17 Juli 2008

Hak Angket; Dari Senayan Hingga Balaikota Semarang

Tampaknya wacana untuk meng-hakangket-kan kepala pemerintahan kini menjadi trend yang cukup santer dilakukan oleh anggota dewan kita yang terhormat. Seiring dibukanya pintu gerbang demokrasi yang ditandai dengan kebebasan tiap-tiap orang untuk 'ngomong' alias berpendapat betul-betul dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat. Dalam hal inilah kemudian saya menangkap ada kecenderungan semua pihak untuk dapat menampilkan dirinya sebagai pencitraan yang memiliki kekuatan politik besar. Anggota DPR baik dari DPR RI maupun DPRD kota maupun kabupaten yang sebagian besar dari kalangan partai politik konon kini mulai menampilkan performa berani mereka. Sebuah tampilan yang saya kira cukup dimodifikasi sedemikian rupa agar tampak garang di hadapan eksekutif. Tapi apapun alasannya, pertama saya ingin ucapkan selamat dulu atas keberanian yang diciptakan atau sengaja diciptakan ini oleh para anggota legislatif ini.

Terlepas dari itu semua, saya kembali ingin menggarisi pada sebuah poin penting yang mungkin patut kita pikirkan bersama. Sebenarnya apa yang menjadi dasar pengguliran hak angket tersebut?

Kalau di gedung DPR RI sana mengatakan, wacana hak angket ini terkait dengan harga BBM yang terkadung melambung akibat pemerintahan SBY-JK berulah dengan menaikkan harga jualnya. Tapi kali ini berbeda dengan apa yang nampak di gedung DPRD Kota Semarang, yang notabene lebih menyuarakan pada persoalan penyelenggaraan PPD 2008 melalui jalur khusus yang 'bermasalah' alias rawan penyelewengan dan sarat korupsi. Saya tidak habis pikir, kenapa banyak hak angket yang digulirkan oleh anggota dewan yang terhormat ini justru muncul setelah rakyat telah kehabisan suara mereka untuk melakukan perlawanan. Ambillah contoh kasus besar yang tengah terjadi di negeri ini, kenaikan harga BBM yang telah berimbas pada semua lini ekonomi baik sektor mikro maupun makro hingga membuat masyarakat arus bawah ini semakin 'kere'. Lalu dengan mudahnya pemerintah menggencarkan serangan fajar mereka dengan menggelontorkan Bantuan Langsung Tunai sebagai 'sogokan' pemerintah atas derita rakyat itu. Kemudian membiarkan masyarakat kembali pada sebuah kondisi yang stagnan tanpa tahu harus berbuat apa dengan uang pecahan di tangan mereka itu untuk apa. Tak mau dianggap terlambat, DPR pun kemudian buru-buru menggelar sidang dengan agenda pengguliran hak angket terkait dengan kebijakan pemerintah tersebut.

Kini, wacana pengguliran hak angket justru mencuat di kota Semarang dengan agenda penyelidikan mengenai kebijakan pemerintah kota Semarang terkait penyelenggaraan Penerimaan Peserta Didik (PPD) tahun 2008 melalui jalur khusus. Konon, penyelenggaraan PPD jalur khusus yang seharusnya diperuntukkan bagi warga tidak mampu, anak guru, karyawan serta pemerhati pendidikan dan juga bagi calon peserta didik yang memiliki kontribusi besar bagi pendidikan (siswa berprestasi maupun siswa yang memiliki kemampuan ekonomi lebih). Namun pada kenyataannya, penyelenggaraan PPD jalur khusus ini justru hanya menjadi ajang lelang bangku sekolah dengan tawaran yang sangat mahal harganya. Dengan kata lain, siapa berani bayar mahal satu paket bangku sekolah, maka ia yang boleh mendudukinya. Sedang untuk anak guru, warga kurang mampu dan siswa berprestasi yang kebetulan tidak disokong cukup ongkos, silakan bersabar.

Kesabaran mungkin benar ada batasnya, namun perlakuan yang demikian tentu tidak dapat dibenarkan. Mengingat saat ini ada beberapa hal yang mungkin patut dicatat oleh penyelenggara pemerintahan. Dalam sebuah kesempatan yang cukup baik saya sempat bertanya pada Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Sri Santoso, sejauh ini apakah yang menjadi dasar dari pelaksanaan PPD jalur khusus tersebut? Dengan 'arif' beliau menjawab, "Dasarnya ya peraturan Kepala Dinas yang dikerucutkan pada petunjuk teknisnya."

Kurang puas saya kembali bertanya, "Lalu bagaimana teknisnya? Apakah dalam juknis ini juga menyertakan anak guru, karyawan maupun anak warga kurang mampu mendapatkan tempat khusus ini yang besarnya hanya sepuluh persen ini?"

"Ya tentu, kami sudah memperhitungkan semuanya. Mereka ini termasuk dalam prioritas." kali ini suaranya tegas, tandas.

Namun pada kesempatan lain ketika saya tanyakan hal yang sama nampaknya Sri Santoso berkilah, "Anak guru maupun warga kurang mampu ini kami prioritaskan dalam jalur reguler. Sebab, jalur khusus sudah ditutup." Hal senada juga diungkapkan Walikota Semarang Sukawi Sutarip.

Tentu ini sangat bertentangan dengan amanah juknis. Hal demikian, tentu saja sedikit membuat kalangan DPRD Kota Semarang berang dengan penelikungan aturan main ini. Bahkan, ketika saya menemui ketua komisi D DPRD Kota Semarang Ahmadi, dia langsung menyatakan hal tersebut sudah mengindikasikan adanya kecurangan. Bagaimana tidak, dari lima poin penting yang diterakan dalam juknis ternyata yang terpampang di papan pengumuman PPD hanya tiga poin. Dan ini dilakukan di seluruh sekolah yang hidup di kota Semarang.

"Ini adalah salah satu upaya kami dalam melakukan penggalangan dana. Dengan kata lain, hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memajukan satuan pendidikan di sekolah." Kata salah seorang kepala sekolah yang sempat saya temui.

Nasi keburu menjadi bubur dan bubur ini telanjur lembut untuk dilumat. Kini tinggal mencicip manis asamnya saja. Masyarakat toh kembali tertipu. Hak angket sebagai ancaman yang akan menghadang pemerintah kota Semarang di bawah kendali sang Walikota ini pun mungkin sedikit akan menjadi bumbu pelezat. Setidaknya, akan sedikit memberikan aroma rasa bubur yang telanjur tertelan ini. Siapa yang salah?

Mungkin jawabannya nihil. Sebab, masyarakat telanjur sama-sama merasakan enaknya bubur ini. Tapi sebuah ketelanjuran ini nampaknya tidak dibiarkan begitu saja oleh semua kalangan. Bahkan, kini kasus ini sampai pula menjadi daftar penyelidikan Polwiltabes Semarang. Sedang di meja sidang nampaknya wacana hak angket segera akan digelar di sebuah sidang dalam akhir bulan Juli ini. Pertanyaannya adalah, kenapa DPRD Kota Semarang tampaknya mulai melakukan hal semacam ini ketika semuanya terlambat?

Mungkin tidak, sebab pada gilirannya nanti dengan pengguliran hak angket tersebut harapan kita sebagai warga kota Semarang ini tentu tetap optimis pada pelaksanaan PPD tahun 2009 maupun tahun-tahun berikutnya tidak terjadi hal yang sedemikian parahnya. Penelikungan atau kalau tidak mau dikatakan sebagai pengkhianatan terhadap Peraturan daerah mengenai penyelenggaraan pendidikan ini janganlah sampai menjadikan racun yang terbiarkan merasuk ke dalam tulang sumsum dunia pendidikan. Sebab, dengan adanya penelikungan ini sebenarnya pemerintah kota Semarang telah memberi racun pada siswa-siswa kita yang kadung cinta dengan bangku sekolah mereka. Mereka tentu ingin mengenal lebih banyak tentang segala hal namun tidak dengan cara semacam ini tentunya. Mereka tentu ingin lebih tahu banyak tentang semua yang terjadi di alam ini namun bukan berarti kita harus mencekokinya dengan keganjilan-keganjilan semacam ini. Apa artinya kantin kejujuran yang dulu sempat diresmikan bersama sebagai simbol kejujuran dunia pendidikan kita kalau pada kenyataannya justru regulasi kemudian dibohongkan atau dengan ungkapan yang lebih halus dikaburkan? Apa makna pendidikan jika kemudian hanya memberikan pelajaran mengenai bagaimana segala sesuatu dibolehkan dengan main telikung semacam ini?

Namun kembali ke pokok, keterlambatan DPRD kota Semarang juga kini patut kita awasi. Mungkin dalam hal ini saya lebih cenderung akan menggunakan metode buruk sangka daripada berbaik sangka. Sebab, wacana politik terkadang sulit untuk ditebak. Politik mau tidak mau ibarat sebuah seni untuk meliukkan layang-layang yang kita terbangkan di udara. Kita tidak pernah tahu ke mana arah angin berhembus. Pun kita tidak pernah tahu kapan layang-layang kita akan putus benangnya jika kita tidak benar-benar mengamati dan mampu memainkan layang-layang kita.

Dan mungkin dalam benak saya yang kotor ini kalau tidak mau dikatakan sarat kecurigaan ini, terlalu banyak daftar pertanyaan yang mungkin tidak sampai terdengar di meja dewan. Pertama, apakah dewan benar-benar menyuarakan keinginan kita? Kalau benar, sejauh mana mereka akan menyuarakan kepiluan kita? Kedua, hak angket sebenarnya untuk siapa? Kalau benar untuk rakyat, kenapa baru sekarang? Ketiga, mungkinkah anggota dewan ini tengah bermain-main saja? Kalau memang iya, maaf play group tidak mampu menampung Anda.

Ribut Achwandi [anggap saja orang gila]

Sebuah Permenungan

Salam,

Dalam sebuah perjalanan hidup seseorang tidak ada yang tahu bagaimana ia akan mengakhirinya. Begitu pula dengan bagaimana seseorang akan mengawali setiap lembaran cerita barunya. Yang selalu ada adalah bagaimana orang akan selalu menghadapi segala sesuatu yang akan ia hadapi saat itu saja.

Perjalanan waktu memang sulit untuk di tebak. Kadang angin segar membawa kebajikan bagi kita namun kadang pula kebajikan tidak selamanya disertai dengan datangnya angin yang lembut. Bahkan mungkin bisa jadi adalah sebuah bencana yang ia bawa. Namun yang terpenting saat ini ialah bagaimana seseorang memaknai hidupnya baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain yang ada di sekitar kita.

Beberapa kali saya bertemu dengan sahabat-sahabat baik saya. Mereka berlatar belakang yang sangat beragam. Tentu banyak kisah yang mereka utarakan pada saya. Dengan senang hati saya pun mendengarkan setiap detil cerita yang mereka ungkap pada saya. Yang pertama ini, teman saya yang berpengalaman dengan dunia marketing. Dia menuturkan pada saya secara singkat tentang pandangan hidupnya. Bahwa hidup ini sangat memiliki hitungan yang sangat rumit. Setiap detik, bagaimanapun itu harus memiliki standard nilai yang kalau bisa dinominalkan dalam bentuk mata uang.

Kemudian saya bertemu pula seorang teman yang sangat sahaja. Ia adalah salah satu guru sufi saya. Dalam pikirannya tertera bahwa kehidupan ini ibarat sungai. Dan jika kita hanya mengikuti aliran muka airnya, maka kita akan selalu bermuara pada ketunggalan. Namun perlu banyak waktu untuk mencapai kemanunggalan itu. Sebab, kita hanya bisa mengikuti kelokan sungai. Kalau kita mampu, kenapa tidak kita ciptakan jalan pintas untuk menuju kepada ketunggalan itu? Dengan apa? Tentu dengan segala usaha yang kita miliki dan dengan kemampuan yang kita simpan dalam semangat kita. Katanya.

Lain halnya seorang teman yang satu ini. Dia adalah seorang politisi. Dia beranggapan bahwa kehidupan ini ibarat sebuah etalase di toko-toko dan supermarket. Selalu ada yang menarik dan ada pula yang tidak. Sangat bergantung pada minat yang kita punyai. Hidup seseorang, menurutnya, sangat dipengaruhi oleh peminatan atau kecondongan atau keberpihakan seseorang terhadap sesuatu yang menarik bagi dirinya. Karena pada prinsipnya, untuk membentuk sebuah kepribadian seseorang, kita harus mengetahui terlebih dahulu sejauhmana ketertarikan seseorang tersebut terhadap sesuatu. Dengan kata lain, ada semacam candu yang secara tidak sengaja telah dijejalkan dalam diri seseorang dengan sendirinya.

Lalu, seorang seniman yang kebetulan sastrawan besar, guru saya beranggapan bahwa kehidupan itu nihil. Tidak ada sesuatu yang penting ketika manusia itu menghirup oksigen di permukaan bumi yang katanya bulat ini. Menurutnya sesuatu itu akan dianggap penting jika itu akan memberikan manfaat yang lebih besar dari sesuatu itu sendiri. Dan muara dari setiap kepentingan itu sebenarnya tak lepas dari keberadaan Tuhan yang Kuasa.

Saya kira Anda tentu memiliki cara pandang yang berbeda dengan teman-teman saya ini. Kalau toh sama mungkin hanya kebetulan. Dari empat pandangan teman saya ini semoga akan memberi sedikit stimulus bagi kita semua untuk lebih menghargai makna hidup. Amin....

Salam,

Ribut Achwandi

GOEROE

Suatu ketika, dalam sebuah perbincangan ringan, seorang teman sempat bertanya pada saya. Katanya, "Siapa orang yang paling berjasa dalam hidup Anda?"

Spontan saya jawab, "Guru."

Teman saya ini agaknya mulai sedikit punya selidik atas jawaban saya ini. Dikiranya saya tengah bergurau. Sebab, jawaban ini memang saya akui teramat berkesan klise dan sangat kuno. Tidak relevan dengan perkembangan zaman. Mungkin bagi Anda--yang membaca tulisan ini--akan merasakan bahwa jawaban saya ini hanya sebuah basa-basi belaka. Dan begitu pula sikap teman saya pada saya. Dia mengira saya sedang berbasa-basi.

Lalu dia kembali bertanya, "Guru?"

Tampak betul raut mukanya kini tengah bergelut pada sebuah keyakinan yang dipertaruhkan. Ia betul-betul ragu dengan jawaban saya.

Saya pun dengan yakin mengiyakan. "Guru!"

Bola mata teman saya semakin menyempit karena selaput matanya kian mengkerut dan kernyitan di dahinya semakin menampakkan ketidakyakinannya pada jawaban saya.

"Lho apa saya salah?" tanya saya.

"Tidak. Hanya saja saya kurang yakin dengan jawaban Anda." jelas teman saya ini.

"Saya menjawabnya dengan sungguh-sungguh. Tidak basa-basi."

Teman saya pun menghela nafas lega. Saya pun menangkap ada rona kebanggaan pada dirinya. Maklum teman saya ini memang seorang guru beneran. Dia guru sebuah SMA swasta di Semarang. Tentu, jawaban saya yang meyakinkan ini sedikit membuatnya berbangga. Namun belum selesai ia dengan kebanggaannya itu saya kembali melanjutkan jawaban saya.

"Tapi maaf yang saya maksud guru bukan berarti orang yang berprofesi sebagai guru." kata saya.

Air mukanya kini sedikit berubah. Ada sebuah pertanyaan besar yang ingin teman saya sampaikan. Saya tahu itu. Langsung saja saya jawab tanpa ditanya.

"Bagi saya semua orang adalah guru. Sebab, dari mereka ini saya merasa mendapatkan banyak hal. Belajar tentang bagaimana mengenali hidup, dan bagaimana saya mengenali diri sendiri. Dan satu hal yang mungkin harus saya sampaikan pada Anda, semua makhluk yang ada di dunia ini adalah guru. Bahkan seekor monyet sekalipun adalah guru bagi saya." jelas saya agak berpanjanglebar.

Teman saya heran. Lalu bertanyalah ia, "Lho memangnya seekor monyet bisa mengajari apa?"

"Sederhana saja. Kalau Anda manusia yang cerdas, tentu akan bisa membedakan cara makan pisang antara seekor monyet dengan seorang manusia." belum rampung saya menjelaskan, teman saya menyela.

"Maksudnya?"

"Kalau Anda manusia, jangan sekali-kali berlagak menjadi seekor monyet. Tapi kalau Anda adalah seekor monyet, sepatutnya Anda berbangga sebab tingkah polah monyet ini rupanya lebih sering ditiru oleh manusia." jawab saya.

"Lho kok?"

"Nah itu...." saya hanya mengacungkan jari telunjuk saya dan mengarahkan pada kulit pisang yang terbiarkan tidak dibuang ke tempat sampah. Tentu itu bekas kulit pisang yang dimakan teman saya.

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......