08 April 2008

Kata Guruku

seorang guru pernah bilang padaku
belajarlah kau agar pintar

aku semula mengangguk tanpa kata

lalu dia bilang
kalau kau pintar bapak juga ikut bangga

aku mulai tersenyum

kemudian dia cakap lagi
sebab orang pintar dinegeri ini masih sedikit

aku mulai tertawa geli

dan dia bilang
dan semakin sedikit, semakin istimewa pula

aku tertawa

guruku bingung
lalu ditanyalah aku
kenapa kau justru tertawa macam itu

aku jawab dalam hati
saking sedikitnya orang pintar
jelas semakin banyak kesempatan orang
buat korupsi

Telaga Embun Pagi












selubung langit berjelaga
telaga embun pagi mengeruh
banjir darah, nanah dan tangis
luka sayat sebab angin

oh, jiwa-jiwa yang kesepian
ku hampiri engkau dalam keluhmu
tak perlu kau tanya lagi
kenapa redup mata sang mentari
berenanglah bersamaku
sebab rembulan tengah menanti di ujung kala

dan lihatlah
bathari durga tengah menari
sambil nyanyikan kemenangan
isilah lumbung-lumbungmu
sebelum ia membakarnya pula

dan adalah keniscayaan
ketika engkau harap
yakinlah

Tuhan Sedang Libur Panjang















Jalan Raden Saleh belok kanan
lengang tak bersuara
desah air becek di gang yang sempit
sekali terdengar
ada sepasang sandal jepit
menepuk genangan air bekas hujan semalam
tawa bersambut sahut
"Hai ada yang datang"
kata seorang perempuan
sampil menjinjing tinggi
bagian bawah daster berwarna ungu
"mampirlah tuan, kami buka biar hujan begini
24 jam! Non stop!"
Kleneng kleneng
bel becak membahana
bersambut tawa yang membelah kepingan sepi
"Ayo tuan, jangan malu
mumpung masih sepi"
pyar! ada suara gelas terbanting
pecahlah langit
tumpah pula hujan
"Tuan, berlindunglah dari hujan
kami punya cukup banyak penghangat!"
segera payung dibuka
lantas menyusullah perempuan
"Tak baik di jalan sendirian
harus ada yang menemani tuan"
kepul asap rokok
aroma alkohol
dan alunan sayup musik dangdut
dari sebuah radio
suaranya mirip kaleng susu bekas
"Kenapa tuan diam saja?
Tenang sedikit tuan
jangan takut
tuhan sedang libur panjang"
byur! seekor katak nyebur ke got
berenang riang berkawinlah ia

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......