22 April 2008

Rindu Duri






























rindu duri
setapak
malam kelam
dering lonceng
kleneng
ada burat jingga
di langit
engkaukah
yang datang
rindu duri
mata lelap
kesenyapan
menyapa
entah angin
ataukah embun pagi
rindu duri
ada yang tak lengkap
sarapan pagi
panggang roti
dan daging berlumur mentega
siapakah yang tengah melenyapkannya
oh rinduku
berduri

[Ribut Achwandi_Komunitas Godhong]

Distribusi Soal Ujian Nasional Hampir Terlambat

Semarang, Hari pertama pelaksanaan ujian nasional Kota Semarang sempat ditemukan adanya ketersendatan distribusi naskah soal ujian ke sekolah-sekolah. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang anggota Tim Pemantau Independen Hani Nur Tasqiyah dikarenakan adanya ketidaksiapan dari panitia penyelenggara di tingkat sub rayon khususnya di sub rayon 3 Kota Semarang yang bertempat di SMA Negeri 6 Semarang.

"Ketika pengambilan naskah soal ujian, ternyata di sub rayon ini belum disiapkan. Jadi petugas yang ditugasi untuk mengambil soal terpaksa harus menunggu." kata Hani.

Namun demikian, hal tersebut tidak menghambat jalannya ujian di sekolah-sekolah. Bahkan pelaksanaan ujian sesuai dengan jadwal semestinya. Meskipun demikian, hal tersebut sebagaimana diungkapkan Hani, sebagai kesalahan yang dapat berakibat fatal jika terjadi dalam waktu yang lama.

Sementara itu, ketika ditemui di tempat lain, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Sri Susanto menanggapi persoalan tersebut dengan enteng. Dia mengakui hal tersebut memang kesalahan dari panitia sub rayon, namun demikian dia tetap mengungkapkan hal tersebut seharusnya bukan menjadi hal yang dibesar-besarkan. Mengingat pelaksanaan ujian tetap lancar.

"Itu kami sudah melakukan instruksi kepada setiap ketua sub rayon untuk mempersiapkan naskah soal ujian sehari sebelum pelaksanaan. Jadi kalau hal itu terjadi itu semata-mata kesalahan teknis lapangan. Tapi pada kenyataannya kan tidak mengganggu jalannya ujian kan?" katanya dengan senyumnya yang khas.

Hari pertama ujian nasional di Kota Semarang ini diikuti oleh semua peserta ujian. Dari hasil pantauan Trijaya ke beberapa sekolah di Semarang, semua siswa di setiap sekolah pada hari pertama ini tampak memenuhi ruangan ujian yang disediakan. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Kejujuran Itu Mahal Harganya

Kejujuran di negeri ini memang harus diakui sudah menjadi barang yang sangat mahal harganya. Ia kemudian seolah menjadi barang antik yang menyimpan berbagai keunikan. Sebab, kejujuran sudah terlalu langka untuk dapat ditemukan di negeri ini. Mari kita melihat sebentar pada sebuah kenyataan yang ada. Bayangkan dan coba pikirkan, di negeri ini untuk menjamin kerahasiaan dan mengantisipasi kebocoran soal ujian, dinas pendidikan kita terpaksa harus 'sewa' polisi untuk melek selama 24 jam hanya untuk menunggui tumpukan kertas soal. Jelas, ini tidak murah ongkosnya. Namun kenapa hal ini harus dilakukan, lebih-lebih untuk sebuah tujuan mulia negeri ini yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa ini?

Saya jadi berpikir, untuk sebuah tujuan pendidikan saja, kejujuran ternyata susah ditemukan. Lantas bagaimana dengan yang lain?

Jangan-jangan, memang bangsa ini memang sudah tidak mampu mendidik atau justru sebaliknya tidak mau dididik tentang kejujuran? Karena, untuk lembar-lembar soal saja pemerintah harus bayar mahal dengan menugasi polisi untuk bergadang menunggui soal-soal. Kasihan polisi juga kan? Tentu, ia juga punya keluarga yang lebih membutuhkannya. Keluarga yang menginginkan kehangatan dengan kehadirannya di tengah-tengah mereka lebih-lebih setekah jam kerja. Apa kita tidak kasihan pula kalau suatu waktu nanti itu polisi terserang penyakit. Siapa yang akan menggantikan tugasnya sebagai seorang kepala keluarga? Anda? Tentu, tidak bukan? Nah, saatnya yuk kita jujur....

Saya yakin, kita mampu kok belajar jujur dari pada belajar untuk tidak jujur. Sebab, ketidakjujuran itu sudah tidak patut untuk dipelajaro lagi. Itu ilmu kuno. Bahkan itu sudah sering kali kita hafalkan benar. Setiap hari kita sudah langsung praktik tanpa teori. Saya tidak akan menuduh siapa-siapa. Sebab dengan menuduh itu sama artinya kita tidak jujur. Nah, ayo semuanya....mari kita ulang pelajaran membaca kita dari awal kita mengenal bangku sekolah. Sebab, ketika kita mulai belajar mengeja ada sebuah ketulusan di sana.... Anda mau kan belajar jujur?

Tentang Sebatang Rokok

kreket....kreket....
dompet kumal ku buka
selembar uang ku tukar
dengan kematian
sebungkus rokok,
korek api,
sisanya permen dan air mineral
satu botol

kresek...kresek....
ku buka segel plastik
berbenang merah warnanya
set....
satu batang rokok
aku hunus dari bungkusnya

lalu,

jres....
nyala api menyambut
kretek...kretek....
asap pertama
mengepul

'siapa kira
kita akan dipertemukan lagi' katamu

'ah, biasa sajalah
mumpung hari belum
terlalu menyeret matahari
hingga memaksanya tak menyembul lagi'

'apa kabar dunia?
kau dengat kabarnya hari ini?' tanyamu

'aku dengar
dunia tak lagi bersuara'

'kata siapa?' aku balas tanya

'banyak orang membungkamnya
dunia tak boleh membeberkan
rahasia Tuhan' katamu

'sebab
sekali terbongkar,
musnahlah kehidupan
dan
manusia tak lagi punya pekerjaan'

'bukankah manusia sedang sibuk
mengorek rahasia Tuhan?' tanyaku

'mereka sedang sibuk
mengakui dirinya benar
mereka sibuk berkampanye
tentang kebenaran versi mereka sendiri
mereka sibuk membungkam kesaksisan dunia'

'lantas kemana Tuhan?'

'Tuhan....?
Tuhan jadi barang jualan manusia
mereka seolah bertempur
atas nama Tuhan
tapi siapa yang tahu
mereka tak sedikitpun menghamba'

'dosa....ini dosa!!'

'dosa?
mereka sudah beragama
kata mereka tak perlu takut
dosa kalau sudah beragama'

'sesat...kau sesat, kawan!'

'aku hanya sedang sakau
ah, kau tak ubahnya mereka
bukankah kesesatan milik mereka
yang mengaku ber-Tuhan
tapi tak mampu temukan jalan
kembali pulang pada-Nya?'

'jangan terlalu sumbar, kawan
nikmati saja rokokmu
dan mari kita lihat
sebentar lagi drama kehidupan
akan semakin ramai'

'lihat!'

'pasar malam segera dibuka
manusia berjualan Tuhan
di sana
mereka juga mengobral surga
diskon 80 persen katanya
dan semua jenis eloknya surga
dipampang di sana'


Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......