27 Mei 2008

Narasi Luka Poniyem

Di bawah naungan sinar matahari yang tak lagi akrab, seorang nenek yang hidup sebatang kara di sebuah gubuk kontarkannya, berjalan terseok menyusur jalan beraspal. Semangatnya kini tengah memuncak. Sebab, sesuatu yang telah ia nanti sejak lama terkabul sudah. Harapan untuk menatap matahari yang tersenyum mungkin agaknya akan menjadi sebuah mimpi yang paling indah dalam hidupnya akhir-akhir ini. Namun matahari bagaimanapun juga tidak pernah tersenyum. Juga tak pernah cemberut. Matahari selalu angkuh di atas sana. Namun kali ini, nenek yang bernama Poniyem ini tak peduli dengan keangkuhan matahari. Di tangan kanannya, sebuah kertas mungil berwarna biru muda dengan beberapa deret huruf tercetak di sana, dan jika dibaca maka akan muncul sebuah nama di sana. Tak lain adalah nama suami tercintanya yang telah meninggal 3 tahun yang lalu. Kini nama tersebut menjadi sebuah senjata ampuh yang menyertainya.

Betapa tidak, nama itulah yang nantinya akan dapat mengabulkan keinginannya. Setidaknya ini sedikit membenarkan bahwa seorang istri yang baik dan setia akan selalu membawa berkah bagi dirinya sendiri. Kulum senyumnya nampak merekah ketika itu. Dipandanginya lembar kertas yang sangat berharga baginya itu. Sesekali celoteh kecil muncul dari bibir yang keriput karena usia.

"Ya, semoga saja aku bisa membuat segalanya menjadi lebih baik." ujarnya.

Langkah gontainya kini tengah memasuki halaman sebuah kantor pos di bilangan Hassanudin. Dilihatnya beberapa orang tengah duduk-duduk menunggu giliran. Tentu, ia pun paham akan itu. Sebab, ia pun akan melakukan hal sama dengan mereka. Segera ia mengambil tempat duduk dan memangku tangannya yang renta.

Teriknya matahari mungkin tak dirasanya kini. Oleh sebab, angin yang beberapa hari lalu mengetuk pintu rumahnya membawa kabar baik mengenai peristiwa hari ini. Peristiwa besar yang ia nanti setelah tersembunyi di balik kabar buruk lainnya.

"Harga BBM naik, sekarang ada bantuan lagi." ungkapnya.

Tak berapa lama namanya disebut. Iapun beringsut dari kursi empuk berwarna merah. Merapikan potongan kertas kecil dan sedikit melempangkan kertas yang ia lipat tadi. Bahu bungkuknya menampakkan semakin tak sabar ia menerima kabar baik itu. Segera ia sodorkan beberapa lembar kertas yang tak lain KK, KTP-nya, Kartu sakti penerima bantuan pemerintah, serta selembar lagi surat kuasa yang mengatasnamakan suami tercintanya. Oh, sungguh berharganya ia kini. Kesendirian rupanya tidak harus dibayar dengan penderitaan. Terkadang kesendirian baginya kadang lebih indah ketika ia mampu mengenang kisah lamanya yang indah dan serba romantis dengan suaminya dulu.

"Kartunya, Mbah." sambut sang petugas.

Ia diam dan langsung menyodorkan semua berkas yang tak tahu apa isinya. Yang ia tahu, ketika ia mendatangi kantor kelurahan tadi hanya dibubuhkannya cap jempol dengan tinta berwarna biru keunguan. Ia benar-benar tidak tahu persis. Yang ia tahu, ketika ia sudah menyerahkan kartu itu dan semua berkas yang ia bawa maka tak lama 3 lembar uang seratusan ribu akan segera mendarat di telapak tangannya. Itu saja.

"Lho, Mbah KTP-nya kok bukan yang aslinya?" tanya sang petugas.

"Itu KTP saya. Itu asli." jawabnya polos.

"Maksud saya kok ini KTP sama kartunya beda nama?"

"Oh, itu suami saya. Nama yang di kartu itu suami saya."

"Ini tidak bisa Mbah. Harus KTP suami Mbah."

"Lha kan suami saya sudah meninggal. Tadi juga saya sudah minta surat kuasa sama Pak Lurah. Dulu juga boleh kok, Pak." sedikit mulai pudar air mukanya yang tadi secerah rembulan purnama. Kini ia berhadapan dengan kemungkinan harapan kosongnya. Maka wajar jika ia memohon.

"Iya Mbah tapi sekarang sudah tidak boleh." agaknya sang petugas pun sedikit kelimpungan memberikan penjelasan pada nenek yang janda ini.

"Wah ya kalau gitu ya sudah, Pak. Saya cuma manut." Poniyem mulai menarik bahunya yang mulai rapuh dan sedikit menggeser telapak kakinya pertanda menyerah.

"Nah, Simbah pulang saja dulu biar nanti Bapak-bapak petugas ini yang akan mampir ke rumah Mbah."

"Lah tapi itu kartunya sama KTP?" ia menjulurkan tangannya yang mulai lemah.

"Oh ini biar ditinggal dulu." jelas sang petugas sabar.

"Lho, nggak boleh dibawa pulang?" pertanyaan Poniyem nampaknya sedikit menekan sang petugas yang sedari tadi berdiri dan melayani puluhan pengantre. Habis pula kata dari mulut sang petugas untuk sekadar menjelaskan pada Poniyem.

"Nggak boleh?" Poniyem kembali mengulang dengan nada suara yang parau dan habis tenaga dan semangatnya.

Sang petugas yang sebentar terbengong tadi terhenyak dan hanya memberikan berkas-berkas itu kembali di tangan Poniyem. Meski ia tahu itu bukan cara tepat untuk menyelesaikan masalah. Bahkan, ini akan semakin akan meruncingkan situasi. "Oh ya ini Mbah."

Tubuh renta Poniyem membalik sudah. Dibawanya langkah gontai, menyeretnya kembali ke pondok kayu kecil di sebuah kawasan pinggir kota. Gubuk Kontrakannya nampak tak jauh lagi. Di depan mata, nganga pintu gubuknya yang selalu tergenang air pasang laut Jawa tengah menyambutnya kembali. Tentu ia akan kembali mengakrabi tanah basah yang menjadi lantai gubuknya.

"Pakne, maafkan aku ya Pak. Aku tidak bisa membuat selamatan nyewu buat Bapak. Ya, karena aku tidak bisa ambil duit itu." ucapnya dengan sesal. Matanya yang mulai dikelilingi cabang-cabang kerutan lantaran waktu mulai berkaca sudah. Dalam pikirannya tersirat, kebaktiannya kini terhadap suami tercintanya Kodri mulai terusik. Cintanya yang begitu mendalam seakan dipudarkan oleh sebab yang tak ia nyana sebelumnya sembari menatap foto sang suami dalam bingkai usang sang suami.

"Maafkan aku ya Pak." ucapnya lirih.

Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

25 Mei 2008

100 tahun Indonesia Bangkit

Sebuah pidato yang sangat manis dari seorang pemimpin bangsa yang tengah terpuruk saya saksikan dari sebuah layar televisi berukuran 14 inchi. Dengan sedikit memberikan kobaran semangat 100 tahun kebangkitan nasional yang menjadi pokok perhatian pidatonya ia mengungkapkan keluh kesahnya mengenai nasib bangsa yang masih tak jelas akibat dari kondisi politik global yang rupanya sangat sulit untuk ditebak dan sangat sukar untuk diikuti. Kemauan politik global yang sedemikian rumitnya diakui telah membuat bangsa yang kini menghadapi masalah-masalah rumit di dalam memberikan pengayoman terhadap rakyatnya semakin terhimpit. Dengan sedikit sentuhan nada datar yang seolah memberikan ketenteraman sang presiden ini mencoba mengolah tiga hal yang menjadi resep bagi penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa saat ini di antaranya kemandirian, daya saing dan peradaban bangsa.

Sungguh suatu hal yang mungkin dalam pikiran saya secara pribadi, merupakan hal yang sangat muluk. Sebab pada kenyataannya, negara kita sekarang ini berada dalam sebuah jurang yang sangat dalam hingga tidak mampu memberikan terjemahan yang konkret mengenai kemandirian. Persoalan hutang yang membelit negara yang menyebabkan 230 juta umat manusia yang meninggali negara kepulauan ini terbebani. Belum lagi persoalan kebijakan ekonomi yang sangat tidak membuat negara diuntungkan lantaran kondisi pasar global yang terus menerus menjadi acuan dalam penetapan kebijakan ekonomi dalam negeri serta masalah-masalah lain yang berkaitan dengan bentuk wajah demokratisasi negara yang terus berkaca pada ketentuan negara-negara yang dikatakan maju.

Di sisi lain, hal tersebut juga secara tidak langsung telah berpengaruh pada daya saing bangsa yang semakin hari semakin diragukan. Kondisi riil yang sedemikian dapat kita jumpai dengan semakin tidak diperhitungkannya suara negara yang bernama Indonesia ini di hadapan dunia internasional. Indonesia seakan menjadi bangsa yang tidak memiliki arti selain hanya untuk tujuan eksperimen dan eksploitasi bangsa-bangsa lain. Bolehlah kalau dulu kita agak bersombong ria karena kita memiliki kekuatan yang sedikit besar dengan adanya Gerakan Non Blok, Perserikatan Negara ASEAN, Organisasi Konferensi Islam dan masih banyak lagi organisasi kelas dunia yang sempat menjadikan bangsa ini memiliki pamor. Namun kini agaknya perpecahan politik global telah benar-benar semakin menunjukkan bahwa bangsa ini semakin tak menemukan arah yang jalas dalam mengembangkan sayapnya.

Hal ini sebenarnya jika kita runut kembali erat hubungannya dengan persoalan kepribadian bangsa. Kita ingat dalam setiap buku-buku yang kita lahap habis halaman perhalaman selalu menyebutkan bahwa kepribadian bangsa akan nampak jika ia memiliki sebuah peradaban yang mumpuni. Tidak harus maju, namun yang terpenting bagaimana langkah konkret bangsa dalam mengupayakan penciptaan peradaban ini memiliki sebuah keteguhan dalam memegang prinsip dasar negara. Sebab saya yakin, setiap peradaban yang diciptakan oleh sebuah bangsa tentu bermuara pada sebuah tujuan demi kemajuan bangsa. Namun di sini saya sedikit akan lebih menggarisbawahi masalah-masalah peradaban yang dikaitkan dengan penciptaan dan pembaruan aspek budaya sebagai langkah yang tentunya harus segera dikelola dan diupayakan oleh seluruh komponen bangsa. Mengingat masalah budaya rupa-rupanya tidak mendapatkan porsi yang cukup besar bagi pengembangan bangsa ini.

Kita ingat betul kemajuan peradaban bangsa-bangsa kuno seperti Mesir Kuno, Yunani, Cina dan bangsa-bangsa lain yang kita kenal dalam kitab-kitab kuno tentang sejarah mengemukakan selalu ditopang dari prinsip-prinsip penciptaan kebudayaan masyarakat. Yunani misalnya, di sana kita melihat ada banyak tokoh pencipta letak dasar prinsip kebudayaan yang kemudian menjadi sebuah pegangan hidup masyarakat. Seperti Plato, Aristoteles, Homer, Anaximendes dan masih banyak lagi yang lainnya. Tokoh-tokoh inilah kemudian mendapatkan tempat yang sangat dimuliakan. Di Mesir Kuno kita dapat lihat pula keberadaan budaya kuno yang kini menjadi aset wisata sejarah yang sangat mahal harganya itu juga memiliki kekuatan besar dalam penyelenggaraan pemerintahan dan turut membentuk kekuatan negara. Namun coba kita tilik bangsa kita, sudahkah sedikit memberi peluang yang lebih besar bagi pengembangan budaya? Kalaupun iya, sejauhmana hal tersebut dapat dilakukan?

Kebudayaan di negara yang notabene memiliki ragam budaya lokal ini rupanya hanya menjadi sekadar hiburan bagi kepenatan. Budaya seolah menjadi aspek yang harus dipisahkan dari penyelenggaraan negara secara mendasar. Padahal dijelaskan dalam UUD 1945 alinea 4 dan Sila kedua Pancasila bahwa letak titik dasar kemanusiaan adalah peradaban yang dijiwai keadilan sebagai semangat penyelenggaraan negara. Dan sepanjang yang saya tahu, peradaban lahir dari sebuah budaya yang menjadi katalisator laju perkembangannya. Sehingga perlu bagi bangsa ini untuk kembali menilik persoalan budaya yang harusnya kita pegang dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bagi semua umat manusia yang meninggali negara ini.

Saya sedikit menyayangkan pernyataan presiden yang menyebutkan bahwa tantangan ke depan bangsa ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan masa lampau. Pernyataan tersebut membuat saya berpikir secara silogisme bahwa usaha pendahulu kita untuk meraih kebebasan dan menciptakan peradaban bangsa ini merupakan usaha yang tidak sebanding dengan usaha bangsa pada saat ini. Harus diingat, bahwa kemauan keras pendahulu bangsa ini untuk memerdekakan diri bukan sebuah euforia belaka. Namun jauh lebih dari itu, mereka justru mencoba menunjukkan bahwa bangsa ini memiliki martabat yang sama dengan bangsa lain yang tengah menguasai kekayaan ekonomi kita pada waktu itu. Perkosaan budaya secara besar-besaran dilancarkan oleh kekuatan-kekuatan asing yang membuat bangsa ini pada waktu itu bahkan kehilangan kendali akibat dari hilangnya citra bangsa yang sesungguhnya. Kebudayaan hanya menjadi komoditas keberhasilan ekonomi bangsa penguasa waktu itu. Dengan tidak segan-segan mereka pun memamerkan hasil budaya bangsa ini di depan bangsa-bangsa kolonial dalam festival budaya bangsa-bangsa kolonial di Eropa sana. Bahkan dengan memamerkan hal tersebut, kemudian bangsa penjajah ini semakin mampu melenggang dengan congkak dan mengatakan ini adalah hasil budaya yang mereka tanamkan. Bahwa bangsa yang mereka kuasai merupakan bangsa yang sangat mudah untuk ditaklukkan. Hal ini seharusnya semakin membuka mata kepala kita agar pemerintah lebih tegas dalam melakukan langkah strategis politik dunia. Saya kira pemerintah masih perlu banyak lagi membaca buku-buku sejarah. Hal ini sebagai langkah awal meskipun terlambat untuk memberikan kajian yang lebih komprehensif dan aktual dalam menetapkan sikap sebagai bangsa yang mandiri.

Tema Indonesia Bisa dalam peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi refleksi yang menantang bagi bangsa ini dan semakin arif dalam menanggapi persoalan yang dihadapi. Saya harap, bangsa yang besar ini tidak terlalu gegabah. Amin...

Ribut Achwandi

24 Mei 2008

Cagub dan Cawagub Harus Peduli Lingkungan

Pesoalan lingkungan masih akan menjadi PR berat bagi pemerintahan baru provinsi Jawa Tengah yang akan dibentuk melalui sebuah penyelenggaraan Pilkada Jawa Tengah, 22 Juni mendatang. Hal ini dikemukakan oleh Alvin Lie anggota DPR RI komisi VII di sela-sela Workshop Pengelolaan Lingkungan Hidup yang diselenggarakan hari ini di Semarang oleh Kementrian Lingkungan Hidup. Menurutnya, pemerintah perlu cermat dalam melahirkan kebijakan-kebijakan mengenai penataan lingkungan terutama terkait dengan masalah penyediaan ruang terbuka atau ruang publik dan pengelolaan sampah.

"Hal ini menjadi tantangan bagi para pasangan calon yang akan menjabat nantinya. Maka dibutuhkan regulasi-regulasi baru yang mampu menciptakan terobosan baru pula dalam pengelolaan masalah lingkungan." kata Alvin Lie.

Sementara ketika disinggung mengenai pengalihfungsian area publik yang akhir-akhir ini marak kembali terjadi khususnya di Semarang, Ibukota Jawa Tengah ini, ia kembali menegaskan pemerintah daerah tidak perlu melakukan hal tersebut. Sebab, hal itu akan menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah setempat. Mengingat pengalihfungsian area publik ini biasanya lebih cenderung bersifat komersil.

"Justru saat ini, masyarakat sangat membutuhkan area publik." tandasnya. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Alvin Lie: Rakyat Harus Terus Konsisten Tolak Kenaikan Harga BBM

Pasca pengumuman harga BBM yang dilakukan pemerintah kemarin malam masih menuai reaksi keras dari berbagai pihak. Bahkan kalangan DPR RI yang sejak awal telah menggulirkan penolakan tersebut masih tetap konsisten untuk melakukan penolakan terhadap kebijakan pemerintahan SBY-JK tersebut. Alvin Lie salah seorang anggota Komisi VII DPR RI hari ini ketika ditemui di Semarang menyatakan, upaya yang dilakukan pihak legislatif masih perlu mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat. Hal ini dikarenakan selama ini berbagai upaya untuk memberikan kritik terhadap pemerintah melalui hak interpelasi maupun hak angket cenderung hanya akan menjadi komoditas politik belaka.

"Kalau memang pemerintah sudah menetapkan kenaikan harga BBM ini, upaya legislatif dengan menggunakan hak angket maupun hak interpelasi hanya akan digunakan sebagai komoditas politik belaka." ujarnya.

"Kalau kami cuma berteriak di Senayang, sementara masyarakat masih tetap diam hal tersebut akan sia-sia belaka. Rakyat harus komit untuk terus melakukan penolakan tersebut." tegasnya.

Ia juga mengungkapkan pengalaman DPR dalam memberikan tekanan terhadap pemerintahan Megawati ketika menaikkan harga BBM dan TDL secara bersamaan adalah tidak lain berkat usaha keras dari semua kalangan termasuk rakyat. Untuk itu, ia berharap kalau memang rakyat merasa terjerat karena kebijakan ini, seharusnya rakyat tetap kosisten untuk melakukan penolakan.

"Kami tidak bisa dong berjuang sendirian. Rakyat harus tetap turun jalan." katanya mengakhiri perbincangan kami. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

BLT Tak Disambut Antusias

Pembagian dana kompensasi kenaikan harga BBM untuk Rumah Tangga Miskin yangberupa Bantuan Langsung Tunai di Kota Semarang tidak terlalu disambut oleh beberapa warga. Meskipun tampak mereka mengantri untuk mendapatkan dana bantuan tersebut, namun beberapa dari mereka menyatakan tidak berharap banyak mengenai bantuan tersebut. Tanggapan mereka cenderung pasif dan tidak antusias seperti halnya pada pelaksanaan BLT pada tahun 2005 yang lalu.

Menurut penuturan salah satu warga penerima BLT asal Telogosari, Rohman (45 tahun), ada atau tidak ada BLT tidak memberikan perubahan besar dalam kehidupannya. Ia bahkan mengatakan pelaksanaan BLT tahun ini masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya dimana beberapa penerima masih belum tepat sasaran. Ia juga mengemukakan, dengan besaran bantuan yang ia terima sebesar Rp 100 ribu per bulan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

"Ya, kalau semuanya naik, uang 100 ribu tidak cukuplah. Yang penting itu pemerintah lebih perhatian saja sama orang kecil. Kan kalau soal kenaikan harga itu kita cuma mengikuti kemauan pemerintah saja." ujarnya di sela-sela antriannya untuk mendapatkan dana bantuan tersebut.

Di Semarang sendiri pelaksanaan pembagian BLT berjalan lancar. Pembagian dilakukan di 49 titik dari 54 titik yang direncanakan sebelumnya. 21 titik dilakukan di kantor kelurahan dan kecamatan sedang 28 titik lainnya dilakukan di kantor pos. Sementara jumlah penerima BLT di Kota Semarang terdapat 82.665 RTM. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

23 Mei 2008

Negeri Unik


alangkah bangganya aku
hidup di negeri yang serba unik
konstitusi jadi barang antik
semakin jajuh mata memandang
semakin cantik rupanya
semakin diotak-atik
semakin menarik pula

ah, bung....
negeriku memang elok
cobalah tengok
semakin banyak kelok
semakin pula banyak jalan berbelok
sungguh eksotis

hukum ditelikung
di tikungan yang penuh palung
hingga akhirnya
tak jelas kemana arah keadilan didengung
sungguh abstrak

negeriku memang sulit untuk ditebak
kadang cepat marah
kadang terlalu lemah
sangat multitafsir katanya

ah bung....
lupa aku tanyakan padamu
apakah engkau orang indonesia pula?
kalaupun iya,
artinya kita sama

sepatutnya kita bangga
memiliki negeri yang langka ini
bagaimana tidak?
bukankah kita sama tahu
betapa sulitnya mencari kemurahan pemimpin
karena untuk mendapatkan kursinya saja
harus dibayar tidak murah

bukankah kita sama tahu
betapa sulitnya mencari pemimpin
yang benar-benar benar?
kalaupun ada,
mungkin hanya segelintir
dari spesies yang hampir punah ini

jangan terlalu kesal,
memang begitulah negeri ini

ayo bung....
mari kita ukur
sejauhmana kebanggaan kita
pada bangsa ini

eit...
tunggu,
jujur ya bung?
biar kita ikut pula dilestarikan
sebab orang jujur di negeri ini
sudah terlalu langka
mungkin kita perlu bangun pula
cagar kejujuran
atau monumen kejujuran?
untuk anak cucu kita nantinya
paling tidak untuk sekadar mengenang
masih ada orang jujur di negeri ini
benar kan bung?
negeriku unik
maaf negeri kita

Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

BLT=Bantuan Lama Tunggu

Di pagi yang tersirami hangat matahari, puluhan warga Perbalan kecamatan Semarang Utara telah mengeributi sebuah kantor pos yang berdiri cukup anggun di kawasan Jalan Hassanudin. Mereka berharap setidaknya mereka akan mendapatkan giliran pertama dalam pembagian dana bantuan langsung tunai yang katanya sebagai dana kompensasi kenaikan harga BBM. Rasa gerah karena asap knalpot terlalu memadati udara kota Semarang setidaknya telah benar-benar menguras tenaga mereka dalam bersabar menunggu. Namun apa hendak dikata di depan kantor pos tersebut kadung terpasang papan pengumuman kecil dengan tulisan tangan 'Pembagian BLT ditunda'. Kontan saja air muka mereka seketika berubah. Harapan menjadi sebuauh kekecewaan. Sesekali terdengar celatuk kecil yang disambut gerutu mereka membuncah.

"Ya, kalau begini ya saya kecewa. Lagian siapa yang tidak kecewa? Saya datang ke sini kan berharap dana bantuan itu segera saya peroleh dan bisa saya gunakan untuk keperluan saya. Paling tidak untuk makan dan membayar utang saya di rumah sakit. Soalnya suami saya sudah lama sakit. Ya saya sih ngerti pemerintah itu kan nggak cuma ngurus orang miskin. Urusan pemerintah itu kan banyak. Jadi, mau apalagi? Pasrah sajalah." Kata Murni.

"Kalau saya sih terima BLT itu ya senang ya tidak. Soalnya sebelum BLT ini dibagi harga-harga kan sudah naik duluan. Bensin naik, beras naik, terlur juga naik." Sahut Suripah.

"Lho saya sudah mengantri sejak jam 6 pagi tadi lho." Kata Sumiyati.

"Lho kami ini tidak diberitahu dulu sama RW soal pembatalan ini lho. Saya kemarin sore cuma dapat pembagian kartunya saja kok." ujar Parti.

Segala celoteh bercampur gerutu kesal mereka benar-benar telah membuat bising halaman kantor yang sudah terpasang tratak dan beberapa kursi lipat berwarna merah pun telah disiapkan sebelumnya. Lantas tanpa mereka sadari seorang pria muda dengan tubuh yang cukup tinggi yang diselubungi kaos dan celana olah raga tiba-tiba menghampiri mereka. Dengan tenang ia berbicara di depan mereka dan menjelaskan panjang lebar soal pembatalan tersebut.

"Kemarin sudah saya beritahukan pada lurah , RT dan RW kalau pembagiannya nunggu kabar selanjutnya. Tapi jangan khawatir, kalau sampeyan sudah pegang kartu, pasti dapat jatah BLT. Sekarang kami sedang menunggu hasil koordinasi degan Pemkot dan PT. POS. Jadi sekarang Bapak Ibu semuanya pulang saja dulu dan lanjutkan pkerjaan seperti biasa." katanya.

Namun beberapa saat orang-orang ini nampaknya masih bertanya-tanya siapa kiranya orang yang tengah berbicara di depan mereka.

"Saya camat Semarang Utara Bu." katanya santun.

Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang

22 Mei 2008

Mati

Pejabat mati dikemas peti
Rakyat mati ditimpuk tanah mati
Pejabat kenyang sampai setengah mati
Rakyat kenyang tak terkejar sampai mati

Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

21 Mei 2008

Ini Negeri Siapa Punya [?]

ini negeri siapa punya
berjuta buruh tak boleh protes
katanya mengganggu stabilitas
ini negeri untuk siapa
berjuta buruh terima upah ala kadarnya
katanya negara sedang bangkrut total
ini negeri kok semakin ngeri
kenapa?
sebab air mata dan keringat
harus pula dibayar darah
sang buruh hanya modal
sang penguasa butuh modal
tapi sang buruh tak balik modal
keringat mereka
air mata mereka
sudahkah tidak cukup lagi?

Ribut Achwandi [Robert Dahlan Al Sadani]

Sambut Ultah Ke 58 Jawa Tengah PRPP Mulai Sibuk

Jawa Tengah rupanya saat ini menjadi salah satu provinsi yang sibuk. Setelah 22 Juni mendatang akan menggelar Pilgub, tanggal 25 Juli-18 Agustus mendatang nampaknya akan kembali sibuk dengan rangkaian kegiatan spektakuler yang menjadi promosi potensi wisata, bisnis, perbankan dan UKM yang terangkum dalam sebuah gelaran Jateg Fair PRPP 2008. Sungguh sebuah usaha yang sangat menguras tenaga. Bahkan upaya serius ini nampaknya langsung mendapat tanggapan dari beberapa kalangan di antaranya Pemerintah Provinsi, PT. PRPP Jateng, dan PT. Mustang selaku event organizer.

Gelaran ini sendiri akan bertajuk 'Membangun Kemandirian dan Daya Saing UKM'. Tentu, hal tersebut akan melibatkan banyak UKM di sana. Bahkan dalam rencananya Presdir PT. PRPP Jateng Theo S Nugraha mengungkapkan, "Kami akan menyiapkan 500 stand bagi 9 bidang UKM yang ada di Jawa Tengah. Sehingga diharapkan semua UKM akan dapat tertampung di sana."

Namun demikian, nampaknya usaha tersebut masih belum cukup. Untuk itu, pihaknya akan melakukan beberapa perbaikan tempat lokasi penyelenggaraan yang akan dipusatkan di kompleks PRPP. Selain itu, dia juga menjanjikan akan melakukan terobosan baru dengan menurunkan harga tiket masuk dari tahun kemarin.

Adapun untuk hiburan, PT. PRPP menjanjikan akan mengundang beberapa band papan atas serta artis-artis Ibukota yang akan didaulat untuk mengisi rangkaian acara tersebut. Diharapkan hal tersebut akan mampu menyedot 500 penonton. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Sukawi Dilawan...

Sekali terjang maka angin badaipun pantang ditolak. Demikian kiranya ungkapan yang mungkin sedikit mendekati kegigihan tokoh kita yang satu ini. Sukawi Sutarip. Sang walikota, seorang publik figur yang sangat fenomenal dan senantiasa mendapatkan sorotan media akhir-akhir ini. Terlebih dengan dua hal yang sangat membuat popularitasnya semakin naik daun. Pertama, sebagai calon gubernur yang akan bersaing dengan 4 kontestan lain dalam perebutan kursi nomor wahid provinsi Jawa Tengah 2008. Kedua, dalam pemberitaan media massa beberapa minggu lalu menyebutkan dia adalah seorang tersangka dalam kasus APBD 2004 kota Semarang.

Sungguh dua hal yang sangat bertolak belakang. Namun pria kelahiran Pati ini tetap yakin dan optimis bahwa keinginan besarnya untuk jadi orang nomor satu di provinsi Jawa Tengah ini tak pernah surut. Bahkan hari ini, ketika KPK akan melakukan pemeriksaan atas dirinya, dengan sikap tenang ia menyatakan siap untuk menerima pemeriksaan tersebut.

"Tidak hanya menerima kedatangan mereka [KPK] tapi saya akan melayani mereka." katanya dengan kuluman senyum yang memesona.

Sebuah mobil sedan bercat hitam dengan plat warna merah bertuliskan H 1 A setia menunggu. Namun ia nampaknya masih disibuki dengan urusan wartawan. Lagi-lagi ia pun menegaskan, "Pemeriksaan ini kan sudah program rutin. Program reguler KPK yang diberlakukan kepada seluruh pejabat publik. Jadi tidak ada kaitannya dengn Pilgub."

Namun ketika disinggung mengenai lawatannya kali ini ke sebuah kawasan pedagang kaki lima di Jalan Kartini Semarang, ia menengarai hal tersebut hanya bagian dari tugas kedinasannya sebagai seorang walikota. Pembicaraannya dengan pedagang kaki lima pun hanya menyangkut masalah rencana pemindahan PKL di 2 lokasi pasar yang saat ini masih direncanakan yaitu pasar Waru dan Gunungpati.

Tapi bagaimana pula dengan ungkapannya yang sempat terlontar di hadapan puluhan PKL ini? "Bagi PKL yang berasal dari luar daerah Semarang, saya titip tolong sampaikan pada saudara-saudaranya yang berada di kota asal kalau Anda baru saja ketemu dengan pak Walikota Semarang, Sukawi." Hmm saya rasa Anda bisa sedikit memberikan kesimpulan.

[Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

16 Mei 2008

Mei Berdarah [renungan 10 tahun pasca tragedi tri sakti]
































Celoteh burung hantu di siang hari,
mengabar duka menabur luka
memar ulu hati
sengal tarikan nafas
kian membuat langkah kaki
tak terarah
siapa tertembak mati
hari ini,
tangis pagi hanya membuncah
menebar aroma luka
anyir darah
amis nanah
dor
sebuah senapan laras panjang
melontarkan butir logam maut
jerit
tak terbendung
bubar berlarilah orang kalang kabut
selaput hitam semakin menebal
Harus ada yang bertanggungjawab
Harus ada yang dipersalahkan
tapi, tak ada
orang-orang dengan senjata
berlari mengitari meja persidangan
palu kayu kian lapuk
rayap kekuasaan semakin menggila
hilang sudah sejarah
menjadi humus
bagi taman surga
sang pahlawan
mei berdarah
hanya tercatat dalam buku harian
yang tak pernah selesai
aku tulis


Ribut Achwandi

Anak Polah Bapa Kepradah

Salam,

Beberapa hari ini orang-orang nampaknya disibuki oleh ulah pemerintah yang akan menaikkan harga BBM. Aksi demonstrasi sampai penyegelan SPBU di beberapa daerah semakin mewarnai layar kaca di ruang keluarga. Tentu ini akan menjadi pemandangan yang sangat berat bagi mata kita yang sudah kadung lelah setelah seharian bekerja. Dan ini akan sangat melelahkan lagi ketika kita berkeinginan besar untuk mengistirahatkan otak kita namun pada kenyataannya hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Sebab, banyak hal yang mungkin akan lebih mengganggu pikiran kita manakala kita berandai-andai jika kemudian BBM jadi meroket harganya. Akan banyak orang miskin baru tentunya. Juga akan banyak orang frustasi baru pula barangkali.

Siapa sebenarnya otak di balik kenaikan harga BBM ini? Dalam pemikiran saya yang diselubungi kecurigaan menyebutkan, ini karena ulah sang globalisme yang kurang disikapi dengan kesigapan pemerintah negeri ini. Sehingga sering kali, alasan klise yang saya pikir terlalu dibuat-buat ini selalu muncul di halaman depan buku catatan pemerintah kita. Dengan huruf kapital dan tebal selalu dikatakan 'KARENA HARGA MINYAK MENTAH DUNIA NAIK'! Selalu begitu teriak pemerintah kita.

Tapi mereka lupa, atau bahkan tidak pernah mendengar teriakan rakyat 'KALAU HARGA BBM NAIK RAKYAT SENGSARA'! Lantas siapa yang akan bertanggungjawab? Tentu selalu dijawab dengan ungkapan yang sangat klise pula 'SEMUA KALANGAN HARUS BERTANGGUNGJAWAB, TIDAK PANDANG BULU'! Ironis, rakyat yang sengsara harus pula ketiban tanggung jawab besar dari negara. Aneh bukan?

Namun memang harus diakui, di negeri yang serba aneh ini jangankan berharap untuk bisa hidup layak bermimpi untuk hidup enak saja sudah tidak dibolehkan. Lah bagaimana tidak? Orang rakyat meminta agar pemerintah tidak main-main dengan kebijakannya eh...tetap saja selalu rakyat harus menanggung semua yang dilakukan negara. Benar pula ungkapan Jawa 'Anak polah, bapa kepradah'. Dalam ungkapan tersebut dapat kita artikan bahwa negara dilahirkan oleh keinginan bersama rakyat. Maka, dengan demikian negara adalah tak lain anak rakyat, milik rakyat. Dan rakyatlah yang membuat ia ada. Maka tak heran jika kemudian pemerintah benar-benar telah menerapkan hal tersebut ke dalam kehidupan benegara.

Pemerintah saat ini terlalu manja. Ia anak cengeng yang tidak terlalu berani untuk melakukan sebuah pengembaraan liar. Ia masih suka menetek ibunya. Ia masih suka mengadu pada bapaknya. Lantas rakyat, bapak sang negara mau mengadu pada siapa? Celakanya, rakyat hanya bisa mengaduh.

Salam,


Ribut Achwandi

14 Mei 2008

Seekor Kutu di Rambut Nabi



Aku hanya seekor kutu
yang bersembunyi di antara ribuan helai
rambut sang nabi
yang menyusup di balik sabda
yang dengan diam-diam menguping
dan menyontek setiap kalimat
tapi aku hanya seekor kutu
toh akal tak guna pula
sebab bebal aku
sebagai seekor kutu
manalah mungkin
aku mampu berpikir

Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

Muhammad





















Oh Muhammad,
yang menebar cahaya kasih ilahi,
yang mengajari cinta di atas gersang padang,
yang meluruskan hati dengan pedang cinta,
yang merapatkan shaf dalam penghambaan cinta,
Al fatihah bagimu,
agar syafaat tercurah bagi kami
rumpun doa-doa
yang kami jumputi dari wewangi
bunga-bunga taman ujung hari
maka urapilah jiwa kami dengan wewangi kesturi
agar pantaslah kami mendudukkan
diri kami tepat di sampingmu

Oh, Muhammad
tuangilah cawan-cawan kosong kami
dengan air murni zam-zam
agar mampu kami berkaca padanya
sehina apakah diri kami

Oh Muhammad,
yang membukakan pintu-pintu kasih
gerbang yang kau tunjuk
di sanakah Tuhan akan menanti kami?
ajari kami, agar Tuhan tersenyum pada kami
sebelum benar-benar kami
sampai di depan gerbang

Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

10 Mei 2008

Menuju Pencerahan

Salam,

Mengintip SASTRA Kita


Dalam sebuah perbincangan menarik saya dengan salah seorang sastrawan besar negeri ini yang kebetulan salah seorang 'guru' saya Ahmad Tohari (Kang Tohari) sempat terdiskusikan di sana, bahwa hakikat SASTRA merupakan nafas dan denyur nadi kehidupan itu sendiri. Ia adalah pusat kehidupan yang diciptakan dalam sebuah kosmos yang dibatasi oleh kata dan tata kalimat. Namun demikian, hal tersebut hanyalah sebuah wujud fisik saja. Jauh ke dalam, ketika kita mengupas hakikat maka akan kita jumpai ada banyak hal yang tidak terjamah oleh kita sebagai penikmat SASTRA maupun sebagai awam mengenai keterlibatan SASTRA dalam proses penciptaan alam raya dan makna-makna yang tersembunyi dalam menerjemahkan kehidupan. SASTRA menjadi sebuah sekumpulan kata sandi yang penuh dengan teka-teki untuk dapat membuka tabir kehidupan. Dan hal ini kemudian dicontohkan oleh sang novelis yang kini telah menikmati surga kehidupan di alam pedesaan ini, bahwa mau tidak mau sebenarnya kitab-kitab suci agama-agama apapun adalah sebuah karya SASTRA, jelasnya. Semula saya sontak tak begitu yakin dengan apa yang ia katakan. Namun lambat laun saya berusaha mengunyah pelan maksud dari kata-katanya. Belum juga selesai aku kunyah, tiba-tiba iapun kembali menyodorkan kepada saya secangkir kalimat. Kalau kita mau memahami dan mendalami sastra lebih jauh dan lebih dalam lagi, alam raya ini sebenarnya sebuah perwujud sastra yang sebenarnya.

Sungguh saya tidak menyangka sedemikian dalamnya. Saya pun tak segera menyeruput secangkir kalimat itu. Yang saya lakukan pada detik-detik awal, saya mencoba mengamati kejernihan kalimat yang tertuang dalam cangkir itu. Namun kembali ia memberondong saya dengan sebuah pernyataan. "Sekali waktu, tidak bisakah kamu nikmati dan rasakan jernihnya air kata yang saya suguhkan tanpa harus meragu? Sebab, kau tidak akan pernah tahu apakah itu ada racunnya atau tidak, atau justru malah tidak pernah akan dapat merasakan basahnya tenggorokanmu? Jangan terlalu menyiksa diri."

Ah, terlalunya saya. Rupanya tempurung kepala saya ini terlalu sesak dengan jejalan perangkat teori yang sedemikian rupa banyaknya. Saussure, Aristoteles, hingga Derrida, mereka berdesak-desakkan dalam tempurung kepala yang hanya mampu saya tutupi dengan songkok dari bahan sintetis.

Sejauh yang saya tahu soal SASTRA lagi-lagi hanya sebuah tulisan. Sejauh itu pula pemahaman saya terkadang mengambang. Dan saya kira tidak hanya saya saja yang demikian bodohnya. Bagaimana dengan Anda?


Seberapa Butuhkah Kita Akan SASTRA? [sebuah pertanyaan]

Kita sering bicara kenaikan harga BBM dan sembako. Kita juga sering kali mendiskusikan mahalnya biaya sekolah anak-anak kita. Bahkan tak jarang kita juga sering kali membicarakan tentang sebuah proses politik yang menyoroti pergantian penguasa. Tapi, di meja makan kita tak jarang pula kita lupa menaruh kudapan dan makanan serta minuman yang menyehatkan. Kita terlalu mabuk ketika membicarakan soal partai, soal bisnis, soal bagaimana kita mampu menyekolahkan anak kita dan bagaimana kita memperoleh pekerjaan. Memang tidak dapat dipungkiri ihwal itu sangat penting. Namun bukan sepatutnya hal tersebut akan menjadi sebuah sesuatu yang maha penting.

Dan saya ingat, suatu pagi ketika kami (Kang Tohari dan saya) tengah dengan asyik bersama-sama menyeruput kopi pagi di pelataran rumahnya. Dia berkata, "Kapan kamu merasa dipentingkan?"

Saya bingung dengan pertanyaan itu. Dalam pikiran saya, saya tidak pernah merasa dipentingkan. Bahkan dalam keadaan gawat sekalipun saya merasa tidak terlalu dipentingkan. Sebab, dalam kehidupan saya mungkin saya bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Tapi yang terpenting saya tetap memiliki niatan baik untuk sekadar memberikan bantuan.

Namun dari balik kacamatanya rupanya Kang Tohari masih mengamati kebingungan saya. Kemudian dia pun berkata, "Apakah tidak pernah dalam kehidupan kamu ini memiliki saat-saat dimana kamu dipentingkan?"

Saya menjawab, "Saya bukan orang penting, Kang. Jadi kapan saya akan dipentingkan."

Senyumnya melebar dan segeralah menyusul suara tawa. Koran pagi yang ia baca kemudian ia letakkan di atas meja yang berukuran 100 x 60 x 50 cm yang tepat berada di hadapan kami. Kemudian dia katakan "Di dunia ini tidak pernah ada orang penting. Bahkan presiden sekalipun. Sebab, jika ada seseorang yang mengaku dirinya penting, maka sebenarnya ia lupa akan ikrarnya yang secara tak sadar telah mengikat hubungannya dengan Tuhan. Ingat, kalau kamu muslim, pernah kan kamu menjanjikan Tuhan bahwa kamu atau kita akan mengakui hanya ada satu Tuhan tempat sandaran harapan-harapan kita? Makanya jika ada seseorang yang mengaku sebagai orang penting, ia sudah mendurhakai Tuhan. Dan celakanya, acap kali kita melakukan itu berulang-ulang tanpa kita sadari."

Dan begitu pula rupanya yang terjadi dengan sastra kita. Tanpa sadar kita telah mencampakkan sastra kita. Oleh sebab, kita tidak menyadari bahwa hal-hal yang berada di luar konteks sastra kita merupakan bagian kecil dari dunia sastra itu sendiri. Bahkan kalau kita tarik pada sebuah pendiskusian sastra yang dikaitkan dengan masalah-masalah kebangsaan maka kita akan menemukan sebuah kecenderungan yang negatif dari setiap rezim yang lebih memproporsionalkan masalah-masalah kenegaraan yang didasarkan pada kekuatan-kekuatan di luar konteks sastra. Padahal, sebagaimana kita ketahui bahwa kemajuan sebuah bangsa justru dilihat dari kemajuan budaya masyarakatnya. Bukan pada sektor pembangunan fisik yang pernah dilakukan Soeharto dan kini SBY malah berupaya membangun tumpuan politiknya melalui ekonomi yang hanya menjadi isapan jempol semata. Bisnis yang dijalankan oleh pemerintah nyata-nyata gagal mengingat ia justru meninggalkan karakter asli dari masyarakatnya. Bahkan kalau boleh saya berkomentar mengenai kondisi saat ini, pemerintah telah dengan nyata-nyata membangun istana kepedihan rakyat. Hal ini dibuktikannya dengan adanya semakin merajalelanya raja-raja kecil. Kekuasaan bahkan telah dengan sengaja mencundangi budaya. Estetika seolah menjadi kitab kuno yang hanya dapat dilelangkan dalam sebuah pelelangan barang antik. Lalu dengan leluasa kekuasaan membuat kitab baru estetika dengan redaksional yang sedemikian rupa. Hingga pada akhirnya, bangsa yang katanya kaya akan khazanah budaya lokal ini pun hanya bisa gigit jari melihat kemajuan negara tetangga.

Sudah kita saksikan, Malaysia telah dengan bangga mengangkat budaya kita. Meskipun banyak menuai reaksi negatif dari negeri ini. Namun setidaknya hal tersebut seharusnya membelalakkan mata penguasa dan mampu menggugah kesadaran penguasa. Namun itu ternyata hanya menjadi harapan yang tak tahu kapan akan dikabulkan.

Bicara mengenai SASTRA kita sebenarnya kita tengah bicara soal hidup. Dan ketika kita berupaya mendiskusikan hidup berarti kita tengah melintas garis-garis atau jalur-jalur yang beranekaragam yang bermuara pada satu kata 'PENCERAHAN'.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita benar-benar telah memiliki kebutuhan yang mendasar dengan SASTRA? Kalaupun iya, sejak kapan kita menyadari hal tersebut? Sekarang? Saya kira tidak ada kata terlambat sebab roda perputaran waktu masih akan berlangsung lama. Jadi apakah kita harus menunggu waktu lelah berputar?


Berguru Arif pada Sang Guru

Nampaknya, kita perlu belajar banyak dari Sidharta Gautama tentang pencerahan, kita butuh membaca pikiran Muhammad mengenai penyadaran spiritual, kita pun butuh menelusuri tapak-tapak kaki kesengsaraan Yesus sebagai pemerkaya makna kasih, dan dari sanalah Tuhan kemudian akan muncul dalam sebuah kronologis yang sulit untuk dijabarkan dengan kata. Hanya dengan pemahaman makna. Dan tentunya, kita harus dengan segera bekali diri kita dengan pemahaman filosofi tentang makna sufi, avatar, dan ketaatan terhadap kekuasaan Tuhan. Namun terkadang, sering kita jumpai pemahaman Tuhan ternyata terpenggal oleh sebab perbedaan. Padahal, dengan perbedaan ini semestinya kita lebih sadar dan lebih mampu mengasah ketajaman pikiran kita untuk memahami sampai sejauhmana kita langkahkan kaki kita untuk sebuah proses penyadaran.

Dan di sinilah, di dunia sastra sebenarnya kita akan berjumpa pada kekuatan makna yang tidak hanya didasarkan pada kekuatan leksikal dan kekuatan metafora. Melainkan, lebih pada kekuatan spiritual yang mencoba mengusung kajian-kajian filosofinya.

Sudah saatnya SASTRA kita tidak hanya menjadi cermin melainkan pula harus menjadi pengisi kekosongan otak dan rohani kita. Semoga ini bermanfaat. Terima kasih.

Salam,

Dariku Yang Mati

selembar kertas di ujung senja
secangkir kopi dengan setia menemani
ujung penaku menancap tajam
berkeliaran liar memburu kata
membumikan kata firman
yang terlampau jauh di awang-awang
sejenak kepulan asap rokok membumbung
lantas otakku terpenjara
sebab tak aku temukan makna
antara kebebasan dan pembebasan
mungkinkah negeri ini belum terbebaskan?
sebab, selamanya aku hanya menghamba
tanpa harga diri
tanpa cukup gaji
hanya daki
bercampur peluh
aku mencebur dalam pergulatan sang waktu
mencipta dimensi yang tak pernah aku ingini
sebab, sejak lahirku aku terbebas
dan kini
ijinkan aku membebaskan diri
sebelum negeri ini benar-benar
tergolek lemah
sebatang rokok kini terbiar
di atas asbak tembikar
aku terbakar
dan yang sempat ku tulis
sebelum aku pergi
'maafkan aku yang terlalu cepat pergi, istriku'

Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

Tembang Kehidupan

video

Potret Muram Pendidikan

Potret muram dunia pendidikan di negeri ini nampaknya terus mewarnai setiap gambar wajah Indonesia. Persoalan demi persoalan datang tanpa terencana sepertinya tengah mengutuki wajah coreng-moreng dunia pendidikan yang tidak pernah tersenyum sedikitpun. Sepertinya pendidikan dijadikan sebuah dongeng putri tidur. Ia hanya akan bangun ketika seorang pangeran yang ditakdirkan akan mempersunting dan membuat sang putri tersenyum bahagia ini datang mendekati ranjang pesakitannya. Namun, lama betul sang pangeran ini datang. Hingga terlalu lelapnya sang putri terbuai mimpi. Entah, apakah memang itu mimpi baik atau justru mimpi buruk yang mengurungnya hingga tak mampu untuk terbangun lagi. Yang jelas, ia butuh kehadiran seorang pangeran.

Sedemikian pula dengan dunia pendidikan kita yang terkadung carut-marut. Ia hanya bisa menunggu kehadiran wajah pemimpin yang sangat memiliki kepedulian terhadap nasib pendidikan ini. Mengingat sampai saat ini, pendidikan kita lihat masih minim porsi dalam pembicaraan meja sidang baik kabinet maupun dewan kita. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya masalah-masalah yang selama ini masih saja ditangani dengan setengah hati.

Ketidakjelasan pelaksanaan Ujian Nasional misalnya, merupakan salah satu contoh kasus yang saya kira perlu mendapat perhatian dari semua kalangan. Tidak hanya penyelenggara pendidikan, melainkan juga masyarakat kita yang akhir-akhir ini terlalu kurang memberikan respon terhadap masalah-masalah ini. Di satu sisi saya melihat ada sebuah ketidaksinkronan antara kebutuhan masyarakat mengenai pelaksanaan ujian tersebut dengan kemauan keras pemerintah dalam mempertahankan pelaksanaan ujian ini. Ketidaksinkronan ini dinampakkan dengan saling bertolakbelakangnya asumsi masyarakat yang merasa kewalahan dan tidak siap menerima kebijakan tersebut. Lebih-lebih, hal tersebut dinilai sebagai pematah semangat siswa atau anak-anak mereka. Sebab, dari kacamata saya sebagai orang yang peduli, pelaksanaan ujian nasional ini mau tidak mau harus diakui sebagai pengebirian siswa sekolah. Bagaimana tidak, siswa dipaksa untuk mendapatkan angka (bukan nilai) yang distandardkan untuk sebuah kriteria bahwa siswa tersebut lulus setelah menempuh ujian tersebut dengan meraih angka yang sudah distandardkan. Sementara itu, ujian dilakukan secara nasional. Padahal sebagaimana diketahui bersama kemampuan siswa antara daerah satu dengan yang lain sangatlah berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat mobilitas dan pemerolehan informasi di daerah khususnya daerah terpencil sangat berbeda (kalau tidak mau dikatakan berbanding terbalik) dengan pusat kota-kota besar. Di samping itu, kualitas pendidikan pun antar daerah memiliki karakteristik yang unik (kalau tidak mau dikatakan berbeda).

Hal inilah yang kemudian dalam frame saya memiliki asumsi bahwa terjadinya ketidakjujuran dalam penyelenggaraan ujian nasional ini menjadi seolah-olah wajar-wajar saja. Tidak usah terlalu jauh, dalam hal ini sebenarnya kita sama-sama tahu bahwa ketidakjujuran ini (kalau tidak mau dikatakan kecurangan) sudah berlangsung lama. Bahkan sebenarnya tanpa adanya laporanpun penyelenggara pendidikanpun saya kira sudah 'sama-sama tahu'. Inilah yang kemudian menjadikan pincangnya dunia pendidikan kita. Di saat prinsip ideologis penyelenggaraan pendidikan yang menginginkan adanya kejujuran sebagai salah satu pembelajaran moral secara bersamaan hal tersebut seolah di-'halal'-kan untuk dilanggar. Alasannya, tetap sama seperti dulu, biar semua lulus dan kontan saja biar pihak sekolah dipercaya telah mencetak lulusan dengan 'baik'. Bahkan, mulus hingga 100%.

Memang, perlu disadari pula bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan ini dibutuhkan sedikit unsur 'pemaksaan'. Karena, hal tersebut sangat erat kaitannya dengan 'pendisiplinan kepribadian'. Kendati demikian, bentuk-bentuk pemaksaan ini pada akhirnya akan melahirkan bangsa kerdil yang hanya bisa dipaksa tanpa memiliki kesadaran yang muncul sebagai reaksi setiap permasalahan yang ada. Untuk itu, jangan salahkan jika kemudian dalam perkembangannya, masyarakat kita terlalu banyak menuntut. Sebab, mereka sejak keci telah dengan 'sopan' diajari mengenai hal-hal yang sifatnya memaksa.

Sementara itu, sistem yang dibangunpun tampaknya harus benar-benar 'sempurna' tanpa menghiraukan kemampuan daerah. Hal ini semakin membuat pertanyaan besar bagi pelaksanaan otonomi daerah yang notabene juga diterapkan dalam penyelenggaraan pendidikan. Apakah memang sudah dilaksanakan sepenuhnya atau justru harus menunggu dengan alasan 'belum siap'? [Ribut Achwandi]

09 Mei 2008

Keluh Sang Pejabat

Di atas podium seorang pejabat tengah berpidato. Sementara saya tengah asik duduk di deret belakang dengan menyandar pada dinding tebal yang dingin karena ruangan itu dipenuhi hawa dingin yang disemprotkan dari AC. Sedikit canda kecil mewarnai obrolan saya dengan teman duduk. Namun tetap daun telinga saya terus saja menangkap suara sang pejabat yang terhormat. Sesekali saya lewatkan begitu saja. Sesekali pula saya tidak mau tertinggal ketika ia memberikan sebuah deret kalimat yang saya kira cukup membuat kaget.

"Saya kecewa dengan adanya black campaign itu. Penetapan tersangka itu, sebenarnya tidak pernah ada. Kampanye hitam itu membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa. Namun demikian, saya tetap berupaya untuk meyakinkan masyarakat Semarang agar tidak kecil hati." kata sang pejabat itu yang tak lain adalah walikota Semarang, Sukawi Sutarip.

Saya yang mendengar kalimat itu langsung terhenyak kaget. Bukan karena kata-katanya, melainkan mimik wajahnya yang berubah secara tiba-tiba. Ada kekesalan yang dapat saya lihat dari wajahnya. Garis wajahnya secara tiba-tiba berubah. Mungkin karena berita tempo hari yang telah menyudutkan dirinya. Lebih-lebih karena saat ini ia tengah menjalani pencalonannya sebagai gubernur.

Dengan agak tersendat ia kembali mencoba berkisah dan berkeluh, "Saya sebenarnya tidak pernah melakukan tindakan tidak terpuji itu. Selama saya menjadi walikota Semarang, tidak pernah terbesit dalam benak saya untuk melakukan korupsi. Saya juga tidak pernah menggunakan mobil pribadi. Bahkan selama saya menjabat, saya justru telah melakukan perbaikan dalam pelaporan neraca keuangan. Saya perbaiki pertumbuhan ekonomi Semarang. Kalau dulu ketika setiap akan membangun pemerintah kota harus menjual tanah aset pemkot yang mencapai luas 450 hektar. Maka saya berupaya untuk mengembalikannya. Namun biar sajalah, saya tidak akan pernah membalas."

Saya terdiam kemudian. Entah harus percaya atau tidak. Yang jelas, dalam benak saya terpikir untuk menuliskannya sebagai sebuah kabar. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Selubung Hitam PDAM Semarang

Jelaga hitam yang selama ini menyelubungi kantor PDAM Kota Semarang nampaknya masih akan terus bergayutan. Tak ada kepastian sampai kapan pemandangan muram perusahaan milik pemerintah kota itu akan terus menampakkan kemuramannya. Yang jelas, akhir-akhir ini krusi empuk yang berada di belakang meja dengan papan nama kecil di atasnya yang bertuliskan 'direktur utama' ini masih saja belum tersentuh hangat pantat orang berdasi yang segera akan mendudukinya. Tarik ulur pendapat dan perang urat saraf pun masih berlangsung antara pemerintah kota dan DPRD Kota Semarang.Di satu sisi, Pemkot terus bertahan untuk mengajukan 3 nama calon direksi yang katanya akan didudukkan di atas tiga kursi yang sudah disediakan, yaitu: direktur utama, direktur umum dan direktur teknik. Dan ketiga kursi itu secara berurutan akan diberikan secara 'hormat' kepada Wahge Namdega yang akan dinobatkan sebagai dirut PDAM, Tjipto Hardono untuk sebuah kursi direktur teknik dan Nur Haryadi sebagai Direktur Umum. Di sisi lain, anggota Dewan yang terhormat, mendesak Pemkot agar segera lakukan seleksi ulang. Otomatis, hari-hari muram ini akan terus memnjadi catatan panjang dalam perjalanan sejarah perusahaan milik Pemkot ini. Dan ibarat sebuah sayembara, dapat dikatakan saat ini pendekar-pendekar yang bertanding di atas laga ini belum dapat dikatakan sebagai jawara. Sebab, sampai saat ini mereka dinilai belum mumpuni untuk membuka selubung hitam yang berkecamuk di PDAM.

Tentunya, hal ini akan sangat membuat rakyat Semarang ini semakin khawatir dan resah. Mengingat, banyak hal yang mereka keluhkan selama selubung hitam ini belum juga dapat dibuka.

"Bagaimana bisa PDAM akan melakukan perbaikan pelayanan jika calon pemimpinnya tidak mumpuni?" kata Ngargono sang pendekar dari LP2K.

"Ya, karena mereka punya catatan khusus dari tim ahli, maka kami menginginkan Pemkot untuk lakukan seleksi ulang. Dan untuk seleksi ini nantinya akan kami serahkan kembali pelaksanaannya kepada Pemkot selaku penguasa PDAM." ungkap Susetyo Darmanto sang suhu Komisi B DPRD Kota Semarang.

Dalam sebuah sidang para pendekar yang mengundang tim ahli, tim seleksi, 3 nama calon, dan DPRD Kota Semarang beberapa hari lalu, adu kesaktian dalam berkelitpun digelar. Tim seleksi yang digawangi Sumarmo (Sekda Semarang) pada awalnya tetap ngotot untuk mempertahankan ketiga calon tersebut. Namun, DPRD Kota Semarang tetap tidak bisa menerima alasan-alasan yang dikemukakan Sumarmo. Sebab, mereka justru lebih percaya dari hasil laporan tim ahli. Semakin alotnya perdebatan itupun akhirnya disikapi lunak oleh sang Walikota.

"Kami hanya memberikan respon positif terhadap usulan tersebut." kata Sukawi Sutarip sang walikota.

"Berarti tidak keberatan kan Pak?"

"Tidak. Justru saya akan segera memanggil tim Pemkot untuk membicarakan nantinya bagaimana. Sebab, tim inilah yang punya PDAM." lanjutnya dengan senyum yang khas ala Sukawi Sutarip.

Namun kembali pula pada sebuah pertanyaan, kalau memang demikian, sampai kapan jelaga hitam di atas langit PDAM akan segera sirna? Apakah rakyat harus menunggu datangnya manusia pembawa cahaya? Atau ia yang mampu meniupkan angin? [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

07 Mei 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional

Sebuah visualisasi puisi
karya Ribut Achwandi
video
Video ini dipersembahkan untuk peringatan
100 tahun
Kebangkitan Nasional

Oh Sukawi, Nasibmu Kini

Di bawah hangat matahari Semarang yang mulai disibuki dengan segala persiapan menjelang Pilkada Jawa Tengah, muncul rumor yang santer bergulir di tengah-tengah semakin padatnya kota Semarang. Sukawi Sutarip - salah satu calon gubernur yang akan bersaing untuk merebutkan kursi panas nomor wahid Jawa Tegah - dinobatkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi APBD kota Semarang tahun 2004 senilai Rp 2,8 milyar. Sontak pemberitaan itu semakin menjadi primadona dan mampu meraup perhatian khalayak banyak. Bahkan, popularitas Sukawi Sutarip pun semakin melejit dengan pemberitaan tersebut.

Adalah sebuah usaha yang tidak main-main yang dilakukan pihak Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah ini. Sebab, kasus tersebut sudah terbengkalai sekian lamanya. Dan baru diumumkan pada hari Senin, 5 Mei yang lalu. Tentu, hal ini semakin membelalakkan mata khalayak yang sudah sekian lama menunggu kabar tersebut. Ini juga sesuai dengan janji Jaksa Agung Hendarman Supanji beberapa hari sebelumnya (Rabu, 30/4). Ia mengatakan, "Dalam waktu dekat Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jateng akan mengumumkan tersangka baru kasus korupsi."

Kontan setelah kabar itu tersiar, ramai-ramai wartawan menggeruduk kantor Walikota yang saat ini masih menjadi singgasana sang calon orang nomor wahid ini. Kendati demikian, usaha wartawan untuk menemui sang kandidat ini tampaknya harus kandas menjadi peluh yang sia-sia. Sukawi lebih tertarik untuk menghindari jepretan kamera dan sodoran tape recorder serta kamera video. Ia justru melarikan diri melalui pintu rahasia setelah menemui anak kesayangannya Dani Sriyanto, Sekretaris DPD Partai Demokrat Jawa Tengah. Bahkan dalam upaya itu, beberapa wartawan sempat menerima perlakuan yang sedemikian sopannya dari salah seorang ajudan Sukawi.

Dengan tergopoh-gopoh, tiba-tiba sosok berbadan tinggi tegap dengan potongan rambut cepak itu yang tak lain adalah ajudan Sukawi menyapa ramah, "Mas, sudah ditunggu Pak Yani (salah satu pegawai di lingkungan Infokom Kota Semarang) di belakang. Nanti ketinggalan berita loh."

Namun beberapa wartawan tetap tak bergeming meskipun akhirnya berhasil pula membubarkan diri secara terhormat. Namun mereka tak kalah akal, mereka justru menunggu di balik pintu depan dengan duduk-duduk di atas lantai yang terbuat marmer dengan ditemani dua buah patung arca Dwarapala. Mereka pun saling berbagi keceriaan di tengah-tengah kepenatan hari yang semakin panas. Mereka saling mengawasi kalau-kalau sang kandidat ini lari dari terkaman kamera dan tape recorder mereka.

Hari mulai berkeringat. Udara lembab Semarang tetap saja tak begitu akrab bagi mereka yang tengah menunggu ketidakpastian. Meski mereka sendiri tahu, sulit untuk dapat menemui Sukawi. Tapi semangat mereka tetap saja tak surut. Barulah sekitar pukul 13.30 mobil yang rencananya akan ditumpangi Sukawi meluncur. Seketika itu mereka berpikir, Sukawi lolos. Namun dari kejauhan nampak sosok yang tak lain adalah Dani, dengan tinggi sekitar 165 cm dengan peci dan kemeja biru muda dan tas di impitnya berjalan menuju ke arah mobil yang diparkir di depan gedung DPRD Kota Semarang. Sekonyong-konyong beberapa wartawan pun lari mengejar sang anak emas. Di depan gedung megah kompleks perkantoran Walikota Semarang, saat sengat matahari begitu runcingnya menusuk pori-pori dan hampir mengelupaskan kulit mereka mencegat dan menggiring Dani dengan menusukkan pertanyaan-pertanyaan.

"Bagaimana tanggapan DPD Partai terkait penetapan status ini, Mas?" Tanya salah seorang wartawan.

Dengan senyum Dani menjawab, "Kami masih tidak percaya dengan pengumuman tersebut. Sebab, dalam peraturan disebutkan jika kasus-kasus yang ditangani merupakan kasus yang krusial, lebih-lebih menyangkut salah satu calon gubernur, pengumuman itu seharusnya diumumkan langsung oleh kepala Kejaksaan Tinggi dengan melibatkan jajarannya. Lah ini kan tidak. Pengumuman itu baru diberikan oleh salah seorang asisten Jampidsus."

Angin sedikit memberi kesegaran. Namun tak begitu lama, dalam hitungan detik wartawan kembali memberondongi Dani dengan pertanyaan. "Kalau begitu DPD menolak atas putusan tersebut?"

Lagi-lagi Dani dengan senyumnya yang khas dan terkesan tenang menjawab, "Ini kan urusan yang krusial. Seharusnya juga dikoordinasikan dengan Kejaksaan Agung."

"Langkah apa yang akan dilakukan DPD Mas?"

"Sebenarnya hari ini (Selasa, 6/5), kami akan menemui Kajati untuk melakukan cross check terhadap kasus ini. Namun rupanya Kajati sedang ada acara di lain tempat. Jadi saya akan menemuinya besok (Rabu, 7/5)." jawab Dani.

"Menurut Mas, apa ada indikasi black campaign di balik pengumuman ini?"

Dengan sedikit membetulkan peci hitamnya dan sebentar merapikan kemeja biru mudanya ia pun lantas menjawab, "Saya kira memang demikian. Mengingat dalam kurun waktu ini popularitas Sukawi-Sudharto saat ini sedang mengalami penaikan. Sehingga tidak menutup kemungkinan adanya indikasi ke arah itu. Hal ini bisa dilakukan oleh siapa saja mengingat masa pemilihan gubernur Jawa Tengah sudah dapat dihitung dalam hitungan hari. Untuk itu, kami akan meminta klarifikasi kepada Kejati. Sebab, dalam audit yang sudah dilakukan sebelumnya mengenai laporan administrasi terkait penggunaan APBD ini sudah diselesaikan dengan baik dan itu menunjukkan Sukawi bersih."

Sebentar kemudian mobil opel blazer hitam dengan plat H 15 BY yang sudah beberapa waktu menungguinya segera ia sambut. "Oke, itu dulu ya." Sapanya ramah. Tak lama ia pun menenggelamkan diri dalam mobil yang segera meluncur. Lambaian tangan Dani nampak samar dari balik jendela.

Di tempat lain, tepatnya di sebuah gedung perkantoran yang terletak di kawasan Jalan Veteran Semarang, ikut ramai pula ditelusur wartawan. Sungguh hari yang sangat sibuk bagi para pemburu berita ini. Di dalam sebuah ruang yang sederhana, mereka sempat ditemui oleh salah seorang anggota KPU Provinsi Jawa Tengah, Ida Budiarti. Kontan, ia pun menjadi sasaran empuk bagi pertanyaan-pertanyaan seputar kasus tersebut. Dan tanpa ba bi bu ia pun menegaskan, "Pencalonan Sukawi sudah ditetapkan. Jadi tidak mungkin untuk dicabut. Untuk itu kami masih menunggu keputusan hukum tetap kasus Sukawi."

Sementara hari masih begitu panjang, namun perjalanan waktu teramat singkat. Beberapa wartawan bergegas pula untuk menemui ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera yang merupakan partai pengusung pasangan calon Sukawi-Sudharto ini. Pendirian partai inipun masih begitu kuat untuk mempertahankan Sukawi-Sudharto sebagai dua sejoli yang dijodohkan dalam singgasana kursi nomor 1 dan 2 Jawa Tengah.

"Ini kan belum pasti." kata Arif Awaludin.

Hari menjemput senja. Wajah lelah para pemburu berita kini nampak sudah. Dengan bekal yang energi yang tersisa, mereka pun mulai menghilang dari garis edar yang tak beraturan. Mereka seolah bukan hanya menjadi bagian dari kosmos melainkan kosmos itu sendiri yang memberi denyut kehidupan dalam setiap waktu. Masih banyak hari yang harus mereka kejar. Masih banyak hari yang tak boleh sedikitpun mereka lewatkan. Kepulangan mereka kali ini bukan berarti sebagai tanda mereka akan meninggalkan hari. Namun jauh dari itu, ada matahari pagi yang harus ia sambut esok.
[***]

Perburuan hari kedua pun dimulai. Segala macam senjata mereka siapkan pula. Dan waktu, menjadi semacam pertaruhan antara hidup dan mati. Inilah perang yang sesungguhnya. Saat matahari yang tak lagi akrab mereka pun harus tetap tegar beradu. Perjalanan pertama mereka kini menuju sebuah bangunan berlantai dua di sebuah gang kecil Jalan Menoreh Utara Raya. Bangunan yang tak lain adalah gedung sekretariat DPW PKS Jawa Tengah ini memang agak masuk menjorok ke dalam sebuah perkampungan. Bahkan, mungkin ini adalah satu-satunya gedung sekretariat sebuah partai yang sangat tidak mengekslusifkan diri. Sebab, mereka lebih memilih di dalam perkampungan daripada di tepi jalan besar. Sangat berbeda. Begitu hangat, begitu harmonisnya.

Kedatangan beberapa pemburu ini pun disambut dengan ramah oleh sang empunya gedung. Senyum dan sapa yang hangat sungguh membuat teduh. Ini adalah sebuah pertalian antar batin yang sangat jarang dapat ditemui. Bahkan sangat langka.

Sembari duduk santai di ruang front office, pembicaraan pun dimulai. Kebetulan, salah seorang fungsionaris DPW PKS yang tak lain adalah Sekretaris Umum, Sri Praptono datang mampir ke kantornya itu. Beberapa pemburu berita pun langsung menyambutnya dengan sederet pertanyaan.

"Bagaimana sikap PKS setelah penetapan Sukawi sebagai tersangka, Pak?"

Ia pun tersenyum sebentar, "Kami tetap akan mendukung. Karena kasus tersebut sampai saat ini kan belum jelas."

"Nah, upayanya apa, Pak?"

"Memang setelah pemberitaan tempo hari itu kondisi partai sempat mengalami kekhawatiran. Namun kami sudah melakukan koordinasi baik di internal maupun eksternal. Namun kembali kami tekankan, kami tetap optimis bagi kemenangan pasangan Sukawi-Sudharto." jawabnya.

"Ada upaya untuk memberikan bantuan hukum, Pak?"

"Saat ini kan sudah dilakukan oleh pihak Sukawi. Namun jika memang diminta, kami pun tidak menutup kemungkinan akan melakukannya."

"Soal indikasi adanya black campaign?"

"Ya kami tidak akan langsung menanggapi soal itu secara tergesa-gesa. Namun tidak menutup kemungkinan akan hal itu."

Jauh dari kantor DPW PKS yang sederhana itu, beberapa pemburu ini juga mengejar sosok Dani yang pada hari sebelumnya telah menjanjikan akan menemui kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. Di depan kantor Kejaksaan Tinggi, mereka pun langsung menghimpit tubuh Dani dan memberondongnya dengan pertanyaan.

"Kami akan lakukan pendalaman atas kasus ini. Saya yakin ini ada kepentingan politik di balik itu semua." jawabnya.

Kendati demikian, pernyataan Dani ini rupanya sampai pula ke telinga Rahmulyo, pimpinan pasukan Aliansi Masyarakat untuk Penegakan Hukum (AMPUH). Mendengar hal itu ia berang dan langsung berkomentar, "Aksi yang selama ini kami lakukan bukan untuk menjatuhkan popularitas Sukawi. Dan sama sekali jauh dari tujuan-tujuan politik paksis. Kami hanya melakukan penyadaran masyarakat. Kami hanya mengupayakan agar seluruh elemen masyarakat memiliki kepedulian terhadap kasus tersebut. Dan kami tetap akan berkomitmen akan terus mengawal kasus ini sampai di meja hijau."

Awan hitam kembali menyeruak di atas kota yang dulu dikenal sebagai Litle Netherland. Orang-orang kembali sibuk dan terus sibuk. Karena waktu terus bergulir. Namun saat ini yang terpenting mungkin adalah kembali mengistirah. Barangkali esok akan ada sebuah kabar baru lagi. Apapun itu, menjadi sesuatu yang penting bagi semua saja untuk kita cermati, kita nikmati saja. Toh ternyata perang urat saraf ini tetap saja tidak membuat masyarakat terlalu peduli. Mereka terlalu capai dan bosan untuk mengamati dari kejauhan mengenai hal itu. Salah seorang dari sekian juta warga Semarang bahkan mengatakan, "Kalau saya disuruh memilih, saya tidak akan memilih. Sebab terlalu sering masyarakat ini dikibuli." kata Erwin Setyohermawan. Siapa peduli? [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

06 Mei 2008

Buruh Tinta

Suatu pagi yang membosankan, yang ku temui masih saja sama dengan kemarin dan hari-hari yang telah aku lalui, pada jam yang sama dengan kemarin, pada tempat yang tak jauh beda dengan kemarin lusa. Selalu. Sekelompok anak manusia berjalan di antara dinding tebal dengan ketinggian yang kurang lebih antara 40 hingga 50 meter kira-kira. Dengan tas yang lekat di punggung mereka dan langkah mereka yang tampak terburu-buru. Sesekali terdengar renyah tawa mereka. Sebentar aku pejamkan mata, berharap semoga pemandangan ini segera berganti. Namun nihil. Sepertinya waktu kian melambat, seiring usianya yang kian renta. Ataukah karena langkah-langkah mereka itu? Tapi bukan. Entah aku merasa sesuatu telah mengubah jalan pikiranku tentang waktu. Mungkin karena aku telah bosan hidup di dunia ini? Atau karena aku terlalu banyak menyaksikan indahnya taman di tengah kota yang kini mulai ditanami gedung-gedung pencakar langit? Atau aku kehabisan gunung yang ingin aku daki lantaran telah banyak kompleks perumahan dan villa di sana? Entahlah.

Dulu aku pikir hidup ini indah. Kadang aku tak mau berbagi dengan yang lain karena saking indahnya. Aku jadi makhluk paling egois waktu itu. Ketika di pantai tak boleh satupun anak yang boleh menyelami ombak dan bermain dengan buih-buih mungilnya. Dan ketika aku pergi ke puncak, sedikitpun aku tak membolehkan saudaraku, adikku satu-satunya berbaring sembari memandang langit yang dipenuhi bintang. Selalu aku katakan padanya, “Semua bintang itu milikku.” Kalaupun ada bulan, maka bersegera aku merebutnya dan mengantonginya ke dalam retina mataku.

Sekarang, yang tersisa asap rokok, bau alkohol dan berbagai aroma yang bertumpang tindih dalam sebuah kotak yang digerakkan mesin disel. Sama sekali aku tak dapat menikmatinya. Aku harus turun manakala di tempat tujuanku. Dan memang aku agak sebal dengan hal-hal semacam ini. Sekali waktu aku justru memutuskan untuk turun sebelum tempat tujuanku. Aku mual. Bau alkohol yang keluar dari mulut pengamen yang menyanyikan lagu-lagu yang sebelumnya tidak pernah aku kenal. Mungkin dari sekian pengamen yang pernah aku temui hanya ada satu yang aku gandrungi.

Ketika itu malam masih menyisakan sedikit waktu. Seorang pengamen yang tak pernah aku kenal namanya, menyanyikan sebuah lagu Belum Ada Judul-nya Iwan Fals. Aku takzim benar. Seluruh bagian dalam telingaku khusuk mendengarkan lantunan itu. Dari satu nada menjadi dua, dari dua nada menjadi sepuluh, hingga ujung nada terakhir aku dengarkan semuanya. Bahkan aku tak menghirau sebelah tempat dudukku. Seorang perempuan malam tengah menangis di sebelahku. Entah kenapa? Tiba-tiba saja ia menyandarkan kepalanya tepat di pundakku. Sepertinya ia tengah melabuhkan segala beban pikirannya yang berkecamuk. Dan ketika semua kembali larut dalam kebisuan yang terdengar olehku hanya suara isak tangis yang ia tahan dan raungan mesin tua. Tak berapa lama, ia tersadar.

“Maaf ya mas.” Katanya dengan wajah merah dan mata yang sembab.

Aku hanya diam.

“Lagu itu benar-benar mengingatkanku pada seseorang.” Rupanya ia ingin membuka kembali pembicaraan yang terputus.

“Teman, Mbak?” tanyaku sekadar membasahi bibir.

Ia mengangguk dengan helaan nafas dalam. “Sudah lama kami tak bertemu. Terakhir ketemu, ia mati dilindas kereta api. Mengenaskan.” Matanya kembali sembab, dan bulir air mata kembali meleleh, menganak sungai di pipinya.

Aku tak berani menatapnya lagi. Kutundukkan kepala.

“Padahal, waktu itu sudah aku bilang, jangan pernah merasa dirimu itu kesepian. Kau masih punya teman. Tapi ia tetap saja tak mendengar. Dan yang paling menyakitkan, ia justru bilang padaku, aku tak punya teman sekotor kamu.”

Aku semakin tak berdaya. Tangisnya membuatku berpikir jauh menerawang ke dalam sebuah gelombang putaran waktu yang semakin jauh ke belakang. Dalam belantara ingatan aku kembali menyusuri setapak kisah yang aku pendam lama. Terlalu lama. Bahkan mungkin aku lupa karena begitu banyak persimpangan kemudian yang aku buat. Lekuk setapak ingatan itupun sering kali membingungkan. Dan kutemui sebuah nama di sana. Robert. Ialah teman ketika kami sama-sama belum mengenal betul dunia. Entah kini kemana? Aku telah meninggalkannya jauh-jauh. Dan siapa kira kemudian aku akan hidup di sini. Di tempat yang sangat jauh darinya. Sebuah kota dengan pemandangan yang menawarkan surga bagi tiap penghuninya. Namun tak luput pula di sisi lain, aku merasa ini adalah neraka.

Suatu malam, di temani tetesan air sisa hujan, di dalam kamar aku sempat berpikir untuk segera enyah dari kota ini. Tapi tidak. Aku tidak bisa meninggalkannya. Karena aku ingin hidup. Dan sampai pagi ini kembali pun aku tetap ingin hidup. Meskipun asap timbal aku kira sudah memenuhi rongga paru-paru dan virus penyakit telah menjangkiti darahku.

Sungguh pagi yang sangat membosankan. Dan kenapa aku harus membuka ingatanku kembali? Toh, tetap saja tak membuat pemandangan di depan mataku berubah. Tetap saja mereka. Satu-satu wajah mereka mulai aku kenali. Ku lambaikan tangan, dan menyapa mereka di pagi yang membosankan ini. Ya, mereka inilah temanku. Tak apalah, jauh dari Robert.

“Ada kabar?” tanya Inay.

“Tidak.” Jawabku. “Aku sedari tadi menunggu tetap saja tak ada kabar.”

Ini hari kedua setelah aku harus mengistirahatkan diri dari segala pekerjaanku. Tentu aku tak begitu tahu apa yang tengah bergemuruh di luar sana ketika aku tak lagi menarikan penaku dan memutar otakku.

“Sudah baikan?” tanya Inay.

“Aku rasa tidak ada yang perlu diperbaiki.”

Ya, aku pikir segala sesuatu tidak selamanya harus diperbaiki. Sebab, banyak hal yang kemudian teramat sulit untuk aku pahami. Bahkan sampai saat ini aku pun tidak sepenuhnya mampu menerjemahkan arti kata pekerjaan. Yang ku pahami dari sebuah logika tentang pekerjaan kini hanyalah mengerjakan sesuatu sesuai dengan perintah. Aku hanya menjadi aneksasi dari sebuah perusahaan. Aku hanya boneka permainan pengusaha dalam memainkan peranannya sebagai kepanjangan tangan untuk meraup keuntungan besar bagi mereka.

“Ini surat kontrak Anda. Mohon tanda tangan di bawah sini.” Jari lembut perempuan yang kemudian ku kenal bernama Surti pun menunjuk dan mengacungkan sebuah ballpoint kepadaku.

“Dan ini ketentuan yang berlaku di perusahaan kita.” Suaranya lembut selembut bibirnya yang tipis.

Tiba-tiba suara langkah lari kecil menghampiri dari arah belakangku. Kian mendekat dan semakin mendekat. Aku kenali langkah ini. Suara itu menabrak ke daun telingaku dan mulai merambat ke rongga telinga dan mengirimi pesan ke dalam gendang telinga, lalu merambatlah sampai ke dalam otakku.

“Ada demo!” seru suara perempuan yang tak lain ia, Restu.

Aku bergegas membalikkan badan dan segera menghampirinya.

“Demo?” tanya Prio.

“Di mana?”

“Siapa?”

“Masalah?”

“Kapan?”

“Berapa orang?”

Semua tanya bertubi dengan satu jawaban, “Sebentar lagi datang.” Kata Restu.

“Ikut?” tanya Inay padaku.

Tanpa kujawab, aku pun langsung melebarkan jenjang kaki dan berpacu dengan detik-detik yang tak menentu. Membuang batang rokok, dan mengangkat tas ransel kehidupanku. Ya, di dalam tas itulah aku titipkan nyawa entah keberapa yang aku punyai. Sekadar menyambung penderitaan yang semakin tak jelas ujung rimbanya. Penderitaan? Kenapa pula aku sebut hidup penderitaan? Aku jadi ingat sebuah buku yang pernah aku baca. Dalam tulisan buku itu menyebutkan, kehidupan yang sebenar-benarnya hidup ialah kematian. Dan kehidupan di dunia ini adalah kematian. Karena di dalam kematian ruh terlepas dari beban dunianya, terlepas dari kungkungan keinginan jasmani. Dan ruh tak butuh itu semua. Ia akan kembali menyatu pada empunya. Tuhan. Ah, semakin aku merinding dibuatnya.

Kadang sempat terpikir olehku, kalau memang demikian, apalah artinya hidup? Apakah hanya menuruti kebutuhan jasmani? Atau justru mencoba mendobrak pintu-pintu penjara ruhani? Membebaskannya dari kungkungan jasad yang semakin merenta. Membebaskan dari segala penderitaan. Atau hanya menunggu? Ah, Tuhan berikan aku jawaban pasti. Sementara waktu tak mau menunggu terlalu lama.

Di depan puluhan manusia berseragam bertampang seram menghadang. Pagar gedung kantor walikota pun ditutup rapat. Sepertinya ada sesuatu yang sengaja disembunyikan. Entah apa itu? Aku tak mau mempedulikannya. Yang ku tahu di sekitar jalan depan gedung itu seorang petugas kulihat dimaki seseorang yang menunggangi kendaraan mahalnya. Sebuah mobil mewah berwarna merah dengan simbol kuda jantan.

“Saya mau masuk!” kata seorang lelaki berkumis lebat dari dalam mobil.

“Tidak boleh, Pak. Bapak hanya dibolehkan memutar dan lewat pintu belakang, Pak.” Kilah si petugas berseragam lengkap.

“Ini urusan penting!”

“Tetap saja Bapak harus lewat pintu belakang.”

Merasa tersinggung lelaki setengah baya itupun turun dan tambah membentak, “Menghina kamu! Saya tidak biasa lewat belakang. Kamu belum tahu saya ya? Mana komandan kamu?” dadanya kian membusung dan tatapan matanya kian liar. Ada bara yang segera tersulut menjadi api di dalam hatinya.

Aku hanya tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Dalam pikiranku, hebat betul si pak tua ini. Begitu kebal dengan seorang petugas. Ah, apa peduliku. Toh, begitulah kira-kira potret kehidupan. Kemenangan hanya kepunyaan mereka yang memiliki kuasa. Dan aku, siapa aku? Aku hanya bisa tertawa kecil ketika memandangi diriku dalam ketelanjangan pikiranku. Ketika aku membiarkan diriku meliarkan diri. Dan saat ini aku hanya seekor binatang liar yang bernama manusia. Yang salah menempatkan diriku dalam kandang dunia yang sedemikian mencengangkan. Di tengah rimba yang dipenuhi gedung tinggi lebat dengan akar-akar kuatnya yang menjuntai dan menyeramkan. Ah, aku jadi ingat pulang ke rumah. Di kota kecil yang tak terlalu dilebati oleh gedung-gedung tinggi. Teringat pula wajah Ibu yang sesekali hadir dalam mimpi-mimpi malam. Bercerita tentang menderitanya ia karena banyaknya hal yang ia hadapi dalam kesendiriannya yang telah lama ia alami. Kadang ia ceritakan pula kebahagiaannya ketika ia mendengar mendapatkan pekerjaan di kota ini.

“Heh, itu mereka!” seru Inay.

Sontak aku terkaget.

Dan jadilah sebuah berita besar yang kemudian muncul di televisi, koran, radio dan beberapa majalah. Benar saja, ribuan orang ini memang sempat membuat gempar. Seisi kota sepertinya tumpah ruah ke jalan. Tercecer. Mandi dalam kolam dunia dengan panas matahari kota yang jelas tak seakrab dengan kota ku yang kecil. Keringat dan ingar-bingar koar orang-orang yang meneriaki walikota, menuntut mundur dari jabatannya. Dalam pikiranku hanya sederhana saja, kalau memang walikota mundur, siapa yang mau menggantikannya kalau tahu ketika ia duduk di atas kursi panas itu hanya untuk mundur juga.

“Ya, kalau walikota nggak bisa ngurus masalah buruh ya mundur saja! Percuma dong kami percayakan ke dia. Wong dianya nggak mau ngerti nasib buruh.” Kata salah seorang pendemo. “Tolong ya mas, mbak sampaikan pesan kami ini sebagai buruh. Atas nama perjuangan buruh. Atas nama demokrasi!” sambungnya.

“Negeri ini, kota ini kadung sakit mas, mbak. Orang-orang yang duduk di sana hanya memikirkan perutnya sendiri.” Sahut yang lain.

“Ganti saja!”

“Copot!”

“Mundur!”

“Mundur!”

“Mundur!”

Entahlah, dari mana mulanya mereka sedemikian memaksa walikota ini untuk mundur. Mereka begitu bersemangat untuk meneriakkan kata ‘mundur’. Entah, apa mereka benar-benar mengerti konsekuensi dari kata ‘mundur’ itu sendiri atau malah sebaliknya, tak tahu apa-apa jika walikota benar-benar mundur. Ah, yang penting aku catat saja dulu. Semuanya. Dan jangan sampai satupun terlewat. Sebab di luar sana ada banyak manusia yang tengah menunggu sejauh mana berita ini kemudian akan beredar.

Kadang aku tak habis pikir, kenapa mereka sebegitu marahnya. Apakah karena memang mereka merasa dicundangi kekuasaan? Ataukah karena ada sulut api yang membakar mereka? Sedang aku dan kawan-kawan seolah tak punya hak untuk melakukan hal yang sama. Ketika kami dikebiri oleh penguasa-penguasa kami. Yang boleh kami lakukan hanya menulis dan menulis tentang nasib ibu-ibu yang merana karena tak mampu membeli beras, tentang bapak-bapak yang tak lagi mampu membiayai sekolah anaknya, tentang pahlawan yang tak diperhitungkan jasanya dan segudang nasib yang sedemikian terpuruknya.

Suatu ketika aku ingat, di siang yang disirami sengat matahari, puluhan ribu petani menggeruduk kantor gubernur. Mereka minta kejelasan hak atas tanah garapan mereka yang dikuasai oleh sebuah perusahaan perkebunan ternama. Aku catat peristiwa itu sebagai peristiwa pencabulan massal atas keringat petani. Dengan judul besar aku buat tulisan itu karena semata aku ingin mengungkapkan kegundahan puluhan ribu petani yang harus menangisi nasib mereka. Paling tidak, saat itu rasa kemanusiaanku muncul karenanya. Namun terkadang kemanusiaan juga sangat sulit untuk dapat dimengerti. Aku justru dituduh telah melakukan provokasi. Aku ditikam teman sendiri.

“Berita sampah macam apa ini?” ujar kawan sekantor dengan nada mencibir.

“Maksudmu?”

“Lihat. Tulisanmu ini tidak laku di koran kita. Kau cuma buang-buang energi untuk menuliskan ini semua.”

“Buang-buang energi?”

“Ya, coba tengok. Apa perlunya kau bikin berita macam ini? Dan siapa pula yang sudah kau kritik habis-habisan? Bodohnya kau!”

“Ini fakta Bang! Puluhan ribu petani menangis karena perusahaan raksasa itu.”

“Hei, aku ingatkan kau sekali lagi. Jangan pernah singgung nama besar perusahaan ini. Ingat itu!”

“Ini fakta!”

“Heh, minta didor kau?”

“Lantas apa gunanya?”

“Masih juga bertanya kau?”

“Aku butuh penjelasan Bang.”

“Belum cukup kuat penjelasanku? Bagaimana kalau mulai hari ini kau istirahat dulu? Aku tidak mau dengar tulisan-tulisan kau yang bikin provokasi itu.”

“Heh Bang, kita sudah berjuang bertahun-tahun Abang justru main tikam teman. Sudah gila kau Bang? Yang benar saja Bang? Kita mau main apa? Politik? Bisnis? Atau Abang sedang cari muka?”

“Heh, sekali kau ngomong soal ini lagi aku tak segan-segan memecat kau. Ingat itu! Sekarang enyah kau dari muka aku! Enyah!”

“Omong kosong apa ini Bang?”

“Supri! Panggilkan satpam untuk wartawan gila kita ini. Aku sudah muak lihat dia punya muka!”

“Bang, dosa kau Bang!” aku berusaha meraih lengannya namun beberapa orang telah menghalangiku.

“Supri!” lantang ia memanggil.

“Aku belum selesai bicara! Bang! Bang!”

Dan kapanpun pembicaraanku tempo hari tak akan pernah selesai. Sebab, sesuatu telah merusak keteguhan imanku untuk meyakini tentang kemanusiaan dan kebenaran. Sekarang, haruskah aku tulis dengan kemanusiaan?

Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

03 Mei 2008

Kabar Baik di Hari Baik

Pagi itu (Jumat, 2/5) awan mendung bergayut di atas langit kota Semarang. Barisan manusia-manusia berseragam tertata rapi memenuhi halaman Balai Kota. Wajah-wajah mereka menampakkan begitu riangnya. Bersukaria dan begitu bersemangat pagi itu. Mungkin setidaknya pagi itu tidak ada sengatan matahari pagi yang kadang membuat gerah, berkeringat dan tidak nyaman. Tentu saja. Namun di balik senyuman mereka yang kian melebar ini agaknya ada sesuatu yang tersembunyi. Dan benar saja ketika saya mulai menyambangi mereka. Sesekali mereka saling membisik dengan mengatakan, "Gaji kita jadi naik!"

Sungguh beruntungnya mereka, di hari ulang tahun 461 kota Semarang mereka menerima dua kabar baik. Pertama, tentu karena hari itu hari istimewa maka tak akan banyak hal yang mereka kerjakan. Mereka sedikit bisa bersantai di hari pendek itu. Kedua, oleh karena pada hari spesial itu mereka akan segera menerima rapelan kenaikan gaji 20% selama 5 bulan terhitung sejak bulan Januari yang lalu.

Dan ketika saya mencoba menanyakannya pada Suseno, Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kota Semarang, ia pun mengiyakan. "Ini kan sesuai dengan amanat PP no. 10 tahun 2008. PP ini merupakan perubahan ke sepuluh kalinya dari PP no. 10 tahun 1974 mengenai perubahan gaji PNS." jelasnya dengan senyum mengembang. Dan binar matanya begitu riang menerima kabar baik ini.

Sebentar ia membenarkan posisi duduknya. Semakin santai dan tak sedikitpun canggung. Dan saya kembali bertanya, "Kenaikan ini untuk semua PNS?"

"Ya sudah tentu. Dan kenaikan ini juga terjadi pada tunjangan kecuali untuk tunjangan struktural." jawabnya.

Saya semakin tertarik untuk mengorek semuanya. "Anggarannya dari mana?"

Sebentar ia menarik nafas. Sorot matanya kini menatap langit-langit ruangan kantornya yang disibuki lalu-lalang manusia-manusia berseragam. Ia kembali mengingat-ingat. "Oh, ini dianggarkan dari 3 hal. Pertama dari APBN yang berupa DAU senilai Rp. 634 milyar. Terus dari hasil bagi hasil baik pajak maupun non pajak yang mencapai Rp. 165 milyar. Dan alokasi anggaran juga diambilkan dari PAD yang memiliki nilai sebesar 260 milyar. Jelas dengan anggaran sebesar tersebut, kami optimis untuk dapat memenuhi kebutuhan anggaran tersebut."

Tentu saja 18 ribu PNS kini akan segera dapat mengembangkan senyum mereka. Bagaikan bunga mawar merah yang tengah merekah.

01 Mei 2008

Buruh Gelar Aksi Seni

Jum'at, 25 April 2008 | 11:55 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:-- Para buruh punya cara tersendiri untuk mengekspresikan peringatan Hari Buruh yang jatuh pada Mei mendatang. Tak melulu melakukan aksi keras, mereka juga bisa unjuk rasa di atas panggung. Lewat acara kesenian bertajuk "Sehari Bersama Kesenian Buruh", mereka menggelar panggung musik ala kadarnya di Halaman Teater Taman Ismail Marzuki, Rabu lalu.

Acara yang merupakan rangkaian agenda menyongsong May Day 2008 ini murni disokong kocek para buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Carrefour Indonesia (SPCI) dan Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia.

"Pergelaran acara kesenian ini menjadi perekat solidaritas dan menyatukan barisan meminta kebijakan," ujar Ketua SPCI Abdul Rahman. Kebijakan yang diminta para buruh ini tampaknya tak berubah dari tuntutan setahun lalu, yakni penghapusan sistem kontrak, penolakan upah murah, pencabutan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, dan penolakan pemutusan hubungan kerja secara massal.

Panggung yang identik dengan kostum SPCI berwarna merah ini pun dihiasi secara sederhana. Bahkan dua buah sapu lidi bisa dibuat sebagai hiasan di sudut panggung. Tiap-tiap buruh dari berbagai wilayah, dengan sukarela naik ke atas panggung untuk beradu aksi. Ada yang bersolo gitar, membaca puisi, dan memainkan musik. l AGUSLIA HIDAYAH

sumber: www.tempointeraktif.com

Celoteh di 1 Mei Pagi

Hari ini buruh merayakan hari raya BURUH Dunia beberapa dari mereka melakukan aksi turun jalan untuk menyuarakan jeritan dan penderitaan mereka. Mempertanyakan kesungguhan pemerintah sebagai lembaga formal yang memiliki kekuasaan penuh atas nasib umat manusia yang menghuni sebuah kawasan yang bernama negara. Mereka mencoba mendobrak dan mencoba untuk membuat pemerintah agar dapat lebih membuka mata dan hati penguasa agar lebih arif dalam memberlakukan sebuah kebijakan mengenai ketenagakerjaan. Hanya satu yang mereka minta, pedulikan BURUH. Tidak lebih....

Saya kira hari BURUH kali ini sudah saatnya pemerintah mulai membuka diri dan melakukan terobosan-terobosan baru dalam memberikan perlakuan terhadap BURUH yang saat ini merupakan penopang kekuatan ekonomi di semua lini kehidupan. Sebutan sebagai 'penyumbang devisa' saja itu tidak cukup untuk dapat mengangkat harkat mereka. Namun lebih dari itu, mereka ini harus pula dimanusiakan. Mereka bukan mesin pencetak uang negara. Mereka bukan kotak ajaib para pengusaha yang bisa membuat kaya. Mereka hanya manusia lemah yang hanya mengantongi semangat dan keinginan untuk lepas dari penderitaan. Untuk itu, ironis jika kemudian penderitaan mereka hanya akan semakin ditimpa dengan penderitaan baru yang semakin bertubi-tubi. Sistem kontrak dan out sourcing merupakan pemerkosaan besar-besaran yang telah dilakukan penguasa untuk bisa memanjakan pengusaha.

Sejalan dengan itu, pemberlakukan kedua sistem tersebut juga telah jauh dari semangat dasar perekonomian kerakyatan yang dijanjikan pemerintah. Harus disadari pula, bahwa konsep dasar perekonomian kerakyatan bertumpu pada kekuatan-kekuatan ekonomi rakyat bukan pengusaha meskipun kita sadar, pengusaha juga rakyat namun jumlah mereka mungkin hanya 0,0001% dari sekian banyak rakyat yang hidup di negara ini. Pemerintah seharusnya lebih proaktif dan lebih memberikan pembelaannya kepada BURUH. Inilah tantangan berat yang dihadapi pemerintah saat ini mengingat penguasa-penguasa di negeri ini juga seorang pengusaha. Kiranya momentum hari BURUH kali ini seharusnya menjadi refleksi dan titik balik dari sejarah perburuhan Indonesia. Semoga saja pemerintah kita tak buta mata hatinya... Amin...

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......