai saat ini data warga miskin kota Semarang yang masih digunakan didasarkan pada data warga miskin versi Jamkesmas tahun 2004 yang mencapai 136 ribu rumah tangga miskin. Diharapkan dengan pendataan ulang ini, pendanaan bantuan sosial ini tidak akan salah sasaran.

Bayang-bayang PHK Masih Mengancam Buruh

Meskipun belum ada sinyal mengenai keberatan dari sejumlah perusahaan untuk membayar upah buruh sesuai dengan kenaikan UMK kota Semarang tahun 2009, namun hal tersebut rupa-rupanya justru dikhawatirkan akan berpotensi terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun perumahan buruh yang dilakukan pihak perusahaan. Hal ini terutama diakibatkan kondisi ekonomi saat ini yang masih diguncang krisis global yang sampai saat ini belum menunjukkan adanya tanda-tanda kemajuan. Namun demikian, secara yakin Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi kota Semarang Hari Murty, besaran kenaikan UMK kota Semarang yang mencapai 838 ribu rupiah ini, dipastikan akan dapat terpenuhi. Sebab, sampai saat ini belum ada satu pun perusahaan yang mengajukan penangguhan pembayaran UMK.

Namun demikian, Hari Murty kembali menegaskan, penangguhan tersebut dapat dilakukan oleh sejumlah perusahaan. Mengingat, sejauh ini beberapa perusahaan yang bergerak disektor ekspor-impor makin merasakan dampak krisis global. Hal tersebut juga ditegaskan kembali oleh Walikota Semarang Sukawi Sutarip. Dia menyatakan, "Perusahaan ekspor-impor sampai saat ini semakin merasakan dampak krisis tersebut. Sebab, resesi yang terjadi di Amerika secara tidak langsung berpengaruh pula pada penjualan barang-barang ekspor ke Amerika. Karena saat ini, daya beli negara maju ini masih cukup rendah."

Sementara itu terkait dengan kekhawatiran buruh tentang kemungkinan PHK, Sukawi Sutarip menghimbau agar semua perusahaan tidak melakukan PHK maupun merumahkan karyawan. "Jika hal tersebut dilakukan, maka perekonomian masyarakat semakin akan terganggu. Untuk itu, jalan terbaik menurut saya perusahaan seharusnya mampu melakukan efisiensi di semua bidang termasuk tenaga kerja. Dan bagi karyawan, jangan meminta mahal-mahal. Karena hal tersebut juga akan semakin membuka lebar-lebar peluang PHK." ujarnya.

Di samping itu, kemungkinan adanya pemecatan kerja dalam jumlah besar ini dikhawatirkan pula akan memengaruhi kepesertaan buruh dalam Jamsostek. Kali ini Kepala Kantor Wilayah V Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta PT. Jamsostek (Persero) M. Sarjan Lubis menyatakan, "Dengan adanya pem-PHK-an dan perumahan karyawan akan sangat berpengaruh terhadap penurunan jumlah peserta Jamsostek. Tapi, saya berharap hal tersebut jangan sampai terjadi."

Berkaitan dengan hal tersebut, pihak PT. Jamsostek juga mulai memasang ancang-ancang untuk mengantisipasi terjadinya PHK massal tersebut dengan tidak mematok pencapaian target dalam angka yang terlalu besar. Dalam hal ini, Sarjan Lubis mengungkapkan, "Kami sudah memutuskan untuk tahun 2009 mendatang, kami akan menargetkan pencapaian kami sebesar 20%. Karena dalam kondisi krisis semacam ini, sangat sulit bagi kami untuk sampai pada over target. Namun demikian, kami tetap optimis pada tahun ini maupun tahun berikutnya, Jamsostek tidak akan terpengaruh dengan isu yang masih mengambang tersebut. Sebab, kami memiliki sektor lain yang dapat kami andalkan, yakni Jamsostek untuk sektor non formal (LHK). Saat ini, dari sektor ini kami pada tahun 2007 lalu telah mencapai target sebesar 120% sedang pada tahun ini kami perkirakan akan dapat mencapai 125%."

Pedagang Johar Tolak Revitalisasi Pasar Johar

Penolakan terhadap rencana Pemerintah kota Semarang yang akan merevitalisasi pasar Johar kembali terjadi. Hari ini (Selasa, 2 Desember 2008) sejumlah pedagang pasar Johar yang tergabung dalam Forum Masyarakat Pedagang Semarang (FMPS) mendatangi gedung DPRD kota Semarang untuk melakukan aksi unjuk rasa terkait rencana revitalisasi pasar Johar. Dengan membawa spanduk-spanduk yang berisikan penolakan rencana tersebut, para pedagang ini juga melakukan orasi di halaman gedung DPRD kota Semarang.

Sekretaris FMPS Khanafi mengatakan, "Aksi kali ini merupakan bentuk penolakan pedagang yang khawatir dengan rencana revitalisasi pasar Johar. Karena kami tidak setuju dengan rencana Pemerintah kota Semarang untuk membongkar pasar yang selama ini menjadi tumpuan hidup pedagang."

Meski demikian, sebenarnya tahapan terhadap pelaksanaan revitalisasi ini sudah mulai dilakukan. Bahkan sampai saat ini, Pemerintah kota Semarang sudah mulai melakukan kajian studi kelayakan terhadap rencana tersebut. Namun memang dalam beberapa pertemuan sebelumnya antara Pemerintah kota Semarang dengan pedagang yang ditengahi konsultan, belum ditemukan adanya kesepahaman dalam memandang rencana tersebut.

"Menurut saya, Pemerintah kota Semarang menunda pelaksanaan revitalisasi tersebut. Sebab, jika ini diteruskan maka nasib pedagang semakin tidak jelas. Mengingat kondisi Johar yang saat ini carut-marut dan kondisi ekonomi yang semakin memberatkan pedagang, bahkan untuk tetap mempertahankan usaha kami sekarang ini juga susah." ujar Khanafi.

Menanggapi aksi pedagang ini, Walikota Semarang Sukawi Sutarip menanggapinya dengan sikap yang cukup dingin. Pasalnya, bukan saatnya lagi untuk memasalahkan persoalan tersebut.

"Ini kan sudah masalah lama sejak 2003 lalu, jadi sudah tidak perlu lagi diperuncing." kata Sukawi Sutarip.

Namun ketika ditanyakan mengenai tuntutan pedagang untuk melakukan sosialisasi terhadap rencana tersebut, Sukawi Sutarip menegaskan, "Kalau mereka minta sosialisasi, tinggal minta saja kepada tim. Jangan mengadu pada DPRD kota Semarang. Bukankah tim sudah siap untuk melakukan sosialisasi tersebut. Tapi kalau yang diberi sosialisasi ternyata tetap bersikap keluar dari pertemuan-pertemuan mengenai sosialisasi tersebut, ya ini tidak baik."

20 November 2008

Mangkir

pukul sepuluh pagi,
masih aku tunggu matahari
dalam kotak kardus
bau apak terendus
udara menghampa
lantang suara tak kunjung bergema
sidang belum dibuka

tik tok tik tok
jarum jam semakin menggantung

satu jam berlalu
palu tak kunjung bertalu
meja kursi beku
udara dingin karena semprotan freon
mata mengantuk tak tertahan
sidang mungkin tak jadi

ting tong ting teng
tong ting teng tong
enam batang rokok ludes
tinggal abu dan asap

tempo hari,
kejadian serupa terjadi
di halaman mobil penuh diparkir
tak ada yang hadir
barang kali tak ada sidang hari ini

bukankah tak ada mendung hari ini
lantas kenapa sepi

tuk tak tuk tak
jariku memainkan pena
berita hari ini
sama dengan minggu lalu
aku tertidur pulas
di deret kursi belakang
karena tak ada yang datang

sidang kembali batal

19 November 2008

Perbaikan Jalan di Semarang Masih Minim Dana

Tingginya intensitas hujan yang mengguyur di kota Semarang belakangan ini, telah membuat kota Semarang kembali dipenuhi dengan pemandangan jalan rusak. Pemandangan ini mungkin tidak menjadi hal istimewa lagi bagi warga kota Semarang yang sudah tahu persis seluk-beluk kota yang saat ini mulai menata dirinya untuk menjadi salah satu kota metropolitan di Pulau Jawa. Bahkan, hal ini sudah menjadi agenda rutin tiap tahun, terutama ketika musim hujan tiba. Namun sejauh mana sebenarnya usaha keras Pemerintah kota Semarang untuk melakukan perbaikan jalan tersebut?

Kali ini saya sengaja menemui secara khusus Kepala Dinas Pekerjaan Umum kota Semarang Nugroho Joko Purwanto di sela-sela kegiatannya hari dalam ruang sidang paripurna yang digelar di Ruang Sidang Paripurna DPRD kota Semarang. Berikut kutipan wawancaranya;

Tanya: Sebenarnya upaya apa saja yang telah dilakukan Pemerintah kota Semarang dalam hal ini DPU kota Semarang dalam menangani jalan rusak ini?

Jawab: Kami sudah melakukan penganggaran untuk perawatan jalan (Operational Mantanance) yang kami peruntukkan bagi perbaikan-perbaikan skala kecil bagi jalan-jalan rusak di kota Semarang. Kami memiliki anggaran itu untuk perbaikan jalan dan akan digunakan untuk kebutuhan perbaikan jalan sampai dengan akhir bulan Desember mendatang.

Tanya: Dalam penanganan jalan rusak ini, apakah ada prioritas?

Jawab: Kami akan melakukan untuk semua ruas jalan. Terutama untuk kerusakan berskala kecil dan sedang dengan tambal sulam.

Tanya: Terutama untuk daerah mana?

Jawab: Semarang Utara, Semarang Barat, Semarang Timur dan Semarang Selatan. Pada intinya semua kawasanlah. Jadi, hampir merata. Sebab, saya melihat banjir sekarang ini air menggenang di semua jalan-jalan.

Tanya: Sebenarnya apa yang menyebabkan kerusakan jalan itu?

Jawab: Biasanya, pertama karena perkerasan aspal. Kemudian banyak kendaraan yang overload. Terus ya, karena adanya genangan itu.

Tanya: Untuk sistem tambal sulam, sebenarnya untuk setiap titik kerusakan membutuhkan berapa besar anggaran?

Jawab: Untuk tiap titik kerusakan itu biasanya akan menghabiskan anggaran sebesar Rp 50 jutaan.

Tanya: Nah, untuk anggaran total perbaikan jalan sendiri yang diajukan dalam APBD Perubahan senridi berapa?

Jawab: Sekitar Rp 2 milyar untuk anggaran perbaikan jalan. Sedang untuk ATB (Aspal Treatment Base) dibutuhkan anggaran sebesar Rp 1 milyar. ATB itu untuk menutup lubangnya.

Tanya: Untuk alokasi khusus perbaikan jalan sendiri secara terperinci berapa?

Jawab: Jumlah secara keseluruhan ada Rp 2 milyar. Rp 1 milyar untuk aspal. Yang lain untuk pembangunan talut, urugan, pemeliharaan jembatan dan talut jembatan.

Tanya: Lantas bagaimana dengan proyek perbaikan jalan di kawasan utara seperti di Jalan Petek?

Jawab: Karena butuh anggaran besar, maka kami tidak bisa melakukan secara menyeluruh. Otomatis harus menunggu penganggaran tahun depan. Dan kita tidak bisa menggunakan anggaran OM sebab di sana harus ditangani dengan biaya besar. meski saat inipun tetap kami tengani dengan sebagian dana OM.

Tanya: Berapa kisaran dana yang dibutuhkan untuk tangani jalan tersebut?

Jawab: Kira-kira ya Rp 1 milyar.

Tanya: Apa himbauan Bapak kepada warga sekitar daerah tersebut?

Jawab: ya kami harap warga masih dapat bersabar. Sebab, tidak mungkin bagi kami langsung melakukan perbaikan tersebut dengan total dalam jangka waktu singkat. Tapi kami tetap usahakan untuk terus melakukan upaya-upaya perbaikan tersebut secara bertahap.

Tanya: Selain daerah Petek dan sekitarnya, mana lagi yang akan menjadi prioritas pengerjaan perbaikan jalan?

Jawab: Daerah patahan seperti Manyaran dan Gunungpati. Sekarang kita tetap tangani. Yang jelas dengan hujan ini masyarakat diharap lebih perhatikan kondisi terbaru.

Tanya: Lantas bagaimana dengan perbaikan jalan di kawasan perumahan Trangkil yang dilakukan beberapa bulan lalu. Namun saat ini, tanggul yang dibangun tersebut ternyata jebol lagi?

Jawab: Ya, harap dimaklumi. Kami sebenarnya ingin melakukan perbaikan dengan kualitas terbaik namun tentu harganya akan mahal. Kita tahu sendirilah dengan dana sebesar itu mana mungkin masalah seperti itu akan dapat diatasi. Kita juga tahu, pemkot kita ya dengan anggaran seperti itu ya sulit untuk mewujudkan semuanya.


Robert Dahlan

Kronologi Tuntutan Pengembalian Uang SPI di SD Telogosari Wetan

SEMARANG, 17 November 2008

Tiba-tiba saja gedung DPRD Kota Semarang diramaikan dengan kehadiran sejumlah orang tua murid SD Negeri Telogosari Wetan. Kedatangan mereka kali ini tentunya tidak hanya semata ingin datang dan duduk di gedung tempat menampung suara rakyat tersebut. Kali ini mereka punya alasan kuat untuk mendatangi gedung tersebut. Memasuki lorong koridor lobi gedung tersebut, dengan langkah pasti mereka langsung menuju salah satu ruang rapat komisi yang tidak lain adalah komisi D.

Dengan diterima langsung oleh ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Ahmadi, mereka menyampaikan keluh kesah mereka tentang praktik penarikan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) yang dilakukan oleh pihak sekolah. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa sejauh ini mereka merasa tertipu dengan pemberlakukan pungutan sumbangan tersebut. Pasalnya, setelah mengetahui ketentuan peraturan mengenai pemungutan dana sumbangan tersebut yang kemudian diketahui tidak diberlakukan kembali dalam PPD tahun 2008 ini, dengan nyata-nyata pihak sekolah justru masih tetap memberlakukan pungutan SPI tersebut. Ia mengaku, untuk besaran SPI di SD tersebut, disesuaikan dengan kondisi ekonomi orang tua murid. Dijelaskan pula bahwa untuk pemegang kartu BLT, besarnya SPI mencapai Rp 400.000, sementara untuk orang tua murid yang tidak memiliki kartu BLT beban SPI yang harus dibayar sebesar Rp 600.000.

Hal ini kontan dirasa memberatkan bagi mereka yang menyambangi kgedung DPRD kota Semarang siang itu. Sehingga mereka menyampaikan tuntutan agar DPRD kota Semarang segera melakukan penelusuran terhadap polemik tersebut. Sebab, sebelumnya mereka telah menyampaikan keluhan yang sama kepada Dinas Pendidikan kota Semarang. Namun sejauh ini belum juga ada hasilnya. Mereka juga mendesak agar uang sumbangan yang kadung dibayarkan tersebut segera dikembalikan.

Menanggapi hal tersebut, ketua Komisi D DPRD kota Semarang Ahmadi menyatakan, pihaknya akan segera melakukan penelusuran terhadap kasus tersebut. Ia juga menjanjikan akan memanggil kepala sekolah bersangkutan untuk dimintai keterangan.

SEMARANG, 18 November 2008

Setelah mendapatkan teguran keras dari DPRD kota Semarang, kepala SD Negeri Telogosari Wetan Khomsini segera melangsungkan pertemuan dengan orang tua murid. Semua orang tua murid kelas 1 saat itu diundangnya semua. Tentu hal ini sebagai upaya untuk meluruskan kembali masalah yang sebenarnya terjadi.

Khomsini dalam hal ini menjelaskan kronologi mengenai polemik tersebut. "Sebelumnya kami telah melakukan rapat terlebih dahulu kepada seluruh orang tua siswa untuk membahas mengenai pungutan SPI tersebut. Dan semua orang tua murid yang hadir pada waktu itu setuju dan tidak keberatan dengan keputusan pungutan SPI tersebut." jelasnya.

Menurutnya, sejauh ini pihaknya terpaksa melakukan hal tersebut sebagai upaya untuk memenuhi pembangunan dan perbaikan fasilitas pendukung belajar bagi siswa. Terutama menyangkut keberadaan sarana kamar mandi yang sampai saat ini hanya terdiri atas 2 unit kamar mandi yang dipaksakan untuk menampung 470 siswa. Sedang untuk dana-dana bantuan hingga kini sebagaimana dijelaskan Khomsini belum diterimanya. Untuk alasan itulah, SPI diberlakukan.

Khomsini mengakui hal tersebut sudah melenceng dari aturan mainnya. Hanya saja, keterdesakan pihak sekolah memaksa pihak sekolah untuk melakukan hal tersebut. Bahkan, hingga kini pengajuan bantuan kontingensi untuk dua gedung sekolah, yaitu SD Telogosari Wetan 1 dan 2 belum juga terealisasi. Sementara untuk menganggarkan dana BOS dan BPP dalam pembangunan fasilitas tersebut sudah tidak mungkin.

Namun demikian, ketika disinggung kemungkinan untuk memenuhi tuntutan orang tua murid ini, ia mengaku tidak keberatan hanya saja ia menekankan harus ada mekanisme yang jelas.

SEMARANG, 19 November 2008

Polemik praktik pungutan SPI ini nampaknya sampai pula di telinga pejabat publik di lingkungan Pemerintah kota Semarang. Kali ini, Walikota Semarang Sukawi Sutarip menanggapi hal tersebut dengan sikap yang sangat tegas. Ia meminta agar semua pihak terutama pihak sekolah memperhatikan tuntutan orang tua murid dan tidak menggunakan terlebih dahulu anggaran dana sumbangan yang sudah terkumpul. Sebab, selama ini masalah PPD jalur khusus sebagai awal kemunculan masalah-masalah seperti penggunaan dana SPI ini, masih dibahas dalam rapat-rapat panitia khusus hak angket PPD jalur khusus 2008.

Dengan sikap tegas ia juga menyatakan, "Jika kemudian ada salah satu sekolah yang menggunakan dana tersebut, maka itu di luar prosedur. Untuk itu, pihaknya tidak akan main-main dalam menerapkan sanksi yang akan dilimpahkan kepada Badan Kepegawaian Daerah. Sementara untuk pengkajian lebih mendalam, ia akan menyerahkannya kepada Bawasda kota Semarang."

Robert Dahlan

P2T: Tidak Ada Pihak Ketiga dalam Pembebasan Lahan Waduk Jatibarang

Geliat pembangunan di kota Semarang nampaknya memang sudah mulai menjadi-jadi. Bahkan dua proyek besar direncanakan akan segera terealisasi. Dua proyek besar ini yakni, waduk Jatibarang serta jalan tol Semarang-Solo. Tentu, dua program pembangunan fisik tersebut merupakan proyek yang tidak menelan biaya yang kecil. Oleh karenanya, dalam perkembangannya, proyek tersebut menjadi lahan basah yang tiba-tiba menjadi kubangan yang mengundang banyak pihak untuk ikut andil dalam penyelesaian proyek tersebut.

Hal ini terbukti dengan adanya beberapa pihak yang mengaku sebagai pihak ketiga dalam penyelesaian pembebasan lahan untuk pembangunan waduk Jatibarang. Sejumlah pihak ini kemudian melakukan pendekatan secara door to door kepada sejumlah warga pemilik tanah yang terkena dampak pembangunan waduk tersebut. Alhasil, hal ini tentunya membuat keresahan bagi warga yang sama sekali tidak tahu menahu prosedur pembebasan lahan mereka.

Melihat fenomena tersebut, pihak terkait dalam hal ini adalah P2T (Panitia Pengadaan Tanah) langsung turun tangan dan meluruskan hal tersebut. Kali ini melalui wakil ketua P2T Abdul Majid, dijelaskan bahwa baik P2T maupun TPT (Tim Pembebasan Tanah) tidak pernah menyertakan pihak-pihak lain dalam proses pembebasan lahan tersebut.

"Selama ini tim sembilan yang terdiri dari Setda kota Semarang, Asisten 1, Camat, Lurah dan beberapa pihak yang terkait hanya melakukan sosialisasi secara langsung kepada warga. Untuk pembayarannya pun kami tidak menggunakan pihak perantara. Dalam hal ini warga penerima ganti rugi akan mendapatkan langsung uang tersebut melalui bank yang ditunjuk." jelas Abdul Majid.

Tentunya dengan fenomena tersebut, pihak-pihak terkait mulai belajar dari kejadian ini. Untuk alasan itulah, Abdul Majid kembali menegaskan dan memberikan himbauan kepada warga penerima ganti rugi untuk tidak mempercayai bila kemudian menemui pihak-pihak tertentu yang mengaku sebagai pihak ketiga dalam proses pembebasan lahan tersebut.

Robert Dahlan

04 November 2008

Buruh Gelar Aksi Penolakan SKB 4 Menteri

Dengan mengusung segenap harapan mereka, ratusan buruh asal berbagai daerah hari ini menjadi tamu istimewa di halaman gedung kantor Gubernur Jawa Tengah yang berada di kawasan jalan Pahlawan Semarang. Kedatangan mereka kali ini terkait dengan kegundahan mereka karena Surat Keputusan Bersama yang dikeluarkan 4 menteri yakni Mendagri, Menakertrans, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan dinilai telah membuat mereka terlukai kembali. Sebab, di dalam SKB tersebut, dalam salah satu pasalnya yaitu pasal 3 menyebutkan bahwa kenaikan UMK untuk buruh harus disesuaikan dengan pencapaian tingkat ekonomi. Yang artinya kenaikan UMK hanya dibatasi sebesar 6%.

Kontan saja, SKB 4 menteri ini langsung mendapatkan sambutan yang sangat luar biasanya. Bahkan saking luar biasanya, ratusan buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional se-Jawa Tengah harus membuat penyambutan yang sangat istimewa dengan menggelar aksi demonstrasi di halaman gedung Gubernuran.

Sudah barang tentu, tuntutan mereka tak lain adalah menolak adanya SKB 4 menteri tersebut. Sebab, sebagaimana dituliskan dalam realis mereka, besaran kenaikan UMK sebesar 6% tidak sebanding dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) mereka. Sebagai contoh, di kota Semarang, pada tahun lalu UMK buruh mencapai Rp 715.000. Sedang jika ditambahkan dengan 6% dari UMK tersebut maka akan didapat angka kurang lebih Rp 757.900. Sementara kebutuhan hidup layak di kota Semarang untuk bulan ini saja sudah mencapai sekitar Rp 800.000. Jelas ini sudah cukup jauh selisihnya. Sementara untuk tingkat kebutuhan hidup layak pada dasarnya sangat fluktuatif. Bahkan sebagaimana diungkapkan Fajar Eib Utomo (Sekjen FSBI Jawa Tengah) kecenderungan pergerakan yang semakin memuncak dipastikan terus akan terjadi untuk KHL-nya. Untuk itulah, ia khawatir jika kemudian beberapa daerah akan mematuhi SKB 4 menteri tersebut. Karena dengan demikian, menurutnya, sudah tidak ada tempat yang nyaman bagi karyawan.

"Kami akan terus berjuang untuk menolak SKB tersebut. Karena dengan keluarnya SKB 4 menteri tersebut, sudah langgar tata hukum yang berlaku." ujarnya.

Rusak Sekolah Kami Semoga Tidak Merusak Moral Pemimpin Kami

Habis manis, sepah dibuang. Begitulah kira-kira gambaran yang mungkin paling tepat untuk menggambarkan sebuah tragedi nasib perjalanan dunia pendidikan yang berkembang di negara Indonesia akhir-akhir ini. Kalau dulu, dunia pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian bangsa, mencerdaskan serta memberikan pencerahan dalam pengembangan pengetahuan, namun kini nasib dunia pendidikan tidak ubahnya dengan perca kain kumal yang kemudian dijadikan sebuah sarana lap pel lantai rumah yang terbuat dari keramik mewah. Bagaimana tidak, setelah kehadirannya yang begitu diharapkan oleh banyak orang, kini di tengah-tengah kepandaian orang-orang untuk dapat memikirkan tentang nasibnya sendiri, dunia pendidikan lambat laun hanya menjadi sebuah potret tragis yang hanya laku dipameran foto jurnalistik dengan menampilkan kepiluan-kepiluan yang teramat mendalam. Ini bukan sebuah kisah yang kemudian dibukukan dalam sebuah novel yang kemudian dikenal dengan judul Laskar Pelangi. Tapi inilah realistas yang saat ini juga terjadi di kota Semarang yang notabene tengah berdandan diri untuk mengubah penampilannya menjadi kota metropolitan.

Di tengah-tengah kemegahan kota yang semakin hari semakin diramaikan dengan kedatangan gedung-gedung baru, sebuah gedung sekolah di kawasan pinggiran kota, tepatnya di kecamatan Gunungpati, lebih tepat lagi di kelurahan Kandri, terkorbankan. Gedung sekolah yang selama ini menjadi tempat menimba pengetahuan dan membentuk budaya masyarakat sekitar terbiarkan rusak tanpa daya. SD Negeri Cepoko 3, mungkin menjadi salah satu saksi bisu mengenai perubahan zaman hingga melapuklah sudah seluruh bangunannya.

Sudah barang tentu kerusakan tersebut sangat tidak menyamankan bagi murid-murid yang belajar di sana. Namun apalah daya, jika kemudian nasib memang harus berkata demikian. Segala upaya telah dilakukan bahkan dengan mengumpulkan dana swadaya masyarakat, perbaikan gedungpun dikerjakan dengan seadanya.

"Dulu, semua kelas rusak. Tapi setelah ada swadaya masyarakat, perbaikan dilakukan di tiga ruang kelas yaitu kelas 4, 5 dan 6. Sekarang yang belum diperbaiki masih tiga kelas juga. Termasuk WC ini juga sudah rusak." ungkap Gigih Maruto, Bendahara BOS SD Negeri Cepoko 3.

Sungguh tragis memang. Lebih-lebih bila ini dikaitkan pula dengan janji Pemerintah kota Semarang yang dulu sangat gemar mengkampanyekan agar dapat mewujudkan pendidikan gratis bagi warganya. Semula, memang tanggapan warga sangat bervariasi. Ada yang menyambut dengan senang hati. Ada juga yang menanggapinya dengan penuh tanda tanya besar.

Namun setidaknya SD Negeri Cepoko 3 cukup memberi gambaran bagi warga kota yang kini tengah melenggang dengan elok dengan sejuta pesona yang ia tebar ke seluruh penjuru Asia raya ini, bahwa tidak segampang itu untuk mewujudkan mimpi. Mungkin mudah untuk merangkainya namun untuk membungkusnya dalam sebuah realita?

"Kami sudah pernah mengajukan proposal permohonan dana untuk perbaikan. Nilainya kurang lebih 150 juta rupiah. Tapi katanya yang akan turun baru 75 Juta rupiah. Sampai sekarang belum turun juga. Padahal SD kami ini termasuk prioritas. Tapi yang dapat kok malah yang di Banyumanik. Memang sulit bagi kami untuk penuhi kuota jumlah siswa sebesar 100 siswa. Ya, karena kondisi rusak parah seperti ini mana ada yang mau sekolah?" ujar Gigih yang tetap gigih untuk terus berjuang.

Kegigihan Pak Gigih ini cukup beralasan karena bagaimanapun juga gedung sekolah tetap gedung sekolah. Ia menjadi tempat bagi calon-calon pemimpin masa depan. Laskar terdepan yang akan mengubah dunia sesuai apa yang mereka inginkan. Tinggal memilih, mau lebih baik atau justru sebaliknya. Semua tentu ada konsekuensinya.

03 November 2008

Kekalahan Benarkan Menjadi Momok [?]


Ternyata mempelajari makna kata kekalahan itu sulit. Kekalahan yang menurut sebagian banyak orang di alam raya ini selalu diidentikkan dengan sesuatu yang memalukan sekaligus memilukan. Mari kita ingat-ingat kembali sembari membuka catatan-catatan lama kita. Di sana pasti banyak goresan luka yang mendalam untuk membahasakan mengenai kekalahan yang kita alami. Kekalahan dalam karir misalnya, atau kekalahan dalam memperoleh tender atau jodoh. Di sana kita sebagai awam, seringkali membahasakan mengenai kekalahan itu dengan bahasa atau ungkapan yang sangat tragisnya. Kita seolah berada pada sebuah kondisi yang serba sulit dan seolah tidak ada daya lagi untuk bangun. Bahkan, kalau perlu segala bentuk hiperbola akan kita tulis dengan huruf besar dengan menggambarkan keterpurukan yang teramat. Dan sepertinya, kita tengah berada pada posisi yang teraniaya oleh kekalahan kita sendiri.

Dan begitu pula yang pernah saya alami. Kekalahan bagi saya pada waktu itu, saya anggap sebagai malapetaka yang pada suatu saat nanti akan terus membayang-bayangi setiap gerak saya. Alangkah malunya saya ketika itu. Saya hampir saja tidak dapat bergerak lebih maju. Saya benar-benar dibuatnya takut setengah mati. Ketika itu, saya berpikir apakah saya tengah berhadapan dengan seekor monster yang menyeramkan? Atau saya tengah berada di sebuah lubang besar yang membuat saya tidak mampu memandang cahaya terang dan memanjat ke atas karena dalamnya yang teramat?

Kita memang diajarkan untuk selalu jadi pemenang. Tapi kadang kita lupa bahwa di dalam setiap kemenangan selalu ada yang harus dikalahkan. Kita memang selalu dituntut untuk menang, tapi di setiap kemenangan yang kita raih, harus disadari pula adanya sebuah kekuatan yang tidak bisa kita tolak bahwa kita telah dengan congkak berdiri di atas kekalahan orang lain. Itulah rupanya yang terus ada dalam kepala saya. Saya terlalu congkak untuk sebuah kemenangan. Kebanggaan terhadap hasil yang kita capai, yang secara tidak langsung telah membuat orang lain terkecewakan, telah membuat kita berada di atas angin. Yang pada akhirnya kita sendiri tidak sadar, kita berada di atas sesuatu yang tidak berdasar, tidak beralas. Toh suatu ketika kita akan jatuh pula.

Angin memang sering kali melenakan diri kita untuk terus dapat membuat diri kita ternyamankan. Kita seolah berada pada puncak kenikmatan yang tidak terhingga. Sehingga kita lupa pada siapapun yang kita kalahkan. Kita seolah benar-benar menjadi seorang penakluk zaman. Yang mampu menguasai keinginan kita. Tapi tidak bagi kehendak-Nya.

Dalam berbagai persepsi, kemenangan seseorang terkadang dimaknai sebagai sebuah kesuksesan. Sukses untuk meraih sebuah tujuan. Namun apakah persepsi benar? Mungkin bagi sebagian banyak orang akan mengatakan hal tersebut benar adanya. Karena mereka merasa menang atau bahkan merasa digagalkan oleh kekalahannya. Namun apa sebenarnya hubungannya kemenangan dengan kesuksesan seseorang?

Kemenangan bagi saya adalah sebuah proses perjalanan sukses seseorang. Sedang kesuksesan adalah sikap hidup seseorang dalam menjalani proses yang tengah ia lakoni. Artinya, kalau kita berpikir bahwa kemenangan adalah puncaknya, dan kekalahan adalah titik terendah dari sebuah pencapaian puncak, maka jika ditarik garis lurus, kesuksesan adalah garis yang menghubungkan kedua titik tersebut. Namun bukan berarti kemenangan seseorang adalah puncak kesuksesan seseorang. Karena di dalam kehidupan ini, manusia dihadapkan pada sebuah bentuk siklus hidup yang sangat bervariasi. Setiap individu memiliki karakter siklus hidupnya masing-masing. Dan di situlah kesuksesan seseorang ditentukan.

Saya teringat, apa yang dikatakan oleh Mao Tze Tung dalam sebuah karyanya. Ia bilang, kegagalan adalah ibu dari kesuksesan seseorang, maka jika suatu kali ia gagal dan sekali ia jatuh maka semakinlah ia cerdas. Dalam benak saya kemudian bertanya, kenapa ia menggunakan kata 'cerdas'? Bukan pintar atau yang lain? Rupa-rupanya Mao memang tengah bermain-main dengan bahasa. Kelakar saya waktu itu.

Namun beberapa lama kemudian saya berpikir ulang dan mulai mengotak-atik maksud perkataan Mao dengan ungkapan 'cerdas' itu. Ternyata dia ingin berkata bahwa orang pintar mungkin akan sering dikalahkan dengan oleh yang beruntung. Tetapi orang cerdas, selalu banyak akal untuk menyikapi kekalahannya terhadap orang yang beruntung. Sebab pada dasarnya, hukum alam ini selalu terkait oleh dua hal, yaitu keberuntungan dan kegagalan. Dua kekuatan inilah yang kemudian akan saling memberi pengaruh terhadap ketahanan manusia dalam menanggapi persoalan hidup. Sehingga, hanya orang cerdaslah yang menurut Mao Tse Tung akan menjadi pemenang sejati.

Siapa mereka? Pemenang sejati yang sesungguhnya? Dalam persepsi saya, pemenang sejati adalah mereka yang mampu menyikapi secara arif setiap kekalahan yang mereka terima. Serta mereka yang mampu berbagi dan bersikap santun terhadap kemenangan yang mereka terima sebagai batu uji terhadap pola hidup mereka.

Jadi menurut saya, kekalahan bukanlah sebuah momok. Melainkan sebuah hal yang patut kita syukuri mengingat dari kekalahan pula kita akan lebih mampu belajar mengenai apa yang harus kita buat untuk tetap dapat menegakkan kembali langkah kaki kita menuju pada sebuah predikat pemenang sejati. Jadikanlah diri kita sang pemenang sejati. Bukan pecundang sejati. Mulailah saat ini kita buang anggapan bahwa kekalahan adalah sebuah kenistaan.

Salam sukses,
Robert Dahlan

31 Oktober 2008

UU Pornografi Kenapa Disahkan?

Disahkannya UU Pornografi oleh DPR RI kemarin (Kamis, 30 Oktober 2008) nampaknya masih menuai polemik yang kalau saya lihat akan berlangsung lama. Hal ini sebagai imbas atas protes yang dilayangkan oleh sejumlah daerah yang merasa tergugat karena tradisi dan nilai-nilai budaya mereka justru tidak terlindungi dengan adanya UU Pornografi tersebut. Namun demikian, DPR RI sepertinya sudah keras kepala dan buru-buru untuk melakukan pengesahan UUP yang oleh kebanyakan orang dinilai belum cukup matang. Bahkan, sebagaimana dikatakan salah seorang seniman asal kota Yogyakarta, Djaduk Ferianto, untuk mengesahkan UU tersebut seharusnya DPR RI mempertimbangkan masak-masak. Terlebih terkait dengan studi akademisnya yang dinilai belum dilakukan secara komprehensif. UU tersebut belum mampu menyentuh pada persoalan-persoalan yang sensitif, terutama terkait dampak dari pemberlakuan UU Pornografi ini terhadap masalah-masalah budaya.

Sejak awal pembahasan RUU Pornografi inipun sebenarnya sudah nampak betul adanya gejala penolakan. Ini tentunya merupakan sebuah gejala yang seharusnya mampu dibaca oleh semua lapisan masyarakat, bahwa isu mengenai UU Pornografi ini sebenarnya isu politik. Namun pada kenyataannya, dengan segenap kelihaian otak yang dikoordinasikan dengan mulut para politikus, isu ini kemudian dibelokkan dengan memberinya label sebagai isu pembenahan moral bangsa. Lantas dengan mudah politikus ini kemudian lancar melenggang untuk menjebol dinding rapuh yang dibangun di antara suara-suara sumbang sebagian rakyat Indonesia. Sebagai akibatnya, muncul pula gugatan-gugatan yang mempertanyakan kinerja anggota Dewan yang terhormat ini. Karena sebelum RUU Pornografi ini kemudian di-Undang-kan, sejumlah anggota Dewan yang dipilih oleh rakyatnya sendiri ini terseret arus tren korupsi dan tindakan cabul mereka yang entah sengaja atau tidak telah membuat rakyat merasa tertipu. Demokrasi pun tergugat karenanya. Rakyat semakin tidak mempercayai lembaga tinggi yang seharusnya menjadi corong keinginan seluruh rakyat Indonesia, bukan sebagian rakyat Indonesia.

Saya melihat adanya sebuah intrik politik yang entah secara sengaja atau tidak telah dimainkan oleh kelompok-kelompok politik tertentu. Sebab, dalam pandangan saya pengesahan UU Pornografi ini tergolong sangat singkat. Sementara untuk RUU lainnya yang saat ini masih menjadi PR dari lembaga tinggi ini, juga masih banyak. Dan terkesan sengaja ditinggalkan.

Tidak hanya itu, keseriusan DPR RI untuk melakukan sebuah telaah mengenai UU Pornografi ini pun seolah sengaja ditiadakan. Padahal kalau kita menilik kembali pada pembahasan RUU Anti Korupsi, DPR RI nampak getol untuk mengotak-atik persoalan korupsi ini. Sepertinya mereka ini justru sengaja menutupi kasus-kasus korupsi yang tengah dijadikan proyekan oleh mereka yang dimuliakan oleh pangkat.

Selain itu, yang paling lucu lagi. Munculnya UU Pornografi ini justru dalam waktu yang hampir mendekati Pemilu 2009. Dalam hal ini, saya mencermati adanya sebuah upaya politik yang sengaja untuk menutupi isu yang sebenarnya krusial. Yaitu keterwakilan perempuan di dalam pencalegan. Sebab, di dalam Undang-undang politik telah diatur mengenai porsi caleg perempuan yang paling tidak harus dapat memenuhi kuota sebesar 30%. Tapi kenyataannya, tidak banyak partai politik yang menaati aturan tersebut. Anehnya lagi, isu ini tidak begitu menggigit bagi rakyat yang terlalu sering ditipu. Sehingga perjuangan untuk menyetarakan kedudukan perempuan dalam ranah politik pun kembali harus menempuh jalan yang sangat panjang.

Lalu, apa sebenarnya yang tengah terjadi di negeri ini?

Salam,
Robert Dahlan

29 Oktober 2008

Pemkot Semarang Siap Berangkatkan 139 Pegawai Jamaah Haji

SEMARANG, Jelang pemberangkatan jamaah haji yang rencananya akan mulai dilakukan pada awal bulan November 2008 mendatang, jajaran Pemerintah kota Semarang hari ini melakukan penglepasan 139 jamaah haji yang tidak lain adalah pegawai dan keryawan di lingkungan Pemkot Semarang. Kali ini, penglepasan jamaah haji ini langsung disaksikan oleh Walikota Semarang Sukawi Sutarip. Dalam sambutannya ia menghimbau, agar seluruh jamaah haji ini bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah haji. Selain itu, ia juga berharap agar ketika di tanah suci Mekah Al Mukaromah ini, jamaah haji dapat mencerminkan perilaku yang santun dan tertib. Sehingga, akan dapat membawa nama harum kota Semarang.

"Bapak Ibu, saya titip, nanti kalau sampai di Mekah sana, jangan ceritakan hal-hal yang buruk tentang kota Semarang. Tidak perlu cerita soal rob dan banjir. Nanti kalau ketemu dengan orang yang sebenarnya minat untuk menanamkan modal di sini (Semarang), bisa keburu lari duluan." ujarnya.

Di sisi lain, jumlah jamaah haji ini sebagaimana dirincikan oleh Kepala Badan Kepegawaian Daerah kota Semarang Agusti Lusin Dwimawati, terdiri atas; 2 orang jamaah merupakan pegawai di lingkungan Sekda kota Semarang, 40 orang dari SKPD baik Badan, Dinas dan kantor, 18 jamaah dari SKPD di tingkat kecamatan, 78 orang merupakan pegawai di Dinas Pendidikan kota Semarang dan guru, dan 1 orang tenaga medis dalam tim kesehatan haji di tingkat kota Semarang.

Namun sayangnya, dari 139 jamaah ini, sebagaimana diungkapkan Agusti Lusin Dwimawati masih banyak yang belum mengajukan izin cuti haji. "Sampai saat ini baru terdapat 60 persen dari jamaah yang sudah mengajukan izin ke BKD kota Semarang. Untuk itu, saya berharap agar yang belum mengajukan izin cuti haji ini, segera mengurus." jelas Agusti.

Pemkot Semarang Akan Terima 260 CPNS

SEMARANG, Upaya Pemerintah kota Semarang untuk menjawab tantangan zaman terkait dengan pengoptimalan kinerja jajarannya untuk memberikan layanan publik kini mulai digarap dengan serius. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, Pemerintah kota Semarang akan membuka lowongan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) untuk 260 orang. Kepala Badan Kepegawaian Daerah kota Semarang Agusti Lusin Dwimawati seusai melakukan penglepasan Jamaah Haji Pegawai dan Karyawan Pemkot Semarang hari ini di gedung Balaikota Semarang mengatakan, "Kali ini untuk CPNS di Pemkot Semarang hanya mendapatkan kuota sebanyak 260 orang untuk umum."

Namun secara detil dia masih enggan untuk menyebutkan formasi dari penerimaan CPNS di lingkungan Pemkot Semarang ini. Katanya, "Dari 260 orang ini nantinya akan diberikan untuk tenaga pengajar sebanyak 155 orang, tenaga medis 66 orang dan sisanya untuk administrasi."

Sementara untuk pendaftarannya sendiri, sesuai dengan instruksi yang telah diberikan oleh Pemerintah provinsi Jawa Tengah, baru akan dilakukan mulai tanggal 4 hingga 16 November 2008 mendatang. "Untuk lebih jelasnya lihat di pengumuman besok (31 Oktober 2008) yang akan kami tempel di Balaikota Semarang dan beberapa kantor instansi pemerintah lainnya."

Kendati demikian, hal tersebut nampaknya masih menyisakan sedikit masalah. Terutama terkait dengan keberadaan tenaga honorer yang sampai saat ini masih cukup banyak. Agusti menyebutkan untuk saat ini, jumlah tenaga honorer di lingkungan Pemkot Semarang masih menyisakan sekitar 350 tenaga honorer yang belum diajukan pemberkasannya ke BKN.

"Pada tahun lalu (2007) kami sudah mengajukan pemberkasan ke BKN sebanyak 341 tenaga honorer. Namun saat ini memang masih tersisa sekitar 350-an. Untuk itu, kami akan segera mengajukan kembali pemberkasan bagi tenaga-tenaga honorer ini untuk tahun depan." ujarnya.

28 Oktober 2008

Gerimis

Gerimis tipis mengguyur sekujur tubuh
mata batin yang sepi seolah belati
berusaha mengupas langkah sepi
yang tinggal sekeping
wahai, engkau yang kesepian
kehadiran terkadang tak harus terupa
dalam kasat mata
kadang tiada
makna memayakan diri
maya menjadi seolah
ibarat kata ia telah mati
dalam sunyi yang entah kapan akhirnya

Kitab Kesunyian (1)

Inilah kitab kesunyian
yang tertuang dalam secangkir asa
dan cawan-cawan tangis berdenting
berpacu dengan detik-detik
yang berlabuh pada malam

Inilah kitab kesunyian
saat lolong anjing mulai menerkam malam
segala penjuru yang kosong
seolah ujung tombak sang maut
yang bersegera menusuk tepat di jantung

Inilah kitab kesunyian
sebuah kenyataan yang tersurat
dalam peta yang merangkai anak sungai
bermuara pada samodra
kecipak ombak
bergaram asin
menyapu pasir
dan angin menghantam tebing karang
ombak menciprat
seekor ikan tersesat pada darat
menggeliat panas

inilah kitab kesunyian
yang jauh dari denting bebunyian
relung jiwa yang tersesat
adalah mata serigala yang tengah mencari mangsa
dan adalah keniscayaan
kehidupan selalu bersirkulasi
dalam tabung atmosfer

inilah kitab kesunyian
saat mata letih
membaca firman yang tak tersurat
maka hanya padam

Sungguhpun Tuhan telah membuat kesunyian
dalam sebuah gelas kristal
yang di dalamnya seberkas bening
mungkin tak kuasa terlihat
pada retina yang membuta
karena kenyataan adalah sesuatu yang tak terjamah

Kitab Kesunyian (2)

Bacalah
atas nama Aku
yang mengadakanmu
yang menghadirkanmu
yang memberimu hidup
yang meniupkanmu ruh

Bacalah
setiap detik
adalah kesunyian yang sangat mengerikan
setiap detik
adalah kesunyian yang membuatmu menghitung
ayat-ayat yang engkau baca

Bacalah
sejak keberadaanmu
adalah kesengsaraanmu
sejak keberadaanmu
adalah maut yang mengintai

Bacalah
sebab Aku yang mengutusmu
sebab Aku yang memberimu
sebab Aku adalah kebinasaanmu
sebab Aku adalah engkau

Bacalah!!!

Kitab Kesunyian (3)

Hilang rupa
Hilang bentuk
jejak langkah
langkah hidup
perlukah engkau jabarkan
sederet tanya bersahut

Hilang rupa
hilang engkau
tiada
lamunan menjadi tak guna
menghitung apa baiknya

Sudahi saja
sebelum matahari membakarmu
berjalan
meniti kesunyian
dalam kehampaan
temukan dirimu
dalam remuk

Wahai
jiwa-jiwa letih
yang bergayut pada seutas tali
menggantung saja
tak cukup
menjejak saja
tak kan sampai
berjalanlah
dan baca tiap rambutku

27 Oktober 2008

Takut Pensiun, Pejabat Ikut Nyalon

Beberapa hari lalu, saya sempat bertemu seorang pejabat publik di lingkungan Pemerintah kota Semarang. Dia melenggang dengan santai dan kemudian menghampiri saya yang tengah duduk-duduk di halaman gedung Balai Kota Semarang. Entah angin segar apa yang telah membuatnya sedemikian berubah. Sebelumnya, dia bukanlah tipe orang yang sangat ramah dengan orang-orang media (wartawan). Bahkan setiap kali ada wawancara, ia cenderung akan lari dari kejaran wartawan. Apa mungkin baginya wartawan adalah makhluk yang paling menyeramkan? Sebab, kalau sampai dia salah ucap, bisa jadi jabatannya yang dulu adalah sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum kota Semarang ini akan terancam. Atau paling tidak, dengan ucapan salahnya itu bisa jadi juga ia akan menjadi bulan-bulanan sang pimpinannya. Sehingga ia lebih memilih menutup diri dengan wartawan.

Tapi kini, orang yang kemudian saya kenal dengan nama Ahmad Kadarlusman ini tiba-tiba menjadi sosok yang paling ramah sedunia. Menebar senyum, menyambangi saya dan teman-teman dan kemudian menyalami kami satu-satu. Mungkin karena ia hampir mendekati masa pensiun? Atau karena dia merasa lelah main kejar-kejaran dengan wartawan? Atau karena dia kini sudah tidak menjabat Kepala dinas lagi?

Ternyata tidak. Sebab utama ia menjadi sosok yang paling ramah ini karena ia kini menjadi salah satu calon anggota legislatif di salah satu partai politik peserta Pemilu 2009. Dan tanpa ba bi bu lagi, tanpa kami tanya ia pun langsung membuat statement. Panjang lebar ia mengungkapkan maksud hatinya untuk menjadi salah satu anggota legislatif ini.

Katanya, "Keikutsertaan saya dalam pencalegan ini karena saya ingin mengaspirasikan keinginan masyarakat. Selain karena masa pensiun saya yang sudah dekat, saya juga ingin melibatkan diri saya untuk dapat memiliki peran politik yang lebih ketimbang saat saya menjabat kepala dinas maupun asisten ekonomi pembangunan."

Cukup politis. Namun bagi saya pernyataan itu sudah terlalu kuno. Ketinggalan zaman. Kemudian ketika ditanya sebenarnya kapan ia pensiun? Ia pun menjawab, "Sebenarnya masa pensiun saja jatuh pada akhir 2008 ini. Tapi saya ajukan lebih dini mengingat saya ikut dalam pemilu 2009. Dan Pak Walikota ketika saya temui tadi, beliau mendukung upaya saya ini."

Cukup menarik, mengingat sejauh ini memang dibutuhkan kekompakan yang solid antara pimpinan dengan anak buahnya. Jadi kalau saya cermati, dukungan itu ya sudah semestinya. Sebab, bagaimanapun juga yang namanya sebuah sistem ini harus didukung oleh semua kalangan.

Tapi kemudian saya sempat berpikir. Fenomena alih profesi pejabat menjelang masa pensiun untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif ini sepertinya sebuah alih-alih belaka. Mengingat sejauh ini, peluang untuk memiliki peran politik dengan menerjunkan diri sebagai anggota legislatif ini sepertinya sengaja dilakukan oleh orang-orang seperti dia. Bagaimana tidak, kalau semisal ia pensiun, tentu "pendapatan perkapita"-nya akan sedikit berkurang. Untuk itu, ia mencoba mencari penghasilan lain. Karena kebutuhan hidup saat ini secara materiil memang semakin membebani setiap orang. Jadi, mana ada orang yang mau jadi 'kere'.

Tentang perubahan drastisnya menjadi makhluk yang super ramah, saya justru menilai ini sudah menjadi trik kuno bagi pelaku politik. Sebab mana ada orang yang ingin mengenalnya jika ia masih tetap menjadi makhluk angker atau menjadi makhluk yang sangat berusaha menjauh dari media. Melihat hal demikian, saya jadi tertawa geli.

Dan untuk menghindar dari kegelian yang teramat ini, lebih baik saya sudahi dulu tulisan ini. Bisa-bisa saya malah akan menertawai hal yang seharusnya tidak saya tertawai. Yang penting selamat bagi para calon yang akan ikut dalam audisi Pemilu 2009. Semoga rakyat memang benar-benar masih percaya. Pesan saya, jangan sakiti rakyat yang sudah kadung tersakiti.

Salam,
Robert Dahlan

14 Oktober 2008

Kota Iklan Yang Tak Ramah

Salam,

Kota itu aku namai saja kota iklan. Hampir di setiap sudutnya tak ada celah ruang untuk sekadar bernafas bagi udara bebas. Selalu saja terhadang dengan adanya pemasangan iklan. Mulai dari sekadar pamflet-pamflet sampai papan baliho iklan dalam ukuran raksasa. Sungguh benar-benar sesak. Pemandangan kota dijejali gambar-gambar serta warna-warna yang terkadang dengan sengaja didesain sedemikian rupa untuk menonjok mata. Bahkan kalau perlu, agar lebih menarik papan iklan ini dihias pula dengan foto-foto artis maupun model. Tidak hanya itu, ternyata beberapa pejabat publikpun tidak mau kalah. Kurang puas dengan profesi mereka sebagai figur publik, merekapun ikut bersaing dengan foto model maupun artis untuk memampang potret mereka. Dari presiden sampai lurah pun ikut bersaing untuk memamerkan wajah ramah mereka. Mulai dari iklan layanan masyarakat sampai pada iklan politik.

Sungguh ini benar-benar sebuah pemandangan yang sangat fenomenal. Bagaimana tidak, di balik kemeriahan papan iklan yang menyemarakkan kota yang tengah bersolek diri untuk menjadi salah satu kota metropolis di kawasan Pantura Jawa ini, ternyata harus berbuah peristiwa tragis. Deraan angin kencang yang datang bersamaan guyuran hujan di awal musim penghujan telah merobohkan keangkuhan papan-papan iklan yang seolah kokoh ini. Akibatnya, salah satu patung yang menjadi salah satu ikon kota iklan ini pun harus turut roboh karena tertimpa papan iklan yang roboh ini. Jelas, hal ini juga berakibat pada hilangnya salah satu identitas kota yang berarti pula hilang pula monumen bersejarah kebanggaan warga kota iklan, yang dikenal dengan bandeng prestonya sebagai buah tangan kota ini. Patung pesepakbola yang selama ini dianggap sebagai perwujudan salah satu atlet kenamaan kota Semarang, Ribut Waidi harus tumbang pula bersama sebuah keangkuhan papan iklan raksasa itu.

Tidak cukup hanya itu, beberapa hari kemudian peristiwa nahas yang hampir serupa kembali terjadi. Kota iklan kembali diguyur hujan dan dihempas lagi oleh angin puting beliung. Salah satu papan iklan yang berada di kawasan pusat kota, Simpanglima kembali roboh. Lebih tragisnya lagi, kali ini bukan sebuah patung yang menjadi korban melainkan salah seorang warga yang sehari-harinya berprofesi sebagai penarik becak yang kemudian dikenal dengan nama Nur Tashadi, terpaksa harus dilarikan ke Rumah Sakit setempat karena tertimpa robohnya papan iklan yang ukurannya hampir sama besar menimpa patung Ribut Waidi.

Namun demikian, atas dua kejadian tersebut nampaknya beberapa kalangan justru seolah 'ogah' berpikir jauh lebih ke depan mengenai antisipasi akan pengulangan yang sama atas peristiwa tersebut. Alih-alih atas peristiwa tersebut, pemerintah kota yang dikenal dengan slogan ATLAS ini pun hanya memberikan sebuah pernyataan yang sangat normatif. Dalam berita yang dimuat Suara Merdeka edisi hari Jumat, 10 Oktober 2008 yang lalu pasca keruntuhan patung yang diidentikkan sebagai representasi Ribut Waidi ini Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman kota Semarang Ayi Yudi Mardiana menyatakan, kerusakan itu menjadi tanggung jawab penuh biro reklame yang menimpa patung tersebut. Sebab, kerusakan merupakan akibat tertimpa baliho.

Terlepas dari itu, pernyataan Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman kota Semarang ini sebenarnya sudah menjadi hal yang wajar. Sementara terkait dengan peristiwa nahas yang dialami Nur Tashadi yang mengalami gegar otak ini sudah semestinya pula mendapatkan santunan perawatan. Namun hal yang lebih penting dari itu semua ialah bagaimana upaya konkret pemerintah kota Semarang ini dalam mengantisipasi kejadian ini agar tidak terulang kembali. Hal ini tidak cukup hanya dilakukan dengan pengusutan kasus tersebut oleh pihak kepolisian melainkan pula pengkajian ulang terhadap penataan lingkungan kota yang sudah semakin ditumpuki timbunan sampah produk iklan.

Secara teoretis, seharusnya pihak-pihak terkait juga menyadari efek dari pancaroba ini. Sehingga dalam memberlakukan kebijakan dan memberikan izin terhadap pemasangan iklan di kawasan perkotaan ini diharapkan akan lebih menghormati alam sebagai representasi kehadiran kekuasaan Tuhan. Sebab, secara sadar atau tidak kawasan tropis merupakan kawasan yang sangat memungkinkan bagi kemunculan badai ketika pergantian musim.

Memang harus diakui bahwa pemasangan papan iklan ini sebagaimana selalu didengungkan oleh pihak pemerintah kota Semarang sebagai salah satu langkah untuk mempersolek diri dan mendapatkan pemasukan dari retribusi iklan yang didapat. Namun apakah memang demikian?

Kalau memang pemasangan papan iklan yang semakin hari semakin ruwet ini bertujuan untuk mempercantik kota, artinya hal ini berkait dengan makna estetika, nampaknya pemerintah kota Semarang harus kembali meninjau ulang kajian makna kata 'estetika' tersebut. Sekadar meminjam pengertian 'estetika' dari Aristoteles, makna dari kata 'estetika' itu sendiri sangat erat hubungannya dengan keindahan dan fungsinya secara konkret bagi masyarakat. Dari pengertian ini kalau ditelusur kembali, apa yang dilakukan oleh pemerintah kota Semarang ini mungkin dapat dibenarkan. Sebab, pengertian keindahan sangat bergantung pada prespektif secara individual. Artinya, keindahan memang tidak dapat ditentukan dengan model numerik atau dengan kata lain keindahan tidak dapat ditentukan secara pasti. Sebab, keindahan bukan nilai mati. Indah menurut sebagian orang, belum tentu indah pula bagi sebagian orang lain. Demikian pula dengan pemasangan papan iklan yang kini tampak menghias kota.

Selain itu, dari segi fungsinya memang seolah-olah dengan pemasangan papan-papan iklan ini memiliki fungsi dan bermanfaat bagi khalayak. Di satu sisi, akses untuk memberikan informasi secara terbuka bagi masyarakat mendapat ruang yang sangat lebar. Di lain hal, pemasangan papan iklan ini juga memberikan pemasukan bagi pemerintah kota Semarang. Untuk itu, bangsa untung rakyat pun untung (meminjam slogan yang dihembuskan Wakil Presiden Jusuf Kalla).

Namun bila kita melihat secara lebih cermat lagi, pemahaman kata estetika yang dipahami secara kasar dilakukan oleh pemerintah kota Semarang ini justru bertolak belakang dari kaidah estetika ala Aristoteles. Hal ini semacam romantisme yang sengaja dilakukan oleh pemerintah kota Semarang untuk menyembuhkan sebuah penyakit yang telah lama bersarang dan semakin menggerogoti kehidupan kota Semarang. Bagaimana tidak, pemasangan papan iklan ini hampir dapat dikatakan sebagai sebuah pengabuan masyarakat untuk menanamkan budaya konsumtif. Slogan ataupun jargon-jargon yang dihegemonikan melalui pemasangan papan iklan ini menjadi sebuah racun penawar sakit hati pemerintah kota Semarang yang tidak mampu melakukan sebuah terobosan dalam penataan kawasan kota yang semakin tak teratur ini.

Bahkan secara psikologis, dengan semakin padatnya pemasangan papan iklan ini sebenarnya tidak hanya mengganggu kenyamanan pemandangan mata melainkan berdampak pula pada kemungkinan akan semakin kerasnya karakteristik masyarakat karena frustasi. Sebab, budaya kapitalis yang secara ekstrim diejawantahkan ke dalam kehidupan kota ini semakin membuat mereka merasa tidak memiliki tempat yang layak. Masyarakat akan semakin merasa tidak memiliki lagi pencitraan kota yang mereka idamkan. Sehingga mereka mencari sebuah jawaban dari kenangan masa lalu yang kini mulai terasingkan.

Kalaulah memang demikian yang terjadi, artinya wabah kapitalis benar-benar telah melanda di kota yang dulu dijuluki Litle Nederland ini. Sebagai buktinya adalah apa yang dialami oleh patung yang entah representasi dari siapa dan apa yang menimpa Nur Tashadi. Bahkan, budaya kapitalis ini secara ekstrim juga direpresantasikan dengan pemberian kompensasi yang sebenarnya hanya menjadi pengalihan isu belaka. Namun secara tidak sadar, hal tersebut bisa juga menjadi semacam bom waktu yang pada saatnya nanti akan meledak dan bisa jadi akan meluluhlantakan seluruh budaya masyarakat yang ada. Hal ini dikarenakan penetrasi yang dialami oleh masyarakat yang mengakibatkan frustasi sosial yang disebabkan tidak terjawabnya atas tuntutan mereka untuk bereuforia dengan masa lalu yang mereka rindui. Selain itu, apakah pihak-pihak terkait ini akan mampu memberikan kompensasi yang sedemikian besar ini? Mengingat, menjadi sebuah ketidakmungkinan jika pemerintah akan melakukan sebuah rekonstruksi sejarah masa lalu sedang saat ini mereka tengah sibuk untuk menatap masa depan dan menyambut terwujudnya wajah baru kota Semarang yang lebih metropolis.

Nah, yang terpenting sekarang ini ialah bagaimana pemerintah kota Semarang mulai melakukan pengkajian ulang terhadap makna estetika itu sendiri. Apakah memang benar bahwa pemasangan papan iklan yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya itu sudah cukup mampu memberikan jawaban atas pertanyaan sudahkah cantik kota ini? Untuk itulah, perlu bagi pemerintah kota Semarang untuk semakin memperketat pemberian izin serta dibutuhkan kecermatan pula dalam menempatkan papan-papan iklan tersebut. Sehingga, diharapkan dengan adanya aturan main yang sedemikian ketat tersebut akan mampu mengembalikan pesona kota Semarang. Bukankah salah satu cita-cita kota Semarang ini ingin menjadi kota yang penuh pesona di kawasan Asia?

Salam,

Robert Dahlan

06 Oktober 2008

Setengah Lima Pagi

Orang kota sibuk mengemasi kembali mimpi
mengendap-endap
memburu nasib yang entah kemana pergi
bertarung dengan jarum jam
yang mereka anggap pedang

setengah lima pagi,
orang-orang kota sibuki jalan nasib
yang mulai ramai
riuh oleh keluh
tentang Tuhan yang katanya terlalu kejam
karena telah membuangnya ke dunia ini
menelantarkan mereka
seolah tak pernah mengurusnya dengan baik

setengah lima pagi
dengan terpaksa orang-orang kota terbangun
membangun puing-puing mimpi mereka
yang retak karena keyakinan yang tak jelas
bahwa uang adalah Tuhan
sedang nasib adalah malaikat
sementara diri mereka bukan apa-apa
tanpa apa-apa

setengah lima pagi,

23 September 2008

Kelelakianku

dan kelelakianku membatu
diselubung bebatuan
tempatku dilahirkan
sementara lingga dan yoni
yang masih akur beradu
tak boleh lagi bersatu
dalam serambi candi
sementara manusia yang menyamar
menjadi dewa
tengah mencabut akar dari rumputnya
persenggamaan alam menjadi tumpul
kesuburan tergugat
ladang mengerontang
sawah mengering
alam meniada
manusia dijadikanlah robot dungu
sementara tuhan,
dikangkangi oleh kuasa manusia durjana
oh, alam negeri tanah
haruskan terpisah dari air
oh, alam negeri api
haruskah terlepas dari asuhan udara
aku bertanya pada batu
batu tak menjawab
aku bertanya pada gumpalan salju
ia hanya menceracau
bagai kicau burung
yang tak dapat aku terjemahkan
sementara manusia tak sudi berbicara
melalui nada arifnya


23 September 2008
Semarang
Ribut Achwandi

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......