16 Mei 2008

Mei Berdarah [renungan 10 tahun pasca tragedi tri sakti]
































Celoteh burung hantu di siang hari,
mengabar duka menabur luka
memar ulu hati
sengal tarikan nafas
kian membuat langkah kaki
tak terarah
siapa tertembak mati
hari ini,
tangis pagi hanya membuncah
menebar aroma luka
anyir darah
amis nanah
dor
sebuah senapan laras panjang
melontarkan butir logam maut
jerit
tak terbendung
bubar berlarilah orang kalang kabut
selaput hitam semakin menebal
Harus ada yang bertanggungjawab
Harus ada yang dipersalahkan
tapi, tak ada
orang-orang dengan senjata
berlari mengitari meja persidangan
palu kayu kian lapuk
rayap kekuasaan semakin menggila
hilang sudah sejarah
menjadi humus
bagi taman surga
sang pahlawan
mei berdarah
hanya tercatat dalam buku harian
yang tak pernah selesai
aku tulis


Ribut Achwandi

Anak Polah Bapa Kepradah

Salam,

Beberapa hari ini orang-orang nampaknya disibuki oleh ulah pemerintah yang akan menaikkan harga BBM. Aksi demonstrasi sampai penyegelan SPBU di beberapa daerah semakin mewarnai layar kaca di ruang keluarga. Tentu ini akan menjadi pemandangan yang sangat berat bagi mata kita yang sudah kadung lelah setelah seharian bekerja. Dan ini akan sangat melelahkan lagi ketika kita berkeinginan besar untuk mengistirahatkan otak kita namun pada kenyataannya hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Sebab, banyak hal yang mungkin akan lebih mengganggu pikiran kita manakala kita berandai-andai jika kemudian BBM jadi meroket harganya. Akan banyak orang miskin baru tentunya. Juga akan banyak orang frustasi baru pula barangkali.

Siapa sebenarnya otak di balik kenaikan harga BBM ini? Dalam pemikiran saya yang diselubungi kecurigaan menyebutkan, ini karena ulah sang globalisme yang kurang disikapi dengan kesigapan pemerintah negeri ini. Sehingga sering kali, alasan klise yang saya pikir terlalu dibuat-buat ini selalu muncul di halaman depan buku catatan pemerintah kita. Dengan huruf kapital dan tebal selalu dikatakan 'KARENA HARGA MINYAK MENTAH DUNIA NAIK'! Selalu begitu teriak pemerintah kita.

Tapi mereka lupa, atau bahkan tidak pernah mendengar teriakan rakyat 'KALAU HARGA BBM NAIK RAKYAT SENGSARA'! Lantas siapa yang akan bertanggungjawab? Tentu selalu dijawab dengan ungkapan yang sangat klise pula 'SEMUA KALANGAN HARUS BERTANGGUNGJAWAB, TIDAK PANDANG BULU'! Ironis, rakyat yang sengsara harus pula ketiban tanggung jawab besar dari negara. Aneh bukan?

Namun memang harus diakui, di negeri yang serba aneh ini jangankan berharap untuk bisa hidup layak bermimpi untuk hidup enak saja sudah tidak dibolehkan. Lah bagaimana tidak? Orang rakyat meminta agar pemerintah tidak main-main dengan kebijakannya eh...tetap saja selalu rakyat harus menanggung semua yang dilakukan negara. Benar pula ungkapan Jawa 'Anak polah, bapa kepradah'. Dalam ungkapan tersebut dapat kita artikan bahwa negara dilahirkan oleh keinginan bersama rakyat. Maka, dengan demikian negara adalah tak lain anak rakyat, milik rakyat. Dan rakyatlah yang membuat ia ada. Maka tak heran jika kemudian pemerintah benar-benar telah menerapkan hal tersebut ke dalam kehidupan benegara.

Pemerintah saat ini terlalu manja. Ia anak cengeng yang tidak terlalu berani untuk melakukan sebuah pengembaraan liar. Ia masih suka menetek ibunya. Ia masih suka mengadu pada bapaknya. Lantas rakyat, bapak sang negara mau mengadu pada siapa? Celakanya, rakyat hanya bisa mengaduh.

Salam,


Ribut Achwandi

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......