17 April 2008

Tuhan






















Tuhan...
jika ada dosa melekat pada diri saya
biarlah saja

dan jika ada pahala bertengger
di pundak saya,
maka itu adalah beban bagi saya

Tuhan...
masih aku cari pintu-pintu surga
namun,
mungkin...
aku takut untuk mengetuknya
sebab,
aku lebih suka menggali lubang
kesengsaraanku sendiri
dan
menguburkan segala kebaikan
yang Engkau ajarkan

maka,
Tuhan...
ampuni hamba
untuk tidak memilih surga-Mu

PDAM Semarang Ancam Gagalkan Niatan Pemkot

Semarang, Niatan baik pemerintah kota Semarang untuk memperbaiki kinerja lembaga-lembaga publik dalam memberikan layanan publik ternyata masih harus menghadapi kenyataan pahit yang sampai saat ini terus mengganjal. Komitmen pemerintah kota Semarang ini pada mulanya dijadikan sebuah tema dalam peringatan hari jadi kota Semarang ke 461. Namun demikian, hal tersebut kembali dimentahkan oleh beberapa kalangan yang melihat hal tersebut nantinya hanya akan menjadi janji kosong seperti yang diberikan pemerintah kota Semarang sebelumnya.

Ngargono, Ketua Lembaga Perlindungan dan Pendampingan Konsumen kota Semarang menilai, Semarang masih punya PR terberat yang harus segera diselesaikan dalam kaitannya dengan pelayanan publik. Ia menunjukkan salah satu kasus yang sampai saat ini masih membayangi pemerintah kota Semarang ialah mengenai polemik pergantian direksi PDAM kota Semarang yang sampai saat ini belum juga jelas. "Hal ini pada gilirannya akan berpengaruh pada model pelayanan yang diterapkan oleh BUMD ini." katanya.

Di sisi lain, kasus tersebut diakui memang sudah berlangsung lama. Bahkan, sebelum polemik seputar pergantian direksi PDAM ini mencuat ke permukaan. "Ini baru satu kasus. Belum dengan yang lainnya." ungkap Ngargono.

Untuk itu dibutuhkan komitmen yang kuat dari pihak internal PDAM untuk segera melakukan perbaikan-perbaikan di segala aspek, terutama menyangkut pola manajemen yang diberlakukan dalam pengelolaan perusahaan daerah tersebut. "Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki oleh PDAM. Pertama, mengenai lamanya aliran air yang disalurkan kepada konsumen yang tersebar di beberapa kawasan. Karena aliran air ini tentu akan sangat berbeda-beda di setiap kawasan. Di Semarang Timur tentu akan sangat berbeda dengan Semarang Selatan. Hal ini dikarenakan tipografi kota Semarang yang memiliki perbedaan ketinggian kawasan. Kedua, kompensasi yang diberikan PDAM kepada konsumen yang dikarenakan adanya ketidakterlayanan konsumen. Sehingga, perlu bagi PDAM untuk memberikan komitmen yang jelas kepada konsumen. Hal ini perlu dilakukan mengingat konsumen ini saat ini masih banyak yang mengeluhkan dan mempersoalkan pelayanan PDAM." Jelas Ngargono. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Panwas Kota Semarang Waspadai Konflik Antar Pendukung Cagub

Semarang, Pelaksanaan pemilihan gubernur Jawa Tengah di Semarang diperkirakan akan rawan konflik horizontal. Hal ini dikarenakan kota Semarang saat ini merupakan basis penyelenggaraan pilkada gubernur tersebut. Bahkan, beberapa kawasan di Semarang saat ini merupakan kawasan yang memiliki tingkat mobilitas politik yang cukup tinggi. "Kawasan tersebut ialah kecamatan Semarang Tengah yang di situ terdapat kantor gubernur. Kemudian Jatisari dan Semarang Barat yang merupakan tempat tinggal beberapa calon gubernur." ungkap ketua panwas kota Semarang Abdul Kholiq.

Hal tersebut sebagaimana dikatakan Abdul Kholiq menjadi perhatian khusus bagi panwas dalam melakukan upayanya untuk mendukung pelaksanaan pilgub yang sehat. Dalam hal ini, panwas kota Semarang akan mengoptimalkan kinerja panwas di tingkat kabupaten, terutama yang diambil dari komponen masyarakat untuk melakukan pendekatan terhadap masyarakat terkait dengan penegakan hukum.

"Karena mereka (anggota panwas kecamatan) itu ada dua dari unsur masyarakat, maka kami nanti akan mencoba menggunakan elemen masyarakat untuk dilakukan pendekatan pada masyarakat supaya ada kepedulian di dalam masyarakat untuk menciptakan situasi politik yang kondusif dalam penyelenggaraan pilkada gubernur Jawa tengah mendatang." jelasnya.

Selain itu, panwas kota Semarang juga bertekad akan memberikan pengawasan yang menyeluruh dengan memposisikan para calon ini dalam porsi yang sama. Hal ini bertujuan agar penegakan hukum terhadap terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang dimungkinkan terjadi dapat terselesaikan dengan baik. Namun demikian, hal tersebut tidak lepas dari peran penting masyarakat dalam memahami pelaksanaan pilgub jateng ini. Sehingga perlu bagi panwas di tingkat kecamatan untuk melakukan sosialisasi mengenai penyelenggaraan pilgub ini. [Ribut Achwandi_Reporter Trijaya FM Semarang]

Sejarah Tari

Rabu, 16 April 2008 | 13:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Menonton pertunjukan Dominique Boivin serasa mengikuti kuliah sejarah tari. Dengan caranya, ia mengajak penonton loncat ke abad pertengahan. Perjalanan sejarah panjang tersebut terasa segar karena disajikan dalam kemasan tarian yang kocak.

Itulah cara Boivin, penari asal Prancis, membawakan karyanya yang berjudul La Danse, Une Histoire a Ma Facon (Tari, Sebuah Sejarah Menurut Caraku Sendiri) di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat malam lalu.

Panggung yang tak seberapa luas dikotakkannya kembali menjadi lebih kecil dengan potongan kayu panjang. Jadilah panggung buatannya sendiri lengkap dengan dua lampu sorot bertangkai, layar putih kecil, dua meja panjang berisi peralatan, dan deretan lampu kuning 5 watt yang dipasang di muka panggung.

Selagi menari, Boivin mulai bercerita. Ia memulai pada abad pertengahan dengan penggambaran sebuah karnaval, lalu berdansa dengan topi hijau mancung. Ia menari loncat ke sana-sini dengan tangan terentang.

Kemudian beralih ke abad ke-16, ketika seni tari bergaya geometris sedang tenar. Alat unik dikeluarkannya lagi. Kini yang muncul adalah dua buah ujung lampu taman yang runcing. Tap, tap, ujung lampu bergerak dengan gaya kaku.

Tiba-tiba ia menjadi raja dan membedaki mukanya lalu mengambil gelang kertas di kedua pergelangan tangan. Dalam perjalanan sang raja, ia menari lebih lembut dan anggun, mewakili sosok bangsawan yang dipuja rakyat.

Boivin, yang mulai menari pada umur 6 tahun, juga membawakan pantomim. Di abad ke-18, tarian mulai menunjukkan bentuk berbeda. Boivin, yang mengenakan kaus buntung, kini telanjang dada. Kakinya
berjinjit lalu berjalan mundur.

Kisah kemudian beralih ke 1892 di Jerman. "Di sebuah pesta, tanpa sengaja gaunku di atas panggung terlalu panjang. Kemudian aku menarik dua ujung gaun. Lalu seseorang berteriak," katanya bercerita. Layar putih di belakang Bovin seketika menyala menyuguhkan gambar dua sayap kupu-kupu dan ia berdiri di tengahnya.

Boivin juga menari dengan bantuan beberapa medium, seperti olahop dan tayangan video anak perempuan kecil yang menari di atas rumput. Masih menggunakan proyektor, ia pun menari di tengah layar yang masih memutar gambar pita film. Kadang ia membuat bayangan dari belakang layar.

Setiap mata berkedip, berpindahlah zaman. Ia juga menceritakan tarian Amerika. Kata dia, Negeri Abang Sam itu senang dengan gaya oriental. Lalu ia membawa kipas Cina dan mengenakan sepatu runcing merah. Ia pun menari dengan lentur dan berkilauan karena lampu sorot. Asap mengepul dari dua sudut panggung.

Yang lebih memukau, Boivin mengenakan jubah hitam panjang berbahan lemas. "Ini perwakilan tari untuk Martha Graham," katanya. Ia naik ke kursi dan membelakangi penonton. Lalu jubah yang terentang dililit ke tubuhnya hingga membentuk tubuh tinggi sekali. Kursi itu pun tak kelihatan karena tertutup jubah.

Tak lupa, ia juga menyajikan kisah Prancis pada 1968. "Di Prancis, tarian mulai membuka diri pada publik," ujarnya di atas panggung. Ditandai dengan sepatu kets dan jins, ia menari lebih modern dengan iringan lagu rap ala Prancis.

Di akhir gerakannya, Bovin mengungkapkan jati diri. "Namaku Dominique Boivin, bintangku sagitarius," katanya. Kemudian ia memakai sepatu hitam dengan hak tinggi, gaun putih selutut, plus torehan lipstik. Ia kemudian membuka baju dan mencoreti tubuhnya dengan lipstik.

Sudah dua kali Boivin datang ke Indonesia. "Tapi pertunjukan ini baru pertama kali," ujarnya setelah manggung. Sejak kecil, ia lengket dengan tari. Gaya pertamanya adalah akrobat. Pada usia 10 tahun, ia belajar tari klasik.

Kemudian ia beralih ke kontemporer lewat arahan Carolyn Carlson dan Alwin Nikolais, lalu mendirikan kelompok tari Cie Beau Geste. Pada 1978, karya solo pertamanya, Vol d'Oiseau, memenangi penghargaan Prix de l'Humour di Kota Bagnolet.

La Danse mulai dibuatnya pada 1994 dan baru rampung pada 1999. "Memang perlu penyempurnaan dalam waktu yang lumayan lama," ujarnya. Tarian ini telah ditampilkan di beberapa negara, seperti
Taiwan dan Vietnam.

Boivin mengakui pertunjukannya lebih banyak mengupas Jerman dan Amerika. "Ya, penggambaran Prancis sedikit karena kondisi tari di sana cenderung stabil," ujarnya. Selama tampil, alat-alat yang digunakan sederhana, tapi mengena pada tema. l AGUSLIA HIDAYAH

sumber: Tempointeraktif.com

Self Potrait

Indonesia Raya

My Beauty Momment

My Movie

Potret Diri

Jendela Hati

Jendela Hati
Ketika ungkapan tak cukup mewakili kata, Hanya mata kita yang mampu mengetuk hati yang sunyi oleh kebisuan. Dan biar saja sepi terus mengalunkan nada sendu. Sebab, mungkin tak ada kata yang paling tepat untuk membahasakannya. Tentang apapun itu......