18 Juli 2008

Kemenangan Golput di Jawa Tengah untuk Siapa [?]

Tayangan berikut merupakan ficer radio yang menyoal tingginya angka golput dalam Pilgub Jawa Tengah 2008. Hal ini saya anggap penting, mengingat sejauh ini pencapaian angka golput dari setiap penyelenggaraan pemilu di beberapa daerah juga selalu mengalami kenaikan. Pertanyaannya sekarang, kemenangan golput ini sebenarnya untuk siapa [?] Rakyat? Atau penguasa baru?

Selamat menikmati....

Salam,
Robert Dahlan


video

Anak Indonesia

video
Puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda

Hemat Pangkal Kaya

Mulai hari kemarin saya mendapati pemandangan yang cukup aneh menurut saya. Tidak seperti biasanya koridor gedung balaikota Semarang segelap itu. Beberapa lampu yang biasanya terbiarkan menyala di siang hari nampak mulai dipadamkan. Dalam hati saya bertanya, ada apa gerangan?
Namun saya segera menemukan sebuah jawaban pasti dari seorang pegawai di kantor tersebut. Namanya Pak Yani. Dalam sebuah siaran pers, ia mengungkapkan, pemadaman sebagian lampu-lampu yang ada di dalam gedung kebanggaan masyarakat kota Semarang ini terkait dengan Surat Edaran Walikota menyoal penghematan pemakaian listrik, BBM dan pemakaian jaringan telepon. Dan tentu ini juga berhubungan erat dengan kebijakan pemerintah pusat yang mulai mencanangkan program penghematan energi. Tentu pula, penghematan ini juga sebagai dampak krisis energi yang kini sudah kepalang parah dirasakan oleh masyarakat. Lantas muncul dalam benak saya sebuah pertanyaan. Kenapa ada krisis?
Sebenarnya mudah untuk menjawab pertanyaan itu. Ya, jelas karena ada pemborosan. Kita tahu berpuluh-puluh tahun lamanya bangsa kita ini sudah begitu bangga dengan pemborosan itu. Sampai-sampai hilang ingatan bahwa bangsa ini memiliki sebuah ungkapan yang saya kira sangat bijak. Hemat pangkal kaya.
Dari itu pula saya kembali bertanya. Apakah dengan hilangnya ingatan bangsa tentang slogan itu berarti pula bahwa bangsa ini sebenarnya tengah menemui sebuah titik kulminasi atau titik jenuh pemborosan itu? Atau dengan kata lain bangsa ini tengah mengalami sebuah masa-masa sulit kalau tidak mau dikatakan [kere]?
Semestinya pemerintah jujur sajalah pada rakyat. Katakan saja kalau bangsa ini sudah tidak memiliki uang sepeser pun. Toh, siapa yang akan marah? Rakyat? Mereka tidak akan marah saya kira kalau penguasa mau jujur. Bilang saja kalau krisis energi ini juga sebagai bagian dari ulah bangsa ini yang terlalu congkak. Terlalu sering mendongakkan dagu, sehingga lupa pula kacang akan kulitnya. Betapa tidak, bangsa ini telah mengalami periodisasi penjajahan yang teramat panjang dalam sejarah. Tidak hanya pada masa pemerintahan Hindia Belanda ataupun pendudukan pemerintahan militer Jepang saja saya kira, melainkan selama hayat masih dikandung badan bangsa ini.
Coba kita buka kembali catatan kita. Kalau dulu bangsa kita dijajah secara politik dan ideologi oleh bangsa-bangsa asing, kini bangsa ini dijajah secara ekonomi dan budaya oleh bangsa-bangsa maju. Buktinya, kita terlalu asyik mengayuhkan kaki kecil kita hanya untuk sebuah ambisi dengan sebuah slogan 'mengejar ketertinggalan' atau 'era tinggal landas' atau dengan ungkapan yang cukup diperhalus 'tuntutan globalisasi'. Tapi di sisi lain, bangsa ini tidak cukup punya keberanian untuk sedikit membusungkan dada dan mengatakan pada dunia 'kita punya peradaban yang jelas berbeda dengan yang lain'. Dan lucunya lagi, kita terlalu bangga untuk melakukan penghamburan anggaran hanya untuk membeli teknologi-teknologi yang katanya 'super canggih' atau bahkan 'ultra canggih' dari negara-negara asing tanpa memikirkan persoalan-persoalan yang lebih prinsipil dari itu semua. BUDAYA.
Belakangan bahkan banyak yang bertanya pada saya, sebenarnya seperti apa budaya kita? Nah, inilah sebuah kekeliruan terbesar yang pernah dilakukan oleh bangsa ini. Saking asyiknya mencontek budaya orang kini bangsa ini justru kehilangan kamus budayanya sendiri. Lucu.
Sebenarnya, kalau kita mau dan punya tekad besar untuk menelusuri persoalan budaya ini akan begitu banyak hal-hal yang mungkin akan dapat kita temukan dari sana. Bahkan boleh jadi pengembangan teknologi yang kita lakukan dengan mendasarkan pada kajian budaya ini akan semakin membuat bangsa ini menjadi bangsa yang paling tangguh di dunia ini. Tapi apa mungkin?
Lho, bagaimana ini? Ingat, dunia kini tengah mengalami sebuah krisis energi yang mengglobal. Beberapa negara maju diam-diam tengah melakukan sebuah pengintaian terhadap kekayaan budaya-budaya lokal negara-negara miskin seperti Indonesia. Bahkan kalau kita mau jujur itu sudah dilakukan sejak lama sebelum bendera PBB dijahit dan dikibarkan di gedung PBB. Kini mereka--beberapa negara maju ini--tengah mencoba mengembangkan penciptaan bio energi yang tentu bersumber pada negara-negara miskin seperti bangsa ini. Beberapa gerakan penggalakan penanaman pohon pun mulai dijamurkan di negara miskin. Tentu ini akan sedikit mengubah pola ekonomi masyarakat negara miskin untuk mengembangkan dunia pertanian. Dengan kata lain, lagi-lagi bangsa ini akan terus dijadikan budak bagi mereka.
Nah, mumpung belum terlalu terlambat ayo kita mulai melakukan perubahan. Dimulai dari pola pikir kita untuk menemukan kembali kesejatian bangsa ini dan dilanjutkan usaha untuk melakukan sebuah terobosan besar agar kita memiliki nilai tawar di mata dunia.
Ingat, hemat pangkal kaya, Bung. Maka sudah waktunya pemerintah kita ini mulai menghemat nyawa rakyat. Saya kira sudah terlalu banyak nyawa yang dikorbankan oleh bangsa ini. Semestinya kita juga mulai rajin untuk mempelajari pengalaman pahit bangsa ini supaya kita pandai dalam menyikapi setiap ihwal yang tengah berkecamuk di tengah-tengah masyarakat ini.
Ribut Achwandi

Darwinisme

Pada sebuah rumah yang tak terlalu mewah, tinggallah di sana sebuah keluarga kecil. Ayah, Ibu dan seorang anak namanya Barjo. Keluarga ini cukup harmonis dalam menjalani kehidupannya. Ayah adalah seorang tenaga pengajar fakultas filsafat pada sebuah perguruan tinggi. Ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang sesekali juga memiliki jadwal untuk mengisi kuliah luar biasa di beberapa kampus. Namun Barjo, anak mereka yang masih berusia 10 tahun ini justru betul-betul di jauhkan dari bangku sekolah. Alasannya, karena mereka takut jika nanti ia disekolahkan justru akan menghambat daya kreatifitas Barjo. Mereka beranggapan, bangku sekolah tak ubahnya bangku pesakitan yang akan mengubah dunia kreatifitas Barjo menjadi mandul serta hanya akan terdoktrinasi oleh pendiktean. Untuk alasan itulah mereka membiarkan Barjo tumbuh secara alami. Mendewasakan dirinya sendiri dengan bekal pengetahuan yang kadang sulit untuk dimengerti seperti pada sebuah percakapan malam antara Barjo dengan ayah tercintanya ini menjelang tidur.

Kali ini percakapan dimulai dari lontaran pertanyaan Barjo. Dia bilang, "Yah, kenapa banyak orang menganggap teori evolusi Darwin itu salah?"

Sang ayah tersenyum geli mendengar pertanyaan itu.

Barjo kecilpun bingung dengan sikap ayahnya ini. Tatapan matanya yang polos sepertinya tengah menangkap sebuah sinyal kejanggalan pada senyum ayahnya. Tanpa ba-bi-bu Barjo pun kembali bertanya. "Kenapa ayah tersenyum saja?"

Senyum sang ayah semakin melebar saja.

"Apa Barjo salah menanyakan itu?" tanya Barjo lagi.

Sang ayah diam kemudian. Lalu sedikit menata nafas dan menata rangkaian gerbong kalimat yang akan diluncurkannya dalam ungkapan yang tentu akan mudah dimaklumi oleh Barjo.

"Sebenarnya teori Darwin itu tidak salah tapi keliru."

"Maksudnya, Yah?" kali ini Barjo bersemangat untuk menanti penjelasan sang ayah.

"Maksud Ayah, teori Darwin itu tidak sepenuhnya salah. Kenapa? Karena teori Darwin ini bahkan justru melampaui pemikiran orang-orang sezamannya. Coba lihat sekarang, setelah banyak orang menganggap dirinya bukan hasil evolusi ala Darwin ini ternyata banyak orang yang bertingkah polah bahkan lebih gila dari seekor kera. Di televisi, di majalah-majalah bahkan di koran maupun di kampung kita ini, banyak juga orang yang tidak sadar kalau sikap mereka ini lebih gila dari seekor kera. Lagian mana ada kera mau korupsi?"

Barjo pun mengangguk.

"Kenapa? Karena ternyata Darwin belum melengkapi teorinya dengan memandang aspek sosiologi dan antropologinya. Jadi, ya banyak pula orang yang protes dengan teori evolusi Darwin ini." jelas sang ayah.

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......