23 Mei 2008

Negeri Unik


alangkah bangganya aku
hidup di negeri yang serba unik
konstitusi jadi barang antik
semakin jajuh mata memandang
semakin cantik rupanya
semakin diotak-atik
semakin menarik pula

ah, bung....
negeriku memang elok
cobalah tengok
semakin banyak kelok
semakin pula banyak jalan berbelok
sungguh eksotis

hukum ditelikung
di tikungan yang penuh palung
hingga akhirnya
tak jelas kemana arah keadilan didengung
sungguh abstrak

negeriku memang sulit untuk ditebak
kadang cepat marah
kadang terlalu lemah
sangat multitafsir katanya

ah bung....
lupa aku tanyakan padamu
apakah engkau orang indonesia pula?
kalaupun iya,
artinya kita sama

sepatutnya kita bangga
memiliki negeri yang langka ini
bagaimana tidak?
bukankah kita sama tahu
betapa sulitnya mencari kemurahan pemimpin
karena untuk mendapatkan kursinya saja
harus dibayar tidak murah

bukankah kita sama tahu
betapa sulitnya mencari pemimpin
yang benar-benar benar?
kalaupun ada,
mungkin hanya segelintir
dari spesies yang hampir punah ini

jangan terlalu kesal,
memang begitulah negeri ini

ayo bung....
mari kita ukur
sejauhmana kebanggaan kita
pada bangsa ini

eit...
tunggu,
jujur ya bung?
biar kita ikut pula dilestarikan
sebab orang jujur di negeri ini
sudah terlalu langka
mungkin kita perlu bangun pula
cagar kejujuran
atau monumen kejujuran?
untuk anak cucu kita nantinya
paling tidak untuk sekadar mengenang
masih ada orang jujur di negeri ini
benar kan bung?
negeriku unik
maaf negeri kita

Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

BLT=Bantuan Lama Tunggu

Di pagi yang tersirami hangat matahari, puluhan warga Perbalan kecamatan Semarang Utara telah mengeributi sebuah kantor pos yang berdiri cukup anggun di kawasan Jalan Hassanudin. Mereka berharap setidaknya mereka akan mendapatkan giliran pertama dalam pembagian dana bantuan langsung tunai yang katanya sebagai dana kompensasi kenaikan harga BBM. Rasa gerah karena asap knalpot terlalu memadati udara kota Semarang setidaknya telah benar-benar menguras tenaga mereka dalam bersabar menunggu. Namun apa hendak dikata di depan kantor pos tersebut kadung terpasang papan pengumuman kecil dengan tulisan tangan 'Pembagian BLT ditunda'. Kontan saja air muka mereka seketika berubah. Harapan menjadi sebuauh kekecewaan. Sesekali terdengar celatuk kecil yang disambut gerutu mereka membuncah.

"Ya, kalau begini ya saya kecewa. Lagian siapa yang tidak kecewa? Saya datang ke sini kan berharap dana bantuan itu segera saya peroleh dan bisa saya gunakan untuk keperluan saya. Paling tidak untuk makan dan membayar utang saya di rumah sakit. Soalnya suami saya sudah lama sakit. Ya saya sih ngerti pemerintah itu kan nggak cuma ngurus orang miskin. Urusan pemerintah itu kan banyak. Jadi, mau apalagi? Pasrah sajalah." Kata Murni.

"Kalau saya sih terima BLT itu ya senang ya tidak. Soalnya sebelum BLT ini dibagi harga-harga kan sudah naik duluan. Bensin naik, beras naik, terlur juga naik." Sahut Suripah.

"Lho saya sudah mengantri sejak jam 6 pagi tadi lho." Kata Sumiyati.

"Lho kami ini tidak diberitahu dulu sama RW soal pembatalan ini lho. Saya kemarin sore cuma dapat pembagian kartunya saja kok." ujar Parti.

Segala celoteh bercampur gerutu kesal mereka benar-benar telah membuat bising halaman kantor yang sudah terpasang tratak dan beberapa kursi lipat berwarna merah pun telah disiapkan sebelumnya. Lantas tanpa mereka sadari seorang pria muda dengan tubuh yang cukup tinggi yang diselubungi kaos dan celana olah raga tiba-tiba menghampiri mereka. Dengan tenang ia berbicara di depan mereka dan menjelaskan panjang lebar soal pembatalan tersebut.

"Kemarin sudah saya beritahukan pada lurah , RT dan RW kalau pembagiannya nunggu kabar selanjutnya. Tapi jangan khawatir, kalau sampeyan sudah pegang kartu, pasti dapat jatah BLT. Sekarang kami sedang menunggu hasil koordinasi degan Pemkot dan PT. POS. Jadi sekarang Bapak Ibu semuanya pulang saja dulu dan lanjutkan pkerjaan seperti biasa." katanya.

Namun beberapa saat orang-orang ini nampaknya masih bertanya-tanya siapa kiranya orang yang tengah berbicara di depan mereka.

"Saya camat Semarang Utara Bu." katanya santun.

Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......