23 Juli 2008

Hari Ini, di Ruang Sidang

Setelan jaz berdasi dengan harum parfum yang menyerbak nampak memenuhi ruang sidang paripurna DPRD Kota Semarang kali ini. Senyum para pejabat kota dalam hajatan yang digelar dewan kota nampak begitu cerah. Tidak sedikitpun menampakkan adanya masalah yang tengah mereka hadapi.

Tapi siapa kira kalau mereka benar-benar terbebas dari masalah? Tidak ada yang tahu. Sebab, raut muka mereka pun nampak begitu bersih. Termasuk Sumarmo, salah seorang terpenting di jajaran pejabat kota. Dialah satu-satunya orang yang memegang kunci suksesnya proyek-proyek besar di kota ini. Jalan bebas hambatan, Waduk dan semua megaproyek lainnya. Kekuasaannya dalam memegang kendali megaproyek ini bahkan melebihi dari peran penting seorang Walikota yang hanya berkutat pada kebijakan-kebijakan politik pemerintahan, meskipun saat ini ia hanya menjabat sebagai Sekretaris Daerah kota.

Tak berapa lama, helat sidang paripurna DPRD Kota dimulai. Semua tamu tentu akan menempatkan dirinya pada deret kursi yang telah disesuaikan oleh sekretariat dewan kota. Dan kali ini mungkin Wisnu Pudjonggo-lah satu-satunya orang yang tengah merasakan kesenangan. Bagaimana tidak, helatan kali ini hanya merupakan sebuah ceremonial untuk peresmiannya sebagai anggota dewan kota. Ia menggantikan salah satu anggota dewan kota yang beberapa bulan lalu mangkat, Djudjuk Mardewi Agustina.

Cukup khikmad. Pembacaan janji dan pengambilan sumpah yang dilakukan Wisnu tampak sempurna. Meskipun pimpinan dewan yang mengambil sumpahnya itu agaknya kurang begitu lancar dalam membaca teks yang dihadapinya. Entah apa itu karena ia kurang menguasai isi teks atau karena memang keterbatasan kemampuannya dalam berbahasa Indonesia yang kurang. Maklum di Indonesia ini masyarakat umumnya menggunakan dau bahasa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Satu bahasa ibu dan lainnya adalah bahasa Indonesia yang biasanya digunakan sebagai bahasa formal. Tentunya, hal ini juga sedikit berpengaruh terhadap kamampuan bahasa tidak hanya awam melainkan juga para pejabat. Bahkan kekacauan dalam berbahasa ini sering juga dialami oleh semua pejabat daerah. Lebih-lebih ketika mereka harus berhadapan dengan wartawan. Sering kali mereka, para pejabat kota ini bahkan mencampuradukkan penggunaan bahasa ibu dengan bahasa Indonesia secara serampangan. Tak jarang pula muncul istilah-istilah asing yang lebih diadopsi dari bahasa Inggris. Sungguh lucu.

Seremonial pun selesai. Kali ini, nampak beberapa pejabat teras kota dan anggota dewan kota bergantian menyalami sang pengganti. Di sudut ruang sidang, tepatnya di sisi kiri mimbar sidang, nampak Sumarmo tengah bercengkerama dengan salah seorang anggota dewan kota, Junaedi. Beberapa wartawan yang sedari awal seremonial itu memburu Sumarmo tampak mengendap melalui celah-celah deret kursi yang tertata dengan rapi. Kursi yang tentu mahal harganya. Begitu sesampainya di dekat kedua orang penting ini, segera mereka pun menyergap keduanya. Dan memberondonginya dengan pertanyaan-pertanyaan.

Kali ini, Junaedi-lah korban pertama mereka. Dengan senyum, Junaedi menyambut kehadiran beberapa wartawan kota ini.

"Bagaimana Pak, siap maju tahun 2010?" Tanya seorang wartawan kepada Junaedi.

Senyum Junaedi semakin melebar bahkan semakin menjadi tawa. Lantas dijawabnya pertanyaan itu dengan antusias, "Itu kan terserah kemauan partai. Sehingga apapun keinginan partai untuk menempatkan di mana pun, kami siap. Jangankan di Semarang, di Ambon pun kami harus siap. Inilah, apapun kalau sudah terjun ke partai, justru partai ini kan memang harapannya itu mencari kekuasaan. Kekuasaan dalam hal ini adalah eksekutif dan legislatif. Namun demikian, setelah kekuasaan itu kita peroleh kita harus implementasikan dengan sebaik-baiknya sebagaimana amanat insan Allah."

"Koalisi dengan siapa, Pak nanti?" seloroh Restu salah seorang wartawan televisi lokal.

Junaedi kembali mengedarkan senyumannya. Di balik kacamatanya, sorot mata Junaedi menampakkan antusiasmenya yang semakin meledak. Semangatnya untuk menjadi korban perburuan wartawan. Bagaimana tidak, kali ini jawaban yang ia berikan hanya menjadi bungkus rahasia besar. Dia bilang, "Belum tahu ya, pemilunya belum tahu."

Memang, seorang politikus memang harus pandai membungkus isu. Sebab dengan pembungkusan isu semacam ini, tentu akan sedikit mendongkrak popularitasnya di mata masyarakat. Lebih-lebih jika semakin diburu wartawan. Dan sebelum para pemburu ini semakin mendekatkan bidikan anak panah pertanyaan mereka ini, dengan piawai Junaedi melontarkan sedikit banyolannya yang sebenarnya tidak cukup menarik. Kering. "Katanya maju? Marmo Junaedi, Mahfud Junaedi. Lah piye to?" selorohnya dibarengi tawanya yang khas.

Tentu sedikit berbasa-basi, beberapa wartawan inipun agaknya memaksakan diri untuk ikut tertawa. Namun tak berseling lama, Aril, seorang reporter sebuah radio segera menyerobot tawa itu dengan menghujani pertanyaan menyoal persiapan partai yang dipimpin Junaedi dalam penyelenggaraan pemilu 2009.

"Sudah banyak Pak yang daftar caleg Pak?" katanya.

"Duapuluh." tegas Junaedi.

"Duapuluh?"

"Ya, duapuluh. Karena memang terus terang dalam pencalegan, formulir dari KPU baru kemarin kita dapat. Artinya, kita dapat saja dalam bentuk CD. Secara resmi KPU akan memberikan kepada partai-partai, yakni pengambilan formulir mulai tanggal 5 Agustus. terus penyerahan formulir kepada KPU tanggal 10 sampai 15. Sehingga memang sinkronisasi kerja di partai-partai sudah barang tentu seperti ini. Kita membuat formulir sendiri. Padahal, besok formulir yang dipakai adalah formulir yang sah. Yang namanya formulir BB-1 sampai BB-11." Jelasnya berpanjanglebar.

"Rapat plenonya kapan, Pak?" sahut Aril.

Sebentar Junaedi melirik pada ujung batang rokok yang lama ia biarkan tak terhisap oleh mulutnya. Lalu luncuran kata pun mulai digelontorkan. "Plenonya nanti malem. Nanti malem kami rapat pleno menetapkan tim evaluasi, evaluasi dan monitoring."

Kurang puas dengan jawabannya sendiri, Junaedi segera meluncurkan gerbong kalimat. "Nanti malem. Penetapan berdasarkan fit and proper test sudah selesai, memang karena mekanismenya selalu berdasarkan pleno, maka saya plenokan nanti malem, jreet...setelah pleno kami serahkan pada tim untuk melakukan tugas-tugasnya."

"Target diputuskan kapan?"

"Putuskan tim verifikasi?" tanya Junaedi dengan nada sedikit meluruskan pertanyaan Aril.

Aril hanya mengangguk.

"Nanti malem juga sekaligus kita berikan jadwal tim kerja. Sehingga, pada tanggal 15 Agustus, itu harus sudah selesai. Karena tanggal 15 Agustus kan harus menyampaikan DCS (Data Calon Sementara) kepada KPU. Ya kan? Daftar Calon Sementara harus sudah disampaikan. Ketika nanti dikembalikan kepada KPU dalam waktu satu minggu, kita sudah harus menyampaikan DCT (Daftar Calon Tetap). Sehingga ya September, paling lambat tim verifikasi itu harus bekerja." Selesai dengan jawabannya, Junaedi nampak tidak sabar lagi untuk segera menjejalkan batang rokoknya pada bibirnya yang hampir membiru itu. Sebentar kemudian, kelakar pun bersambut.

Di tengah agenda sidang semacam ini, wartawan mungkin makhluk yang paling diuntungkan. Kegiatan semacam ini, ibarat kata rimba yang dipenuhi dengan sasaran empuk bagi perburuan. Tentu, tidak terlalu sulit untuk mengedarkan arah sasaran anak panah yang akan mereka bidikkan. Dan benar saja, setelah menggeruduk Junaedi. Kini mereka mulai membidikkan sasaran perburuan mereka kepada Sumarmo.

Dengan senyum, Sumarmo menyambangi beberapa wartawan. Dia tahu, banyak hal yang tentu ingin dikorek darinya. Maklum pejabat publik. Namun satu hal yang enggan ia jawab. Ia tidak mengingini pertanyaan seputar kemungkinan pencalonannya sebagai walikota 2010 mendatang. Entah kenapa? Mungkin dengan posisinya seperti saat ini cukup memberinya kepuasan batin baginya. Atau justru sebenarnya ia tengah mencoba menyimpan sebuah rahasia besar? Entahlah.

"Aku nggak mau ditanya soal itu lho." tandasnya. "Soal lain saja ya?"

"Jalan tol Pak?" sergah Komar, salah seorang wartawan koran.

Nampaknya Sumarmo sedikit keberatan dengan hal itu. Namun bagaimanapun ia berusaha keras untuk tidak menampakkan keengganannya itu. Sebab, seperti diberitakan sebelumnya, permasalahan megaproyek jalan tol untuk koridor Semarang-Solo yang kini menjadi salah satu proyek besar pemerintah pusat ini, ternyata masih banyak diliputi polemik. Proses pembebasan lahan milik warga yang berjalan alot, harga tanah yang kian melambung dan banyak persoalan yang nampaknya akan menjadi pekerjaan berat baginya.

"Pak, bagaimana perkembangannya sekarang, Pak?" tanya Pratono.

Sumarmo pun sedikit sungkan menjawab pertanyaan itu, "Belum ada perkembangan itu soal tol." Nampak betul, kali ini beban yang ia tanggung.

"Ini kan kalau menurut Gubernur kan akhir Agustus target pembayaran itu kan harus selesai." seloroh Pratono.

"Jadi gini, sebenarnya kita masalah untuk jalan terus. Sepanjang pemerintah pusat, kaitannya untuk pengadaan tanah siap. Kalau kami dari P2T maupun TPT, khususnya P2T, kami siap untuk mengadakan sosialisasi kepada warga, khususnya untuk negosiasi mengenai harga. Tapi sekarang, kalau misalnya wis oke, tapi ternyata anggaran itu durung tersedia, ya terus terang kami ini jadi tumpuan mereka itu menagih kan? Mestinya kalau kita itu sosialisasi, penjajakan sambil berjalan, ini kan diikuti kesiapan dananya. Jadi, jangan terlalu lama. Lah kalau terlalu lama, berubah piye?" jelasnya.

"Kemarin asisten satu, sesuai laporan asisesten satu, dari dana yang ada itu, sementara ini untuk membebaskan dengan jumlah yang belum, yang sudah ada negosiasi dan sudah ada deal itu belum sepenuhnya siap." lanjutnya.

"Baru sekitar berapa persen yang sudah deal?" tanya Pratono dengan mengacungkan hp-nya sebagai alat perekam.

"Aduh saya tidak hafal. Tapi asisten satu mengatakan, Pak kita sosialisasi. Kemarin di Gedawang ya? Tapi, dari provinsi, TPT itu menyayangkan kita ini ada kesulitan dari dana." aku Sumarmo dengan nada datar.

Heru, wartawan sebuah kantor berita, kali ini saut kesempatan dengan menanyakan, "Itu jadi kendala Pak ya?"

Sumarmo pun hanya mengiyakan, "Bisa dikatakan demikian. Tapi, ini kan baru proses anggaran berikutnya. Mudah-mudahan itu nggak terlalu lama sudah ada jawaban."

"Untuk pembebasan lahan ini sebenarnya butuh anggaran berapa, Pak?"

Kali ini pertanyaan Pratono nampaknya tidak dapat dijawab Sumarmo. Sumarmo nampaknya tidak hafal betul besaran anggaran yang dimaksud. Namun demikian, Sumarmo tetap berusaha memberikan jawaban dengan sangat hati-hati, "Itu kan bisa naik turun ya? Sesuai di lapangan."

"Berarti juga seperti proyek jalan tol Semarang-Batang?" tukas Pratono.

"Kalau itu lain ya."

"Perkembangannya saat ini Pak?" kali ini nampaknya Pratono berusaha memberondongi Sumarmo dengan pertanyaan.

"Ya masih taraf pematokan batas."

"Sudah musyawarah dengan warga?"

"Belum, itu kan menunggu pengukuran selesai."

Sumarmo nampak mulai kurang nyaman kini. Bahasa tubuhnya mulai menampakkan kejenuhan. Dan bergegas ia berusaha untuk meninggalkan wartawan-wartawan itu dengan cara yang cukup santun. Segera ia menjabat tangan mereka dan sesegera mungkin menghilang dari hadapan mereka.

Senyum ramah pun bersambut di balik kabut tebal polemik yang tengah menggayut di atas langit kota. Sementara kabut itu masih terus menuangkan badai, beberapa anggota dewan kota justru nampak asyik masyuk dengan pose mereka di hadapan kamera foto. Mengabadikan diri mereka dengan segudang alasan.


Salam,
Robert Dahlan

Kemiskinan

Salam,

Tentu, siapapun tidak merelakan dirinya jatuh miskin. Kecuali Hamdan Att, pelantun tembang dangdut era 80-an melalui lantunan Termiskin di Dunia itu. Dan saya yakin, Anda pun demikian. Sebab, saya pribadi juga tidak mengingkari jika saya juga takut jatuh 'kere'. Tapi, Tapi boleh buat, persoalan kemiskinan ini nampaknya masih saja ditautkan dengan masalah nasib. Sehingga, hal ini tentu akan sedikit mengaburkan persoalan kemiskinan yang kalau saya amati, lebih dikarenakan 'salah urus' pemerintah.

Bukan maksud saya memojokkan lho. Ini persoalan semestinya dipandang dari segala penjuru. Kesalahan terbesar pemerintah dalam mengurusi soal kemiskinan ini, sebenarnya bukan pada ranah ekonomi. Memang, kalau kita tilik ke belakang, kebijakan nekat pemerintah untuk menaikkan harga BBM ini telah membuat cap pada sisi regulasi ini sebagai penyumbang angka kemiskinan negeri ini. Namun hal tersebut, menurut hemat saya terlalu dangkal. Di sini saya justu melihat hal tersebut hanya sekelumit dari persoalan yang sekian banyaknya dihadapi oleh bangsa ini.

Jauh dari itu semua, kalau saya memandang persoalan kemiskinan ini begitu kompleksnya. Namun satu hal yang menurut saya tidak pernah tergarap oleh kebijakan pemerintah apapun itu, ialah masalah budaya. Atau kalau boleh saya berburuk sangka, sebenarnya mungkin pemerintah memang sengaja mengolah masalah budaya ini dengan cara semacam ini. Artinya, pemerintah telah dengan sengaja menciptakan budaya pemiskinan massal. Coba saja lihat, tidak sedikit pemerintah telah mengucurkan dana untuk membantu kaum miskin negeri ini, namun apakah itu cukup membuat panjangnya daftar angka kemiskinan ini terkurangi? Tidak.

Ah, saya yakin Anda pasti akan berpendapat itu karena korupsi. Bukan soal itu. Bukan. Persoalan hukum di negeri ini yang tak ubahnya lingkaran setan ini, mungkin salah satu bagian dari masalah-masalah budaya. Namun yang jelas, penciptaan budaya miskin ini mau tidak mau harus diakui sudah terjadi sejak lama. Salah satu bukti, ketika masyarakat dihadapkan pada persoalan lapangan pekerjaan misalnya. Banyak orang yang berpandangan, bahwa menjadi punggawa pemerintahan (PNS) itu lebih membuat orang lebih aman secara finansial. Yang artinya, hal ini jelas-jelas merupakan sebuah bentuk pembodohan publik. Padahal, kita tahu persis kerja para punggawa kerajaan bernama Indonesia ini cuma 'hambur-hambur duit negara' saja. Lho, kenapa tidak? Setelah mereka selesai masa tugas masih juga dapat santunan menjelang ajal. Kalaupun mereka dipecat dengan alasan tersandung masalah hukum, toh tetap saja memiliki dana pensiun. Sungguh alangkah naifnya negara ini.

Belum lagi persoalan lain menyangkut keberpihakan pemerintah terhadap kaum miskin yang notabene masih terlalu kecil. Dalam hal ini saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai hal tersebut. Pada sebuah megaproyek pembangunan jalan tol transjawa, persoalan klasik seputar pembebasan lahan rupanya menjadi masalah besar dalam pengerjaan proyek yang megah ini. Beberapa warga khususnya di kota Semarang bahkan merasa keberatan dengan tawaran harga yang dinilai kurang menguntungkan bagi mereka ini. Mereka ini adalah pemilik tanah lahan garapan atau tegalan di sebuah kawasan di kota yang masih merangkak menjadi kota metropolis itu. Kata mereka harga yang ditawarkan masih terlalu rendah.

Wajar saja mereka menuntut demikian, mengingat tanah garapan ini merupakan salah satu bagian dari penghidupan mereka. Sebagian penghidupan mereka ini justru dipasok dengan adanya tanah garapan ini. Maka, selaiknya pemerintah memberi harga yang kalau dalam pandangan ekstrim saya mengatakan, lebih mahal dari hanya tanah perumahan. Lah ini, kok aneh. Lahan perumahan yang hanya menjadi tempat singgah masyarakat justru harganya lebih mahal dari harga tanah garapan. Loh, ini negara bagaimana? Katanya ingin memajukan dunia pertanian, lah kok malah begitu?

Keberpihakan pemerintah terhadap kaum terpinggir ini selalu saja mendapatkan kursi yang kesekian. Petani, buruh dan kaum miskin selalu termarjinalkan. Wah, benar-benar bangsa ini mungkin selamanya akan menjadi bangsa yang 'kere'. Betapa tidak, belum juga mampu mengurus soal-soal negara, eh... ini negara selalu saja membuat agenda politik yang bejibun dengan anggaran yang tidak sedikit. Sepertinya, masyarakat dipaksa untuk pilah-pilih sesuatu yang serba tidak jelas. Presiden, Dewan hingga walikota maupun bupati yang serba tidak jelas arahnya. Ini negara memang serba tidak jelas. Sudah miskin tidak punya prinsip budaya pula. Jadi, kalau ditanya kapan negara ini tidak miskin? Jawabannya pasti juga tidak jelas!

Salam,


Robert Dahlan

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......