30 April 2008

Menuju Sukses bag. 5

Salam sukses,


Kata 'kreatif' sering kita terjemahkan sebagai kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu menjadi lebih menarik. Namun, ada satu hal yang kadang secara tidak sadar kita tarik secara paksa dalam memahami kata 'kreatif' itu sendiri. Banyak dari kita yang menautkan kata 'kreatif' dengan penciptaan hal-hal baru. Kalau demikian, apa bedanya dengan 'inovatif'?

Dalam perspektif saya, perbedaan mendasar dari kedua hal tersebut terletak pada satu frase 'hal baru'. Memang dalam mengkreasikan sesuatu kita dituntut untuk dapat menemukan sesuatu bentuk lain. Namun bukan berarti itu sama artinya sesuatu yang sama sekali baru. Artinya, ketika kita tengah membicarakan mengenai 'kreatif' sebenarnya yang muncul bukanlah menciptakan sesuatu yang baru atau bahkan menemukan sesuatu yang baru. Bisa jadi, dalam memahami kata 'kreatif' kita justru memanfaatkan sesuatu yang sudah ada sebelumnya dengan memolesnya sedikit saja untuk kita kemas dalam bentuk-bentuk yang lebih menarik. Dengan kata lain, makna kreatif dalam pandangan saya, lebih bersifat pembaruan dan tidak mewajibkan sebuah sebuah maksud kebaruan.

Dan jauh lebih dalam lagi untuk mengupas masalah kreatifitas ini, saya punya sedikit oleh-oleh dari Solo. Ketika itu saya penasaran betul dengan yang namanya srabi solo. Makanan tradisional yang terbuat dari tepung terigu. Semula saya pikir makanan tradisional ini paling-paling tidak jauh beda dengan makanan-makanan tradisional lainnya. Dengan kata lain, dari bentuk dan rasanya hampir bisa dikatakan serupa dan tidak jauh dengan makanan-makanan tradisional sejenisnya. Namun saya sempat dibuat kaget ketika mengetahui kalau ternyata sekarang srabi solo memiliki aneka rasa yang bisa kita pilih. Di sinilah kreatifitas telah bekerja. Tangan-tangan kreatif sang pedagang srabi ini tidak main-main dalam memberikan sentuhan-sentuhan baru untuk dapat mengemas sesuatu yang lain dari asalnya.

Salam sukses,Terus terang, ini hal yang mungkin dapat dikatakan sebuah terobosan baru bagi dunia kuliner tradisional yang biasanya sangat terbatas dalam persoalan rasa. Namun dengan mencoba mengkreasikan dan mencoba untuk melakukan hal-hal baru sebagai usaha untuk memberikan sedikit sentuhan cita rasa yang disesuaikan dengan selera zaman, maka dapat hal tersebut halal saja. Nah, pertanyaannya sekarang, kalau beberapa orang sudah mulai melakukannya kapan giliran kita? Dan apakah kita harus menunggu giliran?

Jangan pernah berpikir untuk mengantre dan hanya menunggu giliran seperti saat kita mengantre minyak tanah. Namun kalau memang kita bisa menggunakan hal-hal lain yang ada di sekitar kita, kenapa tidak kita mulai saja. Ya, kita mulai sejak sekarang untuk memanfaatkannya. Untuk itu, di sini ketika kita mulai berpikir tentang bagaimana mengkreasikan sesuatu maka kecerdasan dan kecepatan dalam merespon yang terjadi di sekitar kita harus diasah dan diujicobakan. Dan ingat, jangan pernah merasa takut untuk sebuah kegagalan.

Saya ingat kata Mao Tze Tung pemimpin komunis Cina. Dulu ia pernah mengatakan bahwa kegagalan adalah ibu kesuksesan. Sekali terjatuh maka semakin cerdaslah ia untuk dapat menemukan jalan keluarnya dalam meraih kesuksesan.

Salam sukses,

Ribuan Buruh Menangis di Negeri Buruh

Kalau saja bukan engkau, negeriku
ngilu hati mungkin tak kuat kami tahan

Kalau saja bukan engkau, negeriku
tangis kami mungkin tak akan pernah kami pendam
dalam kepiluan kami

Kalau saja bukan engkau, negeriku
siapa lagi kiranya kami akan menyandar
nasib kami
pertaruhan hidup mati kami
dan semuanya
mungkin tak lagi mampu kami hitung lagi
hanya kami sembahkan untukmu, negeriku

Kalau saja bukan engkau, negeriku
peluh kami mungkin tidak akan pernah kukuras

Kalau saja bukan engkau, negeriku
akan banyak air mata yang akan kami tumpahkan
karena sedihnya kami
karena kami tak lagi mampu membendungnya

Kalau saja bukan engkau, negeri

Hari Buruh.....Di Negeri Buruh.....






Happy May Day, 1 May 2008
Semoga Buruh di Indonesia tidak nangis lagi....amin....

Jaksa Agung Masih Akan Bahas SKB Mengenai Ahmadiyah

Semarang, Maraknya aksi protes beberapa Ormas yang menginginkan pembubaran Ahmadiyah ditanggapi serius oleh Kejagung. Hal ini dibuktikan dengan adanya pembahasan SKB (Surat Keputusan Bersama) yang menyoal keberadaan Ahmadiyah yang dilakukan dengan bersama Polri, Departemen Dalam Negeri, Kejaksaan Agung dan Departemen Agama. Menurut Jaksa Agung Hendrawan Supanji, saat ini SKB tersebut masih dalam pembahasan. Ia menjelaskan, pemerintah tidak ingin tergesa-gesa dalam memutuskan pembubaran Ahmadiyah. Mengingat, hal tersebut bisa saja bersinggungan dengan tata aturan hukum yang berlaku.

"Kami tidak ingin ini akan bertentangan dengan amanat UUD." jelasnya.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai kemungkinan pembubaran Ahmadiyah yang diharapkan akan mencapai pada akar rumputnya, Hendrawan Supanji belum berani memastikan. Namun demikian, ia berharap SKB tersebut nantinya akan dapat membuat semua kalangan terpuaskan. "Sebenarnya kami sudah merencanakan akan dapat merampungkan SKB tersebut minggu ini. Bahkan hari ini sebenarnya saya sudah menjadwalkan pembahasan SKB ini. Tapi, karena saya ada acara di sini maka pembahasan SKB ini akan dilanjutkan beberapa hari kedepan." ungkapnya.

Selain itu, Hendrawan Supanji juga menghimbau kepada semua pihak terutama ormas untuk menahan diri dan tidak melakukan aksi main hakim sendiri. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Jaksa Agung Resmikan Kantin Kejujuran Nasional di Semarang

Semarang, Kedatangan Jaksa Agung Hendrawan Supanji hari ini di Semarang untuk meresmikan Kantin Kejujuran disambut aksi puluhan massa dari beberapa elemen masyarakat di antaranya AMPUH (Aliansi Masyarakat untuk Penegakan Hukum), KAMMI Kota Semarang, dan BEM Se-Jawa Tengah. Puluhan massa ini datang bergantian dan melakukan aksi di depan pintu masuk SMA Negeri 3 Semarang yang menjadi tempat digelarnya kegiatan Kantin Kejujuran tersebut. Beberapa dari mereka juga mencoba untuk masuk ke dalam acara tersebut namun dihalau oleh satuan Dalmas Polwiltabes Kota Semarang.

Sementara itu, kehadiran Jaksa Agung Hendrawan Supanji yang direncanakan akan hadir pada pukul 13.00 terpaksa harus diundur hingga pukul 15.45 waktu setempat. Hal ini dikarenakan banyaknya agenda yang dilakukan Jaksa Agung yang dilakukan di Semarang.

Dalam pencangan Kanti Kejujuran ini Jaksa Agung kembali mengingatkan, "Pemberantasan korupsi tidak cukup dengan melakukan penindakan terhadap tindak korupsi, namun juga harus dibarengi dengan upaya serius dari semua pihak untuk bersama-sama mencegahnya. Salah satunya dengan pencangan Kantin Kejujuran ini."

Di sisi lain, Ketua Karang Taruna Jawa Tengah Putut Yono Baskoro menjelaskan, "Kegiatan ini memang sengaja lebih diprioritaskan untuk pelajar SMP dan SMA. Hal ini sebagai upaya untuk membelajarkan masyarakat mengenai pendidikan tanggung jawab dan moral kepada masyarakat umum."

Sementara terkait pendanaan, Putut kembali menegaskan, untuk sementara waktu Karang Taruna masih mengandalkan dana kas yang dimiliki organisasi kepemudaan ini. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan meminta dukungan dari semua pihak tidak terkecuali pemerintah provinsi Jawa Tengah. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

500 Karyawan PT. KAI Daop IV Semarang Rencanakan Gelar Aksi Peringati Mayday

Semarang, Serikat Pekerja PT. KAI rencanakan akan gelar aksi besar-besaran dalam memperingati hari buruh sedunia yang jatuh besok pada 1 Mei 2008. Dalam aksi ini sebagaimana dikemukakan oleh Ketua Serikat Pekerja PT. KAI Daerah Operasi IV Semarang Warsono, akan melibatkan sekitar 500 orang karyawan. Rencananya, aksi ini akan dipusatkan di Stasiun Poncol dengan menggelar aksi damai di kawasan tersebut.

"Kami yang tergabung dalam Serikat Pekerja PT. KAI ini akan melakukan pembersihan di lokasi Stasiun Poncol. Hal ini sekaligus sebagai upaya optimalisasi kinerja karyawan untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Di samping itu, hal ini kami tujukan pula sebagai upaya kami untuk dapat menggugah dan memberikan stimulus kepada pihak manajemen untuk dapat lebih memperhatikan kesejahteraan karyawan." ujar Warsono. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

29 April 2008

Pedagang Pasar Ngaliyan Tagih Janji Pemkot Semarang

Semarang, Kebakaran yang melahap 12 kios di pasar Ngaliyan Semarang, telah menyebabkan beberapa pedagang terpaksa menggelar dagangannya dengan lapak-lapak sederhana. Sejumlah pedagang mengeluhkan, upaya perbaikan yang dijanjikan pemerintah kota Semarang tidak kunjung juga terrealisasikan. Padahal, beberapa pedagang sudah lama menunggu realisasi perbaikan tersebut.

Namun peristiwa nahas dua hari yang lalu, kiranya telah menjadi pelajaran pahit bagi semua pihak. Terutama bagi pemerintah kota Semarang yang sampai saat ini sebagaimana diungkapkan Sunarti, salah satu pedagang di pasar Ngaliyan kurang serius dalam penanganan permasalahan perbaikan pasar. Bahkan terkesan main-main.

Di sisi lain, peristiwa terbakarnya pasar Ngaliyan ini juga telah membuat sebagian pedagang menderita kerugian. Iwan Tripurnomo misalnya, ia mengaku akibat peristiwa tersebut ia menderita kerugian materi sekitar 200 juta lebih. Bahkan ia mengaku, untuk membuka kembali usaha yang sudah rintisnya sejak tahun 1985 ini ia tidak memiliki kemampuan modal untuk dapat mengembalikannya seperti sediakala.

Namun demikian, terkait penyebab terjadinya kebakaran tersebut kini di tengah-tengah masyarakat berkembang pula indikasi mengenai keterkaitan dengan proyek pelebaran jalan yang direncanakan oleh pemerintah kota Semarang. Sunarti (45 tahun) mengaku "Sehari sebelum kebakaran, kami sudah sepakat untuk mengadakan rapat membahas mengenai pelebaran jalan. Sebenarnya kami tidak keberatan jika kami harus kena pelebaran jalan, kami tidak keberatan. Tapi sebelum rapat itu jadi, tahu-tahu sudah kebakaran dulu. Katanya karena gangguan listrik."

Hal senada juga diungkapkan Iwan (35 tahun) "Kalau kami harus pindah tidak masalah. Hanya saja kami ingin pemerintah kota Semarang kasih ganti rugi yang tidak memberatkan kami untuk buka usaha lagi. Kalau karena arus pendek, dan instalasi listrik yang terpasang di kompleks pasar ini saling menyambung itu sudah umum. Dimana pun sama."

Namun di sisi lain, Kepala Dinas Pasar Kota Semarang Tomi Yarmawan menyangkal hal tersebut. Dia justru menyatakan bahwa kejadian tempo hari tidak ada unsur rekayasa dan lebih dikarenakan adanya unsur ketidaksengajaan atau kecelakaan. Untuk itu, ia meminta agar masyarakat tidak menyangkut-pautkan persoalan ini dengan masalah pelebaran jalan. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

PT. KAI Daops IV Beri Dana Pensiunan Kepada Karyawan Eks-PNS

Semarang, PT KAI Daerah operasi IV Semarang hari ini memberikan dana pensiun kepada pensiunan karyawan PT. KAI (Persero) eks PNS. Menurut Kepala Daerah Operasi IV Semarang PT. KAI (Persero) Edi S Jokosewoyo, pemberian dana pensiun ini sekaligus sebagai upaya penyesuaian terhadap pendapatan tunjangan PNS sebagaimana diamanatkan dalam PP no. 64 tahun 2007. Mengingat selama ini pendapatan dari dana pensiun dan jaminan kesehatan untuk karyawan PT. KAI tergolong rendah dibandingkan dengan standard minimum pendapatan PNS.

Untuk itu, dalam pemberian dana pensiunan ini pihak PT. KAI menggandeng PT. Taspen dan PT. Askes sebagai partner dalam upaya yang dilakukan ini. Adapun menyangkut jumlah total dari karyawan eks PNS PT. KAI yang telah memasuki masa pensiun saat ini sudah mencapai 1800 orang lebih. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

26 April 2008

PNS Di Bawah Bayang-bayang Sang Pimpinan

Semarang, Tetap optimis biarpun kabar miring menerpa. Demikian kira-kira kesan yang saya tangkap ketika menemui salah satu calon Gubernur yang akan maju dalam pilgub Jateng 2008 kali ini, Sukawi Sutarip. Meskipun tidak dapat memprediksikan perolehan suara yang akan dikantonginya sebagai bekal untuk melaju ke kursi no.1 Jawa Tengah ini, ia tetap bersemangat. Bahkan, saking bersemangatnya, ia pun masih terus menjalankan aktivitasnya sebagai Walikota Semarang yang saat ini masih dijabatnya. Padahal, pengumuman mengenai penetapan calon gubernur sudah diumumkan oleh KPU Provinsi Jawa Tengah tanggal 24 April yang lalu. Namun ia tetap berdalih, "Soal cuti sudah saya ajukan kepada Pak Gubernur bulan lalu. Namun, baru akan saya jalani mulai tanggal 6 Mei mendatang."

Namun demikian, beberapa kalangan terutama pakar politik menilai, hal tersebut dapat menimbulkan kecurigaan akan adanya kecurangan. Karena, tidak menutup kemungkinan bagi kepala daerah untuk menggunakan jabatannya untuk menekan anak buahnya.

Di sisi lain, komitmen panwas Jateng akan juga berhadapan langsung dengan masalah tersebut. Sriyanto Saputro, Ketua panwas Jateng mengingatkan, "Kami akan terus melakukan upaya pemantauan terhadap adanya kemungkinan kecurangan tersebut. Soal netralitas PNS akan terus menjadi prioritas kami. Mengingat beberapa calon ini merupakan tokoh-tokoh populis yang memiliki posisi yang cukup berkekuatan besar." [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Pengajaran Bahasa Jepang DI Sekolah Belum Maksimal

Semarang, Jika Anda adalah orang yang tertarik untuk mempelajari bahasa asing, bahasa Jepang merupakan bahasa asing yang cukup memberikan peluang besar bagi Anda terutama yang bergerak di bidang bisnis otomotif. Karena seperti kita ketahui negara matahari terbit ini, merupakan negara yang mampu menghasilkan produk-produk otomotif yang cukup besar. Bahkan, duniapun mengakuinya.

Saat ini beberapa sekolah khususnya SMA kini mulai menerapkan pengajaran bahasa asing khususnya bahasa Jepang kepada siswa-siswinya. Hal ini menjadikan kesempatan bagi kita terbuka kian lebar untuk dapat melebarkan sayap. Untuk itu, beruntunglah Anda jika saat ini masih duduk di bangku sekolah dengan seragam putih abu-abu ini. Paling tidak, masih memiliki kesempatan yang lebih banyak lagi untuk dapat memperdalam pengetahuan Anda dan mengasah keterampilan barbahasa Jepang Anda.

Namun demikian, kendala terbesar dalam pengajaran bahasa Jepang ini sebagaimana diungkapkan Saito Mami (Japan foundation) terutama menyangkut metode pengajaran yang diberikan kepada siswa yang dinilai belum cukup menyentuh pada kemampuan mereka. Hal ini sangat disayangkan, mengingat saat ini regulasi atau kebijakan pemerintah tentang pendidikan agaknya lebih memberikan kelonggaran yang lebih lebar bagi pengembangan pengajaran bahasa asing.

Di sisi lain, Saito Mami juga menengarai adanya kemampuan guru bahasa Jepang di Jawa Tengah dan DIY sendiri yang saat ini mencapai jumlah 200 orang dinilai belum cukup memadahi. Padahal, sebagaimana kita ketahui guru merupakan tonggak dasar keberhasilan pengajaran. Untuk itu, wajar jika kemudian Saito menilai, pemerintah Indonesia belum benar-benar dapat menyiapkan perangkat-perangkat pendidikan yang cukup kuat. Baik dari perangkat lunaknya atau sistemnya dan perangkat kerasnya.

Bahkan Saito Mami sendiri mengaku, "Saat ini kemampuan guru bahasa Jepang di Indonesia jauh dari cukup. Bahkan, beberapa guru ini belum memiliki metode tepat dalam memberikan pengajaran bahasa Jepang." Alangkah sayangnya. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

23 April 2008

70 Hektar Kawasan Pantai Di Semarang Diserobot Swasta

Semarang, Rencana pemerintah Kota Semarang untuk mereklamasi kawasan pantai di sepanjang pantai antara muara banjir kanal Barat dan Kali Asin agaknya akan mengalami jalan panjang yang cukup renik. Hal ini dikarenakan lahan yang sedianya dijadikan disposal area (area pembuangan sedimen dan tanah uruk) seluas 112 hektar ini telah diserobot pihak swasta. Padahal, sebagaimana dikatakan oleh Kepala Bappeda Kota Semarang M. Farchan, penentuan lokasi tersebut sudah hasil keputusan akhir yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Sehingga hal tersebut akan sangat menghambat penyediaan lahan yang dijanjikan tersebut.

Diperkirakan luasan lahan yang disediakan untuk disposal area ini akan dapat menampung 390 ribu meter kubik tanah uruk lebih. Untuk itu, pihak pemerintah kota Semarang sangat menyayangkan langkah yang diambil Pelindo 3 Semarang terkait kontrak yang ditandatangani bersama dengan pihak swasta yang mengelola lahan tersebut dengan tanpa sepengetahuan pemerintah Kota Semarang.

"Kami akan meminta pertanggungjawaban dari pihak Pelindo dan perusahaan swasta tersebut serta instansi-instansi terkait dalam menyelesaikan sengketa lahan ini. Mengingat batas akhir penyediaan lahan yang ditargetkan dalam proyek pengerjaan normalisasi sungai dan pembangunan waduk Jatibarang harus selesai bulan Mei mendatang." ujar M. Farchan.

Menuju Sukses bag. 4

Memikirkan sesuatu yang 'kecil' untuk sebuah hasil yang luar biasa mungkin jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah kita coba untuk melakukannya. Namun memikirkan tentang sesuatu yang besar tanpa kita pahami hasilnya justru lebih sering kita lakukan. Kenapa demikian?

Mari kita telanjangi pikiran kita satu per satu. Mengupas setajam apa pikiran kita untuk menemukan hakikat besar dan kecil.

Einstein-saya kira kita sudah kenal semua siapa dia-adalah salah satu contoh kasus dari sekian banyak umat manusia yang memiliki hal yang sangat luar biasa. Dialah orang yang sangat konsisten terhadap pola pikirnya. Memikirkan sesuatu yang kecil bahkan paling kecil. Namun hasilnya, sangat dahsyat. Dengan kesungguhannya ia berpikir mengenai atom yang jelas kita tidak pernah dapat mengetahuinya dengan mata telanjang. Namun temuannya mengenai teori atom ini amat sangat luar biasa. Bahkan, dalam perang dunia II Einstein menjadi idola dalam dunia persenjataan yang serba canggih pada masa itu. Hal inilah yang kemudian membuat nama Einstein mulai diperhitungkan di dunia.

Namun hal tersebut tidak terjadi pada tokoh yang satu ini. Yang kita kenal sebagai penguasa diktaktor di zaman keemasan bangsa Nordik. Ya, dialah Hitler. Dalam beberapa hal dia justru memikirkan sesuatu yang besar, menghitung-hintung seberapa luas jangkauan kekuasaannya. Dengan susah payah ia mencoba mendoktrinasi seluruh pengikut setianya. Semula memang hampir bisa dikatakan berhasil. Namun tampaknya usaha Hitler justru hanya buang-buang keringat dengan percuma saja. Kediktaktorannya justru membuatnya kerdil di mata dunia bahkan di mata pengikutnya sendiri. Mengingat ketika ia hampir mencapai puncak, ia justrui ketakutan badai akan segera datang dan menggulung jangkauan kekuasaannya. Dan benar saja, semakin luas wilayah kekuasaannya, semakin besar badai yang siap menggulungnya. Lawan-lawan politiknya kemudian bersegera menghamburkan badai amuk di hadapannya. Menumbangkan kekuasaan yang dimiliki tokoh dengan kumis yang hanya sejengkal ini. Walhasil, Hitler terpaksa harus tumbang dengan tanpa membawa nama harus diakhir penghormatan terakhirnya.

Dari kedua contoh tersebut memang mungkin hanya sebuah kebetulan dari sebuah fakta sejarah masa lalu. Namun dalam beberapa hal sebenarnya hakikat makna besar dan kecil dapat kita buktikan dengan percobaan kecil dengan mengadopsi hukum tekanan ala fisika. Mari, kita bikin percobaan kecil...

Ketika kita meletakkan sebuah papan kayu di atas permukaan air dengan posisi horisontal atau sejajar dengan permukaan air, maka yang terjadi adalah papan tersebut hanya akan mengapung di atas permukaan air. Namun ketika meletakkannya dengan posisi tegak lurus terhadap permukaan air atau vertikal, maka sebatang papan itu akan cepat meluncur ke dalam air.

Apa maknanya? Dari percobaan ini sebagaimana disebutkan dalam hukum tekanan fisika, dalam percobaan pertama, tekanan yang dihasilkan oleh papan ini cenderung merata. Hal ini dikarenakan adanya kesejajaran tekanan papan dengan masa jenis air. Sehingga dengan cakupan yang luas tersebut, papan tersebut bahkan hampir dapat dikatakan tidak memiliki tekanan terhadap air. Namun pada percobaan kedua, tekanan besar yang dihasilkan oleh papan mampu menembus air karena antara tekanan dan masa jenis air saling beradu dan berbanding terbalik. Hal inilah yang memudahkan papan tersebut untuk dapat meluncur dengan lancar ke dalam air. Selain itu, ketika papan tersebut diletakkan dengan posisi vertikal ini, tekanan papan akan cenderung lebih fokus pada satu titik.

Dalam pengertian kesuksesan, dapat diartikan pula bahwa dengan kita memfokuskan pada suatu bentuk usaha yang lebih serius, biar kecil sekalipun, itu akan dapat membuahkan hasil yang maksimal. Dan ingat, ketika usaha kecil kita mampu berbicara dan memberikan tekanan besar kepada orang disekitar kita agar lebih dapat memanfaatkannya, maka saat itu kita akan lebih dapat mengendalikan mereka dengan lebih memfokuskan pada jasa yang kita berikan kepada mereka. Semakin kecil usaha kita semakin dibutuhkan pula oleh orang banyak. Karena dengan ukuran kecil ini orang akan semakin mencari.

Dan ingat pula beberapa kitab suci dalam agama manapun juga telah mengatakan bahwa sesuatu yang kecil dan sederhana justru kadang lebih memiliki manfaat yang lebih besar dari sesuatu yang besar. Mau bukti?

Sari pati tanah. Dari sari pati tanah ini muncullah sebuah penciptaan yang Maha Dahsyat. Manusia.

Demikian tulisan saya, semoga bermanfaat. Saya harap mulai sekarang mari kita sama-sama memikirkan sesuatu yang sekecil-kecilnya, sesederhana mungkin dan jangan sampai terlewatkan. Sebab, suatu waktu kita memang lebih membutuhkan yang kecil. Namun dengan kecilnya ukuran ini bukan berarti kita abai dengan penentuan langkah pasti kedepan. Oke? Semoga hari kita selalu sukses...amin.....

Doa Seorang Koruptor

'ssstt...istriku sedang tidur...
Tuhan, tolong jangan Engkau tegur aku
dalam hentakan halilintar
aku takut istriku segera bangun
karena aku tak tega melihat ia
dengan janin dirahimnya ikut terbangun'

'sekali ini Tuhan,
jangan Engkau kirim aku
sepasukan orang berseragam
lengkap dengan pistol dan borgol
gedor rumahku
sebab, aku tengah menunggui istriku
terbangun pagi nanti
agar dapat aku minta ia izinnya
besok pagi aku tidak dapat menemaninya
tak perlu banyak kata
izinku cukup terwakili dengan borgol
di pergelangan tanganku
dan sebandel uang di loker
serta beberapa nomor rekening
cukup pula untuk membahasakannya'

'dan satu hal lagi Tuhan,
aku ingin Engkau bisiki saja aku'

[Ribut Achwandi_Komunitas Godhong]

22 April 2008

Rindu Duri






























rindu duri
setapak
malam kelam
dering lonceng
kleneng
ada burat jingga
di langit
engkaukah
yang datang
rindu duri
mata lelap
kesenyapan
menyapa
entah angin
ataukah embun pagi
rindu duri
ada yang tak lengkap
sarapan pagi
panggang roti
dan daging berlumur mentega
siapakah yang tengah melenyapkannya
oh rinduku
berduri

[Ribut Achwandi_Komunitas Godhong]

Distribusi Soal Ujian Nasional Hampir Terlambat

Semarang, Hari pertama pelaksanaan ujian nasional Kota Semarang sempat ditemukan adanya ketersendatan distribusi naskah soal ujian ke sekolah-sekolah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang anggota Tim Pemantau Independen Hani Nur Tasqiyah dikarenakan adanya ketidaksiapan dari panitia penyelenggara di tingkat sub rayon khususnya di sub rayon 3 Kota Semarang yang bertempat di SMA Negeri 6 Semarang.

"Ketika pengambilan naskah soal ujian, ternyata di sub rayon ini belum disiapkan. Jadi petugas yang ditugasi untuk mengambil soal terpaksa harus menunggu." kata Hani.

Namun demikian, hal tersebut tidak menghambat jalannya ujian di sekolah-sekolah. Bahkan pelaksanaan ujian sesuai dengan jadwal semestinya. Meskipun demikian, hal tersebut sebagaimana diungkapkan Hani, sebagai kesalahan yang dapat berakibat fatal jika terjadi dalam waktu yang lama.

Sementara itu, ketika ditemui di tempat lain, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Sri Susanto menanggapi persoalan tersebut dengan enteng. Dia mengakui hal tersebut memang kesalahan dari panitia sub rayon, namun demikian dia tetap mengungkapkan hal tersebut seharusnya bukan menjadi hal yang dibesar-besarkan. Mengingat pelaksanaan ujian tetap lancar.

"Itu kami sudah melakukan instruksi kepada setiap ketua sub rayon untuk mempersiapkan naskah soal ujian sehari sebelum pelaksanaan. Jadi kalau hal itu terjadi itu semata-mata kesalahan teknis lapangan. Tapi pada kenyataannya kan tidak mengganggu jalannya ujian kan?" katanya dengan senyumnya yang khas.

Hari pertama ujian nasional di Kota Semarang ini diikuti oleh semua peserta ujian. Dari hasil pantauan Trijaya ke beberapa sekolah di Semarang, semua siswa di setiap sekolah pada hari pertama ini tampak memenuhi ruangan ujian yang disediakan. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Kejujuran Itu Mahal Harganya

Kejujuran di negeri ini memang harus diakui sudah menjadi barang yang sangat mahal harganya. Ia kemudian seolah menjadi barang antik yang menyimpan berbagai keunikan. Sebab, kejujuran sudah terlalu langka untuk dapat ditemukan di negeri ini. Mari kita melihat sebentar pada sebuah kenyataan yang ada. Bayangkan dan coba pikirkan, di negeri ini untuk menjamin kerahasiaan dan mengantisipasi kebocoran soal ujian, dinas pendidikan kita terpaksa harus 'sewa' polisi untuk melek selama 24 jam hanya untuk menunggui tumpukan kertas soal. Jelas, ini tidak murah ongkosnya. Namun kenapa hal ini harus dilakukan, lebih-lebih untuk sebuah tujuan mulia negeri ini yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa ini?

Saya jadi berpikir, untuk sebuah tujuan pendidikan saja, kejujuran ternyata susah ditemukan. Lantas bagaimana dengan yang lain?

Jangan-jangan, memang bangsa ini memang sudah tidak mampu mendidik atau justru sebaliknya tidak mau dididik tentang kejujuran? Karena, untuk lembar-lembar soal saja pemerintah harus bayar mahal dengan menugasi polisi untuk bergadang menunggui soal-soal. Kasihan polisi juga kan? Tentu, ia juga punya keluarga yang lebih membutuhkannya. Keluarga yang menginginkan kehangatan dengan kehadirannya di tengah-tengah mereka lebih-lebih setekah jam kerja. Apa kita tidak kasihan pula kalau suatu waktu nanti itu polisi terserang penyakit. Siapa yang akan menggantikan tugasnya sebagai seorang kepala keluarga? Anda? Tentu, tidak bukan? Nah, saatnya yuk kita jujur....

Saya yakin, kita mampu kok belajar jujur dari pada belajar untuk tidak jujur. Sebab, ketidakjujuran itu sudah tidak patut untuk dipelajaro lagi. Itu ilmu kuno. Bahkan itu sudah sering kali kita hafalkan benar. Setiap hari kita sudah langsung praktik tanpa teori. Saya tidak akan menuduh siapa-siapa. Sebab dengan menuduh itu sama artinya kita tidak jujur. Nah, ayo semuanya....mari kita ulang pelajaran membaca kita dari awal kita mengenal bangku sekolah. Sebab, ketika kita mulai belajar mengeja ada sebuah ketulusan di sana.... Anda mau kan belajar jujur?

Tentang Sebatang Rokok

kreket....kreket....
dompet kumal ku buka
selembar uang ku tukar
dengan kematian
sebungkus rokok,
korek api,
sisanya permen dan air mineral
satu botol

kresek...kresek....
ku buka segel plastik
berbenang merah warnanya
set....
satu batang rokok
aku hunus dari bungkusnya

lalu,

jres....
nyala api menyambut
kretek...kretek....
asap pertama
mengepul

'siapa kira
kita akan dipertemukan lagi' katamu

'ah, biasa sajalah
mumpung hari belum
terlalu menyeret matahari
hingga memaksanya tak menyembul lagi'

'apa kabar dunia?
kau dengat kabarnya hari ini?' tanyamu

'aku dengar
dunia tak lagi bersuara'

'kata siapa?' aku balas tanya

'banyak orang membungkamnya
dunia tak boleh membeberkan
rahasia Tuhan' katamu

'sebab
sekali terbongkar,
musnahlah kehidupan
dan
manusia tak lagi punya pekerjaan'

'bukankah manusia sedang sibuk
mengorek rahasia Tuhan?' tanyaku

'mereka sedang sibuk
mengakui dirinya benar
mereka sibuk berkampanye
tentang kebenaran versi mereka sendiri
mereka sibuk membungkam kesaksisan dunia'

'lantas kemana Tuhan?'

'Tuhan....?
Tuhan jadi barang jualan manusia
mereka seolah bertempur
atas nama Tuhan
tapi siapa yang tahu
mereka tak sedikitpun menghamba'

'dosa....ini dosa!!'

'dosa?
mereka sudah beragama
kata mereka tak perlu takut
dosa kalau sudah beragama'

'sesat...kau sesat, kawan!'

'aku hanya sedang sakau
ah, kau tak ubahnya mereka
bukankah kesesatan milik mereka
yang mengaku ber-Tuhan
tapi tak mampu temukan jalan
kembali pulang pada-Nya?'

'jangan terlalu sumbar, kawan
nikmati saja rokokmu
dan mari kita lihat
sebentar lagi drama kehidupan
akan semakin ramai'

'lihat!'

'pasar malam segera dibuka
manusia berjualan Tuhan
di sana
mereka juga mengobral surga
diskon 80 persen katanya
dan semua jenis eloknya surga
dipampang di sana'


Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

21 April 2008

Secangkir Kopi

secangkir kopi
sebatang rokok
berlabuhlah aku
dalam gelisah

secangkir kopi
pagi yang ditemani
jelaga mendung
masih ada tanya
yang tak kunjung ku jawab

kopi mengendap
lambat laut debulah ia menjadi
merupa dalam pekat
tanah yang menggeliat
oleh sapuan angin
dan hujan turun
tanah becek
ada darah segurat
dalam alir air hujan
siapa terbunuh?
kopi pahit tumpahlah ia
di meja ruang tamu
segerombol orang mencaci
lalu menghakimi
'Dia sesat!'
kata mereka
lalu menyeretku
dan membanting cangkir kopi
secangkir kopi imanku
tak lagi bicara
pahit berganti asin
darah mengucur dari hidung
aku sebentar lagi mati
demi secangkir kopi

Antara Tuhan dan Agama

Kalau saja saya boleh memilih,
antara Tuhan dan Agama
maka aku lebih memilih Tuhan
Sebab,
Tuhan tunggal
dan Agama terlalu banyak buatku
Agama terlalu memberikan penafsiran
yang berbeda tentang Tuhan
tapi pada dasarnya
memiliki ajaran tunggal
tentang kebaikan

Kalau saja saya boleh memilih,
antara Tuhan dan Agama
mungkin aku lebih ingin berdekatan dengan Tuhan
sebab, berdekat dengan agama
hanya membawa debat
yang tak pernah selesai
bahkan hanya berbuah tudingan

Ah, andai saja tidak ada agama
mungkin Tuhan tidak seprimadona sekarang ini
ahmadiyah dicerca
MUI kalang kabut
dan semua ikut mengomeli

siapa salah?
Tuhankah?
Aku?
Kamu?
Mereka?
atau semuanya?

mungkin tidak akan ada dalam soal ujian nanti
kenapa harus aku tanyakan?
bodoh....
dan Tuhan pun tidak pernah keluar dalam soal ujian kok...
sebab ujian hanya rekayasa formulasi kecerdasan otak manusia
dan jika memakai otak,
Tuhan tidak dapat terejawantahkan
yang ada hanya bantahan

ah,
Tuhan....
Mungkin saat ini Ia sedang tertawa

Amankan Soal Ujian, Diknas Kota Semarang Tugaskan Polisi

Semarang, Ujian Nasional yang baru akan diselenggarakan mulai besok dipastikan aman dari kebocoran soal. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Sri Susanto, pihaknya telah melakukan sistem pendistribusian naskah soal ujian ini dengan sistem tertutup. Di dalam sistem ini sebagaimana dijelaskan Sri Susanto, pendistribusian hanya akan dilakukan hingga ke sub-sub rayon penyelenggara Unas. Sedang untuk dapat disalurkan ke sekolah-sekolah, dinas menginstruksikan agar setiap sekolah untuk menunjuk satu orang petugas yang ditugaskan untuk mengambil dan mengembalikan soal. Pendistribusian soal ke sekolah ini baru akan dilakukan mulai besok dengan disesuaikan penjadwalan ujian.

Selain itu, untuk menjamin kerahasiaan dan keamanan naskah ujian ini Dinas Pendidikan Kota Semarang juga telah mengkoordinasikannya dengan pihak kepolisian. "Kita sudah koordinasikan dengan aparat kepolisian dan pengiriman naskah dari provinsi sampai ke sekolah pun menggunakan mobil box yang sangat-sangat aman. Jadi jangan khawatir akan kemungkinan kebocoran soal." tandasnya yakin.

Sementara menyangkut pelaksanaan teknis ujian nasional itu sendiri, Sri Santoso mengungkapkan, bagi siswa yang belum dapat mengikuti ujian, pihaknya akan memberikan peluang bagi mereka dengan mengadakan ujian susulan. Sementara untuk mereka yang masih menjalani rawat inap di beberapa rumah sakit, pihaknya juga telah mengkoordinasikannya dengan beberapa rumah sakit terkait agar siswa tersebut dapat melakukan ujian nasional tersebut di rumah sakit tempat mereka menjalani rawat inap. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Pemkot Semarang "Nyerah", Rob Tak Kenal "Lelah"

Semarang, Penanganan rob dan banjir yang dilakukan pemerintah Kota Semarang hingga kini belun juga membuahkan hasil yang cukup menggembirakan warga. Bahkan muncul adanya anggapan pemerintah Kota Semarang tidak serius dalam menangani bencana yang terus menjadi langganan warga pinggiran kota Semarang, terutama yang tinggal di kawasan pesisir utara Semarang. Bahkan saking tidak sabarnya mereka menunggu ketidakpastian upaya pemerintah Kota Semarang ini, beberapa perwakilan warga kelurahan Kuningan hari ini kembali mendatangi kantor lurah Kuningan. Mereka merembugkan persoalan bantuan material yang telah mereka terima yang dinilai kurang dapat memenuhi kebutuhan peninggian talut di kawasan Kali Asin yang beberapa waktu lalu sempat menumpahkan luberan air pasang tersebut.

"Bantuan 3 dam truk pasir dan karung plastik kemarin yang dari DPU itu hanya mampu meninggikan talut di sekitar Kali Asin sepanjang 50 meter saja. Untuk ketinggiannya saja hanya 20 cm. Padahal, panjangnya talut di Kali Asin ini mencapai 700 m dan tinggi idealnya 50 cm." kata Lurah Kuningan, Sumardi.

Selama ini upaya peninggian talut sebagai upaya untuk menanggulangi datangnya luberan rob ini terus dilakukan secara swadaya. Beberapa warga bahkan dengan bergotong-royong mengumpulkan dan membangun talut dengan bahan seadanya. Bahkan, upaya mereka ini tidaklah main-main sebagaimana yang dijalankan pemerintah Kota Semarang. Mereka justru dengan kesederhanaan pola kerja ini telah mampu membuahkan peninggian talut sepanjang 210 meter.

"Kalau menurut saya, penanggulangan rob ini seharusnya ada upaya pembangunan total. Artinya, di muara Kali Asin ini harus ditutup dengan menggunakan pintu air dan dipasang pompa air. Ya, warga cuma bisa menunggu realisasinya saja." kata Sumardi.

Namun di sisi lain, penilaian terhadap upaya pemerintah kota Semarang masih bernada sumbang. Bahkan, terkesan pemerintah Kota Semarang telah main lempar tanggung jawab kepada pemerintah pusat dalam menangani masalah rob ini. Menurut Ketua LPMK Kelurahan Kuningan Semarang, Kristanto, "Penanganan masalah rob ini seharusnya tidak mengabaikan pula masalah-masalah sosial dan budaya masyarakat yang merupakan imbas dari penanganan rob yang tidak pernah jelas ini. Pemerintah Kota Semarang seharusnya mampu membaca realitas sosial masyarakat yang hidup di dalam kubangan rob ini. Mereka tidak lagi mampu melakukan aktifitas sehari-harinya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hal ini seharusnya juga dipikirkan. Bukan malah mengatakan ini adalah masalah nasional." [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Semarang Ditarget 100 Medali Emas dalam PORDA

Semarang, KONI Kota Semarang janjikan 100 medali emas akan dapat diraih atlet kontingen Semarang dalam penyelenggaraan PORDA mendatang. Hal tersebut disampaikan Bambang Wuragil, Ketua KONI Kota Semarang di sela-sela acara rapat koordinasi dan konsultasi pengurus KONI Kota Semarang beberapa waktu lalu. Dengan yakin ia menyebutkan, "Semarang memiliki 250 atlet lebih yang tengah dibina KONI Kota Semarang. Untuk itu, target 100 medali emas dalam PORDA saya yakin bukanlah sesuatu yang berlebihan. Ya, kalau tidak 100, 85 juga bolehlah."

Di lain hal keyakinan Bambang ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya. Terutama mengenai kembalinya beberapa atlet papan atas asal Semarang yang beberapa waktu lalu berpetualang di beberapa daerah lain. "Ini akan dapat memperkuat perolehan medali emas juga." kata Bambang dengan senyuman yang khas.

Keyakinan Bambang Wuragil ini agaknya mendapatkan dukungan dari ketua KONI Jawa Tengah Joko. Dia menambahkan, "Semarang sampai saat ini merupakan barometer dunia olah raga di Jawa Tengah. Sebab, Semarang merupakan kota yang telah memberikan kontribusi besar bagi pengembangan dunia olah raga di daerah maupun di tingkat nasional."

Namun demikian, ketika dikonvermasi menyoal pendanaan KONI Kota Semarang, Bambang Wuragil tampaknya menampakkan ketidakoptimisannya. Dengan wajah dan tatapan matanya yang agak meredup ia menjelaskan, "Dengan anggaran sebesar Rp 5 milyar ini, KONI Kota Semarang sebenarnya tidak mampu menutup kebutuhan anggaran yang telah direncanakan sebelumnya. Khususnya menyangkut dana insentif untuk atlet yang rencananya baru akan habis pada akhir tahun mendatang. Namun dengan 5 milyar ini, dana insentif hanya akan terpenuhi hingga bulan September. Untuk itu, kami akan mengajukan kembali alokasi anggaran kepada pemerintah kota Semarang untuk dapat menganggarkan pendanaan KONI Kota labih besar lagi. Paling tidak 10 milyar." [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

19 April 2008

Memandang Polemik Ahmadiyah

Kemelut soal ajaran Ahmadiyah akhir-akhir ini kembali mencuat ke permukaan. Bayak kalangan yang kemudian memberikan tudingan 'SESAT' kepada saudara kita jamaah Ahmadiyah. Ada apa sebenarnya di balik ini semua? Masyarakat semakin tidak jelas dan tidak dapat memahami persoalan yang mungkin sengaja dibuatnya semakin keruh ini. MUI sebagai lembaga yang kemudian seolah-olah menjadi otoritas politis religius ini semakin menggencarkan serangannya terhadap aliran ini. Mereka seolah menjadi penentu akhir [Tuhan] tanpa kuasa yang merebut kekuasaan Tuhan yang hakiki dengan memgarisbawahi dan memberi catatan-catatan khusus bagi pengikut Ahmadiyah. Padahal, Tuhan sendiri tidak marah ketika Ia sendiri bahkan diingkari oleh umatnya sendiri. Bahkan dengan sabar Tuhan hanya memberi peringatan kecil dengan firman-Nya.

Saya melihat ada semacam kepentingan politik di sini dan semoga saja anggapan saya ini salah. Kepentingan yang dimainkan oleh elite religius politis yang bernama kalangan Ulama. Entah kepentingan mereka ini apa, saya sendiri susah untuk dapat menjabarkannya sebab, salah-salah kalangan ulama ini nantinya juga akan mencap saya 'SESAT' pula.

Ah, mungkin ulama-ulama yang sedang berkumpul di MUI ini sedang bercanda. Atau justru sebaliknya, mereka masih berupaya mengalihkan perhatian publik dari masalah-masalah yang lebih besar lagi karena 'pesanan' kekuasaan?

Persoalan Tuhan dan Agama memang tidak pernah dapat diselesaikan. Sebab, agama merupakan unsur yang sangat renik dan sangat mikroskopik atau bahkan merupakan unsur yang di luar jangkauan logika dan rasionalitas. Saya kira MUI perlu berpijak pada kearifan keilmuan para ulama ini yang notabene sebagai orang yang memiliki tingkatan keilmuan yang cukup mumpuni. Dan bagi kita sebagai kaum awam, hal terpenting adalah bagaimana kita meneguhkan hati kita dalam meyakini keimanan kita dan mulailah meningkatkan ketaatan dan kecintaan kita kepada Tuhan. Saya kira itu jalan terbaik bagi semua. Pemberian label 'SESAT' sama artinya kita memberi cap pada diri kita menjadi 'SESAT' pula. Sebab, dengan demikian kita akan merasa lebih benas atau bahkan paling benar, paling baik dan itu sudah melanggar hukum Tuhan itu sendiri. Bukankah yang paling Maha Benar adalah Tuhan itu sendiri?

Menuju Sukses bag. 3

Siapa Anda? Siapa saya? dan siapa kita sebenarnya? Pertanyaan itu mungkin tidak pernah dapat terjawab. Karena, kita tidak pernah mencoba mengerti lebih dalam mengenai hakikat diri kita dan untuk alasan apa kita harus hadir di tengah-tengah kehidupan ini. Dalam sebuah buku yang pernah saya baca judulnya "Dunia Shopie" saya temukan sebuah pertanyaan-pertanyaan itu. Dan hal yang paling menarik lagi bagi saya adalah ketika dipertanyakan pula di sana andai saja nama saya bukan Robert Dahlan atau siapa saja, mungkinkah itu saya? Kalau saja saya lahir bukan dari rahim ibu yang saat ini kita kenal sebagai ibu kandung kita, lalu siapakah saya? Atau kalau saja kita dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang bukan keluarga kita seperti saat ini, apakah itu kita? Anda tentu akan menjawab itu bukan saya. Lalu siapa kita sebenarnya? Apakah benar sebelum kita hadir di dunia ini kita sudah ada sebelumnya?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan tadi agak mengganggu pikiran kita. Namun sebenarnya untuk menjawab pertanyaan ini, di sini kita dituntut tidak bermain dalam ranah logika yang terlalu dangkal. Melainkan, pada ranah kecerdasan secara spiritual. Dan dari sana pulalah sebenarnya kita mampu mengawali setiap detik kehidupan kita untuk melakukan semua aktivitas kita. Mungkin Anda saat ini adalah seorang pejabat, atau mungkin seorang gembel sekalipun. Namun persoalannya lebih dititikberatkan pada bagaimana kita mampu memahami diri kita sendiri dengan mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari kita. Status bukanlah ukuran keberhasilan, jabatan bukan sebuah patokan yang dapat membuat kita dikatakan sebagai orang sukses.

Lalu siapa yang dapat dikatakan sebagai orang sukses? Andalah yang mampu menerjemahkannya.

Kethoprak "Putri Cina" Semangat Multikulturalisme

Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional merupakan sebuah momentum besar yang akan segera menjadi sebuah titik balik bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi polemik kebangsaan yang akhir-akhir ini kembali mencuat ke permukaan. Pertarungan politik antar kelompok-kelompok tertentu, pertikaian partai dan masalah bagi-bagi kekuasaan yang tidak kunjung mereda malah menjadi semakin memanas. Hal inilah yang kemudian semakin membuat rakyat tidak percaya kepada pemerintah.

Namun sebenarnya, di balik masalah-masalah tersebut ada sebuah masalah yang lebih penting yang mungkin sampai saat ini tidak pernah ada upaya dari semua pihak untuk menyelesaikannya. Bahkan pemerintah sendiri seolah berpangku tangan terhadap masalah ini. Pemerintah justru lebih memasalahkan hal-hal yang lebih bersifat praksis. Masalah ekonomi, politik dengan mengesampingkan masalah sosial dan budaya yang kemudian terkena imbas dari persoalan-persoalan tersebut.

Beberapa kalangan menilai usaha untuk melakukan pelurusan sejarah dalam hubungannya dengan budaya sangat dibutuhkan sebagai upaya untuk kembali mencari jati diri bangsa ini. Mengingat sejarah budaya bangsa ini semakin hari semakin jauh menyimpang dari fakta-fakta yang ditemukan khususnya hubungannya dengan polemik multikulturalisme antara kutub-kutub budaya yang berbeda yang mau tidak mau harus diakui sebagai pemerkaya khazanah budaya bangsa. Di sisi lain, permasalahan budaya, sejak masa orde baru seolah menjadi masalah yang kesekian. Dengan demikian, masalah-masalah budaya dipandang tidak begitu penting oleh kekuasaan. Padahal, sebagaimana pernah dikatakan oleh Gus Dur, bangsa ini seharusnya dibangun di atas pondasi-pondasi yang kuat bukan pada pembangunan fisik yang lebih menonjolkan aspek rekayasa estetik yang lebih mengesampingkan wilayah filosofis bangsa.

Tampaknya, upaya pelurusan sejarah budaya ini akan semakin menemui kendala besar dari tekanan-tekanan politisi yang mulai bermain dengan kekuasaannya. Namun demikian, secara optimistis kalangan budaya ini tidak pernah menyerah begitu saja. Salah satu bukti yang mungkin dapat dijadikan contoh ialah pementasan kethoprak dengan lakon "Putri Cina" yang merupakan saduran dari novel karya romo sastra Sindhunata yang akan segera dipentaskan di kota nederland kecil, 27 April mendatang. Pementasan yang akan dimeriahkan dengan sederet nama seniman kenamaan sebut saja Marwoto, Kirun, Den Baguse, dan sederet sastrawan papan atas seperti Timur Sinar Suprabana, Triyanto Triwikromo, Darmanto Jatman, Eko Budiharjo, dan sebagainya sepertinya akan kembali menggugah semangat kebangkitan nasional yang akhir-akhir ini mulai surut. Dalam jumpa pers-nya hari kemarin (Jumat, 18 April) Haryanto K. Halim (Ketua Kopisemawis) mengungkapkan, "Rangkaian kegiatan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional ini merupakan sebuah reflkeksi kegelisahan budaya yang akan diaktualisasikan dalam sebuah pementasan dan bedah buku 'Putri Cina' karya Sindhunata. Selain itu, rangkaian kegiatan ini sekaligus sebagai upaya penyadaran masyarakat mengenai semangat multikulturalisme yang akhir-akhir ini mulai surut."

Bahkan Triyanto Triwikromo yang hadir dalam jumpa pers tersebut menambahkan, "Persoalan budaya terutama budaya bangsa ini sebenarnya sejak dulu dibangun atas prakarsa bersama yang mengedepankan semangat kebersamaan. Namun dalam perjalanannya dalam sejarah bangsa ini terjadi gejolak yang tidak dapat dinafikkan lagi, selalu ada korban yang harus dijatuhkan demi kepentingan-kepentingan elite politik. Di dalam Putri Cina, Sindhunata kembali menguak tabir sejarah mengenai perjalanan etnis Cina ini yang selalu dijadikan kambing hitam dalam proses politik. Dengan sentuhan rekayasa estetik, kehadiran etnis Cina selalu dieliminir dan bahkan didiskreditkan di hadapan publik sebagai biang kerok carut marutnya bangsa ini. Padahal, tidak sedikit sumbangan yang sudah mereka berikan terhadap budaya bangsa ini. Salah satu buktinya, berbagai bentuk-bentuk kesenian baik itu tari, seni rupa maupun sastra terkadang atau malah sering kali kita jumpai adanya sentuhan oriental yang terwujud baik dari segi kostum maupun elemen-elemen lainnya.Hal yang demikian seharusnya menjadi sebuah pelajaran penting bagi bangsa ini untuk lebih menghargai sesama. "

Dalam perjalanan panjang sejarah bangsa ini memang harus diakui etnis Cina sering dicundangi. Hal ini dapat dilihat dari pengalaman masa lalu di zaman Brawijaya yang menceraikan istrinya yang notabene seorang putri Cina yang secara tidak langsung juga berpengaruh pada kelangsungan hidup Majapahit selanjutnya. Perebutan kekuasaan yang digerakkan oleh Raden Fatah pun, di dalamnya terdapat wacana mengenai putri Cina ini. Masa penjajahan Belanda, merupakan masa-masa yang sangat pahit bagi pendatang dari jauh ini. Kebijakan pemerintahan kolonial yang mencoba mengkotakkan etnis Cina ini telah melahirkan pertempuran batin yang sengit bahkan ini diwujudkan dalam sebuah tradisi Seton yang diterapkan kalangan kerajaan Mataram Surakarta. Belanda pada masa itu memang telah membentuk pemerintahan yang sedemikian kuatnya. Mereka mencoba memonopoli kekuasaan di segala aspek kahidupan, tidak terkecuali ekonomi. Penguasaan bidang ekonomi ini mau tidak mau telah menautkan masalah-masalah budaya yang dibentuk sedemikian rupa dengan tujuan memporandakan bangunan budaya. Hal serupa juga terjadi ketika masa-masa awal kemerdekaan. Kalangan militer mencoba menyeret pengusaha Cina ke dalam pertarungan politik yang dimotori oleh kekuatan-kekuatan partai. Bahkan, kalangan militer inilah yang kemudian mencoba menjebloskan mereka ke dalam penjara dengan dalih mereka adalah antek-antek komunis koumintang di bawah bayang-bayang Mao. Stigma ini rupanya berhasil dilakukan dan diteruskan sampai masa orde baru yang sedemikian kuatnya. Namun di sisi lain, penguasa orde baru ini juga bermain mata dengan kalangan konglomerat Cina. Ironis memang, namun itulah politik. Di akhir masa era orde baru, etnis Cina kembali menjadi sasaran. Bahkan dengan membabibuta, etnis ini kemudian harus menanggung duka mendalam dari sebuah proses politik yang tidak diketahunya. Bagaimana dengan sekarang?

Saya kira, sudah selayaknya kita mulai berkaca kembali dari sejarah yang carut-marut ini. Dengan demikian diharapkan 'Putri Cina' tidak kembali terpuruk menagis di hadapan perahu Ceng Ho dan meminta sang panglima besar ini untuk mengembalikannya ke tanah asal mereka. Harus diakui etnis Cina merupakan pengelana yang tangguh. Seharusnya pula kita belajar dari mereka. Bahkan dalam sebuah hadist disebutkan "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina." Tentu hadist tersebut memiliki makna mendalam dari sebuah pengalaman nabi Muhammad dan sudah barang tentu pula, Muhammad memiliki alasan yang kuat. Namun kenapa kita tidak pernah mau menggalinya? [Ribut Achwandi_Komunitas Sastra Godhong]

17 April 2008

Tuhan






















Tuhan...
jika ada dosa melekat pada diri saya
biarlah saja

dan jika ada pahala bertengger
di pundak saya,
maka itu adalah beban bagi saya

Tuhan...
masih aku cari pintu-pintu surga
namun,
mungkin...
aku takut untuk mengetuknya
sebab,
aku lebih suka menggali lubang
kesengsaraanku sendiri
dan
menguburkan segala kebaikan
yang Engkau ajarkan

maka,
Tuhan...
ampuni hamba
untuk tidak memilih surga-Mu

PDAM Semarang Ancam Gagalkan Niatan Pemkot

Semarang, Niatan baik pemerintah kota Semarang untuk memperbaiki kinerja lembaga-lembaga publik dalam memberikan layanan publik ternyata masih harus menghadapi kenyataan pahit yang sampai saat ini terus mengganjal. Komitmen pemerintah kota Semarang ini pada mulanya dijadikan sebuah tema dalam peringatan hari jadi kota Semarang ke 461. Namun demikian, hal tersebut kembali dimentahkan oleh beberapa kalangan yang melihat hal tersebut nantinya hanya akan menjadi janji kosong seperti yang diberikan pemerintah kota Semarang sebelumnya.

Ngargono, Ketua Lembaga Perlindungan dan Pendampingan Konsumen kota Semarang menilai, Semarang masih punya PR terberat yang harus segera diselesaikan dalam kaitannya dengan pelayanan publik. Ia menunjukkan salah satu kasus yang sampai saat ini masih membayangi pemerintah kota Semarang ialah mengenai polemik pergantian direksi PDAM kota Semarang yang sampai saat ini belum juga jelas. "Hal ini pada gilirannya akan berpengaruh pada model pelayanan yang diterapkan oleh BUMD ini." katanya.

Di sisi lain, kasus tersebut diakui memang sudah berlangsung lama. Bahkan, sebelum polemik seputar pergantian direksi PDAM ini mencuat ke permukaan. "Ini baru satu kasus. Belum dengan yang lainnya." ungkap Ngargono.

Untuk itu dibutuhkan komitmen yang kuat dari pihak internal PDAM untuk segera melakukan perbaikan-perbaikan di segala aspek, terutama menyangkut pola manajemen yang diberlakukan dalam pengelolaan perusahaan daerah tersebut. "Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki oleh PDAM. Pertama, mengenai lamanya aliran air yang disalurkan kepada konsumen yang tersebar di beberapa kawasan. Karena aliran air ini tentu akan sangat berbeda-beda di setiap kawasan. Di Semarang Timur tentu akan sangat berbeda dengan Semarang Selatan. Hal ini dikarenakan tipografi kota Semarang yang memiliki perbedaan ketinggian kawasan. Kedua, kompensasi yang diberikan PDAM kepada konsumen yang dikarenakan adanya ketidakterlayanan konsumen. Sehingga, perlu bagi PDAM untuk memberikan komitmen yang jelas kepada konsumen. Hal ini perlu dilakukan mengingat konsumen ini saat ini masih banyak yang mengeluhkan dan mempersoalkan pelayanan PDAM." Jelas Ngargono. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Panwas Kota Semarang Waspadai Konflik Antar Pendukung Cagub

Semarang, Pelaksanaan pemilihan gubernur Jawa Tengah di Semarang diperkirakan akan rawan konflik horizontal. Hal ini dikarenakan kota Semarang saat ini merupakan basis penyelenggaraan pilkada gubernur tersebut. Bahkan, beberapa kawasan di Semarang saat ini merupakan kawasan yang memiliki tingkat mobilitas politik yang cukup tinggi. "Kawasan tersebut ialah kecamatan Semarang Tengah yang di situ terdapat kantor gubernur. Kemudian Jatisari dan Semarang Barat yang merupakan tempat tinggal beberapa calon gubernur." ungkap ketua panwas kota Semarang Abdul Kholiq.

Hal tersebut sebagaimana dikatakan Abdul Kholiq menjadi perhatian khusus bagi panwas dalam melakukan upayanya untuk mendukung pelaksanaan pilgub yang sehat. Dalam hal ini, panwas kota Semarang akan mengoptimalkan kinerja panwas di tingkat kabupaten, terutama yang diambil dari komponen masyarakat untuk melakukan pendekatan terhadap masyarakat terkait dengan penegakan hukum.

"Karena mereka (anggota panwas kecamatan) itu ada dua dari unsur masyarakat, maka kami nanti akan mencoba menggunakan elemen masyarakat untuk dilakukan pendekatan pada masyarakat supaya ada kepedulian di dalam masyarakat untuk menciptakan situasi politik yang kondusif dalam penyelenggaraan pilkada gubernur Jawa tengah mendatang." jelasnya.

Selain itu, panwas kota Semarang juga bertekad akan memberikan pengawasan yang menyeluruh dengan memposisikan para calon ini dalam porsi yang sama. Hal ini bertujuan agar penegakan hukum terhadap terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang dimungkinkan terjadi dapat terselesaikan dengan baik. Namun demikian, hal tersebut tidak lepas dari peran penting masyarakat dalam memahami pelaksanaan pilgub jateng ini. Sehingga perlu bagi panwas di tingkat kecamatan untuk melakukan sosialisasi mengenai penyelenggaraan pilgub ini. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Sejarah Tari

Rabu, 16 April 2008 | 13:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Menonton pertunjukan Dominique Boivin serasa mengikuti kuliah sejarah tari. Dengan caranya, ia mengajak penonton loncat ke abad pertengahan. Perjalanan sejarah panjang tersebut terasa segar karena disajikan dalam kemasan tarian yang kocak.

Itulah cara Boivin, penari asal Prancis, membawakan karyanya yang berjudul La Danse, Une Histoire a Ma Facon (Tari, Sebuah Sejarah Menurut Caraku Sendiri) di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat malam lalu.

Panggung yang tak seberapa luas dikotakkannya kembali menjadi lebih kecil dengan potongan kayu panjang. Jadilah panggung buatannya sendiri lengkap dengan dua lampu sorot bertangkai, layar putih kecil, dua meja panjang berisi peralatan, dan deretan lampu kuning 5 watt yang dipasang di muka panggung.

Selagi menari, Boivin mulai bercerita. Ia memulai pada abad pertengahan dengan penggambaran sebuah karnaval, lalu berdansa dengan topi hijau mancung. Ia menari loncat ke sana-sini dengan tangan terentang.

Kemudian beralih ke abad ke-16, ketika seni tari bergaya geometris sedang tenar. Alat unik dikeluarkannya lagi. Kini yang muncul adalah dua buah ujung lampu taman yang runcing. Tap, tap, ujung lampu bergerak dengan gaya kaku.

Tiba-tiba ia menjadi raja dan membedaki mukanya lalu mengambil gelang kertas di kedua pergelangan tangan. Dalam perjalanan sang raja, ia menari lebih lembut dan anggun, mewakili sosok bangsawan yang dipuja rakyat.

Boivin, yang mulai menari pada umur 6 tahun, juga membawakan pantomim. Di abad ke-18, tarian mulai menunjukkan bentuk berbeda. Boivin, yang mengenakan kaus buntung, kini telanjang dada. Kakinya
berjinjit lalu berjalan mundur.

Kisah kemudian beralih ke 1892 di Jerman. "Di sebuah pesta, tanpa sengaja gaunku di atas panggung terlalu panjang. Kemudian aku menarik dua ujung gaun. Lalu seseorang berteriak," katanya bercerita. Layar putih di belakang Bovin seketika menyala menyuguhkan gambar dua sayap kupu-kupu dan ia berdiri di tengahnya.

Boivin juga menari dengan bantuan beberapa medium, seperti olahop dan tayangan video anak perempuan kecil yang menari di atas rumput. Masih menggunakan proyektor, ia pun menari di tengah layar yang masih memutar gambar pita film. Kadang ia membuat bayangan dari belakang layar.

Setiap mata berkedip, berpindahlah zaman. Ia juga menceritakan tarian Amerika. Kata dia, Negeri Abang Sam itu senang dengan gaya oriental. Lalu ia membawa kipas Cina dan mengenakan sepatu runcing merah. Ia pun menari dengan lentur dan berkilauan karena lampu sorot. Asap mengepul dari dua sudut panggung.

Yang lebih memukau, Boivin mengenakan jubah hitam panjang berbahan lemas. "Ini perwakilan tari untuk Martha Graham," katanya. Ia naik ke kursi dan membelakangi penonton. Lalu jubah yang terentang dililit ke tubuhnya hingga membentuk tubuh tinggi sekali. Kursi itu pun tak kelihatan karena tertutup jubah.

Tak lupa, ia juga menyajikan kisah Prancis pada 1968. "Di Prancis, tarian mulai membuka diri pada publik," ujarnya di atas panggung. Ditandai dengan sepatu kets dan jins, ia menari lebih modern dengan iringan lagu rap ala Prancis.

Di akhir gerakannya, Bovin mengungkapkan jati diri. "Namaku Dominique Boivin, bintangku sagitarius," katanya. Kemudian ia memakai sepatu hitam dengan hak tinggi, gaun putih selutut, plus torehan lipstik. Ia kemudian membuka baju dan mencoreti tubuhnya dengan lipstik.

Sudah dua kali Boivin datang ke Indonesia. "Tapi pertunjukan ini baru pertama kali," ujarnya setelah manggung. Sejak kecil, ia lengket dengan tari. Gaya pertamanya adalah akrobat. Pada usia 10 tahun, ia belajar tari klasik.

Kemudian ia beralih ke kontemporer lewat arahan Carolyn Carlson dan Alwin Nikolais, lalu mendirikan kelompok tari Cie Beau Geste. Pada 1978, karya solo pertamanya, Vol d'Oiseau, memenangi penghargaan Prix de l'Humour di Kota Bagnolet.

La Danse mulai dibuatnya pada 1994 dan baru rampung pada 1999. "Memang perlu penyempurnaan dalam waktu yang lumayan lama," ujarnya. Tarian ini telah ditampilkan di beberapa negara, seperti
Taiwan dan Vietnam.

Boivin mengakui pertunjukannya lebih banyak mengupas Jerman dan Amerika. "Ya, penggambaran Prancis sedikit karena kondisi tari di sana cenderung stabil," ujarnya. Selama tampil, alat-alat yang digunakan sederhana, tapi mengena pada tema. l AGUSLIA HIDAYAH

sumber: Tempointeraktif.com

16 April 2008

Kawasan Pantura Rentan Terjadi Konflik

Semarang, Pelaksanaan Pilkada gubernur Jawa Tengah 2008 yang akan diselenggarakan bulan Juni mendatang masih dimungkinkan akan terjadinya konflik horizontal antar kelompok pendukung calon gubernur Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan pengalaman pemilu tahun 2004 yang lalu telah memberikan sedikit gambaran mengenai potensi tersebut. Khususnya di kawasan Pantura seperti Pekalongan, Jepara, Rembang dan beberapa kawasan lainnya.

Menurut Ketua Panwas Pilkada provinsi Jawa Tengah Sriyanto Saputro, pihaknya akan melakukan pemetaan daerah-daerah rawan konflik hingga ke tingkat kelurahan maupun desa. Selain itu, panwas berjanji akan melakukan pemetaan kemungkinan terjadinya pelanggaran-pelanggaran.

Lebih lanjut Sriyanto Saputro mengungkapkan, munculnya konflik ini lebih dikarenakan kultur masyarakat setempat yang cenderung akan memanas. Selain kawasan Pantura, Sriyanto Saputro juga akan melakukan pemantauan di kawasan Solo yang disinyalir merupakan kawasan yang memiliki temperamen politik yang cukup panas. "Di sinilah bagaimana kita dari pendekatannya, terutama panwas dari sisi pengawasannya. Sehingga perlakuannya akan lebih berbeda dan sangat berhati-hati." jelas Sriyanto. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Sukawi: Pemkot Semarang Tak Sanggup Tangani Rob Sendiri

Semarang, Pemerintah kota Semarang akui tidak mampu menangani masalah rob yang selama ini menjadi bencana langganan bagi warga pesisir kota Semarang. Menurut walikota Semarang, Sukawi Sutarip, penanganan masalah rob tidak bisa dilakukan secara individual, hanya pemerintah kota Semarang saja. Namun lebih lanjut, permasalahan rob sudah merupakan masalah nasional yang melibatkan seluruh unsur pemerintahan dari pusat hingga kelurahan. Hal ini disampaikan Sukawi setelah melantik 48 anggota panwas pilkada kecamatan gubernur Jawa Tengah.

Dengan senyum khasnya Sukawi berkata, "Penanganan masalah rob itu, sudah masalah nasional. Pemerintah kota tidak akan ada kemampuan untuk menangani masalah itu. Oleh karena itu, ada bantuan dana dari pusat jumlahnya Rp 1,7 triliun."

Lebih lanjut, Sukawi Sutarip mengungkapkan dana tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan waduk Jatibarang sebesar Rp 850 milyar. Sedanngkan sisa dari anggaran dana tersebut akan digunakan untuk revitalisasi banjir kanal barat dan timur serta saluran yang berada di antara kedua kanal tersebut. "Ini untuk mengatasi banjir dan rob." tegasnya yakin.

Padahal, sampai saat ini pembangunan waduk Jatibarang masih tersendat karena penawaran harga ganti rugi lahan yang dinilai terlalu rendah. Untuk itu, Sukawi Sutarip kembali meminta warga yang terkena dampak pembangunan tersebut agar mau mengerti keinginan pemerintah kota yang saat ini masih dipimpinnya. Dalam hal ini pemerintah kota Semarang menekankan akan melakukan konsolidasi tanah antara kawasan atas dan bawah kota Semarang. "Konsolidasi tanah itu, semua sama-sama untung." kata Sukawi.

Selain itu, walikota Semarang meminta agar masyarakat dalam memberikan taksiran harga seharusnya bersikap realistis dan rasional.

Sementara itu, kondisi di kecamatan Semarang Utara sampai saat ini semakin parah. Kecamatan yang merupakan kawasan langganan rob ini semakin hari semakin terkatung-katung nasibnya. Bahkan, dari 10 kelurahan yang ada di dalam kawasan tersebut, 6 kelurahan di antaranya masih terus saja terendam air rob.

Menurut YMT Camat Semarang Utara Bambang Purnomo Adji, "Kondisi terparah terdapat di kelurahan Lemuru dan Bandarharjo. Di Lemuru sendiri rob sudah menggenang 300 rumah. Hal ini dikarenakan di kelurahan tersebut dikelilingi dua sungai yaitu Kali Asin dan Kali Semarang. Sehingga, bila Kali Asin meluap maka seluruh wilayah di kelurahan tersebut akan tergenang rob."

Kondisi ini juga diperparah lagi dengan tidak adanya upaya serius dari pemerintah kota Semarang untuk segera melakukan penanganan terhadap bencana rob ini. Bahkan, Bambang Purnomo Adji menilai, pencairan alokasi anggaran untuk penanganan rob ini terlalu lama. Hal ini dikarenakan pengalokasian anggaran tersebut baru akan dapat terealisir pada tahun anggaran 2009 mendatang. Untuk itu, beberapa warga kini tengah mengupayakan penanggulangan rob di kawasan mereka tinggal dengan membuat tanggul kantung pasir secara swadaya.

Sementara itu, pihak kecamatan hari ini telah menurunkan bantuan kepada warga dengan memberikan 3 dam truk pasir yang nantinya akan digunakan sebagai bahan tanggul sementara. "Pasir ini merupakan bantuan pemerintah kota yang diambil dari Kesbanglinmas dan PU." kata Bambang.

Sedangkan terkait dengan dana bantuan bencana, walikota Semarang Sukawi Sutarip kembali mengungkapkan, pemerintah kota Semarang siap untuk mengalokasikannya. Namun demikian, warga juga harus melakukannya sesuai dengan prosedur ketika mengajukan permohonan kepada pemerintah kota Semarang. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Wonderia Kembali Buka, DPRD Kota Semarang Masih Sangsi

Semarang, Setelah menutup operasionalnya selama 5 bulan, tepatnya setelah peristiwa nahas tergelincirnya wahana permainan plane tower yang menciderai 10 orang mahasiswa IKIP Veteran, akhirnya pihak PT Smart selaku pengelola taman rekreasi tersebut sedikit dapat bernafas lega. Pasalnya, mereka sudah dapat kembali membuka taman rekreasi tersebut dengan mengantongi izin walikota Semarang.

Menurut Senior Manager Operational PT Smart MA. Irfan Rahmana, dengan turunnya izin pemerintah kota pada tangal 11 April lalu, pihaknya dalam waktu satu minggu ini akan melakukan perbaikan-perbaikan serta pembersihan-pembersihan area yang ada di Wonderia. Selain itu, Irfan menegaskan pula pihaknya telah membongkar wahana permainan plane tower tersebut guna mengantisipasi terjadinya kejadian yang sama pada 5 bulan yang lalu.

"Hari ini kami persiapkan gladi resik terakhir sebelum besok kami buka untuk komersil." katanya.

Pembukaan taman rekreasi ini jelas menjadi sebuah kabar menggembirakan bagi pihak PT. Smart maupun masyarakat Semarang secara luas. Hal ini dikarenakan, selama ini Semarang masih memiliki ruang yang sangat minim untuk kebutuhan hiburan keluarga. "Kami dalam dua hari ini, terhitung muali besok akan memberlakukan get free ticketing. Khususnya untuk tiket masuk kepada masyarakat. Hal ini sebagai ungkapan terima kasih kami kepada pihak pemerintah kota yang telah memberikan izin kembali maupun apresiasi masyarakat Semarang." Jelasnya.

Namun demikian, pihak PT. Smart juga tidak mau gegabah. Hal tersebut dibuktikannya dengan membuka 16 jenis wahana permainan dari 20 wahana permainan yang ada saat ini. Menurut Irfan Rahmana, hal tersebut dilakukan karena baru 16 wahana permainan yang telah bersertifikat. Sedang 4 lainnya masih dalam evaluasi. Karena, sebagaimana dijelaskan Irfan Rahmana, keempat permainan tersebut memiliki risiko cukup tinggi. Sehingga pihaknya belum berani mengoperasikan 4 jenis wahana permainan tersebut.

"Pemberi sertifikat adalah dari fakultas teknik mesin Undip (Universitas Dionegoro)." tukasnya.

Sejauh ini, beberapa upaya lain juga dilakukan PT. Smart selaku pengelola Wonderia dengan memberikan beberapa tambahan wahana permainan. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemenuhan permintaan masyarakat yang mengingini adanya wahana permainan baru.

Namun demikian, ketika disinggung mengenai jumlah kerugian yang dialami pihak PT. Smart, Irfan Rahmana enggan untuk menyebutkannya. Namun terkait dengan PHK, selama penutupan Wonderia ini pihak PT. Smart telah mem-PHK karyawannya sebanyak 50% dari jumlah keseluruhan karyawan yang mencapai 200 orang tenaga kerja.

Di sisi lain, pemberian izin kepada pihak PT. Smart untuk dapat kembali mengoperasikan Wonderia masih dipertanyakan oleh kalangan dewan. Anggota Komisi B DPRD Kota Semarang, Ari Purbono menyatakan, "Selama ini pemerintah kota Semarang terlalu mementingkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Sementara, persoalan mendasar adalah citra Wonderia ini sudah buruk. Jadi pemerintah kota Semarang hanya mengejar PAD yang kecil, yang hanya Rp 240 juta per tahun."

Bahkan, Ari Purbono juga kembali menanyakan izin tersebut. Selain itu, ia kembali menginginkan adanya perjanjian baru antara kedua belah pihak yaitu pemerintah kota Semarang dengan PT. Smart. Lebih-lebih mengenai SOP. Ia menilai, PT. Smart dalam memberikan jaminan keselamatan, masih dijalankan setengah hati. "Citra PT. Smart sebagai pengelola Wonderia itu sudah buruk." katanya. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya ketidakseriusan PT. Smart untuk memenuhi tuntutan mengenai kesanggupannya menyangkut penyediaan fasilitas-fasilitas umum lainnya yang digunakan sebagai pelengkap dalam memberikan layanan kepada masyarakat pengunjung.

Di samping itu, Ari Purbono juga menyayangkan sikap pemerintah kota Semarang yang kurang tegas dalam memutuskan permasalahan yang membelit Wonderia akibat peristiwa nahas tersebut. "Secara tegas, seharusnya pemerintah kota Semarang dapat langsung melakukan pemutusan hubungan kerja sama dengan pihak PT. Smart." Tandasnya.

Namun demikian, hal tersebut rupanya terlambat untuk dilakukan. Mengingat pihak pengelola Wonderia tetap bersikeras akan membuka kembali operasional mereka pada hari besok. Namun Ari Purbono tetap bersikukuh untuk tetap menolak pembukaan Wonderia tersebut, selama belum ada MoU dan belum ada tindakan hukum yang jelas terkait dengan kasus tragedi tergelincirnya plane tower tersebut. "Seharusnya pihak manajemenlah yang bertanggungjawab bukan tenaga kerjanya." tandasnya. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

15 April 2008

Kenapa [Harus] Malu [?]

Telanjur aku lahir dan dibesarkan di sini
di negeri yang semakin lama semakin tak karuan
telanjur aku ada,
tanpa bisa aku tolak
telanjur aku,

Kita punya negeri memang tak begitu hebat
tapi apa perlu kita malu?

Kita punya negeri memang tidak membuat kita bangga
tapi apa kita perlu malu?

Tidak.
sebab memang beginilah
carut marut

ah, andai saja dapat aku sampaikan
pada George Wahington aku ingin bertanya
perlukah aku berbuat untuk negaraku?
sedang di sini,
negeriku

negara telah memperkosa kami
negara telah merampas hak kami
negara telah melucuti kami
negara telah memeras kami
negara telah membunuh kami
negara bahkan tidak memberi kami kesempatan
untuk berbuat

aku hanya mampu berbuat
tapi bukan untuk negara
bukan untuk siapa-siapa
hanya aku,

jangan cemberut macam itu, George
kau tak dilahirkan di sini
mungkin kau tak cukup mengerti
tak begitu kenal

lihat di sana
wanita tua kembali pulang ke rumah
dengan sebuah dirigen kosong ia lambaikan
dan dengar,
"Ah, zaman sekarang semua serba susah." katanya

George, kau ingin dengar cerita lain
seorang pejabat kemarin ditangkap
katanya karena suap

itulah George
yang membuat aku tak cukup luang
aku hanya satu
di antara mereka
penganggur

Ah, George?
kau bisa tawarkan aku pekerjaan?
apa sajalah
tak perlu halal haram
harampun jadilah
Gila!!!!

Tentang Kemenangan dan Kekalahan

Kemenangan sebenarnya bagiku
adalah saat aku dapat buktikan
aku mampu taklukkan Engkau
dengan cinta
Sementara kekalahan terbesarku
adalah ketika aku merasa
betapa besar cintaku pada-Mu

Bank Indonesia Akan Cabut Izin 13 BPR

Semarang, 13 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) akan dicabut izinnya karena tidak sehat. Hal ini dikemukakan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Rudjito ketika menggelar jumpa pers di Kantor Bank Indonesia hari ini. Pencabutan izin ketigabelas BPR ini sebagaimana dikemukakan oleh Rudjito, karena 13 BPR tersebut sudah tidak sehat lagi dan sangat sulit untuk dapat dipulihkan kembali. 13 BPR tersebut di antaranya: BPR Tripilar Arthajaya (Yogyakarta), BPR Cimahi (Bandung), BPR Mitra Banjaran (Bandung), BPR Mranggen Mitraniaga (Demak), BPR Samadhana (Sukabumi), BPR Gununghalu (Bandung), BPR Bekasi Istana Artha (Bekasi), BPR Era Aneka Rezeki (Cibinong), BPR Bangunkarsa Arthasejahtera (Bandung), BPR Bungbula (Garut), BPR Anugerah Artha Niaga (Solo), BPR Citraloka Dana Mandiri (Bandung), dan BPR Kencana Artha Mandiri (Solo).

Dalam siaran persnya Rudjito mengungkapkan, hal tersebut dikarenakan penemuan LPS mengenai indikasi tindakan fraud yang dilakukan baik pengelola maupun pemilik BPR tersebut. Dalam hal ini, modus operandi yang dilakukan oleh pemilik BPR di antaranya; adanya deposito fiktif, penghimpunan dana deposito yang tidak tercatat dalam neraca, pencairan deposito yang tidak diketahui oleh pemilik, adanya rekayasa pemberian kredit, dan penggelapan uang bank. Hal ini pada gilirannya akan sangat berpengaruh pada keberadaan nasabah BPR yang sampai saat ini merupakan jumlah nasabah terbanyak dibandingkan perolehan jumlah nasabah bank umum.

"Jumlah rekening bank umum ada 98% dari total pemegang rekening sekitar 89 juta pemegang. Sedang di BPR jumlah rekening ada sekitar 99,5%." Kata Rudjito.

Jumlah nasabah yang lebih banyak ini tentunya akan menjadi pekerjaan berat bagi LPS untuk menyelamatkan BPR tersebut. Untuk itu, sebagaimana dikatakan Rudjito, "Dari pengalaman 13 BPR yang sudah kami verifikasi kenyataannya tidak dapat diselamatkan. Sehingga, meskipun kita menghitung, kalaupun kita menyelamatkan dengan menggunakan Capital Ediquetio Ratio 4%, dan menambah modal di situ, tetap tidak akan mampu untuk mengangkat BPR itu untuk sehat kembali." jelasnya.

Selain itu, permasalahan lain yang turut dipertimbangkan oleh LPS terkait dengan potensi yang dimiliki BPR secara prospektif ke depan BPR bersangkutan.

Namun demikian, kembali Rudjito mengungkapkan, sejak LPS didirikan, terdapat dana pihak ketiga dari 10 BPR dari 13 BPR telah diserahkan kepada BI yang selanjutnya diteruskan kepada LPS senilai 232 Milyar rupiah. Kesepuluh BPR tersebut sudah membayarkan simpanan simpanan yang layak senilai 45,916 Milyar rupiah. Sedang untuk simpanan yang tidak layak, jumlah yang sudah dibayarkan sebanyak 23,200 Milyar rupiah. Sementara itu, untuk 3 BPR lainnya saat ini masih dalam proses verifikasi.

Dalam beberapa hal, LPS memiliki kewenangan untuk merekomendasikan BPR untuk dicabut izinnya. Hal ini terutama dengan adanya pemberlakuan UU no. 24 tahun 2004. "Kalau bank itu sudah tidak dapat diselamatkan, BI dapat segera menetapkan CDO. Melarang BPR untuk menerima dana dari masyarakat dan pemberian kredit. Namun dalam kenyataan, masih terdapat beberapa BPR yang melanggar aturan itu." jelas Rudjito.

Untuk itu, dalam rangka memberikan jaminan kepada penyelamatan BPR, LPS kali ini akan melakukan kerja sama dengan BI dan Kantor BI di daerah-daerah untuk memberikan pengawasan yang intensif terhadap perkembangan BPR di daerah.

Sementara itu, ketika disinggung mengenai kondisi BPR di Semarang, Pimpinan KBI Semarang Zaeni Aboe Amin mengungkapkan saat ini di Semarang terdapat satu BPR bermasalah. Namun demikian, dirinya enggan untuk menyebutkan identitas BPR tersebut. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Menuju Sukses bag. 2

Setelah tulisan saya beberapa hari yang lalu. Saya kembali teringat masih ada sesuatu yang belum saya sampaikan. Dan kali ini, ingin saya bagi kembali pada Anda.

Namun dalam hal ini saya punya cerita yang mungkin perlu bagi saya untuk dibagikan.
Suatu ketika saya bertemu dengan seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya dikemudian hari. Dia satu-satunya orang yang sangat menghargai siapa saja. Mau mengerti siapa saja. Dialah orang yang menurut saya sangat mengerti tentang saya di samping Ibu dan istri saya tentunya.

Kepada saya, orang ini pernah berkata, "Orang yang mengangap dirinya lebih dipentingkan dari orang lain itu sama artinya ia telah melanggar hukum Tuhan."

Langsung pula saya tanyakan, "Kenapa?"

Dia hanya tersenyum.

"Bukankah dalam kehidupan kita, kita dihadapkan sebuah kenyataan yang demikian? Dimana saat kita membutuhkan pertolongan seseorang, maka kita akan sangat mementingkan seseorang tersebut?" Aku kembali bertanya.

" Sebenarnya tidak demikian, pada orang tersebut hanya untuk mencari jalan terang menuju kekuatan nyata di balik orang itu. Dan, orang tersebut, yang kita mintai bantuan tersebut, hanya sebuah transformasi energi cinta dan kasih Tuhan. Jadi, Tuhanlah yang telah menggerakkan ia untuk membantu kita. Bukan lantaran belas kasihan orang tersebut. Maka kalau kita mendudukkan ia dalam porsi yang lebih tinggi dari kita sebagai manusia, makhluk Tuhan, maka sebenarnya kita telah mendurhakai Tuhan. Dan sebaliknya, ketika orang tersebut merasa dipentingkan oleh khalayak, maka ia lebih durhaka kepada Tuhan. Karena sebenarnya, ia telah mencampakkan Tuhan dari sisinya."

Sungguh saya bertambah tidak mengerti dengan ungkapan tersebut. Saya pun kembali menjejalinya dengan pertanyaan, "Tetapi faktanya demikian? Seorang pejabat merupakan orang yang dipentingkan oleh warganya, seorang ulama akan dipentingkan oleh pengikut atau jamaahnya, dan seorang guru akan sangat berarti bagi muridnya?"

"Tidak ada pejabat yang lebih penting dari mereka yang mementingkan rakyatnya, tidak ada kiyai yang lebih hebat dari mereka yang mau nyantri dari muridnya, dan tidak ada guru yang lebih baik dari mereka yang mau belajar dari siswanya. Sebagai contoh, adakah guru yang mungkin dalam kehidupan kamu, menurut kamu, cerdas?" Tukasnya.

"Saya kira banyak." Jawabku.

"Seorang guru yang cerdas adalah ketika ia mampu mentranformasikan energi keilmuanannya kepada muridnya. Dan untuk melakukan transformasi itu ia butuh sebuah hubungan komunikasi yang baik. Untuk menuju ke arah komunikasi yang baik, seorang guru harus belajar dari apa yang mampu ditangkap oleh seorang muridnya. Maka ia harus memahami muridnya terlebih dahulu sebelum ia meminta muridnya untuk memahaminya. Jadi, pertanyaannya adalah mana yang lebih penting?"

"Dua-duanya?" Tanyaku.

"Dalam hal ini mungkin kamu benar jika kamu melihat dari sisi yang nampak. Tapi kamu belum bisa menempatkan diri kamu berada di luar lingkaran itu. Ada satu hal yang belum kamu sentuh. Di dalam kasus tersebut, ada satu kata kunci yaitu, energi. Masih ingat rumusan yang diberikan Einstein?"

Saya hanya mengangguk.

"Semakin besar usaha untuk mengalihkan atau mentransformasikan sesuatu maka semakin besar pula energi yang ia hasilkan, dan begitu pula sebaliknya. Semakin besar energi yang dikeluarkan maka semakin jauh pula transformasi itu dapat ditempuh. Siapa energi itu? Dialah yang berada di luar batas pengetahuan kita. Kita tidak memiliki energi, sebab kita digerakkan oleh ego dan ego selalu terbungkus dalam sebuah alam pikiran yang sedemikian rupa kita rekayasa karena hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani kita. Artinya kita hanya menjadi budak jasad. Tubuh kita. Sedang energi berada di luar tubuh tetapi kehadirannya ada di dalam nurani kita. Kasih dan sayang. Itulah energi yang sangat dahsyat."

"Kalau begitu, apa bedanya energi dengan ruh?" aku bertanya.

"Ruh ibarat pot atau vas bunga yang akan ditempati energi. Ruh adalah sebuah jembatan spiritual yang sengaja dianugerahkan Tuhan kepada manusia untuk dapat melakukan kehendak-Nya."

"Lantas, bagaimana dengan status sosial?"

Ia tersenyum dan kemudian berkata, "Kau masih saja memikirkan status sosial? Bukankah itu reka daya manusia. Hanya sebuah penciptaan jurang yang begitu dangkalnya oleh manusia. Kelicikan manusia yang memang dibekali kemampuan akal yang luar biasa, tapi alangkah bodohnya ia sebagai manusia ketika ia berbangga diri dengan pangkat, jabatan dan kedudukannya di hadapan orang lain. Orang yang bangga dengan statusnya berarti orang yang paling bodoh di dunia. Sebab, ia telah dibodohi oleh satu spesiesnya sendiri. Dan ingat kunci kesuksesan manusia tidak diukur dari status sosialnya, melainkan dari sebuah pemahaman dalam mengartikulasikan kehidupan itu sendiri."
Dari obrolan panjang itu pun kami pun harus kembali pulang dalam buaian mimpi kami. Dan malam kembali senyap. Namun dalam otak saya masih saja belum mampu menerjemahkan kalimat-kalimatnya. Sampai pada akhirnya aku hanya mampu catatkan pada selembar kertas kusam. Kalau tidak lupa bunyi kalimat itu sebagai berikut:

Jika tak ada malam mungkin aku akan kehilangan banyak tenagaku. Dan jika tak ada siang mungkin aku tak akan menemukan energi untuk terus melakukan ziarah kehidupan. Kenapa ziarah kehidupan? Karena kehidupan yang selama ini kita jalani adalah kematian yang sebenarnya. Dan kehidupan yang sebenar-benarnya ada dalam mati.

Sumber Foto:
http://www.endless-satsang.com/Mentoring_files/image3001.jpg
http://www.eso-garden.com/images/uploads_bilder/10_great_ways_to_receive_some_spiritual_help.jpg
http://www.writespirit.net/image/sharani/gold-cloud
http://trak.in/wp-content/uploads/2007/06/yoga-1.jpg

Semarang Kaline Banjir


Semarang, Bila Anda pernah mendengar lantunan lagu yang ditembangkan dari suara melengking pesinden Jawa Waljinah, tentu Anda pernah mendengarkan satu bait yang sangat tepat dengan kondisi dengan semarang.

Semarang kaline banjir
Jo sumelang, jo dipikir

Demikian kira-kira bunyi kalimat tersebut yang terdapat dalam lagu "Walang Kekek". Kiranya tidaklah berlebihan lagu tersebut kemudian muncul di ranah dunia kesenian Jawa. Hal tersebut ternyata tidak hanya memberikan gambaran secara konkret mengenai kondisi kota Semarang. Namun sekaligus sebagai otokritik yang mengedepankan permasalahan sosial yang terjadi di kota Semarang. Bagaimana tidak, selama ini upaya pemerintah kota Semarang dalam menangani masalah tersebut masih saja setengah hati dan terkesan tidak ingin basah. Pemerintah kota Semarang seakan selalu mengangkat tinggi-tinggi celana mereka agar tidak kuyup serta menjinjing tinggi-tinggi sepatu pantovel yang mengkilap itu agar tidak kotor terkena lumpur. Hal inilah yang kemudian secara tajam kemudian menjadi sorotan dalam dunia lagu.

Walang Kekek, sebuah lagu jenaka yang penuh sindiran yang begitu satir dan tidak main-main. Sebaliknya, pemerintah kota Semarang terlalu asik bermain-main dalam kubangan genangan rob dan banjir. Membuat kapal kertas, dan sederet aturan yang kurang mampu mengejawantahkan keinginan masyarakatnya sendiri.

Baru-baru ini, pemerintah kota Semarang mempublikasikan data terakhir mengenai genangan rob. Walhasil, sangat menakjubkan. Dari sekitar 3.000 hektar lebih yang tergenang rob, dalam tahun 2007 pemerintah kota sudah mampu mengurangi luasan genangan tersebut menjadi 600 hektar. Ada apa ini?

Hampir semua kalangan Dewan yang tadinya duduk manis tiba-tiba tercengang. Mereka bertanya, apa ini benar-benar bisa dipertanggungjawabkan? Agung Budi Margono pun ikut berseloroh, "Ini merupakan kemajuan yang luar biasa. Namun sepanjang data tersebut memang dapat dipertanggungjawabkan."

Di lain hal, Susetyo pun menimpali, "Ini data yang menurut saya kurang akurat. Di tempat tinggal saya, genangan rob masih saja terjadi."

Sungguh mengherankan. Capaian hasil yang luar biasa ini ternyata masih banyak didebatkan di meja sidang. Apakah mungkin memang masih perlu diperdebatkan? Padahal, dalam lagunya, Waljinah kembali mengungkapkan, "Jo sumelang, jo dipikir (jangan kecewa, jangan dipikirkan)." Ya, karena lembaga pemerintahan yang seharusnya memikirkan pun masih belum juga berpikir.

Sumber Foto: http://loenpia.net/blog/wp-content/uploads/2007/02/banjir05.jpg

14 April 2008

Sukawi Sutarip: Atlet Bisa Jadi PNS

Semarang, Kegagalan PSIS untuk meraih kemenangan dalam perebutan juara dalam Liga Indonesia putaran 2007 yang lalu mempersempit peluang usulan alokasi anggaran APBD Kota Semarang untuk dana olah raga, khususnya PSIS yang mencapai 10 Milyar rupiah. Menurut beberapa kalangan, hal tersebut sangat tidak relevan dengan kenyataan yang ada. Sebelumnya, alokasi anggaran dana olah raga yang mencapai 14 Milyar rupiah itu masih menjadi pertanyaan besar bagi kalangan DPRD Kota Semarang. Sebab, dengan anggaran sebesar itu kenyataannya masih belum cukup membuat tim sepak bola kebanggaan warga Semarang ini optimal. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak terwujudnya janji yang dikoarkan walikota Semarang Sukawi Sutarip yang menjanjikan kemenangan bagi PSIS.

Namun demikian, rupanya walikota Semarang ini tidak surut langkah. Ia kembali memberikan janji yang sungguh fantastis bagi atlet yang tergabung dalam klub sepak bola yang digawangi salah seorang putranya Yoyok Sukawi. Ia kembali menjanjikan akan memberikan kelonggaran bagi para atlet untuk dapat menduduki posisi empuk di kursi eksekutif sebagai CPNS. Hal tersebut sebagai upaya pemerintah kota Semarang untuk memberikan dukungan kepada mereka, mengingat nilai kontrak mereka selama ini masih tergolong cukup rendah.

"Kalau pegawai negeri itu sudah layak. Sudah selayaknya, tidak hanya PSIS, tidak hanya sepak bola. Siapapun atlet yang berprestasi itu bisa kita prioritaskan untuk masuk PNS." Katanya.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai kesiapan Semarang dan PSIS untuk mengikuti Super Liga, dengan optimis Sukawi Sutarip mengungkapkan kesiapannya. Bahkan dengan enteng ia menanggapi, "Insya Allah PSIS bisa masuk. Karena kita syarat-syarat terpenuhi." Semoga saja ini bukan hanya mimpi. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Teknologi Maju, Kesenian Ambruk

Sabtu, 12 April 2008

Semarang, Perkembangan teknologi mutakhir yang digerakkan oleh negara-negara maju secara tidak langsung telah berdampak pula pada pengembangan dunia kesenian tradisional. Hal ini akan menjadi sebuah masalah serius manakala kedua kutub dunia yang berbeda tersebut saling bersinggungan dalam sebuah persaingan pasar global yang notabena sering diterjemahkan secara kasar sebagai pasar dunia yang tanpa batas. Hal tersebut menjadi tantangan terberat sekaligus terbesar dalam kelangsungan dunia kesenian yang sangat kuat mengakar pada khazanah budaya lokal. Untuk itu, perlu langkah yang cerdas dalam upayanya untuk memberikan stimulus bagi pengembangan dunia kesenian tradisional yang akhir-akhir ini mulai ditinggalkan oleh pemiliknya sendiri.

Beberapa kasus yang kini kembali mencuat ke permukaan ialah hilangnya beberapa jenis permainan anak yang didasari dari konsep permainan tradisional akibat serangan permainan modern. Hal ini sungguh sebuah fenomena yang cukup membuat beberapa pelaku seni dan pemerhati budaya ternganga. Gejala modernisasi rupanya semakin hari semakin mengarah pada bentuk-bentuk yang lebih jauh mengerikan dari bayangan awalnya. Sehingga, kemudian banyak kalangan yang mengkhawatirkan hal tersebut akan berdampak pula pada tata susila yang ada di masyarakat.

Secara sadar, memang di satu sisi kemajuan tersebut membuat kalangan tertentu merasa diuntungkan. Namun di sisi lain, kemajuan teknologi ini juga menjadikan sebuah kemunduran yang disinyalir akan berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Hal yang menjadi permasalahan yang perlu digarisbawahi adalah ketika sebagian masyarakat menganggap seni tradisi masih dipandang secara kaku. Seni tradisional yang notabene lahir dari akar-akar budaya kemudian dipandang sebagai pengejawantahan ajaran moral serta menjadi filosofi kehidupan acapkali menemui jalan buntu. Hal ini disebabkan adanya nuansa keangkeran "kesenian sebagai mitos" yang dikomunikasikan secara turun-temurun. Sehingga, untuk membuka akses ke dalam hal tersebut, ada semacam ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan dari masyarakatnya sendiri.

Untuk itu, perlu adanya pendekatan yang lebih intensif dan lebih spesifik dalam menyikapi hal tersebut. Sebagaimana dikatakan Hasan Bisri, pemerhati seni dan budaya Jawa Universitas Negeri Semarang, yang mengungkapkan pelaku seni seharusnya lebih jeli dan lebih cerdas dalam memberikan dorongan serta memberikan sumbangan pikirannya dalam memajukan kesenian tradisi lokal. Dengan kemajuan teknologi ini, seharusnya mereka tidak alergi dan bahkan seharusnya mampu memanfaatkan teknologi tersebut sebagai media yang mampu mempromosikan dan memberikan ruang yang lebih besar lagi bagi pengembangan dunia kesenian.

Namun demikian, usaha tersebut juga tidak lepas dari perhatian semua pihak. Khususnya pemerintah daerah selaku pengambil kebijakan serta pelaksana kebijakan tersebut. Pemerintah daerah seharusnya lebih tanggap dalam menghadapi fenomena tersebut. Sehingga, tidak ada semacam kecemburuan dari dua kubu yang saat ini "berlawanan" arah. Secara spesifik Hasan Bisri menyebutkan, langkah pemerintah daerah secara kongkret seharusnya mampu menjembatani kedua kepentingan tersebut. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Pangkalan Minyak Tanah di Tambak Lorok Desak Pemerintah untuk Menambah Jatah Mereka

Sabtu, 12 April 2008

Semarang, Sejumlah pangkalan minyak tanah di kawasan Tambak Lorok Semarang masih saja keluhkan penerimaan quota distribusi minyak tanah di kawasan tersebut. Pasalnya, sampai saat ini ketersediaan minyak tanah di kawasan tersebut dinilai tidak mampu mencukupi kebutuhan warga setempat. Hal ini disinyalir sebagai dampak dari adanya pemberlakuan pembatasan quota minyak tanah yang diniliai tidak disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Lebih-lebih seperti kawasan Tambak Lorok ini yang merupakan kawasan nelayan yang menjadi barometer kebutuhan minyak tanah. "Yen Tambak Lorok ga ana lenga, Semarang ga ana lenga (Kalau di Tambak Lorok tidak ada minyak tanah, maka seluruh kawasan di Semarang tidak dapat jatah minyak tanah juga)." Kata Subowo, salah seorang pemilik pangkalan di kelurahan Tanjung Emas kecamatan Semarang Utara.

Sampai saat ini kebutuhan masyarakat akan minyak tanah di kawasan tersebut masih tergolong tinggi. Meskipun program konversi gas sudah mulai merambah dikawasan tersebut, namun belum sepenuhnya dapat dirasakan manfaatnya oleh warga. Hal tersebut juga masih dirasa memberatkan warga. Khususnya bagi para nelayan yang sampai saat ini masih terus menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar perahu tongkang mereka. "Biasanya untuk satu kapal membutuhkan 40 liter minyak tanah perhari untuk setiap kali melaut. Padahal sampai saat ini saya hanya mampu memasok kebutuhan mereka (nelayan) sampai 25 liter per hari. Jadi masih kurang." Jelas Subowo.

Lebih lanjut Subowo mengungkapkan, pangkalan miliknya dalam setiap harinya hanya mampu memasok kebutuhan minyak tanah hingga 12.500 liter yang diperuntukkan 500 buah kapal tongkang. Jelas, jumlah tersebut masih dirasa kurang. Mengingat kebutuhan yang seharusnya terpenuhi sekitar 20.000 liter. Belum lagi untuk kebutuhan rumah tangga.

Di satu sisi, Subowo mengaku, pendistribusian minyak tanah ini memang sedikit melenceng dari peraturan yang ada. Namun demikian, jika terlalu dipaksakan kehidupan nelayan juga akan terancam tenggelam sebagaimana tenggelamnya kapal mereka. Untuk itu, mau tidak mau ia pun harus bersusah payah untuk ikut memperjuangkan nasib ratusan nelayan yang ada di kawasan tersebut.

"Pada bulan Maret kemarin, saya hanya mendapat pasokan minyak tanah sebanyak 9.000 liter. Ini sangat tidak dapat memenuhi kebutuhan warga. Padahal, saya sudah berkali-kali mengajukan permintaan tambahan quota minyak tanah tapi tidak juga dipenuhi. Katanya, karena ada pengurangan quota minyak tanah." Kata Subowo.

Kini nasib 600 orang nelayan di kawasan tersebut terpaksa harus mulai mengikat pinggang mereka kencang-kencang. Beberapa dari mereka pun terpaksa harus mengurangi intensitas kegiatan melaut mereka. Harapan mereka hanya satu, semoga rencana pemerintah provinsi Jawa Tengah yang akan mengusulkan adanya dispensasi khusus quota minyak tanah ini akan segera dapat mereka nikmati. Sehingga, mereka kembali dapat melakukan aktivitas mereka sehari-hari. Dengan demikian, harapan mereka untuk menatap hari depan yang lebih cemerlang akan segera terwujud. Semoga saja. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......