10 Mei 2008

Menuju Pencerahan

Salam,

Mengintip SASTRA Kita


Dalam sebuah perbincangan menarik saya dengan salah seorang sastrawan besar negeri ini yang kebetulan salah seorang 'guru' saya Ahmad Tohari (Kang Tohari) sempat terdiskusikan di sana, bahwa hakikat SASTRA merupakan nafas dan denyur nadi kehidupan itu sendiri. Ia adalah pusat kehidupan yang diciptakan dalam sebuah kosmos yang dibatasi oleh kata dan tata kalimat. Namun demikian, hal tersebut hanyalah sebuah wujud fisik saja. Jauh ke dalam, ketika kita mengupas hakikat maka akan kita jumpai ada banyak hal yang tidak terjamah oleh kita sebagai penikmat SASTRA maupun sebagai awam mengenai keterlibatan SASTRA dalam proses penciptaan alam raya dan makna-makna yang tersembunyi dalam menerjemahkan kehidupan. SASTRA menjadi sebuah sekumpulan kata sandi yang penuh dengan teka-teki untuk dapat membuka tabir kehidupan. Dan hal ini kemudian dicontohkan oleh sang novelis yang kini telah menikmati surga kehidupan di alam pedesaan ini, bahwa mau tidak mau sebenarnya kitab-kitab suci agama-agama apapun adalah sebuah karya SASTRA, jelasnya. Semula saya sontak tak begitu yakin dengan apa yang ia katakan. Namun lambat laun saya berusaha mengunyah pelan maksud dari kata-katanya. Belum juga selesai aku kunyah, tiba-tiba iapun kembali menyodorkan kepada saya secangkir kalimat. Kalau kita mau memahami dan mendalami sastra lebih jauh dan lebih dalam lagi, alam raya ini sebenarnya sebuah perwujud sastra yang sebenarnya.

Sungguh saya tidak menyangka sedemikian dalamnya. Saya pun tak segera menyeruput secangkir kalimat itu. Yang saya lakukan pada detik-detik awal, saya mencoba mengamati kejernihan kalimat yang tertuang dalam cangkir itu. Namun kembali ia memberondong saya dengan sebuah pernyataan. "Sekali waktu, tidak bisakah kamu nikmati dan rasakan jernihnya air kata yang saya suguhkan tanpa harus meragu? Sebab, kau tidak akan pernah tahu apakah itu ada racunnya atau tidak, atau justru malah tidak pernah akan dapat merasakan basahnya tenggorokanmu? Jangan terlalu menyiksa diri."

Ah, terlalunya saya. Rupanya tempurung kepala saya ini terlalu sesak dengan jejalan perangkat teori yang sedemikian rupa banyaknya. Saussure, Aristoteles, hingga Derrida, mereka berdesak-desakkan dalam tempurung kepala yang hanya mampu saya tutupi dengan songkok dari bahan sintetis.

Sejauh yang saya tahu soal SASTRA lagi-lagi hanya sebuah tulisan. Sejauh itu pula pemahaman saya terkadang mengambang. Dan saya kira tidak hanya saya saja yang demikian bodohnya. Bagaimana dengan Anda?


Seberapa Butuhkah Kita Akan SASTRA? [sebuah pertanyaan]

Kita sering bicara kenaikan harga BBM dan sembako. Kita juga sering kali mendiskusikan mahalnya biaya sekolah anak-anak kita. Bahkan tak jarang kita juga sering kali membicarakan tentang sebuah proses politik yang menyoroti pergantian penguasa. Tapi, di meja makan kita tak jarang pula kita lupa menaruh kudapan dan makanan serta minuman yang menyehatkan. Kita terlalu mabuk ketika membicarakan soal partai, soal bisnis, soal bagaimana kita mampu menyekolahkan anak kita dan bagaimana kita memperoleh pekerjaan. Memang tidak dapat dipungkiri ihwal itu sangat penting. Namun bukan sepatutnya hal tersebut akan menjadi sebuah sesuatu yang maha penting.

Dan saya ingat, suatu pagi ketika kami (Kang Tohari dan saya) tengah dengan asyik bersama-sama menyeruput kopi pagi di pelataran rumahnya. Dia berkata, "Kapan kamu merasa dipentingkan?"

Saya bingung dengan pertanyaan itu. Dalam pikiran saya, saya tidak pernah merasa dipentingkan. Bahkan dalam keadaan gawat sekalipun saya merasa tidak terlalu dipentingkan. Sebab, dalam kehidupan saya mungkin saya bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. Tapi yang terpenting saya tetap memiliki niatan baik untuk sekadar memberikan bantuan.

Namun dari balik kacamatanya rupanya Kang Tohari masih mengamati kebingungan saya. Kemudian dia pun berkata, "Apakah tidak pernah dalam kehidupan kamu ini memiliki saat-saat dimana kamu dipentingkan?"

Saya menjawab, "Saya bukan orang penting, Kang. Jadi kapan saya akan dipentingkan."

Senyumnya melebar dan segeralah menyusul suara tawa. Koran pagi yang ia baca kemudian ia letakkan di atas meja yang berukuran 100 x 60 x 50 cm yang tepat berada di hadapan kami. Kemudian dia katakan "Di dunia ini tidak pernah ada orang penting. Bahkan presiden sekalipun. Sebab, jika ada seseorang yang mengaku dirinya penting, maka sebenarnya ia lupa akan ikrarnya yang secara tak sadar telah mengikat hubungannya dengan Tuhan. Ingat, kalau kamu muslim, pernah kan kamu menjanjikan Tuhan bahwa kamu atau kita akan mengakui hanya ada satu Tuhan tempat sandaran harapan-harapan kita? Makanya jika ada seseorang yang mengaku sebagai orang penting, ia sudah mendurhakai Tuhan. Dan celakanya, acap kali kita melakukan itu berulang-ulang tanpa kita sadari."

Dan begitu pula rupanya yang terjadi dengan sastra kita. Tanpa sadar kita telah mencampakkan sastra kita. Oleh sebab, kita tidak menyadari bahwa hal-hal yang berada di luar konteks sastra kita merupakan bagian kecil dari dunia sastra itu sendiri. Bahkan kalau kita tarik pada sebuah pendiskusian sastra yang dikaitkan dengan masalah-masalah kebangsaan maka kita akan menemukan sebuah kecenderungan yang negatif dari setiap rezim yang lebih memproporsionalkan masalah-masalah kenegaraan yang didasarkan pada kekuatan-kekuatan di luar konteks sastra. Padahal, sebagaimana kita ketahui bahwa kemajuan sebuah bangsa justru dilihat dari kemajuan budaya masyarakatnya. Bukan pada sektor pembangunan fisik yang pernah dilakukan Soeharto dan kini SBY malah berupaya membangun tumpuan politiknya melalui ekonomi yang hanya menjadi isapan jempol semata. Bisnis yang dijalankan oleh pemerintah nyata-nyata gagal mengingat ia justru meninggalkan karakter asli dari masyarakatnya. Bahkan kalau boleh saya berkomentar mengenai kondisi saat ini, pemerintah telah dengan nyata-nyata membangun istana kepedihan rakyat. Hal ini dibuktikannya dengan adanya semakin merajalelanya raja-raja kecil. Kekuasaan bahkan telah dengan sengaja mencundangi budaya. Estetika seolah menjadi kitab kuno yang hanya dapat dilelangkan dalam sebuah pelelangan barang antik. Lalu dengan leluasa kekuasaan membuat kitab baru estetika dengan redaksional yang sedemikian rupa. Hingga pada akhirnya, bangsa yang katanya kaya akan khazanah budaya lokal ini pun hanya bisa gigit jari melihat kemajuan negara tetangga.

Sudah kita saksikan, Malaysia telah dengan bangga mengangkat budaya kita. Meskipun banyak menuai reaksi negatif dari negeri ini. Namun setidaknya hal tersebut seharusnya membelalakkan mata penguasa dan mampu menggugah kesadaran penguasa. Namun itu ternyata hanya menjadi harapan yang tak tahu kapan akan dikabulkan.

Bicara mengenai SASTRA kita sebenarnya kita tengah bicara soal hidup. Dan ketika kita berupaya mendiskusikan hidup berarti kita tengah melintas garis-garis atau jalur-jalur yang beranekaragam yang bermuara pada satu kata 'PENCERAHAN'.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita benar-benar telah memiliki kebutuhan yang mendasar dengan SASTRA? Kalaupun iya, sejak kapan kita menyadari hal tersebut? Sekarang? Saya kira tidak ada kata terlambat sebab roda perputaran waktu masih akan berlangsung lama. Jadi apakah kita harus menunggu waktu lelah berputar?


Berguru Arif pada Sang Guru

Nampaknya, kita perlu belajar banyak dari Sidharta Gautama tentang pencerahan, kita butuh membaca pikiran Muhammad mengenai penyadaran spiritual, kita pun butuh menelusuri tapak-tapak kaki kesengsaraan Yesus sebagai pemerkaya makna kasih, dan dari sanalah Tuhan kemudian akan muncul dalam sebuah kronologis yang sulit untuk dijabarkan dengan kata. Hanya dengan pemahaman makna. Dan tentunya, kita harus dengan segera bekali diri kita dengan pemahaman filosofi tentang makna sufi, avatar, dan ketaatan terhadap kekuasaan Tuhan. Namun terkadang, sering kita jumpai pemahaman Tuhan ternyata terpenggal oleh sebab perbedaan. Padahal, dengan perbedaan ini semestinya kita lebih sadar dan lebih mampu mengasah ketajaman pikiran kita untuk memahami sampai sejauhmana kita langkahkan kaki kita untuk sebuah proses penyadaran.

Dan di sinilah, di dunia sastra sebenarnya kita akan berjumpa pada kekuatan makna yang tidak hanya didasarkan pada kekuatan leksikal dan kekuatan metafora. Melainkan, lebih pada kekuatan spiritual yang mencoba mengusung kajian-kajian filosofinya.

Sudah saatnya SASTRA kita tidak hanya menjadi cermin melainkan pula harus menjadi pengisi kekosongan otak dan rohani kita. Semoga ini bermanfaat. Terima kasih.

Salam,

Dariku Yang Mati

selembar kertas di ujung senja
secangkir kopi dengan setia menemani
ujung penaku menancap tajam
berkeliaran liar memburu kata
membumikan kata firman
yang terlampau jauh di awang-awang
sejenak kepulan asap rokok membumbung
lantas otakku terpenjara
sebab tak aku temukan makna
antara kebebasan dan pembebasan
mungkinkah negeri ini belum terbebaskan?
sebab, selamanya aku hanya menghamba
tanpa harga diri
tanpa cukup gaji
hanya daki
bercampur peluh
aku mencebur dalam pergulatan sang waktu
mencipta dimensi yang tak pernah aku ingini
sebab, sejak lahirku aku terbebas
dan kini
ijinkan aku membebaskan diri
sebelum negeri ini benar-benar
tergolek lemah
sebatang rokok kini terbiar
di atas asbak tembikar
aku terbakar
dan yang sempat ku tulis
sebelum aku pergi
'maafkan aku yang terlalu cepat pergi, istriku'

Ribut Achwandi_Komunitas Godhong

Tembang Kehidupan

video

Potret Muram Pendidikan

Potret muram dunia pendidikan di negeri ini nampaknya terus mewarnai setiap gambar wajah Indonesia. Persoalan demi persoalan datang tanpa terencana sepertinya tengah mengutuki wajah coreng-moreng dunia pendidikan yang tidak pernah tersenyum sedikitpun. Sepertinya pendidikan dijadikan sebuah dongeng putri tidur. Ia hanya akan bangun ketika seorang pangeran yang ditakdirkan akan mempersunting dan membuat sang putri tersenyum bahagia ini datang mendekati ranjang pesakitannya. Namun, lama betul sang pangeran ini datang. Hingga terlalu lelapnya sang putri terbuai mimpi. Entah, apakah memang itu mimpi baik atau justru mimpi buruk yang mengurungnya hingga tak mampu untuk terbangun lagi. Yang jelas, ia butuh kehadiran seorang pangeran.

Sedemikian pula dengan dunia pendidikan kita yang terkadung carut-marut. Ia hanya bisa menunggu kehadiran wajah pemimpin yang sangat memiliki kepedulian terhadap nasib pendidikan ini. Mengingat sampai saat ini, pendidikan kita lihat masih minim porsi dalam pembicaraan meja sidang baik kabinet maupun dewan kita. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya masalah-masalah yang selama ini masih saja ditangani dengan setengah hati.

Ketidakjelasan pelaksanaan Ujian Nasional misalnya, merupakan salah satu contoh kasus yang saya kira perlu mendapat perhatian dari semua kalangan. Tidak hanya penyelenggara pendidikan, melainkan juga masyarakat kita yang akhir-akhir ini terlalu kurang memberikan respon terhadap masalah-masalah ini. Di satu sisi saya melihat ada sebuah ketidaksinkronan antara kebutuhan masyarakat mengenai pelaksanaan ujian tersebut dengan kemauan keras pemerintah dalam mempertahankan pelaksanaan ujian ini. Ketidaksinkronan ini dinampakkan dengan saling bertolakbelakangnya asumsi masyarakat yang merasa kewalahan dan tidak siap menerima kebijakan tersebut. Lebih-lebih, hal tersebut dinilai sebagai pematah semangat siswa atau anak-anak mereka. Sebab, dari kacamata saya sebagai orang yang peduli, pelaksanaan ujian nasional ini mau tidak mau harus diakui sebagai pengebirian siswa sekolah. Bagaimana tidak, siswa dipaksa untuk mendapatkan angka (bukan nilai) yang distandardkan untuk sebuah kriteria bahwa siswa tersebut lulus setelah menempuh ujian tersebut dengan meraih angka yang sudah distandardkan. Sementara itu, ujian dilakukan secara nasional. Padahal sebagaimana diketahui bersama kemampuan siswa antara daerah satu dengan yang lain sangatlah berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat mobilitas dan pemerolehan informasi di daerah khususnya daerah terpencil sangat berbeda (kalau tidak mau dikatakan berbanding terbalik) dengan pusat kota-kota besar. Di samping itu, kualitas pendidikan pun antar daerah memiliki karakteristik yang unik (kalau tidak mau dikatakan berbeda).

Hal inilah yang kemudian dalam frame saya memiliki asumsi bahwa terjadinya ketidakjujuran dalam penyelenggaraan ujian nasional ini menjadi seolah-olah wajar-wajar saja. Tidak usah terlalu jauh, dalam hal ini sebenarnya kita sama-sama tahu bahwa ketidakjujuran ini (kalau tidak mau dikatakan kecurangan) sudah berlangsung lama. Bahkan sebenarnya tanpa adanya laporanpun penyelenggara pendidikanpun saya kira sudah 'sama-sama tahu'. Inilah yang kemudian menjadikan pincangnya dunia pendidikan kita. Di saat prinsip ideologis penyelenggaraan pendidikan yang menginginkan adanya kejujuran sebagai salah satu pembelajaran moral secara bersamaan hal tersebut seolah di-'halal'-kan untuk dilanggar. Alasannya, tetap sama seperti dulu, biar semua lulus dan kontan saja biar pihak sekolah dipercaya telah mencetak lulusan dengan 'baik'. Bahkan, mulus hingga 100%.

Memang, perlu disadari pula bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan ini dibutuhkan sedikit unsur 'pemaksaan'. Karena, hal tersebut sangat erat kaitannya dengan 'pendisiplinan kepribadian'. Kendati demikian, bentuk-bentuk pemaksaan ini pada akhirnya akan melahirkan bangsa kerdil yang hanya bisa dipaksa tanpa memiliki kesadaran yang muncul sebagai reaksi setiap permasalahan yang ada. Untuk itu, jangan salahkan jika kemudian dalam perkembangannya, masyarakat kita terlalu banyak menuntut. Sebab, mereka sejak keci telah dengan 'sopan' diajari mengenai hal-hal yang sifatnya memaksa.

Sementara itu, sistem yang dibangunpun tampaknya harus benar-benar 'sempurna' tanpa menghiraukan kemampuan daerah. Hal ini semakin membuat pertanyaan besar bagi pelaksanaan otonomi daerah yang notabene juga diterapkan dalam penyelenggaraan pendidikan. Apakah memang sudah dilaksanakan sepenuhnya atau justru harus menunggu dengan alasan 'belum siap'? [Ribut Achwandi]

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......